
Fadil yang melihat dua peluru menuju kearahnya, dia bermaksud untuk menghindar. Namun sayangnya, posisinya saat ini tidak begitu menguntungkan. Jikapun dia berhasil menghindari peluru-peluru tersebut, maka peluru-peluru itu akan mengenai santri penabuh alat Hadroh yang ada dibelakangnya.
Karena tidak ada pilihan lain, Fadilpun berusaha untuk menangkis kedua peluru itu, menggunakan pisau belati orang yang tadi menyerangnya.
'' tring, tring.''
Dua buah peluru itu berhasil ditangkis dan diarahkan Fadil keatas dan mengenai atap tenda. Melihat sasarannya telah lolos dari bidikannya, orang yang tadi menembak Fadil mencoba untuk menembaknya kembali. Namun, belum lagi dia sempat menarik pelatuk pistol tersebut, tiba-tiba:
" Door"
Saat mendengar suara tembakan tadi, Letnan Rifai segera mencari sumber suara. Dia kemudian melihat seseorang yang bersembunyi dan melihat kalau orang tersebut akan kembali menembak Fadil. Dengan cepat, diapun langsung melepaskan tembakan kearahnya.
'' Ahh..'' teriak orang tersebut, setelah tangannya yang sedang memegang pistol itu terkena timah panas. Pistol yang ada ditangannya langsung terjatuh.
Karena telah gagal dan malah dia sendiri tertembak, diapun segera melarikan diri. Namun, baru saja dia berlari beberapa langkah, tiba-tiba:
'' Door.., brukk!''
Sekali lagi letnan Rifai melepaskan tembakannya. Kali ini, kaki orang tersebut yang menjadi sasaran peluru dari pistol letnan Rifai. Dia langsung jatuh tersungkur sambil merintih kesakitan. Para pengawal Andre yang ada disekitar tempat itu, segera menangkap orang tersebut.
Sementara itu, disaat semua orang tengah merunduk karena mendengar suara tembakan tadi, dan ditambah lagi dengan suara tembakan dari letnan Rifai, Tiara yang diingatkan oleh Fadil agar segera merunduk, diapun segera mengikuti perintah Fadil.
Namun, setelah itu dia segera bangkit dan akan berlari mendekati Fadil. Fadil yang baru saja menepis dua peluru tersebut, bersamaan dengan suara tembakan letnan Rifai, dia mendengar suara yang lain. Suara itu adalah suara desingan peluru yang ditembakkan dari jauh. Peluru tersebut bukan mengarah kepadanya, melainkan kearah Tiara.
Fadil ingin mengingatkan Tiara agar kembali merunduk, ataupun berlari keatas panggung untuk menyelamatkan Tiara. Namun sepertinya itu akan terlambat. Akhirnya, Fadil berpikir untuk menghalangi peluru tersebut dengan melemparkan sesuatu.
Dia ingin melemparkan pisau belati yang ada ditangannya, tapi itu juga terlalu berbahaya. Dia lalu melihat sepatu orang yang tadi menyerangnya, yang kebetulan terlepas dan tergeletak didepannya. Dengan cepat, Fadil melemparkan sepatu tersebut tepat didepan Tiara.
'' Wussh..zlupp''
Peluru yang datang tepat mengarah ke jantung Tiara itu, menghantam karet alas sepatu tersebut di bagian tumitnya. Namun, meski sudah terhalang karet sepatu yang cukup tebal tersebut, nyatanya peluru itu masih mampu menembus dan bersarang di dada Tiara.
Tiara terkejut dan merasakan sakit di dadanya. Dia lalu memegang dadanya yang terasa sangat sakit dan panas itu dengan tangannya. Namun saat dia melihat tangannya berlumuran darah, Tiara tiba-tiba terhuyung dan akan jatuh dari atas panggung tersebut.
Melihat Tiara terhuyung dan akan jatuh dari panggung itu, dengan cepat Fadil berlari dan menangkap tubuh Tiara. Andai terlambat sedetik saja, pasti tubuh Tiara akan jatuh dari panggung yang cukup tinggi tersebut. Dalam gendongan Fadil, Tiara masih sempat berkata-kata kepadanya.
'' A Fadil, dadaku rasanya sakit sekali A. Aku..'' ucap Tiara lirih, kemudian jatuh pingsan sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.
Beberapa saat kemudian, Sintya, Andika, dan seluruh orang yang ada disana segera bangkit dari merunduknya. Namun, saat mereka melihat Fadil yang sedang menggendong Tiara, mereka terkejut dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi dengan Tiara.
Diantara sekian banyaknya orang yang ada disana, hampir tidak ada yang tahu apa yang sudah menimpa Tiara. Bahkan, Andre yang sempat menyaksikan kejadian tersebut, hanya diam terpaku sambil memegangi orang yang tadi menyerang Fadil, agar dia tidak kabur dan tetap tengkurap ditanah.
Melihat Tiara yang terkulai lemas dan terluka dalam gendongannya, Fadil lalu terduduk ditanah. Dia lalu mengamati luka yang ada pada tubuh Tiara, dan juga menatap wajah Tiara. Saat melihat wajah Tiara tersebut, Fadil merasakan rasa sakit didalam hatinya. Seakan-akan dia bisa merasakan, apa yang sedang dirasakan Tiara saat ini.
__ADS_1
Fadil merasa, saat ini Tiara sedang merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Fadil yang tidak tega melihat Tiara seperti itu, dia kemudian memeluk Tiara dengan begitu eratnya. Rasa sakit didalam hatinya karena melihat Tiara nya terluka seperti itu, membuat dia tidak sadar kalau saat ini semua orang sedang melihat kearah mereka.
Saat menyadari kalau telah terjadi sesuatu terhadap Tiara, Sintya dan Andika segera berlari menghampiri mereka. Zul, Naila, Abah, dan juga seluruh orang yang ada dipanggung, semuanya ikut turun untuk melihat apa yang terjadi di bawah sana. Begitu melihat Tiara berlumuran darah, Sintya merasa begitu panik.
'' Tiara! Tiara! kamu kenapa nak? Fadil, kenapa dengan Tiara? kenapa dia berlumuran darah? apakah dia terluka?'' Sintya terus bertanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Fadil yang tetap diam memandangi wajah Tiara.
'' Fadil, mama kan udah bilang. Tolong jaga Tiara baik-baik! jangan sampai terjadi apapun sama dia. Lihat! kalau sudah begini, apa yang bisa kamu lakukan?'' ujar Sintya terlihat begitu kesal.
Sintya semakin Panik. Dia merasa sedih, takut, dan juga kesal kepada Fadil. Tanpa sadar, saat dia memarahi Fadil, tangannya juga ikut menampari wajah Fadil. Andika segera mencoba menenangkan Sintya. Dia juga menghentikan Sintya yang terus menampari Fadil.
'' Ma sudah ma! jangan seperti ini! mama coba tenang dulu! dokter.. dokter.. apakah disini ada seorang dokter?" tanya Andika kepada orang-orang yang ada disana.
Meskipun tadi Sintya terus menampari wajahnya, Fadil benar-benar tidak merasakan rasa sakit sedikitpun. Baginya, tidak ada rasa sakit melebihi rasa sakit saat melihat orang yang paling dicintainya terluka seperti ini. Sambil terus memandangi wajah Tiara, Fadil lalu berkata:
'' Tiara, bertahanlah Tiara! aku akan menolongmu. Sebisa mungkin, aku akan menyelamatkanmu. Bertahanlah Tiara! Bertahanlah!"
" Ma, pa.. Tolong jaga Tiara sebentar! ada yang harus Fadil lakukan saat ini.''
Usai berkata seperti itu, Fadil kemudian meletakkan Tiara dari pangkuannya. Dia kemudian menotok jalan darah disekitar luka Tiara. Lalu berdiri dan hendak pergi dari tempat itu. Namun, baru saja dia akan melangkahkan kakinya, Sintya langsung menangkap kakinya dan berkata:
" Fadil! kamu mau kemana? tega ya kamu! mau meninggalkan Tiara dalam keadaan seperti ini?'' ucap Sintya dengan penuh amarah.
'' Ma.. percayalah! tidak akan terjadi apa-apa terhadap Tiara. Fadil akan menolongnya. Apa mama kira Fadil tidak perduli sama dia? tidak ma! bagi Fadil, Tiara sangat berarti. Kalau sampai Tiara mati, maka Fadil juga akan mati.''
'' Pak Andre, tolong jaga orang itu untukku! jangan sampai ada yang melakukan apapun terhadapnya.'' ucap Fadil sambil menatap orang yang tadi menyerangnya, yang saat ini sudah diborgol oleh Andre.
Fadil lalu berjalan keluar dari kerumunan orang-orang yang tadi mengerumuninya. Mereka lalu memberikan jalan untuk Fadil. Semua orang menatap Fadil. Dalam hati dan benak mereka, mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Fadil saat ini.
Saat berjalan keluar dari kerumunan orang-orang tersebut, Fadil menatap kesatu arah diseberang jalan. Dia lalu berhenti dan lalu berkata dengan begitu kerasnya. Suaranya begitu menggelegar, membuat semua orang yang ada ditempat itu merasa merinding dibuatnya.
'' Hey kamu yang ada disana! Dengar baik-baik! Kamu sudah melukai orang yang paling aku cintai. Kamu telah menggangu orang yang selalu ingin ku jaga. Dan kamu telah mengusik orang yang salah. Kalau hari ini aku tidak membuat perhitungan denganmu! Maka jangan sebut lagi namaku Fadil. Dengar itu!" teriak Fadil yang saat ini tak lagi bisa menguasai emosinya, dengar suara bagaikan petir.
Di seberang jalan sana, diatas pohon yang cukup besar. Seorang sniper yang tadi menembak Tiara, dia terkejut. Meskipun orang yang berbicara kepadanya berada jauh dari tempat dia berada, dia bahkan merasakan kalau dia sedang berhadapan dengan orang itu.
Semua orang terkejut. Bukan hanya karena suara Fadil yang begitu dahsyat menggelegar, tapi mereka juga heran. Sebenarnya, dengan siapa Fadil itu berbicara. Bahkan, beberapa orang yang berjaga di pintu masuk gerbang pesantren itupun, tidak mengetahui dimana orang yang dimaksud oleh Fadil.
Merasa keberadaannya telah diketahui oleh seseorang, sniper itu segera melepaskan tembakan kearah Fadil. Dia berfikir, ini semua sudah kepalang tanggung. Jika dia harus mati, setidaknya dia sudah menyelesaikan misi yang sedang dijalaninya.
Melihat orang yang di maksudnya itu melepaskan tembakan ke arahnya, Fadil lalu mengepalkan tangan kanannya. Tiba-tiba, tangan tersebut menyala. Sebuah bola api bulat, menyelimuti tangan Fadil. Bola api itu awalnya berwarna merah, lalu berubah menjadi putih, kemudian berubah lagi menjadi warna biru kehijauan.
Fadil lalu berjalan, kemudian berlari semakin cepat dan semakin cepat, menyongsong datangnya peluru yang tadi dilepaskan kearahnya. Sebelum peluru itu menyentuh tubuhnya, Fadil lalu mengarahkan tangannya seakan ingin menangkap peluru tersebut. Namun, manakala peluru itu bersentuhan dengan bola api yang keluar dari tangan Fadil, tiba-tiba peluru tersebut terbakar seperti kapas yang terkena api.
Sebelum mencapai pintu gerbang pesantren, Fadil yang tadi berlari dengan begitu cepatnya, dia lalu menghentakkan kakinya. Tiba-tiba, setelah dia menghentakkan kakinya tersebut, tubuh Fadil langsung terbang melayang melewati pagar pintu gerbang pesantren yang cukup tinggi tersebut dengan begitu cepat.
__ADS_1
Semua orang yang menyaksikan hal tersebut, menjadi terperangah. Mereka hampir tidak percaya, kalau di zaman sekarang ini masih ada orang yang bisa terbang seperti dalam film, andai saja mereka tidak menyaksikan hal tersebut dengan mata kepala sendiri.
Sepuluh meter dari pohon besar tempat sniper itu berada, Fadil melepaskan pukulannya. Seiring dengan gerakan tangan Fadil, bola api berwarna biru kehijauan tersebut juga melesat dengan cepat kearah pohon dimana sniper itu berada.
'' Duarr.. krakk brukk''
Pohon besar tersebut, langsung patah jadi dua. Sniper yang sedang bersembunyi disana, ikut terpental dan jatuh beberapa meter jauhnya. Kedua kakinya tertindih oleh cabang pohon tersebut, sehingga dia tidak bisa kabur dari sana. Senapan mesinnya juga terjatuh beberapa meter darinya.
Disaat Fadil tadi menghentakkan kakinya, dan terbang melewati pagar pintu gerbang tersebut, tadinya Fadil yang sudah tidak bisa menguasai dirinya lagi itu, akan langsung menghantamkan pukulannya kepada sniper tersebut. Namun, samar-samar dia mendengar suara Tiara memanggilnya.
Karena mendengar suara Tiara itulah, akhirnya Fadil menghantamkan pukulannya kearah batang pohon itu dari jarak 10 meter. Bisa dibayangkan, seperti apa jadinya andai Fadil langsung mengarahkan pukulannya kepada sniper tersebut.
Fadil langsung turun dari udara saat telah melepaskan pukulannya. Dia lalu menghampiri sniper tersebut. Dia ingin menginterogasi orang itu, namun sekali lagi dia mendengar Tiara memanggilnya. Pengawal Andre yang berada di sekitar pintu gerbang segera menghampiri Fadil. Letnan Rifai juga ikut menyusul disana.
'' Mas pa'i, tolong urus orang ini! Carikan informasi siapa orang yang menyuruhnya.'' ujar Fadil setelah letnan Rifai berada didekatnya.
'' Siap mas, saya akan lakukan permintaan mas Alan.'' ujar pa'i.
Fadil segera kembali untuk menghampiri Tiara. Disana seorang wanita muda sedang memeriksa luka Tiara. Dia adalah dokter muda yang bertugas di rumah sakit umum daerah tersebut. Dia bernama dokter Linda. Sewaktu Andika bertanya apakah ada dokter, dia sedang berlari mengambil peralatan medis didalam mobil Rifa'i tunangannya.
'' Cepat! bawa dia ke rumah sakit! dia harus segera dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang didadanya.'' perintah dokter Linda.
'' Tunggu! percuma saja dia dibawa ke rumah sakit sekarang.'' ujar Fadil yang sedang berlari kearah mereka.
'' Apa maksudmu percuma? dia itu terluka dan peluru masih bersarang didadanya. Tidak ada cara lain untuk mengeluarkan peluru itu, selain dengan melakukan operasi.'' ujar dokter Linda dengan sedikit kesal.
'' Maaf mbak. Saya tidak mempersoalkan masalah tersebut. Tapi yang perlu anda tahu, peluru itu sudah diolesi dengan racun. Kalau racun tersebut tidak segera dikeluarkan, maka nyawanya tidak akan bisa terselamatkan.''
'' Sementara yang saya ketahui, saat ini belum ada obat medis yang dibuat sebagai penawarnya. Dan racun inipun memang sulit untuk dideteksi. Makanya banyak orang yang tidak mengetahui ketika seseorang terkena racun ini.''
'' Maaf, apakah anda seorang dokter?'' tanya Fadil yang dijawab oleh Linda dengan anggukan.
'' Coba, saya ingin bertanya kepada anda! bisakah atau apa menurut anda dia ini keracunan?'' tanya Fadil.
Linda menggeleng. Saat dia memeriksa Tiara tadi, dia tidak menemukan adanya gejala racun dalam luka Tiara.
'' Baik mari kita lihat, apakah benar peluru itu ada racunnya atau tidak?'' ujar Fadil lalu meminta seseorang untuk mengambil sepatu yang tadi digunakan untuk menghalangi peluru tersebut.
Secara kebetulan, saat sepatu yang diminta oleh Fadil itu sudah berada ditangannya, seekor kupu-kupu terbang dihadapannya. Dengan gerakan tangannya yang sangat cepat, kupu-kupu itupun sudah berada dalam genggaman tangannya. Fadil lalu menempelkan mulut kupu-kupu itu pada lubang bekas peluru di sepatu tersebut.
Setelah meletakkan mulut kupu-kupu itu di bekas lubang peluru, Fadil lalu melepaskan kupu-kupu tersebut. Kupu-kupu itu langsung terbang. Namun baru beberapa kali mengepakkan sayapnya, kupu-kupu tersebut langsung terjatuh.
...****************...
__ADS_1