
Sore itu.. Usai sholat Ashar, Alan dan Zul sudah berangkat dari pesantren menuju Jakarta. Mobil Pajero sport limited edition yang mereka tumpangi, kini sudah mulai memasuki pelataran Villa milik keluarga Alan, saat hari sudah mulai malam. Lampu-lampu yang ada di seluruh villa dan juga lampu-lampu yang menghiasi taman villa tersebut, semakin menambah kesan mewah Villa itu. Zul yang selama seumur hidupnya belum pernah melihat bagaimana mewahnya rumah orang kaya, tak bisa menyembunyikan rasa kekagumannya saat dia mulai menginjakkan kakinya di rumah tersebut.
Dia benar-benar tidak menyangka, ternyata Alan yang terlihat biasa-biasa saja saat di pesantren, memang benar-benar bukan orang biasa. Dalam hatinya Zul mulai mengerti, kenapa Alan begitu mudahnya menyumbangkan uang sebanyak itu kepada Abah untuk pesantren. Ternyata itu semua belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekayaan keluarga Alan.
'' Kang Zul, ayo masuk! sandalnya dipake aja.'' ajak Alan melihat Zul yang terlihat agak kebingungan.
'' I iya kang.'' jawab Zul.
Meskipun masih terlihat agak canggung, Zul akhirnya berjalan mengikuti Alan menuju pintu villa itu.
'' Assalamualaikum..'' ucap Alan setelah berada didepan pintu.
'' Wa'alaikumsalaam..'' jawab seluruh orang yang ada didalam.
Ternyata didalam ruang tamu itu, semuanya sedang menunggu kedatangan Alan. Bahkan Arya Wijaya juga ada disana. Begitu mengetahui orang yang muncul dibalik pintu adalah kakaknya, Nadia langsung menghambur dan memeluk Alan. Tidak seperti biasanya, Nadia kali ini langsung menangis saat memeluk Alan. Kebiasaannya yang selalu rese saat bertemu Alan, kini seakan telah hilang. Nadia menangis sampai tersedu-sedu, membuat Alan merasa iba melihatnya. Sintya, Andika dan Arya Wijaya juga begitu terharu, melihat semua itu.
'' Nadia, sudah!. Jangan nangis kayak gitu! malu ah dilihat orang. Liat!, dibelakang ada teman kakak.'' bisik Alan ditelinga Nadia.
Nadia lalu menoleh kearah belakang Alan. Seorang pemuda sedang berdiri menunduk tak jauh dari mereka. Nadia lalu melepaskan pelukannya. Sintya segera memeluk Alan. kemudian membimbing Nadia untuk duduk di kursi sofa diruang tamu tersebut.
'' Mari kang Zul, masuk!'' kembali Alan mengajak Zul untuk masuk dan duduk disana.
Zul segera mengikuti Alan. Andika dan Arya Wijaya segera menyongsong dan memeluk Alan. Meskipun hampir setiap Minggu Alan datang ke rumah, namun entah kenapa kepulangan Alan kali ini terasa agak berbeda. Mungkin karena mereka tahu, bahwa tidak lama lagi, mereka akan benar-benar berpisah dengan Alan.
'' Ma pa kakek, perkenalkan! Ini kang Zul, ketua asrama di pesantren tempat Alan belajar.'' ujar Alan memperkenalkan Zul kepada mereka.
Zul kemudian menyalami Andika dan juga Arya Wijaya. Kepada Sintya dan juga Nadia, Zul hanya meletakkan kedua telapak tangannya didepan dada. Sudah menjadi sebuah aturan yang diajarkan di pesantren, seorang lelaki yang bukan mahram, tidak diperbolehkan untuk bersalaman secara langsung dengan perempuan, kecuali kepada orang yang sudah sepuh.
'' Jadi ini ketua asrama di pesantren tempat Alan?'' ujar Arya Wijaya sambil mempersilahkan Zul untuk duduk.
'' Iya kek, kang Zul inilah yang banyak membantu semua keperluan Alan selama di pesantren. Dia juga calon mantunya Abah Ubaid, pengasuh sekaligus pemilik pesantren tempat Alan belajar.'' ujar Alan.
__ADS_1
'' Wah.. Terimakasih banyak lho nak Zul, dan mohon maaf kalau selama Alan di pesantren, sudah banyak merepotkan nak Zul ini.'' ujar Arya Wijaya kepada Zulkifli.
'' Aduh..kang Alan terlalu berlebihan mengatakannya tuan. Padahal, justru saya dan juga pesantren kami yang banyak dibantu oleh kang Alan. Saya juga, atas nama pribadi dan Abah, serta atas nama pesantren mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, atas segala bantuan dari seluruh keluarga tuan.'' jawab Zul tak lupa berterima kasih kepada keluarga ini.
'' Hhh..pantas saja, Alan banyak berubah belakangan ini. Ternyata Alan memiliki teman yang baik dan rendah hati seperti nak Zul ini. Alan memang tidak salah memilih tempat untuk belajar dan memilih teman.'' Arya Wijaya merasa puas dengan karakter Zul yang rendah hati tersebut.
'' Oh ya, jangan panggil saya tuan! panggil saja pak atau kakek. Melihat karakter kamu, saya sudah suka. Lagi pula, kedepannya pesantren milik calon mertua nak Zul ini, akan bekerjasama dengan perusahaan milik kami. Jadi jangan sungkan-sungkan datang kemari.'' lanjutnya.
'' Alan, ajak temanmu untuk membersihkan diri dikamar tamu, lalu segera ajak keruang makan. kami sudah lama nungguin kamu untuk makan. cepat sana!, kami udah lapar.'' perintah Sintya kepada Alan.
Alan segera membawa Zul ke kamar yang akan ditempatinya malam ini, menunjukkan kamar mandi, dan menunjukkan cara menggunakan air hangat atau dingin yang akan digunakan untuk membersihkan diri. Dia kemudian pergi ke kamarnya sendiri untuk mandi dan berganti pakaian.
Tak lama kemudian, semuanya sudah berkumpul diruang makan untuk santap malam. Seperti biasanya, Sintya membuat menu masakan khusus saat semuanya berkumpul seperti ini. Usai santap malam dan makan makanan penutup, mereka segera menuju ruang santai di balkon lantai atas sambil menikmati suasana malam dari ruangan tersebut.
'' Ngomong-ngomong, mas Zul ini asalnya darimana?'' tanya Andika mengawali percakapan.
'' Dari Baturaja pak, tapi sudah lima tahun ini saya belum pulang kesana. Makanya liburan kali ini saya ingin pulang lebih dulu. Kangen sama kampung halaman.'' jawab Zul.
'' Iya pak, hanya saja saya ikut orang tua saya transmigrasi disana. Kalau aslinya, orang tua saya dari Jogja.'' ujar Zul menjelaskan.
'' Emm...ya ya ya. Berarti mas Zul ini, dari Batumarta ya?'' Andika lanjut bertanya.
'' Iya pak!, saya tinggal di Batumarta 2.'' jawab Zul lagi.
'' Alan, apa kamu juga liburan ini akan ke Baturaja?'' tanya Andika.
'' Iya pa, Alan ingin menemui seseorang disana. Dan mungkin sampai lebaran nanti, Alan akan disana.'' jawab Alan.
Sintya dan Nadia yang baru saja datang membawakan minuman hangat dan camilan untuk mereka, sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Alan. Selain Zul, mereka sudah mengerti tujuan dari Alan yang akan pergi ke sana. Mereka langsung teringat tentang apa yang pernah dikatakan oleh Alan. Sebenarnya, tujuan Alan pergi ke Baturaja tiada lain dan tiada bukan, adalah untuk memenuhi janjinya, yaitu bertukar nyawa dengan Fadil. Ini berarti, kepergian Alan kesana merupakan kepergiannya untuk selama-lamanya. Tanpa sadar air mata mereka mulai menetes.
'' Apa ini tidak terburu-buru?'' Arya Wijaya langsung berkomentar.
__ADS_1
'' Iya, bukankah masih ada waktu setidaknya satu bulan lagi.'' sambut Sintya menimpali ucapan Arya Wijaya.
'' Betul kak, kami masih kangen sama kak Alan.'' ujar Nadia tak mau ketinggalan.
'' Ma pa kakek dan kamu Nadia. Alan perlu adaptasi dengan keluarganya. Kalau terlalu mendadak, Alan khawatir keluarganya akan shock dengan apa yang terjadi nantinya. Mohon kalian untuk mengerti keadaan ini.'' Alan dengan penuh perasaan menatap mereka. Zul yang tidak mengerti maksud pembicaraan mereka hanya diam mendengarkan.
'' Lagi pula, mama dan semuanya bisa nyusul ke sana sebelum lebaran kan?'' ujar Alan menghibur mereka.
'' Ya sudah, kami harus bagaimana lagi, ini memang tak bisa untuk dihindari.'' ucap Andika pasrah.
'' Jadi, kapan kamu mau kesana?'' tanya Arya Wijaya.
'' Insyaallah besok sore kek. Biar nanti sampai disana agak pagian.''
'' Ya udah, tapi kamu hati-hati dijalan. Dan sekarang kamu istirahat dulu, biar nanti tidak ngantuk dijalan.'' ucap Arya Wijaya dengan berat hati.
Meski mereka masih ingin bersama dan menghabiskan malam ini dengan Alan, namun mereka juga tidak bisa memaksakan kehendak mereka. Karena Alan juga berkeinginan, agar sebelum bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi, dia sudah berada di sana. Akhirnya dengan berat hati, mereka kemudian membiarkan Alan untuk istirahat malam ini, dan besoknya membiarkan Alan pergi ke Baturaja. Zul juga segera mengikuti Alan menuju kamar untuk beristirahat.
...----------------...
Esoknya, Alan yang sudah terbiasa bangun pagi sebelum subuh, dia segera mandi dan berniat pergi ke masjid yang ada disekitar perumahan tersebut. Saat dia keluar dari kamarnya, dia juga melihat Zul, Ayah dan kakeknya sudah bangun dan bersiap pergi ke masjid. Sungguh suatu pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan Sintya dan Nadia juga sudah bersiap dengan kain mukenanya. Mereka kemudian keluar untuk sholat subuh di masjid, dengan menaiki mobil yang dibawa oleh Andika.
Usai sholat subuh berjamaah di masjid dan kembali ke rumah, mereka duduk-duduk diteras sambil menikmati minuman teh hangat hasil racikan dari buku yang diberikan oleh Abah kepada Alan. Alan telah memberikan buku itu kepada Sintya dan kakeknya. Bahkan resep itu sudah mulai menjadi menu khusus di beberapa hotel milik mereka. Tentu saja karena rasanya yang sangat khas dan istimewa, beberapa penikmat teh sudah mulai menjadi peminat minuman teh tersebut.
Karena hari ini kebetulan merupakan hari libur, maka mereka sekeluarga dapat bersantai di rumah sambil menikmati kebersamaan bersama Alan untuk terakhir kalinya di rumah ini. Tadinya Arya Wijaya berencana untuk mengajak mereka pergi ke villa yang ada di puncak, namun karena sorenya Alan akan pergi ke Baturaja, maka dengan terpaksa Arya Wijaya mengurungkan niatnya tersebut. Hingga siang hari, mereka masih asyik bercengkrama. Setelah sholat Dzuhur dan makan siang bersama, Alan lalu merapikan barang yang akan dibawanya, dan juga istirahat siang hingga menjelang waktu Ashar.
Ketika adzan berkumandang, Alan dan yang lainnya segera pergi ke Masjid untuk sholat berjamaah disana. Seharian ini mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama, sehingga hal itu membuat Zul begitu mengagumi kebersamaan dan keharmonisan keluarga ini. Sudah memiliki harta yang melimpah, wajah yang rupawan, dan juga keluarga yang begitu harmonis. Sungguh merupakan karunia yang sangat besar, yang menjadi idaman bagi setiap orang.
Setelah mengecek kondisi mobil yang akan dibawanya, Alan segera bersiap untuk berangkat menuju kota Baturaja. Awalnya, Arya Wijaya meminta Alan supaya diantar oleh sopirnya, namun Alan dengan halus menolak tawaran Arya Wijaya. Hingga akhirnya, Arya Wijayapun tak bisa membujuk agar Alan pergi ke sana dengan diantar sopir. Dan setelah semuanya dirasa cukup, Alan segera berpamitan kepada mereka. Suasana disana menjadi haru, manakala Alan memeluk mereka satu persatu. Seperti enggan untuk berpisah, mereka berpelukan begitu lama. Mereka tidak bisa membendung air mata, saat mobil yang Alan kendarai mulai beranjak meninggalkan villa tersebut.
'' Selamat jalan nak, semoga kita akan bertemu dan bersama lagi'' ucap Sintya dengan terbata-bata, disela-sela tangisnya.
__ADS_1
...****************...