Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Aku Bukan Dia


__ADS_3

Sintya, Andika dan Arya Wijaya saling berpandangan, kemudian menatap Alan penuh menyelidik.


'' Ya udah.., kalo gitu kami janji.'' jawab Andika.


'' Begini ma, pa, dan kakek. Sekarang ini, mungkin kalian merasa jika Alan sekarang sedikit berbeda dari waktu beberapa bulan, ataupun beberapa tahun yang lalu.''


'' Perubahan yang terjadi pada diri Alan ini, sebenarnya bukan tanpa sebab, tapi karena Alan merasa tertarik akan sesuatu. Alan sendiri juga tidak mengerti entah kenapa?, tapi.., Alan sangat ingin mempelajarinya. Untuk itu, Alan ingin minta ijin kepada kalian semua, Alan ingin pergi belajar di pesantren!''


Boom.., semua yang ada ditempat itu terkejut mendengar perkataan Alan. Bahkan Nadia yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan, tiba-tiba tersedak. Buah apel yang sedang dikunyah dalam mulutnya, nyangkut di tenggorokan. Sintya segera menepuk-nepuk punggung Nadia dan memberinya air minum.


Andika dan Sintya terdiam tak berani berkata apa-apa. Keduanya hanya menunggu bagaimana respon dari Arya Wijaya, dalam menanggapi pernyataan dari Alan.


Awalnya, Arya Wijaya berencana kalau malam ini, akan meminta Alan untuk segera mempersiapkan diri, dan menerima posisi kepemimpinan menggantikan Arya Wijaya, setelah melihat kondisi fisik dan mental Alan yang telah terlihat semakin baik. Namun dia tidak menyangka ternyata Alan malah berkata seperti itu.


'' Alan.., ngapain kamu mau ke pesantren? kamu mau buang-buang waktu ya?'' Arya Wijaya sedikit emosi.


'' Kamu tahu!,.sudah bertahun-tahun, kakek menunggu waktu agar kamu segera ikut turun tangan mengurusi perusahaan kita. Sekarang setelah semuanya telah memungkinkan, kamu malah mau membuang-buang waktu untuk pergi ke pesantren?, kamu kira kalau habis dari pesantren, kamu akan lebih mengerti soal bagaimana mengelola perusahaan?'


Andika, Sintya dan Nadia tertunduk semakin dalam. Mereka tahu saat ini Arya Wijaya mulai tersulut emosinya. Bagaimanapun, sifat keras Arya Wijaya ketika menghendaki sesuatu, maka harus terlaksana. Mereka teringat, beberapa tahun yang lalu ketika Arya Wijaya memaksa Alan untuk pergi belajar di luar negeri. Mereka sempat bersitegang. Untungnya, Sintya berhasil membujuk Alan agar mau mengikuti kemauan Arya Wijaya.


Melihat kakeknya yang mulai emosi, Alan hanya diam sembari menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan alasan keinginannya untuk pergi ke pesantren.


'' Alan.., Alan. Hidup itu keras Alan!. Kakek benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu.'' Arya Wijaya menghela napas panjang, kemudian lanjut berkata.


'' Apa kamu tidak tahu?, dunia bisnis itu laksana sebuah medan perang. Jika ingin menang, maka harus bisa mengambil segala kesempatan dan memanfaatkan peluang. Bila tidak!, maka kita akan tersingkir dan terinjak injak oleh mereka yang lebih kuat.''


'' Apa kamu juga tidak tahu? berpuluh-puluh tahun, aku dan nenekmu membangun perusahaan ini dengan begitu susah payah, hingga bisa mencapai seperti sekarang ini, lalu setelahnya kamu akan membiarkannya terbengkalai begitu saja!''


'' Ya..ya..ya., kakek ngerti. kalian anak muda yang terlahir dalam kehidupan yang serba ada, taunya hanya menikmati dan menikmati saja. Karena kalian tak pernah merasakan bagaimana hidup dalam ketidakmampuan. Hidup sebatang kara, terbuang dari keluarga dan terasing ditengah-tengah masyarakat, layaknya seperti sampah yang tidak berguna.'' Arya Wijaya meneteskan air mata mengingat masa-masa kelam kehidupannya yang dahulu. Lagi-lagi Arya Wijaya menarik nafas panjang, kemudian lanjut berkata :

__ADS_1


'' Tadinya kakek sudah merasa lega melihat perubahan sikapmu yang tidak seperti dulu, tapi ternyata kakek salah. kamu memang belum berubah, kakek benar-benar kecewa padamu Alan.''


Setelah melihat nada bicara Arya Wijaya yang mulai melemah, Alan kemudian menarik nafas dalam-dalam. Dengan lembut diapun mulai berbicara.


'' Kakek, maafkan Alan. Alan tidak bermaksud untuk membuat kakek bersedih, tapi mohon kakek dengarkan penjelasan Alan terlebih dahulu!''


Saat Alan berkata seperti itu, Andika, Sintya dan juga Nadia menatap Alan penuh rasa kekhawatiran, sedangkan Arya Wijaya menatap Alan dengan penuh rasa getir dalam hatinya.


'' Kek.., mama, papa!, ada beberapa hal yang perlu Alan sampaikan kepada kalian. Mohon maaf kakek.., Alan tahu, hidup memang keras. Tapi tak selalu segalanya harus disikapi dengan keras pula.''


'' Alan telah mencoba mempelajari dan memahami bagaimana cara mengembangkan bisnis, tapi mungkin cara Alan akan sedikit berbeda dengan cara kakek atau cara yang sering dilakukan oleh orang lain.''


'' Memang benar.., dan Alan pun setuju!, ada kalanya dalam melakukan bisnis, kita juga harus berbuat keras, tapi cukup hanya ketika orang lain menindas kita. Kerasnya kita hanyalah sebagai bentuk perlawanan dan peringatan kepada mereka, dan bukan bentuk kearogansian kita, atas kemampuan yang kita miliki.''


'' Tahukah kalian semua!, mengapa nenek meninggal?, apakah kalian semua mengira? kalau nenek meninggal karena faktor kelelahan!, apakah kalian juga mengira?, beberapa kecelakaan yang Alan alami adalah murni karena kelalaian Alan?, tidak kek, tidak!''


'' Nenek meninggal karena dia diracuni dengan racun tradisional yang sangat sulit untuk dideteksi oleh alat canggih sekalipun, Alan tahu itu karena Alan mendengar dari pembicaraan tersembunyi orang yang melakukannya saat itu.''


'' Apakah kalian juga tahu? kenapa Alan tidak pernah dekat dengan wanita manapun sejak Alan kehilangan Desy waktu SMU dulu?''


'' Ma.., pa, kakek. Alan adalah target mereka setelah nenek. Ketika Alan dekat dengan Desy, mereka mencoba menggunakan Desy sebagai umpan untuk menjebak Alan. Untungnya Desy terlanjur mencintai Alan, yang akhirnya Desy memberitahukan rencana mereka kepada Alan. Dan karena kegagalan rencana itu, akhirnya mereka membunuh Desy dengan cara menyuntikkan sel kanker pada otak Desy.''


'' Sejak saat itulah, Alan benar-benar kecewa dengan hidup Alan. Maka dari itu Alan sudah tak lagi perduli dengan masalah hidup mati diri sendiri, karena Alan merasa, apalah gunanya hidup Alan jika setiap saat kematian selalu mengintai diri Alan. Dan Alan rasa, segala yang terjadi pada Alan, sangat erat kaitannya dengan bisnis dan masa lalu kakek. Entah itu apa atau siapa? Hanya kakek yang lebih mengerti masalah ini.''


Andika dan Sintya tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Alan, terlebih lagi Arya Wijaya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau ternyata Alan banyak mengetahui hal-hal yang begitu tersembunyi, apalagi mengetahui hal yang berkaitan dengan masa lalu dirinya.


'' Jika memang seperti itu, kenapa mereka tidak mentargetkan kami ataupun kakek?'' ucap Sintya penasaran.


'' Itu karena mereka menganggap, kalau mama dan papa tidak memiliki potensi untuk jadi lawan mereka. Sedangkan untuk kakek!, mereka sengaja ingin membiarkan kakek terpuruk dan menderita karena kehilangan harapan, yang pada akhirnya akan hancur secara perlahan dengan sendirinya.''

__ADS_1


Arya Wijaya tertegun mendengar penjelasan dari Alan, dia benar-benar tidak mengira ternyata cucu laki-lakinya ini, yang dia anggap masih belum mengerti tentang dunia bisnis dan berbagai intrik didalamnya, malah memiliki wawasan yang begitu mendalam. Hatinya kini mengatakan bahwa dia tidak salah jika secepatnya ingin menyerahkan posisi kepemimpinannya kepada Alan. Walaupun dia juga tidak paham bagaimana cara Alan mengelola perusahaannya yang dikatakan sedikit berbeda dengan cara yang telah dia lakukan.


'' Dan satu lagi yang terpenting!'' Alan menghirup udara dalam-dalam, baru kemudian melanjutkan kata-katanya.


'' Ini sebenarnya belum waktunya untuk Alan sampaikan sekarang, tapi Alan rasa tidak ada salahnya juga jika kalian mengetahui lebih awal, agar kalian tidak begitu terkejut nantinya.''


'' Apa itu?, Sintya dan Andika hampir bersamaan. Sementara Arya Wijaya dan juga Nadia, hanya diam menatap Alan dengan rasa penasaran.


'' Rencana mereka telah berhasil.'' ucap Alan singkat.


'' Rencana apa yang kamu maksud Alan?'' kini giliran Andika yang bertanya.


'' Iya, coba kamu jelaskan!'' sambung Sintya.


'' Begini ma, pa, dan kakek, mereka menginginkan kematian Alan, dan itu telah terwujud. Alan kalian kini telah mati.'' Usai berkata seperti itu, wajah Alan menjadi murung, matanya mulai berkaca-kaca.


'' Alan.., kamu ngomong apa sih? kamu gak lagi ngigau kan?! Sintya bangkit dari duduknya, kemudian mendekati dan merengkuh Alan kedalam pelukannya. Entah mengapa saat mendengar Alan berkata seperti itu dan juga melihat ekspresi sedih dari wajah Alan, hatinya terasa pedih. Seakan-akan dia merasa akan ditinggalkan oleh Alan untuk selama lamanya.


'' Ma...''


Alan juga memeluk Sintya dengan eratnya, untuk beberapa saat dia membenamkan wajahnya dalam pelukan Sintya. Dengan lembut Sintya membelai rambut Alan, membiarkan Alan seperti seorang balita yang sedang menangis dalam pelukan ibunya.


Alan perlahan melepaskan diri dari pelukan Sintya, menghapus air matanya dengan punggung telapak tangannya.


'' Ma..!, mama ingat apa yang dikatakan oleh dokter Yusril tentang pemilik mata ini kan?'' Alan menengadahkan wajahnya menatap Sintya yang masih berdiri disampingnya.


'' Iya sayang.., mama ingat. Dokter Yusril bilang, kalau pemilik mata itu sudah meninggal.'' Sintya mengingat kembali apa yang dikatakan oleh dokter Yusril pada waktu itu.


'' Ma.., papa, kakek, orang itu bernama Fadil, wajah dan hampir keseluruhannya, sama persis dengan Alan. Dia adalah korban kecelakaan bersama Alan pada waktu itu. Seharusnya saat kecelakaan itu yang meninggal bukan dia, melainkan Alan.''

__ADS_1


...****************...


__ADS_2