
Esoknya. Fadil yang telah mempersiapkan segala keperluan untuk pergi ke pesantren, dia juga telah mengecek kondisi mobil yang akan dibawanya. Beberapa hari sebelumnya, diapun telah berbicara dan minta ijin kepada ibunya.
Ibu Zaenab yang sudah memahami situasi dan kondisi Fadil yang sekarang, sedikitpun dia tidak merasa berat didalam hatinya. Diapun merelakan putra bungsu kesayangannya itu, kini harus sering berpergian meninggalkan dirinya. Malahan, ibu Zaenab memberikan support kepada Fadil, agar Fadil bisa berbuat sebijaksana mungkin, dalam melakukan berbagai hal. Baik untuk dirinya sendiri, keluarga Alan, dan juga untuk ibunya sendiri.
'' Fadil.. ingat ya nak! hati-hati dijalan. Jangan lupa, jangan pernah berani untuk meninggalkan sholat saat sudah tiba waktunya, dimanapun kamu berada. Selama kamu bisa menjaga sholatmu, insyaallah Allah juga akan menjagamu.'' pesan ibu Zaenab kepada Fadil.
'' Iya Bu. Insyaallah Fadil akan selalu ingat pesan-pesan ibu.'' ujar Fadil.
'' Kamu jadi, kesananya bareng Tiara?'' tanya ibu Zaenab.
'' Iya Bu, sama Ulil juga.''
'' Ya udah, pesan ibu! selain hati-hati, kamu juga harus menjaga Tiara baik-baik. Jangan sampai terjadi apa-apa sama dia.'' lanjut ibu Zaenab.
Fadil mengangguk. Dia kemudian bersalaman dan memeluk ibunya. Juga kepada Alfin keponakannya. Dia lalu berjalan menuju mobilnya setelah tadi sempat memanaskan mesin mobil tersebut.
'' Bu, Alfin! Fadil berangkat ya! Assalamualaikum.''
'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah, hati-hati dijalan nak ya!'' jawab ibu Zaenab dan Alfin berbarengan.
'' Iya Bu! Alfin, jaga ibu baik-baik. Kalau ada apa-apa, langsung kabari paman!'' ujar Fadil setelah masuk kedalam mobilnya.
'' Iya paman! paman tidak usah khawatir.'' jawab Alfin.
Setelah itu, Fadil langsung membawa mobilnya. Dia lalu berhenti didepan rumah Ulil. Ulil sudah bersiap dan menunggu Fadil. Beberapa keluarga Ulil juga sedang ada disana untuk melepaskan kepergian Ulil.
'' Pak bu! Ulil aku bawa ya? mau aku jadikan obat nyamuk disana!'' ucap Fadil mencandai kedua orang tua Ulil.
Kedua orang tua Ulil, dan beberapa kerabatnya terkekeh mendengar perkataan Fadil. Mereka memang sudah memahami bagaimana karakter Fadil yang suka bercanda dengan anaknya tersebut.
'' Iya mas Fadil. Tapi jangan dibuang ya! biarpun begitu, dia itu manusia juga lho.'' Jawab bapaknya Ulil, membalas candaan Fadil.
'' Tenang aja pak! nanti aku akan jadikan dia orang. Biar bapak sama ibu, bisa bangga sama dia!''
'' Aamiin..'' serentak kedua orang tua Ulil mengaminkan ucapan Fadil.
Mendengar obrolan antara Fadil dan kedua orang tuanya, Ulil hanya cengar-cengir. Setelah masuk kedalam mobil, dan duduk disebelah Fadil yang mengemudi, dia lalu berkata:
" Ish..mas Fadil ini! emangnya sekarang ini saya bukan orang?" Ulil sambil menutup pintu mobil.
'' Emm.. sebentar!'' jawab Fadil, lalu mengamati Ulil dengan seksama.
'' Eh, mas Fadil lagi ngapain sih? saya ini orang lho! bukan donat!'' ucap Ulil yang merasa tidak nyaman dirinya ditatapi oleh Fadil.
'' Hemm, sepertinya ente masih belum bisa disebut orang Lil! juga bukan donat. Soalnya, ente masih lebih mirip sama ikan asin. Baik dari tampilannya, ataupun baunya.hhh..'' celoteh Fadil setelah tadi terlihat begitu serius memandangi Ulil.
'' Wah..mas Fadil ini! sepertinya belum minum obat ya? jadi kumat lagi kan? hhh..balas ulil.
'' Wee enak aja ente Lil. Emangnya aku kaburan dari RSJ apa? pakek dibilang kumat lagi! Tapi tenang Lil, nanti aku akan bantu ente, biar bisa jadi orang. Biar gak mirip lagi kayak ikan asin!'' ujar Fadil sembari terkekeh.
'' Udah ah mas Fadil. Ayo kita berangkat! kalau gini terus, kapan mau nyampe.'' jawab Ulil setelah dia tidak bisa lagi menemukan bahan untuk membuli Fadil.
'' Oke Lil, ente baca doa dulu! biar kita selamat sampai tujuan.'' ucap Fadil lalu segera membawa mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Beberapa saat kemudian. Mobil Fadil sudah berada didepan rumah Tiara. Pak Syahroni dan Bu lilis, serta kedua saudara Tiara, juga sedang menunggu kedatangan Fadil yang akan menjemput Tiara. Fadil lalu menepikan mobilnya dan turun untuk menyapa mereka semua. Tiara segera berjalan menuju mobil Fadil, diikuti oleh pak Syahroni yang membawa karung berisi buah duku yang dipanen dari pohon miliknya.
'' Apa itu pak?'' tanya Fadli kepada pak Syahroni.
'' Duku, buat Abah dan juga teman-teman Tiara di pesantren.'' jawab pak Syahroni.
'' Emang masih ada ya pak?'' tanya Fadil lagi.
__ADS_1
'' Ya masih sih! walaupun sisaan. Soalnya, tahun ini buahnya enggak bareng. Makanya, ini masih dapat dua karung. Dipohonya juga masih ada, barang sekarung dua karung sih!'' ujar pak Syahroni, lalu meletakkan karung tersebut di bagasi mobil yang di buka oleh Fadil.
Ulil juga turun dari mobil, untuk mengambil karung duku yang masih ada diteras rumah pak Syahroni. Saat akan mengambil karung tersebut, dia menyapa Yunita dan Vita yang sedang berdiri disana.
'' Yun, Vit. Kalian tidak ikut? ayo jalan-jalan! masih ada bangku kosong lho!'' ujar Ulil, kepada mereka berdua.
'' Enggak ah! lain kali aja.'' jawab Yunita.
Setelah barang yang akan dibawa oleh Tiara semuanya sudah dimasukkan kedalam mobil, Tiara, Fadil dan juga Ulil, berpamitan kepada pak Syahroni dan Bu Lilis. Mereka kemudian masuk kedalam mobil. Sebelumnya, Fadil bertanya kepada Tiara.
'' Tiara, kamu mau duduk didepan apa dibelakang?''
'' Depan aja mbak Tiara! biar mas Fadil lebih semangat.'' Sahut Ulil, sebelum Tiara menjawab pertanyaan dari Fadil.
'' Emm.. dibelakang aja deh A, Ulil aja yang didepan. Biar kalian bisa ngobrol dan enggak ngantuk.'' jawab Tiara yang merasa tidak enak dengan Ulil, jika dia duduk didepan bersama Fadil.
'' Udah, gak papa kok mbak! biar saya aja yang dibelakang.'' seru Ulil.
'' Enggak ah, saya dibelakang aja.'' jawab Tiara lalu segera masuk dan duduk di kursi belakang.
'' Ya udah Lil, kamu aja yang didepan! sekalian jadi asisten saya buat nunjukin jalan.'' ujar Fadil kepada Ulil.
Akhirnya Ulilpun hanya mengikuti saran dari Fadil. Setelah semuanya duduk dan memakai sabuk pengaman, Fadilpun langsung menjalankan mobilnya. Pak Syahroni dan Bu Lilis, memandangi kepergian mobil itu, hingga mobil tersebut hilang di tikungan jalan.
Meskipun Fadil baru pertama kalinya dia membawa mobil sendiri pergi ke Jawa, namun dengan ingatan Alan, dan juga menggunakan bantuan peta dari ponselnya, dia tidak mengalami kesulitan dalam perjalanan tersebut. Saat mobil yang dikendarainya masuk kedalam kapal, dan akan menyebrang dari pelabuhan Bakauheni menuju pelabuhan Merak, saat itu hari mulai beranjak petang.
Saat kapal yang mereka tumpangi sudah berlayar jauh meninggalkan dermaga pelabuhan, Fadil, Ulil, serta Tiara pergi ke deck kapal yang tak jauh dari tempat mobil mereka berada. Dari sana, mereka melihat suasana indahnya cakrawala saat matahari akan terbenam.
Selain mereka bertiga, beberapa penumpang lain, juga banyak yang berada disana untuk menyaksikan sunset sore itu, sambil mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponselnya.
'' A.., indah banget ya.'' ujar Tiara melihat pemandangan saat itu.
'' He em.., cantik banget.'' jawab Fadil yang sedang memandangi wajah Tiara.
'' A.., lihat itu! ada ikan lumba-lumba, dan ubur-ubur juga. Wah..! mereka lucu banget ya!'' ujar Tiara sambil menunjuk kawanan ikan lumba-lumba, dan juga beberapa ubur-ubur. Tiara masih belum menyadari kalau saat ini Fadil masih terus menatapnya.
'' Ho oh, lucu dan imut. Rasanya, ingin cepat dan segera menghalalkannya.'' jawab Fadil yang semakin terpesona melihat wajah cantik dan tingkah lucu Tiara.
Merasa ada yang janggal dengan jawaban dari Fadil, Tiara lalu menoleh kearahnya. Setelah mengetahui dan menyadari, kalau ternyata Fadil sedang menatap dan mengomentari dirinya, Tiara tersipu malu. Wajahnya jadi merah merona. Dia kemudian mencubit pinggang Fadil, sambil berkata:
" Iih.. A Fadil ngapain sih? malu tau dilihat orang!'' ujar Tiara setengah berbisik.
'' Auw auw.. sakit Tiara! lepasin!'' ucap Fadil sambil meringis.
Ulil dan beberapa orang yang tidak jauh dari mereka berdua, hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Karena Ulil dan beberapa orang lainnya melihat kearah mereka, Tiara segera melepaskan cubitannya. Tiara lalu menunduk tersipu malu. Begitu juga dengan Fadil. Dia jadi salah tingkah, karena ternyata begitu banyak orang yang menoleh kearah mereka berdua.
Bahkan, ada diantara mereka yang tadinya sedang merekam sunset yang sedang tenggelam, malah beralih merekam mereka berdua. Ternyata keberadaan Fadil dan Tiara disana, cukup mengundang perhatian para penumpang lain.
'' Mas! mereka itu teman kamu ya?'' tanya seseorang yang berada disebelah Ulil.
'' Iya mbak. Memangnya kenapa ya?'' jawab Ulil.
'' Apa mereka itu pengantin baru?'' tanya perempuan itu lagi.
'' Bukan mbak! mereka baru tunangan. Tapi memang, sebentar lagi mereka akan menikah.'' jelas Ulil kepada perempuan di sebelahnya.
'' Oh.. gitu ya!'' ujar perempuan itu masih terus memandangi Fadil dan Tiara.
'' Iya mbak. Emangnya kenapa sih?'' tanya Ulil.
'' Enggak sih! tapi mereka itu, keliatannya cocok banget ya? yang satu ganteng dan yang satunya cantik. Dan juga, mereka romantis banget keliatannya. Bikin iri orang lain aja.'' ujar perempuan tersebut.
__ADS_1
Ulil tersenyum mendengar perkataan perempuan itu. Dia sendiri memang mengakui, kalau jalinan asmara antara Fadil dan Tiara, memang sudah membuat banyak orang yang merasa iri kepada mereka. Apalagi, setelah Tiara pulang dari pesantren. Kulitnya kini terlihat lebih putih. Ditambah lagi, Fadil yang kini berada didalam tubuh Alan yang memang sangat tampan.
'' Tiara, coba lihat kekanan dan kekiri. Mereka terus memperhatikan kita.'' ujar Fadil.
Saat Tiara menoleh seperti yang diperintahkan oleh Fadil, dia benar-benar terkejut. Ternyata banyak sekali orang-orang yang sedang memperhatikan mereka. Dia lalu berbisik kepada Fadil.
'' A.., ini gara-gara A Fadil tadi yang bikin heboh orang-orang.'' ujar Tiara berbisik.
'' Bukan Tiara, tapi mereka semua mengira kalau kita ini selebritis. Liat aja tuh! sampai ada yang merekam segala.'' jawab Fadil sambil senyum-senyum.
'' A.., kita pindah aja yuk! malu ih jadi tontonan banyak orang.'' ajak Tiara yang merasa tidak nyaman karena jadi sorotan orang-orang disekitarnya.
'' Udah.. gak papa, kitakan gak nglakuin apa-apa! cuek aja Tiara.''
'' Pindah aja A.., malu!'' ulang Tiara dengan mukanya yang makin memerah karena malu.
Karena tidak tega melihat Tiara yang seperti itu, Fadilpun akhirnya mengikuti permintaan Tiara. Dia kemudian mengajak Tiara pergi ke tempat lain yang tidak begitu ramai.
'' Lil, kamu mau ikut gak?'' tanya Fadil.
'' Kemana mas Fadil?'' tanya Ulil.
'' Pindah ke sana Lil! disini terlalu ramai.'' jawab Fadil, lalu berjalan bersama Tiara.
Mereka lalu mencari tempat dimana tidak terlalu banyak orang. Ulilpun segera mengikuti mereka. Namun demikian, mereka tetap saja menjadi perhatian beberapa orang yang ada disana. Tak berapa lama kemudian, haripun mulai gelap. Fadil mengajak Tiara dan Ulil mencari musholla yang ada di kapal tersebut, untuk menunaikan shalat Maghrib.
Usai menunaikan sholat Maghrib, disaat Fadil masih berdzikir, seorang anak kecil menghampiri Tiara. Sementara Ulil sedang duduk bersandar menunggu Fadil yang masih berdzikir tersebut.
'' Kakak cantik, tolong mama kak! mamaku lagi sedih.'' ucap anak kecil itu saat berada didekat Tiara.
'' Eh.. adik manis, ada apa dek? kenapa dengan mamanya?'' tanya Tiara, tersenyum melihat bocah lucu itu.
'' Enggak tahu kak, tapi mamanya Naya lagi nangis.'' jawab bocah polos itu menceritakan keadaan ibunya.
'' Dimana mamanya.'' sahut Tiara.
Fadil yang mendengar percakapan mereka, segera mengakhiri dzikirnya dan menutupnya dengan doa singkat. Dia lalu menghampiri Tiara dan bocah tersebut. Ulilpun ikut menghampiri mereka.
'' Adik manis.. siapa namanya?'' tanya Fadil kepada bocah tersebut.
'' Naya om. Om tampan, tolong mama Naya om! mama Naya lagi sedih.'' jawab bocah itu sambil menatap wajah Fadil.
Saat Fadil ingin kembali bertanya kepada bocah tersebut, seorang ibu-ibu muda terus berteriak memanggil-manggil anaknya sambil mencari kesana-kemari. Dia lalu menengok kedalam musholla, dan menemukan anaknya sedang bersama Fadil, Tiara dan Ulil.
'' Naya.. sini nak! mama kan udah bilang, kamu jangan kemana-mana.'' ujar wanita tersebut kepada bocah itu.
'' Iya ma.'' jawab bocah itu singkat.
Disaat wanita itu hendak pergi meninggalkan Fadil dan yang lainnya, Fadil lalu memanggil wanita tersebut. Dia segera keluar dari musholla, dan menghampirinya.
'' Maaf bu, tunggu sebentar!'' ujar Fadil kepada wanita itu.
'' Maaf mas, kalau anak saya tadi sudah mengganggu kalian. Tapi tolong! jangan apa-apakan dia. Dia masih kecil mas.'' ucapnya agak ketakutan.
'' Naya, kamu sudah melakukan apa sama mereka?'' tanyanya kepada bocah tersebut penuh rasa khawatir.
'' Dia tidak melakukan apa-apa kok bu! dia hanya bilang kepada kami, untuk membantu ibu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?'' tanya Fadil.
'' Tidak kok mas. Kami tidak apa-apa.'' jawab wanita itu, menyembunyikan sesuatu.
'' Bu, anak kecil itu masih polos. Dia tidak mungkin akan berbohong. Kami yakin, apa yang dikatakannya itu pasti benar. Saya juga bisa merasakan, kalau ibu sedang menyembunyikan sesuatu dari kami.'' ujar Fadil.
__ADS_1
'' Bu, percayalah. Kami bukan orang jahat. Nama saya Fadil, ini tunangan saya Tiara dan dia Ulil sahabat saya. Ibu bisa menceritakan kepada kami, masalah yang sedang menimpa ibu. Siapa tahu, kami bisa sedikit membantu.'' lanjut Fadil mencoba meyakinkan wanita tersebut.
...****************...