Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Mimpi Aneh Tiara


__ADS_3

Tiara baru sadar, dia memang belum sholat isya. Namun, karena tadi dia salah paham dengan ajakan Fadil. Tiara jadi merasa malu. Namun begitu, dia tidak lagi merasa sungkan dengan Fadil. Bagaimanapun juga, mereka sudah sah menjadi suami istri. Jadi wajar toh, jika dia berfikir kearah itu. Apalagi, hal tersebut juga merupakan bagian dari ibadah yang sangat besar pahalanya.


'' A, gendong!'' ucap Tiara dengan manja sambil merentangkan kedua tangannya.


'' Em em emh.. Udah mulai manja ya bidadariku yang cantik. Gak malu apa nanti diliat sama yang lain.'' ujar Fadil kembali mencubit hidung Tiara, lalu menggendong tubuh Tiara dari ranjang dan menurunkannya tepat didepan pintu kamar.


Saat Fadil menggendong tubuhnya, kedua tangan Tiara bergelayutan di leher Fadil. Meskipun tubuh Fadil masih dibalut dengan pakaian lengkap, namun Tiara bisa merasakan kalau tubuh Fadil begitu tegap dan atletis. Dia juga bisa merasakan dada Fadil yang bidang dan berbentuk. Walaupun cuma beberapa detik, Tiara merasakan dirinya begitu nyaman dalam gendongan Fadil tersebut.


Mereka lalu pergi kekamar mandi yang ada di ruang belakang, untuk mengambil air wudhu. Saat Fadil dan Tiara keluar dari sana, mereka berpapasan dengan Vita, Yunita dan Nadia yang akan kekamar kecil. Melihat Nadia, Fadil kemudian berkata:


'' Nadia, kamu sudah sholat isya belum?'' tanya Fadil.


'' Udah kak, tadi bareng sama Vita dan kak Yunita.'' jawab Nadia.


'' Oh.. Ya udah, syukurlah kalau begitu.'' ujar Fadil dan segera beranjak menuju ruang sholat yang ada didalam rumah tersebut, diikuti oleh Tiara.


Namun, sebelum Tiara melangkahkan kakinya mengikuti Fadil menuju ruang sholat tersebut, Yunita, dan Vita menarik tangan Tiara. Setelah Fadil masuk kedalam ruang sholat tersebut, Yunita, Vita dan Nadia, mereka berbisik kepada Tiara.


'' Sst.. Tiara, sebentar sebentar!'' ucap Yunita berbisik dan menarik tangan Tiara.


'' Iih.. Apaan sih kalian ini? orang mau sholat juga!'' ucap Tiara yang merasa terganggu karena ditahan oleh mereka.


'' Eh kak Tiara, kalian habis ngapain sih rame banget tadi?'' tanya Vita menginterogasi Tiara.


'' Hayo.. Pasti kalian habis gitu kan?'' ujar Nadia sambil cengar-cangkir.


'' Ish.. ngomong apaan sih kalian? saru tau!'' ujar Tiara lalu mencoba melepaskan tangannya yang masih dipegang oleh Yunita.


'' Tiara, gimana? rasanya sakit nggak?'' tanya Yunita kepo.


'' Ish.. kak Yunita ini. Jorok banget sih! Kedengaran sama ayah ibu, baru tau rasa!'' ancam Tiara.


'' Tiara, Yunita! kalian lagi ngapain disitu?'' tanya pak Syahroni yang kebetulan muncul dan hendak ke dapur untuk mengambil air panas untuk membuat kopi.


'' Iya ni yah, mereka ini rese banget. Orang mau sholat juga, malah digangguin.'' ujar Tiara, langsung pergi ketempat dimana Fadil sudah menunggunya untuk sholat isya berjamaah dengannya.


'' Enggak kok yah! kami cuma mau kekamar kecil, dan kebetulan berpapasan dengan Tiara.'' jawab Yunita membela diri.


'' Yunita, jangan ganggu orang yang mau sholat! Dosa! Nah.. kalian sendiri, udah pada sholat belum?'' tanya pak Syahroni.


'' Udah dong yah.. Tadi kami sholat bareng! iyakan Nad?'' jawab Vita.


'' Ya udah, kalau kalian mau ke kamar kecil, cepat sana! Kalau sudah, cepat tidur! udah malem.'' perintah pak Syahroni.


'' Iya Yah.. Jawab vita dan Yunita bersamaan.


Usai sholat, Fadil dan Tiara kembali ke kamar mereka. Karena merasa lelah dan mengantuk, merekapun langsung tertidur. Menjelang waktu subuh, Fadil terbangun. Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat Sunnah dikamar tersebut. Usai berdzikir dia juga kembali membenahi hafalan Qur'an-nya yang sempat hilang.


'' Hiks hiks Reyhan.. dimana kamu nak! A Fadil! anak kita hilang A, hiks hiks.''


'' Rey.. dimana kamu nak? Rey, Rey..hiks hiks.''


'' Tiara! Bangun Tiara. Bangun sayang!''


Fadil yang sedang duduk bersila di sebelah ranjang, dia terkejut mendengar suara Tiara yang tiba tiba menangis. Saat dia menoleh, ternyata Tiara sedang mengigau. Dia lalu membangunkan Tiara. Tiara segera memeluk Fadil, sambil menangis.


'' A Fadil! anak kita hilang A. Reyhan hilang! hiks hiks.'' ucap Tiara masih belum sadar kalau dia baru saja bermimpi.

__ADS_1


'' Tiara! Kamu tadi sedang bermimpi sayang. Kita baru saja menikah dan belum punya anak. Istighfar sayang! itu cuma mimpi!''


Beberapa saat kemudian, Tiara tersadar. Ternyata apa yang baru saja dia alami, semuanya hanyalah mimpi semata. Namun begitu, dia tidak segera melepaskan pelukannya terhadap Fadil. Meskipun tadi cuma mimpi, namun hatinya masih merasa sedih akibat mimpinya tersebut.


'' Tiara, kamu mandi sana! Sebentar lagi adzan subuh. Aku juga mau mandi dan pergi ke masjid.'' ucap Fadil sambil melepaskan pelukan Tiara, lalu mengecup kening Tiara.


Meskipun Tiara masih sedikit kepikiran dengan mimpinya tersebut, dan dia juga masih ingin dipeluk oleh Fadil, namun dia akhirnya segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Usai mandi dan sholat subuh, Tiara pergi ke dapur untuk membantu Bu Lilis memasak.


Tidak lama kemudian, Vita,Yunita, dan juga Nadia datang menyusul ke dapur.


'' Ehm ehm..'' Vita, Yunita, dan serta Nadia berdehem saling bersahutan sambil melirik kearah Tiara.


'' Duuh..! Yang sekarang tidurnya ada yang nemenin! Seger banget deh kayaknya!'' ucap Nadia sambil mencolek-colek pinggang Vita.


'' Iya ya! Kayaknya habis mandi basah tuh!'' sahut Yunita ikut menimpali.


'' Kak Tiara!'' panggil Vita sambil cengar-cengir dan menaikturunkan alisnya.


'' Iih.. Kalian ini, ngomong apaan sih? Namanya juga mandi, ya pasti basahlah! Kalau gak basah itu namanya tayamum.'' jawab Tiara.


'' Lagian, inikan masih pagi. Ya pasti seger doong..! Masa letoy, kayak orang puasa yang lagi nunggu waktu Maghrib aja.'' lanjut Tiara menyahuti sindiran mereka.


Sebenarnya, Tiara tahu kemana arah tujuan mereka berkata seperti tadi. Namun, karena dia tidak ingin mereka terus membicarakan hal yang tidak patut untuk dibicarakan, dia berusaha menjawab sindiran mereka dengan jawaban yang tepat untuk mengalihkan dari yang mereka inginkan.


Meskipun Yunita dan yang lainnya masih ingin mengorek informasi dari Tiara, namun upaya mereka selalu gagal oleh jawaban-jawaban Tiara. Ditambah lagi, Bu Lilis juga sudah kembali ketempat tersebut, setelah tadi pergi untuk melaksanakan sholat subuh yang belum sempat dia laksanakan.


Pagi itu, setelah mereka selesai sarapan. Mereka secara bersama-sama membuka kado pernikahan Fadil dan Tiara. Berbagai macam hadiah dari para tamu undangan yang datang kemarin, membuat kedua orang tua Tiara dan juga kedua saudaranya jadi geleng geleng.


Dari kado yang berupa barang sederhana, uang tunai, cek, dan juga berupa barang antik, sampai ada juga yang memberikan kunci motor dan mobil baru beserta surat-suratnya. Hanya saja, kendaraan tersebut baru akan dikirimkan sore ini dari dealer ketempat mereka.


Sepanjang sejarah yang ada di kampung halaman Fadil dan Tiara, belum pernah ada orang yang memberikan kado pernikahan sampai sedemikian rupa. Mungkin, ini adalah untuk pertama dan terakhir kalinya, ada orang yang mendapatkan kado seperti dalam pernikahan antara Fadil dan Tiara.


Karena Sintya berharap Fadil dan Tiara bisa tinggal di Jakarta nantinya, maka hadiah dari Sintya dan Arya Wijaya akan diberikan kepada Fadil dan Tiara saat perayaan resepsi pernikahan mereka itu disana.Hal itu disampaikan oleh Sintya, saat usai acara ijab qobul kemarin.


Bagi Fadil dan Tiara, apa yang sudah diberikan oleh Sintya dan Arya Wijaya kepada mereka saat ini, itu semua sudah lebih dari cukup. Oleh sebab itu, mereka juga tidak pernah memikirkan, apa yang ingin diberikan lagi oleh Arya Wijaya dan Sintya kepada mereka.


Usai membuka semua kado tersebut, Fadil dan Tiara kembali ke kamar. Sambil menunggu datangnya waktu sholat Dzuhur, mereka mengobrol sambil rebahan diatas tempat tidur mereka. Tiara yang kembali teringat mimpinya semalam, dia lalu bertanya kepada Fadil yang kini telah menjadi suaminya.


'' A, entah kenapa? Aku kok merasa tidak enak ya dengan mimpiku semalam. Apa itu memang sekedar bunga tidur, atau memang sebuah isyarat untuk kita!'' ujar Tiara yang meletakkan kepalanya diatas pangkuan Fadil yang sedang bersandar di dinding kamar.


'' Jangan terlalu dipikirkan Tiara! Kan udah jelas, kalau semua itu cuma mimpi.''


''Jangan lagi kita punya anak, orang begituan aja kita belum.'' lanjut Fadil berbisik ditelinga tiara, lalu tersenyum menatap wajah Tiara yang ada di pangkuannya.


Mendengar Fadil berbisik soal itu, kedua pipi Tiara tiba-tiba jadi memerah. Dia lalu mencubit pinggang Fadil sambil memajukan bibirnya, persis seperti yang ada didalam bingkai foto dua hati yang ada didalam kamar Fadil, yang kini dia simpan didalam lemarinya.


'' Salah sendiri, kenapa semalam A Fadil langsung tidur!'' jawab Tiara, lalu memalingkan wajahnya dari tatapan Fadil.


'' Ooh.. Jadi semalam itu, kamu udah ngarep ya? Hihihi, pantesan..!'' ujar Fadil manggut-manggut.


'' Pantesan apa?'' Tiara kembali menatap Fadil.


'' Ya pantesan, gitu!'' Fadil lalu senyum-senyum.


'' Iya, pantesan gitu apanya?'' Tiara makin gemes karena dibuat penasaran oleh kata-kata Fadil, dia lalu mencubit hidung Fadil.


'' Ya begitu! Hihihi..''

__ADS_1


'' A Fadil! Kebiasaan deh..! Kalo ngomong, nggak langsung diselesain. Bikin orang kesel aja. Huh, nyebelin!'' ujar Tiara mulai sewot.


Fadil yang melihat Tiara mulai kesal tapi manja itu, dia makin terkekeh. Baginya, sikap Tiara yang seperti itu, membuat Tiara tampak semakin cantik dan imut.


'' A, cepat bilang! Kalau nggak! Aku gigit nih!'' ancam Tiara sambil menarik tangan Fadil, bersiap untuk menggigitnya.


'' Jangan jangan! Iya iya, aku bilang aku bilang!'' Fadil sambil menarik tangannya yang akan digigit Tiara, namun masih terkekeh.


'' Ya begitu! Orang mau ngajak sholat, malah dikira mau ngajak kikuk kikuk. Ketara bangetkan, kalau udah ngebet!'' ujar Fadil membuat Tiara jadi mati kutu.


Karena Fadil kembali mengungkit masalah tadi malam, Tiara jadi tidak bisa berkata apa-apa. Dia jadi malu dan tidak bisa membuat alasan untuk menyangkal perkataan Fadil tersebut. Dia lalu memalingkan wajahnya sambil menutupinya dengan kedua telapak tangannya.


'' Hey! Kok malah diam sih. Tiara sayang.. Liat kemari.'' ucap Fadil, sambil meraih tangan Tiara dan menghadapkan wajah Tiara kepadanya.


'' Aku malu lah A..'' jawab Tiara sambil memejamkan kedua matanya, tak berani bertatapan dengan Fadil.


'' Tiara sayang.. Kita ini sudah resmi jadi suami istri. Masa kamu masih malu sama aku.''


'' Sekarang, buka matamu dan liat aku baik-baik! Biar kamu nggak malu lagi, sini! Aku kasih kamu obatnya.'' ujar Fadil, lalu perlahan membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajah Tiara.


'' Allahu Akbar Allahu Akbar'' terdengar suara adzan Dzuhur berkumandang, saat keduanya hampir berciuman. Karena mendengar suara adzan tersebut, Fadil dan Tiara tidak jadi melakukannya. Keduanya jadi terkekeh, karena teringat peristiwa semalam. Mereka teringat, saat dimana keduanya akan berciuman, lalu tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk oleh Vita.


'' Hihihi.. Tiara! Sepertinya.. Memang belum rejeki kita untuk hal seperti ini. Bagaimana kalau nanti malam saja, kita menjemput rejeki kita ini.'' usul Fadil kepada Tiara.


'' Sepertinya sih memang begitu A. Tiara juga ikut apa kata A Fadil aja deh! Tapi, nanti malam kita harus menunggu mereka tidur dulu. Soalnya, Tiara nggak mau kalau sampai mereka tau kita ...'' jawab Tiara menyetujui usulan Fadil.


'' Ya udah, aku mau ke masjid dulu ya! Sekalian, aku juga mau mampir ke rumah ibu. Apa kamu mau ikut?'' tanya Fadil.


'' Emm.. besok lagi aja deh A, Tiara mau istirahat dulu. Soalnya, Tiara masih agak capek dan ngantuk.''


'' Baiklah, tapi jangan lupa dzuhuran dulu ya, baru istirahat.'' pesan Fadil sebelum keluar kamar.


'' Iya A.., Tiara tau..''


Fadil lalu berangkat ke masjid untuk ikut sholat Dzuhur berjamaah disana. Usai sholat Dzuhur, diapun menyempatkan diri untuk mampir ke rumah ibu Zaenab ibunya. Melihat kedatangan Fadil, ibu Zaenab sangat senang.


'' Fadil.. Kamu sendirian? Mana istrimu?'' tanya ibu Zaenab sambil menoleh kebelakang Fadil mencari sesuatu.


'' Tiara masih dirumahnya bu, sekarang enggak ikut. Dia masih kecapean dan mungkin besok baru bisa ikut kesini.'' jawab Fadil.


'' Kalau Sintya dan yang lainnya, apa mereka sudah kembali ke Jakarta?'' kembali ibu Zaenab bertanya.


'' Belum bu. Mereka masih di Baturaja. Mama sama papa, mereka sedang liburan disini. Tapi kalau kakek dan Nadia, paling sekitar dua hari lagi balik ke Jakarta.'' jawab Fadil.


'' Bu, nanti kalau misalnya Fadil dan Tiara tinggal di Jakarta. Ibu ikut dengan Fadil aja ya! biar Alfin saja yang nungguin rumah ini.''


'' Fadil! Ibu ini sudah tua. Ibu juga merasa lebih betah disini. Biarlah ibu tetap disini saja.''


'' Tapi bu! Fadil juga nggak ingin jauh-jauh dari ibu. Kalau ibu tetep tinggal disini, terus Fadil harus bagaimana. Sementara mama dan kakek Arya Wijaya, mereka ingin kami tinggal disana.''


'' Fadil.. Ibu gak apa apa kok! Yang penting, kamu dan Tiara sering-sering datang kemari. Entah sebulan sekali, dua bulan sekali atau beberapa bulan sekali.''


'' Yang penting, kamu tetap menengok ibu disini dan tidak melupakan ibu.''


'' Bu.. Mana mungkin Fadil bisa melupakan ibu. Bagi Fadil, ibu adalah orang yang paling berharga dari segala sesuatu yang ada didunia ini.'' ucap Fadil lalu memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang.


Meskipun Fadil kini sudah dewasa dan telah menikah, namun didepan sang ibu yang telah melahirkannya tersebut, Fadil yang merupakan anak bungsu dari ibu Zaenab, dia masih ingin bermanja-manja kepadanya layaknya seperti seorang anak balita. Namun, dia juga tahu akan batas-batas kewajarannya, dalam sikapnya tersebut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2