
Keesokan harinya. Pagi itu, usai melaksanakan sholat subuh di Masjid di sekitar area villa tersebut. Fadil, Andika dan juga Ulil, mereka berkumpul dan duduk-duduk diteras rumah itu. Sembari menunggu sarapan, juga menunggu datangnya Arya Wijaya dan Nadia, mereka mengobrol sambil menikmati minuman hangat dan aneka gorengan buatan mbok Inah.
Sementara itu. Sintya dan Tiara, usai meletakkan perlengkapan sholatnya, mereka langsung menuju dapur untuk membantu mbok Inah yang sedang memasak disana. Sementara Mira, setelah memandikan Naya anaknya, diapun ikut bergabung bersama mereka didapur.
'' Tiara, Mira, udah..! Kalian duduk istirahat saja disana. Biar saya dan mbok Inah saja yang memasak.'' ujar Sintya kepada Tiara dan Mira.
'' Gak papa kok ma. Di rumah dan di pesantren, Tiara juga sering dapat tugas memasak. Sekalian juga, Tiara mau mempelajari menu masakan dari mama dan mbok Inah.'' ujar Tiara, menolak dirinya hanya duduk bersantai tanpa melakukan apapun.
Begitupun dengan Mira. Diapun tidak mau berdiam diri saja. Dia lalu mempersiapkan piring dan perlengkapan makan diruang makan. Juga ikut membantu mereka memasak.
'' Kakak cantik, Nyonya cantik! Boleh nggak Naya ikut membantu? Naya juga biasa membantu mama kalau dirumah.'' ujar bocah kecil itu menghampiri Sintya dan Tiara.
'' Eeh.. anak pintar. Makasih ya sayang. Tapi ini pekerjaan orang dewasa nak ya! Namanya siapa ini, cantik dan pintar banget.'' ujar Sintya tersenyum melihat bocah tersebut.
'' Nama saya Naya nyonya cantik.'' ujar bocah itu menjawab pertanyaan Sintya.
'' Naya! kalau Naya mau duduk anteng disana, berarti Naya udah membantu kita semua. Jadi, Naya mau gak membantu kita semua?'' tanya Tiara kepada Naya.
'' Tapi kakak cantik. Memangnya kalau Naya cuma duduk diam, apa berarti Naya udah membantu?'' tanya Naya dengan polosnya.
'' Iya sayang! kalau Naya nurut omongan kakak cantik, Naya juga sudah disebut membantu.'' sahut Mira menghampiri anaknya tersebut.
Dirumah, Naya yang sering membantu ibunya yang hanya seorang diri mengerjakan banyak hal. Mungkin karena rasa prihatin dan kasihan kepada ibunya, akhirnya Naya juga kadang melakukan pekerjaan seperti menyapu, menyuapi kakek dan neneknya yang lumpuh, dan beberapa pekerjaan yang lainnya.
Meskipun yang dilakukannya tidak seperti hasil pekerjaan orang yang dewasa, namun setidaknya bagi Mira itu sudah sangat berarti. Apalagi, untuk ukuran bocah seumuran Naya. Sebenarnya, Mirapun tidak tega melihat Naya seperti itu. Namun karena keadaan yang memaksa, akhirnya Mirapun hanya membiarkan Naya melakukan hal tersebut.
Mendengar ibunya berkata seperti itu, Naya kemudian pergi dan duduk di kursi yang ada disana. Dengan tenangnya, dia duduk dan memperhatikan mereka yang sedang bekerja didapur.
Melihat kepiawaian Tiara dalam memasak, dan juga setelah mencicipi hasil dari masakan yang dibuat oleh Tiara, mbok Inah benar-benar merasa takjub. Dia begitu terpukau melihat calon menantu majikannya.
'' Wah.. Nyonya! ternyata, non Tiara selain cantik, dia juga pandai memasak. Mana masakannya juga enak nyonya. Pasti nanti akan disayang suami.'' ujar mbok Inah.
'' Iya mbok, saya memang beruntung. Karena akan punya menantu seperti Tiara. Sudah cantik, juga pandai memasak.'' jawab Sintya, lalu tersenyum melihat Tiara.
Mendengar mbok Inah dan Sintya berkata seperti itu, Tiara merasa tersanjung. Wajahnya sedikit memerah saat Sintya melihat kearahnya. diapun segera berkata:
'' Ah..mama dan simbok ini bisa saja, Tiara cuma gadis kampung yang biasa aja kok ma.'' ujar Tiara malu-malu.
Tidak berapa lama kemudian, disaat mereka sedang sibuk didapur. Sebuah mobil mewah datang memasuki halaman villa tersebut. Arya Wijaya dan Nadia turun dari mobil itu, setelah mobil tersebut terparkir dihalaman. Andika, Fadil, dan juga Ulil yang sedang asyik mengobrol diteras rumah tersebut, segera berdiri menyambut kedatangan mereka.
'' Assalamualaikum..'' sapa Arya Wijaya berjalan mendekati mereka, diikuti oleh Nadia.
'' Wa'alaikumsalaam warahmatullaah..'' jawab Fadil, Ulil, dan Andika serempak.
'' Fadil, kamu sehat nak! Bagaimana kabar ibumu?'' tanya Arya Wijaya.
'' Alhamdulillah kek. Semuanya sehat dan baik.'' jawab Fadil.
__ADS_1
'' Syukurlah kalau begitu. Lho ini, mana yang lain?'' tanya Arya Wijaya yang tidak melihat Sintya dan Tiara berada disana.
'' Iya kak! mana kakak ipar? katanya kak Fadil datang sama kak Tiara?'' sahut Nadia.
'' Oh.. mereka lagi didapur pa! lagi bikin sarapan buat kita. Mari pa duduk!'' ucap Andika kepada mertuanya tersebut.
Arya Wijaya lalu ikut duduk dan mengobrol disana. Sementara Nadia, dia langsung masuk dan menuju dapur untuk menemui Tiara dan mamanya Sintya. Fadil lalu memperkenalkan Ulil kepada Arya Wijaya.
'' Kakek.. kenalkan! ini teman Fadil kek, namanya Ulil. Dia bekerja di hotel Puri Kusuma. Hanya saja, dia ini terlambat masuk kerja karena Fadil kek. Jadi hari ini, Fadil ingin membantunya agar bisa kembali masuk kerja disana.''
'' Oh.. begitu! ya baguslah. Sekalian, kamu juga bisa melihat-lihat hotel itu.'' ujar Arya Wijaya.
Dari isyarat yang ditunjukkan oleh Fadil, baik Andika ataupun Arya Wijaya mengerti. Sepertinya Fadil tidak ingin Ulil sahabatnya itu mengetahui, kalau sebenarnya hotel tempat Ulil bekerja itu, merupakan salah satu hotel milik keluarga Arya Wijaya.
Dan Ulil pun sepertinya tidak merasa curiga akan hal tersebut. Karena bagaimanapun juga, Fadil sahabatnya tersebut, memang baru pertama kalinya dia datang ke kota Jakarta. Dia lupa, kalau sebenarnya tubuh Fadil yang sekarang ini adalah tubuh Alan, anak dan cucu dari seorang pengusaha besar di kota Jakarta.
Seandainya Ulil tahu, bahwa nama hotel tempat dia bekerja adalah nama dari pemilik tubuh yang sekarang digunakan oleh Fadil, yaitu Alan Putra Kusuma, mungkin Ulil juga akan memaklumi. Kenapa Fadil begitu santainya mengatakan, kalau Fadil akan membantunya untuk kembali bekerja di hotel tersebut, padahal Ulil sudah terlambat masuk kerja. Sementara dalam perjanjian kontrak kerja tersebut, jelas-jelas Ulil tidak bisa lagi bekerja disana karena keterlambatannya.
'' Jadi, kapan kamu mau kesana?'' tanya Arya Wijaya.
'' Insyaallah, pagi ini juga kek. Soalnya nanti siang, saya dan Tiara harus ke pergi ke pesantren untuk menghadiri pernikahan kang Zul dan mbak Naila besok.''
'' Oh iya! apa kakek, mama dan papa juga akan datang kesana?'' tanya Fadil.
'' Emm.. kalau kakek tidak bisa Fadil. Soalnya kakek masih banyak urusan beberapa hari ini. Mungkin papa dan mamamu saja yang akan kesana.'' ujar Arya Wijaya.
'' Kalau kamu sendiri, jadi akan menikah setelah lebaran haji tahun ini?'' tanya Arya Wijaya.
'' Aamiin..'' ucap mereka yang ada ditempat itu.
Saat mereka masih asyik berbincang bincang, dari dalam rumah muncul Sintya. Dia kemudian mengajak Arya Wijaya dan yang lainnya, untuk segera masuk dan sarapan bersama. Usai sarapan bersama, mereka kemudian duduk santai sejenak di ruang keluarga.
Tidak berapa lama kemudian, orang kepercayaan Andika datang. Saat sedang berbincang diteras tadi, dia menghubungi orang tersebut. Dia adalah salah satu sopir kepercayaannya di perusahaan. Mira dan anaknya segera masuk kedalam mobil yang dibawa oleh orang tersebut, setelah dia berpamitan kepada Sintya dan yang lainnya.
Tidak lupa, Sintya juga memberikan uang kepada Mira sebesar 10 juta rupiah, untuk keperluan makan dan membeli obat kedua mertuanya. Dia juga mengatakan kepada Mira, jika nanti dia membutuhkan apa-apa, dia bisa menghubungi nomor yang Sintya berikan. Berulang ulang kali, Mira mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Sintya dan keluarganya. Dia benar-benar terharu dengan apa yang dilakukan oleh Sintya dan keluarganya.
...----------------...
Setelah kepergian Mira dan anaknya, Fadil juga bersiap-siap untuk pergi ke hotel tempat Ulil bekerja. Sementara Andika dan Sintya serta Arya Wijaya, mereka juga akan pergi kekantor perusahaan mereka.
Nadia yang secara kebetulan sekolahnya searah dengan jalan yang akan ditempuh oleh Fadil, dia ikut bersamanya.
'' Tiara! kamu mau ikut denganku, atau tetap dirumah bersama mbok Inah.'' tanya Fadil kepada Tiara.
Setelah berpikir sejenak, Tiara lalu memutuskan untuk ikut bersama Fadil mengantarkan Ulil. Dia belum terbiasa dirumah ini. Tentunya, dia akan merasa bosan kalau dia tetap dirumah saja.
'' Tiara ikut A Fadil aja A. Soalnya, Tiara masih canggung kalau dirumah ini sendirian.'' ujarnya.
__ADS_1
'' Kan ada mbok Inah dan pembantu yang lain. Masa dibilang sendirian?'' ujar Fadil.
'' Iya sih, tapi Tiara ikut aja A. Sekali-kali Tiara juga ingin tahu kota Jakarta.'' jawab Tiara.
'' Iya Fadil, sekali-kali Tiara juga perlu jalan-jalan melihat ibu kota. Bila perlu, ajak dia shopping sekalian.'' ujar Sintya.
Akhirnya, Fadil, Ulil, Tiara dan Nadia, mereka segera pergi meninggalkan villa tersebut. Setelah sampai didepan sekolah Nadia, Fadil sempat turun dari mobil dan mengantarkan Nadia sampai di pintu gerbang sekolah tersebut. Saat Fadil ada disana, beberapa murid perempuan dan teman Nadia sedikit heboh. Karena memang, Nadia tidak pernah diantar oleh Alan selama dia sekolah, disebabkan karena Alan sedang kuliah diluar negeri.
'' Nadia! ingat pesan mama tadi kan? kalau udah waktunya pulang, jangan ngeluyur! tunggu mama atau papa jemput, atau tunggu jemputan dari rumah!'' ujar Fadil menirukan pesan Sintya kepada Nadia.
'' Iya kak iya! Nadia inget kok. Bawel amat, kayak mama dan kak Alan aja!'' gerutu Nadia, lalu berjalan meninggalkan Fadil.
'' Nadia! gak boleh gitu!'' ujar Fadil yang mendengar gerutuan Nadia.
'' Iya kakak ganteng..! Nadia juga ingat kok pesan mama'' jawab Nadia sambil berbalik menghadap Fadil.
'' Ehm..ehm..,Nad, siapa tuuh? cowok lo ya? kok Lo kagak pernah bilang kalau punya cowok!'' ucap salah satu teman Nadia sambil menghampiri Nadia.
'' Iya Nad, jahat banget sih lo! Punya gebetan ganteng kaya gitu! Lo makan ndiri aja.'' sahut yang lain.
'' Ish..paan sih kalian? dia itu kakak gue tahu!''
'' What? jadi dia kakak lo? kok gue kagak pernah tau Lo punya kakak seganteng itu. Mirip..itu, siapa? emm.. Hitrik Roshan, tapi putihan lagi. Waah.. hati gue Nad, hati gue!'' ujar teman Nadia sambil memegang dadanya.
'' Iya Nad. Kalau gitu! kenalin sama kita doong! sapa tau gue bisa jadi kakak ipar Lo nantinya.'' ujar teman Nadia yang terlihat paling centil.
'' Ish.. gak usah ngimpi kalian! bentar lagi, kakak gue mau nikah tau! Dan calon istrinya juga ada dimobil itu.'' jawab Nadia.
'' Apa? udah mau nikah? Yaah..! telat sih Lo Nad! Napa kagak dari dulu Lo bilang sama kita.''
'' Tapi, gue sih gak papa Nad! Gue ikhlas kok, biarpun jadi yang kedua ataupun yang ke lima.'' ucapnya sambil terus menatapi Fadil yang akan masuk kedalam mobil.
'' Gila Lo pada ya! emang Lo lo berani, minta ijin sama calon istrinya?'' ujar Nadia.
'' Emangnya, calon kakak ipar Lo galak ya Nad?''
'' Kalau galak sih enggak, tapi Lo lo semua, bakalan minder deh kalau udah liat orangnya.''
'' Emang, dia cantik banget apa Nad?''
'' Cantik. Pokoknya, biarpun tujuh kalian dijadikan satu, masih belum sebanding sama kecantikan kakak ipar gue.'' ujar Nadia yang tidak rela mereka nanti merusak hubungan Fadil dan Tiara.
'' Udah ah, ayo masuk! ntar telat lagi. Bisa-bisa, kita kagak boleh masuk kelas.'' ajak Nadia segera menarik lengan kedua temannya.
Saat Nadia dan teman-temannya sedang membicarakan Fadil, samar-samar Fadil, Tiara dan juga Ulil, mendengar pembicaraan mereka. Namun, baik Fadil, Ulil dan juga Tiara, mereka hanya tersenyum tanpa berkomentar apa-apa.
Fadil segera membawa mobilnya menuju hotel Puri Kusuma. Didalam perjalanan kesana, Ulil sebenarnya ingin sedikit menggoda Fadil dengan pembicaraan Nadia dan teman-temannya tadi. Namun, karena disana ada Tiara, Ulil tidak berani berkomentar. Takut nanti Tiara akan cemburu, dan bisa merusak hubungan mereka.
__ADS_1
Sementara itu, melihat kalau ternyata Fadil begitu digemari oleh banyak perempuan lain, dalam hati Tiara terbersit rasa khawatir dan rasa cemburu. Bagaimanapun juga, sebagai seorang wanita yang normal, dia tidak ingin kalau nantinya Fadil menduakan hati apalagi berpaling darinya.
...****************...