
Di kediaman Abah.. Tak berapa lama setelah Alan kembali ke asramanya usai menghubungi Andre. Tiara mulai sadar dari pingsannya. Dia melihat sekeliling. Naila yang sudah membersihkan diri dan berganti pakaian, duduk disisi pembaringan disisi Tiara.
'' Dimana aku?''
'' Mbak Tiara.. Syukurlah, akhirnya mbak bangun juga.''
'' Mbak Naila.. kita ada dimana mbak?'' Tiara sambil bangkit dari posisi tidurnya.
'' Kita di rumah Abah mbak, Alhamdulillah kita sudah selamat.''
Tiara kemudian kembali teringat dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Dia teringat ketika laki-laki yang menculiknya itu, melepaskan jilbabnya dengan kasar. Dia lalu memperhatikan kondisi dirinya.
'' Apakah aku.. aku? hiks hiks.''
Tiara yang tidak lagi mengetahui kejadian selanjutnya, setelah dia berteriak memanggil nama Fadil dengan sekuat tenaganya itu, merasa khawatir jika dirinya sudah di apa-apakan oleh penculik tersebut. Diapun hanya bisa menangis meratapi nasibnya.
'' Mbak Tiara.. bersyukurlah! Sebelum hal itu terjadi, kang Alan telah menyelamatkan mbak dari manusia bejat itu!'' Naila segera menghibur Tiara.
'' Kang Alan? A Fadil!''
Tiara kemudian teringat antara sadar dan tidak sadar, Dia melihat wajah Fadil saat sebelum dia jatuh pingsan lagi.
'' Bukan mbak! Namanya kang Alan. Dia santri baru dari Jakarta.''
Meskipun masih merasa bingung, Tiara akhirnya sedikit lega, setelah mendengar penjelasan dari Naila. Dia kemudian ingin kembali ke asrama. Namun saat dia mencari kerudung miliknya, dia merasa heran karena tidak menemukan kerudungnya itu.
'' Mbak Tiara, kang Alan bilang, kerudung mbak tadi tidak sempat diambil. Jadi, kang Alan tadi memberikan kain sorban ini untuk menutupi rambut mbak. Oh iya mbak Tiara, sebaiknya mbak membersihkan diri dulu disini, baru kita kembali ke asrama.'' ucap Naila sambil memberikan handuk baru dan pakaian bersih kepada Tiara.
Akhirnya, Tiara pun hanya mengikuti apa yang di katakan oleh Naila. Dia kemudian mandi dikamar mandi yang ada di kamar Naila, dan mengganti pakaiannya dengan pakaian milik Naila yang kebetulan seukuran dengan tubuhnya. Kemudian bersama Naila, Dia mengisi perutnya yang sedari pagi tadi belum sempat terisi. Baru setelah itu, mereka kembali ke asrama putri.
......................
Menjelang waktu Maghrib, Zul dan temannya kembali ke pesantren dengan mengendarai motor milik Naila yang sudah diperbaiki. Dia juga sempat berbelanja keperluan dapur di mini market sebelah bengkel, yang dipesankan oleh Alan saat menunggu motor itu diperbaiki.
Saat kejadian tadi, beberapa belanjaan keperluan dapur yang dibeli oleh Naila dan Tiara, banyak yang tercecer di parit. Hanya sebagian saja yang bisa di bawa pulang. Untuk itu Alan meminta Zul untuk membelikan beberapa keperluan itu, dengan menggunakan uang yang diberikan oleh Alan yang kebetulan juga masih banyak berlebih.
Alan juga memesan 1000 bungkus nasi rendang Padang untuk para santri putra dan putri, karena dapur umum mereka mengalami kekacauan akibat insiden tersebut. Tentu saja hal itu disambut gembira oleh para santri, yang memang sangat jarang makan-makanan enak selama mereka berada di pesantren. Karena selama di pesantren, mereka dididik untuk hidup sederhana dan hemat. Apalagi, memang akhir-akhir ini kondisi keuangan mereka juga sedang kurang baik. Namun, hal ini menimbulkan sedikit pertanyaan dihati Abah dan Ummi, tentang status dan jati diri siapa Alan sebenarnya.
Usai melaksanakan shalat magrib berjamaah di masjid, Abah meminta Alan dan Zul untuk datang kerumahnya. karena ada suatu hal yang ingin Abah bicarakan bersama mereka. Sesampainya Alan dan Zul di kediaman Abah, mereka kemudian dipersilahkan untuk duduk diruang tamu. Tak lama kemudian, Abah keluar dari ruang belakang bersama Ummi yang membawakan teh dan aneka buah yang diberikan oleh Alan tadi siang.
'' Zul, nak Alan. Abah sengaja memanggil kalian kesini, karena ada beberapa hal yang ingin Abah sampaikan kepada kalian .'' ucap Abah setelah duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka.
__ADS_1
'' Iya Abah...'' ucap Zul dan Alan berbarengan.
'' Begini! Pertama, Abah dan Ummi ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada kalian, utamanya kepada nak Alan. Sebab, apa yang nak Alan lakukan hari ini, bagi Abah dan pesantren ini sungguh sangat besar artinya.''
'' Kedua, mohon maaf nak Alan.. Sejujurnya, Abah dan Ummi merasa penasaran dan ingin tahu, siapa dan apa tujuan sebenarnya dari nak Alan ini berada ditempat kami ini. Karena Abah merasa, ada sesuatu yang disembunyikan dari nak Alan kepada kami.''
'' Dan yang selanjutnya, Abah ingin bertanya kepadamu Zul! Tapi, pertanyaan Abah untuk Zul, biar nanti Abah sampaikan setelah mendengar penjelasan dari nak Alan terlebih dahulu.'' ujar Abah sambil menatap Alan dan Zul bergantian.
Alan dan Zul saling berpandangan, kemudian Zul mempersilahkan Alan untuk menjawab pertanyaan dari Abah.
'' Mohon maaf sebelumnya Abah, Ummi.'' Alan membuka suara, kemudian memperbaiki posisi duduknya.
'' Tujuan saya ke pesantren ini, murni karena saya ingin mencari ilmu, dan belajar untuk memperbaiki diri. Sejak kecil, saya tidak pernah mengenal yang namanya taat kepada Allah. Sebab, saya benar-benar buta akan ilmu agama. Saya juga tidak pernah melaksanakan yang namanya sholat, puasa, atau ibadah-ibadah yang lain. Tapi, semenjak kecelakaan 3 bulan yang lalu, yang menyebabkan kebutaan mata saya, saya merasa tersentuh saat melihat dan mendengar bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an.'' ujar Alan menceritakan sepenggal kisah hidupnya.
'' Maka, sejak saat itulah, saya bertekad agar supaya bisa menutupi kesalahan-kesalahan, yang selama ini tidak pernah saya sadari.'' lanjutnya.
'' Terus, bagaimana dengan latar belakang kehidupan nak Alan sendiri? Sepertinya, nak Alan ini bukan dari keluarga yang biasa? Apalagi, kalau kami lihat dari apa yang nak Alan lakukan hari ini, juga niat nak Alan yang terlihat begitu besar, untuk membantu kami mengatasi masalah pak lurah dan para pengikutnya itu.'' ujar Ummi penasaran.
'' Begini Ummi, Abah.''
Alan menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya dia tidak ingin menceritakan siapa dia sebenarnya. Namun, dia juga tidak ingin membohongi Abah dan Ummi. Maka dengan sedikit terpaksa ,Alan juga harus menceritakan itu kepada mereka.
'' Adapun kenapa saya begitu bersemangat ingin membantu permasalahan di pesantren ini, selain saya memang merasa, inilah saatnya bagi saya untuk berbuat sedikit kebaikan, secara kebetulan juga pak lurah dan para pengikutnya, serta orang-orang yang ikut bekerja sama dengannya itu, mereka telah berbuat dzalim kepada keluarga kami. Maka, tentunya wajar bagi saya untuk menghentikan kejahatan mereka.''
'' Abah.. Ummi.. kang Zul, sejujurnya juga saya katakan. Awalnya saya juga tidak mengetahui, jika perkebunan teh yang ada di daerah ini adalah milik kakek saya. Saya baru tahu dari kakek saya, kemarin setelah Abah bercerita tentang masalah pesantren ini dan penyebabnya. Untuk itu, Abah Ummi, adalah kewajiban saya. Untuk membantu menyelesaikan masalah yang ada di pesantren ini. Karena bagaimanapun juga, timbulnya masalah ini berawal karena Gus Alif putra Abah, yang ingin membantu membongkar kejahatan pak lurah, yang telah berbuat dzalim kepada keluarga kami.''
'' Oh iya, Abah Ummi, apa pesantren ini memiliki nomor rekening yang sudah didaftarkan melalui mobile banking?'' tanya Alan.
Abah dan Ummi saling berpandangan. Kemudian karena penasaran, Ummi pun bertanya:
'' Ada nak Alan, tapi kira-kira untuk apa ya? tanya Ummi.
'' Ya kalau boleh! saya minta nomornya Ummi. Insyaallah, saya sekeluarga ingin memberikan sedikit rejeki untuk ikut berpartisipasi pada pesantren ini.'' jawab Alan.
Semenjak pesantren ini didirikan, baik orang tua Abah dan juga Abah sendiri, memang tidak pernah mengajukan proposal untuk pembangunan ataupun untuk biaya operasional pesantren. Mereka selalu berusaha semaksimal mungkin, mengeluarkan dana dari jerih payah usaha keluarga sendiri. Bahkan para santri sendiri, tidak pernah dibebani biaya untuk uang gedung ataupun semacamnya. Para santri di pesantren ini, hanya di mintai uang untuk biaya makan, dan pemakaian listrik mereka sendiri untuk setiap bulannya. Sehingga para santri tidak banyak mengeluarkan biaya, ketika mereka belajar di pesantren ini. Namun meskipun begitu, Abah tidak pernah menolak jika ada orang atau donatur yang ingin menyumbang di pesantren ini. Untuk itulah Abah juga menyiapkan nomor rekening mobile, agar mempermudah proses pemantauan keluar masuknya keuangan di pesantren ini.
Setelah menerima nomor rekening dari Ummi, Alan kemudian mengeluarkan kartu bank eklusif pemberian Arya Wijaya. Dia kemudian memasukkan kode dan nomor pin kartu tersebut, dan mentransfer sejumlah uang melalui iPhone miliknya. Tak lama kemudian, terdengar bunyi notifikasi pemberitahuan yang ada di ponsel Android yang dipegang oleh Ummi. Saat melihat nominal yang tertera dilayar ponselnya, Ummi jadi tercengang, seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Melihat istrinya yang seperti itu, Abah pun merasa penasaran. Ummi kemudian, memberikan ponselnya kepada Abah.
Abah juga ikut tercengang. Mereka berdua saling pandang, kemudian menatap ke arah Alan dengan tidak percaya.
'' Nak Alan, apa nak Alan tidak salah ketik?'' tanya Abah tidak percaya.
__ADS_1
'' Maaf Abah! Sementara ini, saya cuma bisa menyumbang segitu!. Walaupun sedikit, tapi semoga bisa membantu mengurangi beban di pesantren ini.'' ucap Alan merasa kurang enak.
'' 2 M, nak Alan bilang sedikit? Subhanallah.. Allahu Akbar. Nak Alan, apa nak Alan serius menyumbang segitu?'' tanya Ummi.
Alan mengangguk. Dia benar-benar merasa kurang percaya diri, karena hanya menyumbang sejumlah tersebut. Lalu diapun segera berkata:
'' Tapi kalau kurang, biar saya tambah lagi Umi!'' ucapnya sambil bersiap-siap untuk melakukan transfer lagi.
'' Jangan jangan jangan! Ini sudah kelewat banyak nak Alan! Cukup, jangan tambah lagi, Abah jadi malu nanti.'' cegah Abah setelah melihat Alan yang bersiap-siap untuk melakukan transfer lagi.
'' Alhamdulillah ya Allah.. Ternyata Engkau sungguh Maha pengasih dan Maha kuasa, Engkau telah mengirimkan kepada kami orang sebaik ini ditempat kami.'' ucap Abah sambil menengadahkan wajah dan kedua tangannya yang juga diikuti oleh Ummi Hafshah.
Melihat hal itu, Alan dan Zul ikut terharu. Terlebih lagi Zul. Dia benar-benar tidak menyangka, jika ternyata santri baru yang dikenalnya itu, ternyata bukan pemuda biasa. Meskipun dari awal dia sudah melihat ada aura yang berbeda dari diri Alan, tapi dia juga benar-benar tidak menyangka. Kalau ternyata pemuda yang berpenampilan biasa-biasa saja itu, bukan hanya orang kaya, tapi juga murah hati.
'' Abah Ummi, dan juga kang Zul. Andai diizinkan, kedepannya saya juga ingin bekerjasama dengan pesantren ini. Saya ingin membuat sebuah usaha karya, yang nantinya melibatkan seluruh santri yang ada di pesantren ini. Supaya nantinya, para santri bisa mandiri dan sekaligus menjadi bekal bagi mereka, agar bisa mengembangkan bakat dan kemampuan yang mereka miliki. Baik sewaktu mereka masih disini, ataupun ketika mereka telah kembali ketempat masing-masing.''
'' Mengenai detailnya, nanti akan saya jelaskan lebih rinci lagi, setelah urusan mengenai pak lurah sudah terselesaikan.'' lanjutnya.
'' Nak Alan.. Abah secara pribadi, juga atas nama pesantren ini, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas apa yang telah dan akan nak Alan lakukan. Baik itu untuk keluarga Abah sendiri, ataupun untuk pesantren ini.'' ucap Abah penuh rasa syukur yang mendalam.
Setelah berkata seperti itu, Abah masuk kedalam kamarnya. Kemudian keluar lagi sambil membawa sebuah buku catatan kecil yang sudah cukup lama, namun terpelihara dengan baik. Kemudian, Abah menyerahkan buku kecil itu kepada Alan.
'' Nak Alan, ini ada sedikit kenang-kenangan dari kami. Semoga bermanfaat untuk nak Alan. Abah merasa, ini lebih cocok untuk nak Alan daripada kami.''
'' Apa ini Bah?'' tanya Alan penasaran.
'' Itu buku catatan mengenai cara pemilihan, perawatan, dan juga cara meracik teh istimewa yang diberikan oleh kakek nenek Abah dari jaman dulu.''
Alan benar-benar tidak menyangka, ternyata Abah benar-benar akan memberikan resep rahasia itu kepadanya. Dia sangat berterima kasih kepada Abah dan Ummi atas pemberian itu. Bagi Alan, buku catatan kecil itu adalah harta Karun yang tak terhingga nilainya.
'' Terimakasih Abah Ummi, ini benar-benar sangat berharga bagi saya. Saya akan jaga dan kembangkan, agar bisa lebih bermanfaat untuk semua, karena ini termasuk aset yang sangat bernilai bagi negeri ini.''
'' Oh iya nak Alan, soal pak lurah dan anaknya itu bagaimana? terus terang Ummi masih merasa khawatir.''
'' Saat ini, mereka sedang dalam pengawasan dan penyelidikan. Saya juga sudah meminta seseorang untuk mengawasi daerah sekitar pesantren ini, karena saya khawatir akan ada pergerakan dari mereka atas kejadian hari ini. Bagaimanapun juga, untuk sementara ini kita harus waspada dan berjaga-jaga dari segala kemungkinan. Untuk itu, lebih baik jangan banyak kegiatan keluar dulu, terutama bagi santri perempuan. Biar santri laki-laki saja yang berbelanja kebutuhan pesantren ini untuk sementara waktu.'' ujar Alan.
'' Abah juga sependapat denganmu nak Alan. Untuk itu, Abah minta kepadamu Zul, agar mengadakan giliran jaga bagi para santri laki-laki setiap malamnya.'' ucap Abah memandang kearah Zulkifli.
Sama seperti halnya dengan Abah, Ummi dan Zul pun ikut setuju atas apa yang disarankan oleh Alan.
...****************...
__ADS_1