
Setelah tiba waktu magrib, dan pemerintah telah resmi mengumumkan bahwa malam itu adalah 1 Syawal. Segera gema takbir terdengar dari pengeras suara masjid dimana-mana. Rasa haru begitu menyentuh hati bagi mereka yang telah berhasil menyelesaikan ujian selama bulan Ramadhan. Hingga terkadang mereka tidak tahu, harus bersedih atau bahagia.
Malam lebaran, memang selalu membawa kesan yang sangat berbeda. Walaupun setiap hari suara bedug dan adzan Maghrib selalu terdengar, namun sore itu terasa berbeda. Bedug dan adzan Maghrib sore itu, terdengar bagaikan suara genderang kemenangan dari prajurit yang pulang dari medan perang. Sehingga bias-bias kegembiraan terpancar dimana-mana. Bahkan, kegembiraan tak hanya bagi mereka yang benar-benar mampu menyelesaikan kewajiban-kewajiban selama bulan ini, tapi juga bagi mereka yang gagal dan tidak melaksanakan kewajibannya.
Malam itu dikediaman pak Syahroni.
'' Tiara, duduklah sebentar, ayah dan ibu ingin bicara.'' ujar pak Syahroni yang sedang duduk bersama istrinya diruang keluarga.
'' Iya yah, ada apa?'' tanya Tiara setelah keluar dari kamar dan duduk dihadapan kedua orang tuanya.
'' Tiara, kamu sendiri telah mengetahuinya. Entah benar tidaknya, Fadil akan kembali walaupun dengan tubuh orang lain. Kamu juga sudah tahu seperti apa dia bukan! Apa kamu masih mencintai Fadil dan ingin tetap bersamanya?'' tanya Bu Lilis menatap Tiara.
Tiara mengangguk penuh keyakinan. Bagi Tiara, dia tidak mempermasalahkan bagaimana nanti Fadil hadir dalam jasad siapa. Apalagi kalau menurut cerita Alan, Fadil juga akan menempati tubuh Alan yang memang sangat mirip sekali dengan Fadil. Bahkan terlihat jauh lebih tampan.
'' Ayah, ibu. Bagaimanapun juga, hati Tiara ini sudah ditempati oleh A Fadil. Tidak mungkin bagi Tiara untuk berpaling kepada orang lain. Jadi, sampai kapanpun Tiara akan tetap mencintai A Fadil bu!'' ujarnya sambil menunduk.
'' Ayah, ibu. Apakah kalian tidak setuju dengan pilihan Tiara?'' tanya Tiara merasa khawatir karena pertanyaan dari ibunya tadi.
'' Tidak tidak! bukan begitu Tiara. Kami bukanya tidak setuju dengan pilihanmu. Tapi..'' ujar pak Syahroni agak ragu.
'' Tapi apa yah? Apakah jasad kang Alan yang akan digunakan oleh A Fadil terlalu buruk?''
'' Bukan bukan!, bukan seperti itu Tiara. Bahkan kami juga merasa, kalau jasad Alan itu jauh lebih baik dari Fadil. Dan juga, sepertinya dia anak orang kaya.''
'' Lalu, kenapa ayah dan ibu sepertinya kurang begitu suka kalau Tiara bersamanya?''
'' Tiara, ayah dan ibu bukanya tidak suka. Tapi kamu sendiri tahukan! kalau sepertinya Alan itu adalah orang kaya. Meskipun nanti tubuhnya akan menjadi milik Fadil, tapi tubuhnya juga milik keluarga Alan.''
'' Karena itulah, ayah dan ibu kini merasa khawatir. Jika nanti keluarganya itu tidak bisa menerima kita yang cuma dari keluarga biasa ini.'' ujar pak Syahroni menjelaskan.
__ADS_1
Mendengar penuturan ayahnya, kini hati Tiara juga mulai bimbang. Tiara yang tadinya sudah siap dan senang dengan kembalinya Fadil, meskipun dengan tubuh milik Alan tersebut, diapun mulai kepikiran akan hal itu.
'' Tapi kita kan belum tahu yah, bagaimana nanti sikap mereka terhadap kita.'' ujar Tiara mencoba menguatkan hatinya.
'' Itu juga ada benarnya Tiara, hanya saja kita juga perlu berjaga-jaga. Untuk itu Tiara, jika kamu mau, kemarin ada orang yang datang menemui kami, dan meminta kamu untuk anaknya.''
Tiara tidak langsung menjawab. Dia tidak bisa membayangkan, kalau dia nanti akan dengan orang lain. Namun juga tidak bisa membayangkan, seandainya keluarga Alan tidak mau menerima dirinya, karena status sosial yang berbeda.
'' Emangnya siapa yang kemarin datang yah?'' tanya Tiara tidak semangat.
'' Pak Romli dan istrinya, untuk Yanto anak mereka satu-satunya.'' jawab pak Syahroni.
Mendengar nama Yanto, Tiara langsung menunjukkan wajah tidak sukanya. Walaupun wajah Yanto cukup lumayan, dan keluarganya juga termasuk cukup terpandang, namun sifat Yanto yang buruk itu membuat Tiara sangat tidak menyukainya. Pak Romli yang mantan anggota dewan tersebut, memang memiliki banyak harta. Namun sepertinya, harta yang dimilikinya juga didapat dari jalan yang tidak benar.
'' Ayah, ibu, maaf Tiara tidak mau. Kalau kalian ingin punya menantu dia, kenapa tidak untuk kak Yunita saja? bukannya kak Yunita juga belum ada calon!'' ujar Tiara menolak tawaran kedua orang tuanya.
Pak Syahroni dan Bu Lilis saling berpandangan. Meskipun ada rasa kekhawatiran dalam hati mereka tentang bagaimana nanti sikap keluarga Alan, namun mereka juga lebih khawatir akan kondisi Tiara, manakala mereka menjauhkan Tiara dari Fadil. Hingga akhirnya, pak Syahroni dan Bu Lilis hanya bisa pasrah menerima apapun yang akan terjadi selanjutnya.
...----------------...
Pagi itu, usai melaksanakan sholat Ied. Tiara yang tidak melihat keberadaan Alan saat pelaksanaan sholat di masjid, dan hanya melihat Alfin dan ibu Zaenab saja. Serta tidak melihat adanya mobil Alan yang biasa terparkir diteras rumah itu, dia mulai bertanya-tanya dalam hati. Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Tiara yang sedang berada didalam kamarnya tersebut, lalu membuka ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada Alan. Namun, saat baru saja dia membuka aplikasi WhatsApp, sebuah pesan teks telah masuk.
'' Assalamualaikum mbak Tiara.'' pesan singkat dari Alan.
'' Wa'alaikumsalaam Wr.Wb.'' balas Tiara.
'' Minal 'Aidin wal Faidzin mbak, mohon maaf lahir dan batin.'' pesan Alan kembali masuk.
'' Sama-sama Kang.'' jawab Tiara.
__ADS_1
'' Maaf mbak, saat ini saya belum bisa bertamu ke rumah mbak, soalnya sekarang saya sedang di Baturaja menemani keluarga saya yang kemarin datang dari Jakarta.''
'' Iya kang, gak papa.'' balas Tiara singkat.
'' Insyaallah, besok pagi kami baru akan kesana untuk berkunjung ke rumah ibunya mas Fadil, sekalian saya akan memperkenalkan keluarga saya kepada keluarga mbak Tiara.'' ucap Alan melalui pesan tersebut.
'' Titip salam ya, buat bapak sama ibu juga yang lainnya. Wassalamu'alaikum.'' Alan mengakhiri pesan singkatnya.
'' Insyaallah kang, akan saya sampaikan. Wa'alaikumsalaam. Wr.Wb.'' balas Tiara pada pesan tersebut.
Mendengar kalau keluarga Alan akan datang berkunjung ke rumahnya, Tiara merasa senang. Namun, tiba-tiba hatinya berdebar kencang. Dia kembali teringat apa yang dikatakan oleh ayahnya. Rasa khawatir juga mulai muncul dalam hatinya. Bagaimanakah nanti, respon keluarga Alan terhadap dirinya dan keluarganya. Mungkinkah mereka bisa menerima keadaan dirinya, ataukah malah sebaliknya.
'' Ya Allah, berikan aku hal yang baik untuk besok ya Allah.'' gumam Tiara dalam hati.
Usai berkirim pesan dengan Alan, Tiara lalu membuat panggilan ke nomor Naila, sekaligus menyambungkannya dengan nomor Neng geulis. Mereka lalu mengobrol cukup lama. Saling mengucapkan permintaan maaf, dan juga membicarakan rencana kapan akan kembali berkumpul di pesantren.
Dalam obrolan mereka itu, Naila sempat memberi tahu kepada Neng geulis, kalau Tiara sekarang sudah bertemu dengan pangeran pujaan hatinya. Sehingga Neng geulis yang memang super heboh kalau sudah membicarakan soal cowok itu, dia terus menerus meminta kepada Tiara agar memberi tahukan siapa dan seperti apa rupa sang pangeran pujaan hatinya itu. Sehingga Tiara benar-benar kerepotan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Neng geulis, akibat keusilan dari Naila.
Tak terasa, waktu sudah sampai ditengah hari. Mereka akhirnya mengakhiri obrolan mereka, karena harus menunaikan ibadah sholat Dzuhur. Usai menunaikan sholat, Tiara yang sejak pagi tidak kemana-mana, dia bersama kedua orang tua dan kedua saudaranya, pergi bersilaturahim ketempat kerabat mereka. Sejak kepulangannya dari pesantren, dan juga dengan kematian Fadil tahun lalu, para pemuda yang memang selalu berharap bisa mendapatkan hati Tiara, berharap di hari lebaran ini bisa mendekatinya.
Meskipun mereka juga mendengar dan mengetahui, kalau ada orang yang sangat mirip dengan Fadil yang beberapa hari terakhir ini tinggal dirumahnya Fadil, namun mereka juga belum mendengar kalau Tiara memiliki hubungan dengannya. Untuk itulah, sedari pagi tadi, beberapa pemuda banyak yang datang bertamu kesana. Namun mereka harus sedikit kecewa. Karena sejak pagi tadi, Tiara masih belum memperlihatkan batang hidungnya.
Yanto yang beberapa hari lalu meminta kepada kedua orangtuanya untuk datang menemui keluarga Tiara, dia dengan penuh harapan, siang itu datang ke rumah Tiara untuk mengajak Tiara jalan-jalan. Namun, seperti juga yang lainnya, diapun harus merasa kecewa karena tidak bisa menemui Tiara dan keluarganya yang saat ini sedang pergi. Karena keinginannya yang belum terlaksana tersebut, dia kemudian memutuskan untuk datang lagi keesokan harinya.
Hingga sore hari, Tiara dan semuanya baru pulang. Dia segera membersihkan diri, setelah sempat menyapu halaman rumahnya yang sudah mulai dipenuhi daun-daun kering. Cuaca akhir-akhir ini memang dirasa cukup panas. Meskipun masih belum musim kemarau, dan juga hujan masih sering turun, namun karena panasnya terik matahari saat siang hari yang begitu menyengat, banyak daun-daunan yang cepat menguning dan berguguran. Bahkan, pohon karet yang biasanya sekali dalam setahun meranggas hanya saat musim kemarau, kini malah sudah berkali-kali berguguran.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Tiara sambil menunggu waktu magrib, dia duduk-duduk diruang tamu, sambil membuka ponselnya. Berharap ada pesan yang masuk dan kabar dari Alan. Entah mengapa, dia serasa tidak sabar menunggu bergantinya hari ini, dan segera mendapati dirinya sudah berada di hari besok, hari kedua setelah lebaran.
...****************...
__ADS_1