Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Kembali Ke Tubuh Aslinya


__ADS_3

Saat mereka sedang santai sambil menikmati teh istimewa tersebut, tiba-tiba Rooney teringat sesuatu. Diapun lalu berkata kepada Arya Wijaya.


'' Oh iya tuan Alex. Saya dan istri saya datang ke Negara ini, selain memang hanya sekedar singgah dan ingin mengetahui rasa teh milik anda, saya juga ada sedikit keperluan.''


'' Kemarin, saya dapat laporan. Kalau keluarga Chan meminta untuk melakukan pembekuan aset, karena ada permasalahan pada keluarga mereka. Tapi kalau saya lihat, tuan Alex ini bahkan biasa-biasa saja. Hotel anda juga bisa beroperasi dan tidak terlihat sedang ada permasalahan!'' ucap Rooney agak keheranan.


'' Jadi begini tuan George. Sebenarnya, saya sudah lama tidak lagi bersama keluarga Chan. Walaupun dulu, saya memang calon pewaris keluarga tersebut.''


'' Dan memang, saat ini keluarga Chan sedang dalam masalah. Ada orang yang ingin merebut semua aset keluarga ini, dan ingin mengalihkan semua aset tersebut menjadi miliknya. Bahkan, mereka sudah mengambil semua dokumen milik keluarga Chen.''


'' Maka dari itu, adik saya selaku pewaris keluarga Chan, telah mengambil tindakan untuk membekukan seluruh aset tersebut. Akan tetapi, tuan tahu sendiri bukan! apa akibat dari pembekuan tersebut?''


'' Dan semalam, adik saya Tony Chan. Dia meminta saya untuk membantu membuka kembali blokiran tersebut, sekaligus ingin mengambil kembali apa yang menjadi hak keluarga Chan.''


'' Untuk itu tuan George. Sangat kebetulan sekali saya bertemu dengan anda. Bisakah anda membantu kami, agar kami bisa mendapatkan kembali hak kami tersebut?'' pinta Arya Wijaya, setelah menceritakan kronologi yang terjadi pada keluarga Chan tersebut.


Rooney terdiam sesaat. Dia kemudian bertanya kepada Arya Wijaya, bagaimana dia bisa tidak lagi bersama keluarga Chan. Dan untuk apa dia ingin menyelamatkan aset keluarga chan, jika dia sendiri sudah tidak ada kaitannya dengan keluarga tersebut. Apalagi, dia sendiri sudah sukses dengan usaha keluarganya sendiri.


'' Tuan George. Bagaimanapun juga, saya terlahir dari keluarga Chan. Meskipun saya sudah tidak lagi bersama keluarga ini, mereka tetap keluarga saya. Jadi saya mohon, tuan George mau membantu saya untuk mengembalikan aset keluarga Chan ini, kepada pemilik aslinya.'' ucap Arya Wijaya, kembali meminta George.


'' Baiklah tuan Arya Wijaya. Karena ini permintaan anda, saya akan meminta seluruh anggota asosiasi, untuk mengevaluasi dan mereview ulang seluruh aset milik keluarga Chan.'' jawab Rooney yang kini mengetahui kalau Alex sudah berganti nama menjadi Arya Wijaya.


'' Dan satu lagi. Saya juga harus melihat kembali, kepada siapa dulu keluarga Chan kalian memberikan kuasa. Karena hanya orang tersebutlah yang bisa mengurus semua ini, setelah semuanya dilakukan review ulang.''


'' Oh iya, karena persoalan ini berkaitan dengan pihak lain. Maka, supaya proses ini dapat berjalan, seluruh anggota asosiasi juga akan melakukan pemblokiran terhadap orang tersebut.'' lanjut Rooney menjelaskan.


'' Kira-kira, berapa lama proses pemulihan ini tuan George?'' tanya Arya Wijaya.


'' Emm.. kurang lebihnya satu bulan tuan Arya. Tapi, saya akan usahakan agar bisa lebih cepat dari itu. Karena bagaimanapun juga, bukan cuma keluarga Chan saja yang menanggung akibat dari pembekuan ini, tetapi seluruh anggota asosiasi juga ikut terkena imbasnya.'' ujar Rooney.


...----------------...


Tak terasa, waktu terus berlalu. Malam harinya, Rooney dan istrinya kembali datang ke hotel milik Arya Wijaya. Setelah siang tadi dia pergi untuk menemui beberapa orang anggota asosiasi yang ada di negara ini, Dia juga meminta agar anggota keluarga Chan bisa hadir di hotel tersebut.


Selepas isya waktu setempat, Tony Chan dan seluruh keluarganya datang ke hotel tersebut, setelah dihubungi oleh Arya Wijaya. Mereka segera berkumpul di ruangan yang telah disediakan, untuk membahas masalah yang sedang dihadapi oleh keluarga Chan.


Melihat keberadaan George Rooney ditempat itu, Tony Chan merasa terkejut sekaligus gembira. Dia benar-benar tidak menyangka. Dalam waktu secepat itu, orang yang paling sulit ditemui tersebut, bisa hadir ditempat ini dan terlihat begitu akrab dengan saudaranya Arya Wijaya.


'' Begini tuan Arya Wijaya. Tadi, saya dan anggota asosiasi telah mengecek seluruh aset milik keluarga Chan kalian.''


'' Menurut aturan yang ada, pembekuan aset keluarga kalian bisa segera diakhiri, jika orang yang diberi kuasa, juga pihak yang ingin mengambil alih aset tersebut, bisa hadir dalam pertemuan besok.''


'' Jika kalian ingin aset kalian bisa kembali, maka orang yang diberi kuasa diantara kalian harus datang. Jika tidak, maka kalian akan kehilangan aset kalian untuk selama-lamanya.'' ujar Rooney dengan serius.

__ADS_1


'' Maaf tuan George! Kalau boleh kami tahu, siapa diantara kami yang diberi kuasa tersebut?'' tanya Tony penasaran.


'' Menurut data yang ada pada kami, orang yang diberi kuasa dari keluarga Chan kalian adalah tuan Alex atau tuan Arya Wijaya.'' jawab Rooney.


'' Jadi, semua keputusan masalah ini, tergantung pada tuan Arya Wijaya. Apakah dia ingin memperjuangkan aset tersebut, atau membiarkannya menjadi milik orang lain.'' lanjutnya.


Tony dan keluarga Chan lainnya cukup terkejut. Mereka tidak menyangka. Ternyata, meskipun Arya Wijaya sudah diusir dari keluarga Chan, namun orang tua-tua mereka masih berharap kalau Arya Wijaya bisa menjadi pewaris keluarga Chan mereka.


Dengan adanya kenyataan tersebut, andaikan saja Arya Wijaya yang ingin merebut semua aset milik keluarga Chan, tentunya tidak akan ada yang bisa menghalanginya.


'' Kak Arya, tolong bantu kami kak. Cuma kakak yang bisa menyelamatkan keluarga kita dari kehancuran. Tolonglah kak Arya! kami berjanji akan memperbaiki sikap kami kedepannya. Kami juga berharap, kak Arya kembali kepada keluarga Chan dan menjadi pemimpin keluarga ini..'' pinta Tony dengan penuh harap.


'' Iya tuan. Bantulah kami sekali lagi! Kami mohon tuan!'' ucap keluarga Chan yang lainnya, memohon kepada Arya Wijaya.


'' Bagaimana tuan Arya? apakah anda mau melanjutkan atau tidak?'' Rooney kembali menanyakan keputusan Arya Wijaya.


Lagi-lagi, Arya Wijaya terdiam. Dia sebenarnya sudah tidak ingin repot-repot, untuk ikut campur lagi dalam urusan tersebut. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan orang lain merebut aset milik keluarganya itu. Dia menoleh kearah Sintya dan Fadil, lalu berkata:


'' Sintya, Fadil, bagaimana menurut kalian?'' ujar Arya Wijaya memandang keduanya.


Seperti halnya kemarin, saat ditanya soal keputusan untuk membantu keluarga Chan, Sintya hanya melemparkan jawabannya kepada Fadil. Melihat hal tersebut, kali ini Fadil tidak mengangguk memberikan jawaban seperti sebelumnya. Dia membalas tatapan Arya Wijaya, lalu mengambil nafas panjang dan berkata:


'' Kek! masalah ini, adalah masalah masa depan keluarga besar kakek. Saya tidak ingin ikut campur dengan keluarga besar kalian. Terserah bagaimana kakek ingin menyikapinya.'' ujar Fadil.


'' Tapi Fadil. Kamu adalah calon pewarisku, kamulah yang nantinya akan menjadi penerus keluarga ini.'' ujar Arya Wijaya.


'' Tapi, saya tidak berhak menjadi pewaris kalian. Saya, juga Tiara. Kami hanyalah orang yang lain yang beruntung, yang sudah dianggap keluarga oleh kalian. Kami sangat berterimakasih untuk hal itu. Namun, sekali lagi kek. Saya tidak berhak menjadi pewaris dari keluarga ini.'' ucap Fadil, membuat Arya Wijaya, Sintya, dan yang lainnya menjadi terheran-heran.


'' Fadil.. Apa yang kamu katakan nak? Kenapa kamu tiba-tiba seperti itu?'' tanya Sintya dengan heran.


'' Ma, maaf! Fadil tidak bermaksud apa-apa ma. Tapi Fadil harus tahu diri siapa diri Fadil. Ada yang lebih berhak menjadi pewaris keluarga kalian. Dan Fadil tidak ingin, Fadil jadi perebut hak orang lain.'' ucap Fadil kepada Sintya.


'' Fadil! kakek benar-benar tidak mengerti apa maksud kamu? Bagaimana mungkin kamu tidak punya hak. Meskipun jiwamu bukanlah cucuku Alan, tapi bukankah ragamu itu adalah raga Alan cucu kami?'' ujar Arya Wijaya.


'' Memang benar kek! Saat ini, raga yang saya gunakan adalah raga milik Alan cucu kakek. Tapi, saya adalah Fadil bukan Alan. Dan selamanya Fadil tetaplah Fadil, Alan tetaplah Alan. Jadi, tolong jangan meminta pendapat saya mengenai keputusan besar yang ingin kakek buat.'' ucap Fadil.


Rooney dan Yuki Yamato yang melihat hal tersebut, mereka jadi bingung dengan apa yang sedang terjadi dihadapannya. Mereka tidak mengerti, apa yang sedang mereka bicarakan tentang Fadil dan Alan. Bahkan, Tony dan keluarga Chan yang sudah mengetahui cerita tentang Fadil dan Alan, mereka hanya diam mendengarkan.


'' Fadil.. Jadi menurutmu, kakek harus minta pendapat kepada Alan begitu? Hhh.. Apa kamu tidak sadar, kalau sekarang Alan itu adalah kamu!''


'' Kakek.. Sudah saya bilang tadi. Fadil adalah Fadil, dan Alan adalah Alan. Jika kakek ingin bertanya kepada Alan, baiklah! saya akan mencoba membuat permohonan. Mudah-mudahan, permohonan saya ini akan dikabulkan oleh-Nya. Tapi, saya punya satu permintaan. Maukah kakek berjanji kepada saya?'' ucap Fadil.


Arya Wijaya sebenarnya tidak mengerti apa yang ingin dilakukan oleh Fadil. Namun, diapun akhirnya mengangguk menyetujui permintaan dari Fadil. Setelah Arya Wijaya setuju dengan permintaannya, Fadil lalu berdoa. Dalam doanya, dia meminta sesuatu yang secara akal tidak akan mungkin terjadi.

__ADS_1


Usai Fadil berdoa, Tiba tiba, dari tubuh Alan yang digunakan oleh Fadil keluar cahaya putih. Bersamaan dengan keluarnya cahaya tersebut, dua buah cahaya putih muncul ditempat itu. Salah satu cahaya itu, kemudian masuk kedalam tubuh Alan. Sedangkan cahaya yang satunya, berputar-putar bersama cahaya yang baru keluar dari tubuh Alan, lalu kedua cahaya itu membaur menjadi satu.


Perlahan, kedua cahaya itu tampak semakin bersinar terang menyilaukan mata. Lalu, cahaya itu menjadi redup, semakin redup dan akhirnya menghilang. Bersamaan dengan hilangnya cahaya yang menyatu tadi, kini muncul sesosok tubuh yang sangat mirip dengan Alan. Hanya saja, diwajahnya tumbuh kumis tipis dan jenggot yang masih halus, dengan rambut panjang sebahu.


'' A Fadil!'' teriak Tiara, lalu bangkit dari kursi dan segera menghambur memeluk tubuh Fadil.


'' Ti..'' belum sempat Fadil menyelesaikan kata-katanya, Tiara sudah memeluk tubuh Fadil dengan begitu eratnya.


Saat melihat sosok Fadil yang sesungguhnya, Tiara tidak bisa menahan dirinya. Ada rasa rindu yang begitu mendalam dalam hatinya, begitu dia melihat sosok tersebut. Meskipun beberapa waktu ini Fadil ada bersamanya, dengan menggunakan tubuh Alan yang sangat mirip dengan Fadil, namun seketika hatinya merasakan hal yang berbeda begitu dia melihat sosok Fadil tersebut.


'' Mas Fadil!'' ucap Ulil yang juga tercengang melihat sosok Fadil disana.


'' A Fadil! akhirnya Tiara bisa melihatmu lagi.'' ucap Tiara dengan mata berkaca-kaca.


Fadil tersenyum menatap Tiara. Senyumnya yang khas, benar-benar membuat Tiara terpesona, hingga dia tak henti hentinya memandangi wajah Fadil. Hanya saja, ada yang berbeda dari diri Fadil kali ini. Kulitnya yang dulu hitam manis, kini terlihat lebih putih seperti kulit Alan.


Arya Wijaya, Sintya, Andika dan seluruh orang yang ada diruangan tersebut jadi tercengang melihat Alan dan Fadil. Bahkan, Tony dan seluruh keluarga Chan lainnya, jadi ternganga keheranan melihat dua orang yang begitu mirip tersebut. Begitu pula dengan George Rooney dan istrinya, mereka jadi ikut bengong memandangi Fadil dan Alan bergantian.


'' Ma, pa, kakek, Nadia!'' Sapa Alan, lalu berdiri mendekati Sintya.


'' Alan! benarkah kamu Alan anak mama nak?'' tanya Sintya, ikut berdiri dan mendekati Alan lalu membelai wajah Alan.


'' Iya ma! Ini Alan, anak mama.'' jawab Alan.


Sama seperti yang dilakukan oleh Tiara kepada Fadil, Sintya langsung memeluk Alan dengan begitu eratnya. Tak terasa, air matanya langsung mengalir dari kedua pipinya dengan begitu deras. Andika, Nadia, juga Arya Wijaya, mereka juga langsung bergabung memeluk Alan.


Bingung bercampur rasa haru, itulah suasana yang dirasakan oleh semua orang di ruangan tersebut. Tak ada satupun yang berbicara, mereka hanya diam menyaksikan keluarga Arya Wijaya, yang sedang memeluk Alan dengan rasa haru didalam hati mereka.


'' Alan. Kamu benar-benar kembali nak! mama tidak sedang bermimpi kan?'' ujar Sintya sambil menggosok-gosok matanya seakan tidak percaya.


'' Iya Alan. Apakah kami sedang bermimpi? Apakah ini memang benar-benar kamu Alan?'' ucap Andika dan juga Arya Wijaya.


'' Tidak ma, pa, kakek! kalian tidak sedang bermimpi. Ini Alan kalian. Alan memang hadir disini dengan tubuh Alan seutuhnya.'' jawab Alan memandangi mereka.


'' Syukurlah nak! kalau ini benar-benar kamu. Kami sangat senang, kamu bisa kembali bersama kami.'' ucap Sintya begitu gembira.


Tak perduli ini disebut keajaiban atau apapun, Sintya dan keluarganya merasa sangat gembira. Mereka tidak pernah menyangka, kini Alan mereka benar-benar hadir bersama mereka. Apalagi, dia juga hadir dengan diri Alan seutuhnya.


'' Iya ma. Alan juga merasa senang bisa bertemu kalian lagi. Semua ini berkat bantuan mas Fadil ma! Dialah yang meminta kepada Tuhan, agar kita bisa bertemu disini saat ini.''


Sintya, Andika, Arya Wijaya, dan juga Nadia menoleh kearah Fadil dan Tiara. Karena rasa gembira yang sedang mereka rasakan, mereka jadi lupa kalau tak jauh dari mereka, ada Fadil, Tiara dan juga yang lainnya.


'' Fadil, Tiara, sini nak! Kalian juga sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Ayo kemari! kita rayakan kebahagiaan ini bersama-sama.'' ujar Sintya meminta Fadil dan Tiara untuk mendekat bersama mereka.

__ADS_1


Fadil dan Tiara kemudian mendekat kearah mereka. Fadil lalu berpelukan dengan Alan, Arya Wijaya, dan juga Andika. Namun, saat Sintya dan Nadia ingin memeluknya, Fadil menolak. Hal ini membuat Sintya jadi terheran-heran.


...****************...


__ADS_2