Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Penasaran


__ADS_3

Tiara yang melihat rasa kekhawatiran dari ibunya, dia segera meletakkan bingkai foto itu dilemari. Dia kemudian duduk disisi bu Lilis. Setelah diam sejenak, dia lalu memandang wajah ibunya. Dengan senyum tipis dan penuh ketenangan, dia lalu berkata:


'' Bu.. Tiara baik-baik saja kok bu, ibu tidak usah mengkhawatirkan Tiara.'' ujarnya dengan lembut.


Bu Lilis yang melihat sikap Tiara yang begitu tenang, dia menarik napas lega. Dia kemudian menyuruh Tiara pergi keruang makan untuk sarapan.


'' Ya udah, kalau kamu merasa begitu, sana sarapan dulu! ibu sudah siapkan sarapan buat kalian semua.'' ujar bu lilis.


'' Tiara sudah sarapan bu, tadi bareng ayah di perjalanan.'' jawab Tiara.


'' Beneran?'' tanya bu Lilis meyakinkan.


'' Iya bu, kalau gak percaya, tanya saja sama ayah!'' ucap Tiara.


Setelah mendengar jawaban dari Tiara, bu Lilis kemudian keluar dari kamar tersebut. Dia kemudian pergi kebelakang rumah, menghampiri pak Syahroni yang sedang melihat-lihat beberapa pohon duku dan manggis yang buahnya mulai matang.


'' Yah, apa benar ayah dan Tiara tadi sudah sarapan?, Tiara bilang, dia sudah sarapan bareng ayah diperjalanan.'' tanya bu Lilis kepada suaminya yang sedang memilih dan memetik buah duku yang sudah matang.


'' Iya bu, tadi pagi orang yang mengantarkan ayah itu yang mentraktir sarapan dirumah makan.'' jawab pak Syahroni.


'' Oh gitu. Lho yah!, kok buah dukunya sudah mulai dipanen? kan belum matang banget. Emang, ada yang mau pesan ya?'' tanya bu Lilis, ketika menyadari suaminya itu sedang mengisi keranjang dengan buah duku dan manggis yang dipetiknya.


'' Enggak bu, ini cuma buat suguhan. Kan nanti sore ada tamu yang akan datang!'' ujarnya.


'' Tamu!. Tamu siapa yah?'' bu Lilis merasa penasaran.


'' Itu lho bu!, orang yang tadi mengantarkan ayah. Katanya nanti sore mau datang, sekalian minta tolong ayah untuk mengantarkannya ke rumah bu Zaenab.''


'' Rumah bu Zaenab? emangnya mau apa kerumah bu Zaenab?'' tanya bu Lilis heran.


'' Gak tau juga bu, tapi yang ayah dengar, dia itu dari Jakarta, pengen ketemu dengan keluarganya Fadil.''


Setelah berkata demikian, pak Syahroni mengamati sekeliling. Setelah merasa situasinya memungkinkan, dia lalu mendekati istrinya dan berbisik.


'' Bu, tahu gak? orang yang yang tadi mengantarkan ayah itu mirip sama siapa?'' bisik pak Syahroni kepada istrinya.


Bu Lilis yang tadi tidak sempat melihat dengan jelas wajah Alan, dia hanya menggeleng sambil menunggu penjelasan dari suaminya.


'' Wajahnya benar-benar mirip dengan Fadil. Ayah tadinya sampai mengira dia itu Fadil atau kembarannya.'' lanjut pak Syahroni menjelaskan.


'' Terus, bagaimana dengan sikap Tiara yah?'' bisik bu Lilis terkejut, lalu dia menoleh melihat sekeliling.


'' Tiara juga tadinya mengira dia itu Fadil bu!. Tapi setelah ayah tanyain, ternyata kalau tidak salah namanya Alan. Dia itu dari Jakarta, dan kebetulan satu pesantren dengan Tiara. Hanya saja, sepertinya Tiara baru bertemu dan melihat dia tadi pagi, pas kami mau sarapan.''


Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, bu Lilis cuma terbengong dan tidak berkata apa-apa. Namun dia semakin penasaran dengan apa yang diceritakan oleh pak Syahroni suaminya.


'' Tapi yang ayah herankan, dia itu sempat bertanya sama ayah soal kematian Fadil. Dia tanya sama ayah, apakah Fadil meninggal karena kecelakaan tahun kemarin?'' ujar pak Syahroni, mengingat pembicaraan mereka saat dirumah makan tadi pagi.


...----------------...


Setelah mengantarkan pak Syahroni dan Tiara kerumahnya, Alan dan Zul kembali menuju rumah Zul yang tadi dilewati. Sekitar 2-3 menit kemudian, mobil yang mereka kendarai sudah memasuki halaman rumah keluarga Zul. Seorang anak balita yang sedang asyik bermain diteras rumah sendirian, segera berlari masuk kedalam rumah saat mobil milik Alan berhenti dihalaman rumah sederhana tersebut.

__ADS_1


'' Bu e.., ada orang!. Bu e.., ada orang!''


Bocah balita itu berteriak sambil menyembunyikan tubuh mungilnya dibalik pintu. Namun, kepalanya dia keluarkan untuk mengintip, sambil mencari tahu siapa orang yang akan keluar dari mobil tersebut. Setelah melihat tak ada satupun orang yang turun dari mobil itu yang dia kenali, dia langsung berlari menuju ruang belakang dimana ibunya berada. Dari ruang belakang, seorang wanita paruh baya muncul menghampiri bocah itu lalu menggendongnya. Wanita itu lalu berjalan keluar rumah, untuk melihat siapa yang datang tersebut.


'' Orang sopo to le le? mbok Yo kon mlebu! ora gur bengak-bengok ngono!'' ujarnya sambil membuka pintu yang tadi hanya terbuka setengah.


Setelah pintu terbuka dan melihat kalau yang datang itu salah satunya adalah Zul anaknya, wanita itu lalu berkata:


'' Oalah le le, itu tuh mas Zul, kakakmu!'' ucapnya sambil tersenyum menyambut kedatangan Zul dan Alan.


'' Assalamualaikum.'' ucap Zul dan Alan berbarengan.


'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah, Zul ajak temanmu masuk.'' jawab ibunya zul setelah bersalaman dengan mereka berdua.


'' Weh.., nggantenge, sopo jenenge iki cah bagus?'' ucap Zul sambil mencubit pipi tembem adiknya yang masih kecil tersebut.


'' Raffi lek!'' jawab bocah kecil itu malu-malu.


'' Lho kok lek to..?, ikuku masmu lho fi! Mosok manggilnya lelek? panggil mas yo.'' ujar ibunya Zul kepada bocah imut itu.


Alan yang tidak mengerti bahasa jawa, hanya cengar-cengir mendengar percakapan mereka. Dia lalu bertanya pada Zul, apa maksud pembicaraan mereka. Zul kemudian menjelaskan arti perkataan ibu dan bocah kecil tersebut. Setelah mendengar penjelasan Zul, Alan akhirnya juga ikut tertawa.


'' Kang Zul, jadi ini adikmu ya? lucu banget dan nggemesin.'' ujarnya serasa diapun ingin mencubit pipi bocah itu.


'' Iya kang, ini rejeki dari Allah, akhirnya aku punya adik laki-laki juga.'' ujar Zul sambil mencium pipi bocah itu yang kini telah berada dalam gendongannya.


'' Raffi salim dulu sama om Alan ya!'' ujar Zul sambil membimbing tangan adiknya untuk bersalaman dengan Alan.


'' Bapak kemana bu? kok gak keliatan.'' tanya Zul kepada ibunya.


'' Bapakmu ijek ning kebon Zul, dilit meneh yo bali.'' jawab ibunya Zul dengan bahasa Jawa.


'' Ndang Rono adus ndisek, aku tak nyiapke edang sekalian sarapan nggo kowe karo koncomu.'' ujar ibunya Zul sambil pergi ke dapur untuk membuat minuman dan sarapan untuk mereka.


'' Aku wes sarapan bu, mau ning dalan bareng mase.'' jawab Zul lalu pergi ke kamarnya.


'' Kang, aku mandi dulu ya? santai aja dulu disini. Anggap saja rumah sendiri, yang penting jangan dijual.'' canda Zul mempersilahkan Alan duduk diruang tamu.


Alan hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Zul. Dia kemudian duduk dikursi sambil memandang sekeliling. Meskipun rumah Zul tidak semewah rumahnya, namun kesan nyaman terasa saat dia berada didalam rumah ini. Tak lama kemudian, ibunya Zul datang membawakan minuman dan menyuguhkan beberapa makanan ringan, dan meletakkannya diatas meja di ruangan itu.


'' Monggo mas, dicicipi kuenya.'' ujar ibunya Zul mempersilahkan Alan untuk menikmati minuman hangat dan camilan itu.


Setelah beberapa saat, Zul yang sudah mandi dan berganti pakaian, muncul dan duduk disana. Mereka kemudian mengobrol dan bersantai sambil menikmati hidangan yang ada. Zul tidak lupa menawarkan Alan untuk mandi, namun karena Alan tadi subuh sudah mandi, diapun menolak tawaran dari Zul.


'' Jadi, kang Alan mau kesana lagi nanti sore?'' tanya Zul setelah mereka pindah duduk diteras rumah itu.


'' Insyaallah, rencananya sih begitu kang.'' jawab Alan setelah menghembuskan asap rokok kesukaannya dengan perlahan.


'' Apa perlu saya temani?'' ucap Zul menawarkan diri.


'' Boleh! tapi emangnya kang Zul tidak lelah apa? setelah melakukan perjalanan dari kemarin.''

__ADS_1


'' Kalau soal lelah, saya kira lelahan juga kang Alan daripada saya. Kan dari kemarin kang Alan yang nyetir! sedangkan saya cuma duduk doang.'' jawab Zul.


'' Ya udah kang Zul, kalau kang Zul mau ikut, nanti habis sholat Ashar kita kesana.''


Ketika mereka sedang asyik bercakap-cakap, dari arah samping rumah muncul pak Waluyo ( bapaknya Zul ) yang baru saja pulang dari kebun.


'' Assalamualaikum.. Zul, lagek teko to? tak pikir tekone wingi!'' ujarnya sambil berjalan menghampiri Zul dan Alan.


'' Wa'alaikumsalaam warohmatullah, pak.'' jawab Zul dan Alan berbarengan.


'' Inggeh pak, waune rencanane ngoten, cuman mampir teng griyone kang Alan kriyen. Sekalian sarengan mrikine.'' jawab Zul dengan bahasa Jawa kromo.


'' Lha tamune kok ora mbok ajak mlebu to? iki malah lungguhe nang jobo?'' lanjut pak Waluyo sambil bersalaman dengan Zul dan Alan.


'' Pun pak, niki lagek wae metu! Golek sing silir jarene.'' ucap Zul.


'' Oh ngono to! iki asmane mas sinten?'' tanya pak Waluyo kepada Alan.


'' Niki kang Alan pak, saking Jakarta. Rencang kulo teng pondok.'' jawab Zul mewakili Alan.


Karena Alan tidak mengerti bahasa Jawa, maka Zulpun menjelaskan kepada pak Waluyo mengenai Alan. Alan hanya manggut-manggut dan tersenyum sambil memandang pak Waluyo.


'' Oh teman mondoknya Zul to! Nama saya Waluyo, bapaknya Zul.'' ujarnya memperkenalkan diri.


Alan hanya menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan dari pak Waluyo.


'' Ayo masuk mas! Saya tak mandi dulu. Badan saya bau getah karet ini. Maklum, baru pulang dari kebon. Ya namanya juga orang kampung.'' ujar pak Waluyo lalu beranjak masuk kedalam rumah.


Hingga adzan Dzuhur berkumandang, Zul, Alan, dan pak Waluyo berbincang-bincang diteras rumah itu. Mereka lalu bersama-sama pergi ke masjid yang tidak jauh dari rumah Zul, untuk melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah disana. Sepulang dari masjid, mereka kemudian makan siang bersama dirumah Zul, yang sudah sejak tadi disiapkan oleh ibunya Zul. Setelah berbincang sebentar, Zul dan Alan kemudian istirahat dikamar Zul. Sementara pak Waluyo pergi kebelakang rumah untuk mencari kayu bakar.


Ketika Zul dan Alan sedang beristirahat, kedua Adik perempuan Zul pulang dari sekolah. Melihat ada mobil keren terparkir didepan rumah mereka, mereka bertanya-tanya siapa pemilik mobil tersebut. Setelah masuk dan tidak mendapati orang lain selain ibunya yang sedang mencuci piring dibelakang, merekapun bertanya kepada ibunya.


'' Bu e, itu mobilnya siapa to? kok ada didepan rumah kita?'' tanya Fifi adik Zul yang paling besar.


'' Iya Bu e, apa bapak beli mobil?'' tanya Ririn adiknya yang masih SMP.


'' Walah nduk-nduk, bapakmu beli mobil dari mana? lha nggo biaya sekolah dan mondok mas mu aja sudah pontang-panting!. Itu mobil teman mondoknya mas mu dari Jakarta.'' jawabnya.


'' Jadi mas Zul, udah pulang to Bu e?'' tanya Fifi.


'' Udah tadi pagi, sekarang lagi istirahat sama temannya dikamar.''


'' Bu e, temannya mas Zul ganteng nggak Bu e?'' tanya Ririn.


'' Hus..cah gendeng! masih cilik kok wis mikiri wong lenang!. Tugasmu itu ya belajar, sekolah sing bener biar bisa jadi orang. Malah mikiri sing macem-macem, tak sentil koe.'' ujar Bu wal, menasehati Ririn.


'' Yo sopo ngerti Bu e, temennya mas Zul seneng karo mbak Fifi. Kan lumayan, punya kakak ipar ndue mobil apik. Bisa nebeng buat jalan-jalan.'' ujar Ririn asal ceplos.


'' Haduh bocah siji iki, wes rono ndang salin, terus makan. Ojo lali sholat ndisek.'' ujar Bu wal, makin greget dengan ocehan Ririn.


..

__ADS_1


...****************...


__ADS_2