Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Salah menduga


__ADS_3

Andre terkejut, saat melihat jika orang yang duduk di kursi utama yang telah dia persiapkan itu, bukanlah Satria melainkan anak muda yang tadi ikut bersama Satria.


'' Tu tuan Satria, i ini?'' Andre tergagap.


'' Pak Andre, perkenalkan! Mas Alan ini, adalah tuan muda pemilik perusahaan Kusuma Wijaya group, tempat saya dan anda bekerja.''


'' Apa? tu tuan muda?''


Andre tercengang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Satria. Dia buru-buru berdiri dan hendak berlutut dihadapan Alan. Tapi sebelum Andre beranjak dari tempatnya, Alan sudah berkata padanya.


'' Pak Andre, sudahlah! Tetap duduk ditempat dan tolong dengar dan jawab beberapa pertanyaan dari saya.''


Alan dengan penuh wibawa memerintahkan kepada Andre. Andre hanya bisa patuh mengikuti apa yang dikatakan oleh Alan tanpa berani membantahnya.


'' Maafkan saya tuan muda. Saya benar-benar tidak tahu, kalau anda adalah tuan muda kami. Saya siap dihukum karena ketidak sopanan saya terhadap tuan muda.'' ucap Andre pasrah.


'' Pak Andre, saya kesini bukan untuk hal semacam itu. Saya hanya ingin menanyakan beberapa hal dari anda ataupun dari paman Satria. Untuk itu, tolong jawab secara jujur. Jika nanti terbukti kalian ada kaitannya dengan masalah ini, maka biar kakek yang akan memberi kalian keputusan.'' ucap Alan.


'' Baik tuan muda.'' jawab Satria dan Andre bersamaan.


'' Begini!. Paman Satria, dan terutama anda pak Andre.'' Alan membenahi posisi duduknya kemudian menatap mereka bergantian.


'' Apa kalian tahu! Kalau akhir-akhir ini, terutama dalam dua tahun terakhir ini, hasil dari perkebunan teh kita di daerah ini terus mengalami penurunan?'' tanya Alan serius.


'' Maaf tuan muda. Untuk urusan di wilayah ini, saya sudah serahkan sepenuhnya kepada pak Andre selaku penanggungjawab daerah ini. Jadi, saya kurang begitu mengetahuinya. Selain banyak hal yang harus saya urus di seluruh provinsi ini, saya juga belum menerima laporan dari pak Andre tentang hal itu, maaf tuan muda.'' Jawab Satria.


'' Iya tuan muda. Dalam dua tahun terakhir ini, memang produksi teh dari perkebunan kita mengalami penurunan. Sebab, selain faktor cuaca yang kurang baik akhir-akhir ini, beberapa kali para buruh juga sering melakukan pemogokan kerja. Sehingga dampaknya ikut berpengaruh terhadap produksi kita.'' jawab Andre dengan yakin.


'' Apa pak Andre yakin? itu penyebab semua ini? tanya Alan menyelidik.


'' Menurut laporan dari departemen produksi dan juga petugas di lapangan, memang seperti itu tuan muda.'' jawab Andre lagi.


'' Apa pak Andre sudah melihat sendiri situasinya di lapangan?''


Alan semakin mencecar Andre dengan banyak pertanyaan. Karena dia melihat bahwa titik persoalannya ada pada Andre, yang tidak teliti dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.


'' Maaf tuan muda. Ini salah saya, saya terlalu percaya kepada mereka. Karena memang selama ini mereka tidak pernah berbohong kepada saya.''


Andre mulai menangkap adanya sebuah kecurigaan terhadap apa yang dikatakannya kepada Alan. Meskipun semua yang dia katakan itu adalah benar adanya, namun dia juga benar-benar tidak tahu kenyataan yang sebenarnya dilapangan.


'' Maaf tuan muda. Apa ada hal yang tidak saya ketahui tentang ini.'' lanjut Andre.


Alan menarik nafas panjang. Sebenarnya dia mulai merasa kesal dengan ketidakprofesionalan kinerja Andre. Namun, dia tidak terburu-buru untuk terbawa emosi.


'' Pak Andre, apakah anda mengenal orang-orang dari departemen produksi dan juga petugas lapangan?'' tanpa menjawab pertanyaan Andre, Alan kembali melanjutkan bertanya kepada Andre.


'' Iya tuan muda. Saya kenal baik orang-orang yang selalu memberi laporan itu kepada saya.''


'' Apakah mereka ada keterkaitan dengan lurah dimana lokasi perkebunan milik kita?'' tanya Alan lagi.

__ADS_1


'' Emm, sepertinya memang begitu tuan muda.'' jawabnya setelah berfikir beberapa saat.


'' Lalu kemana Anda selama dua tahun belakangan ini?''


'' Maaf tuan muda. Selama dua tahun ini, saya sakit dan tidak bisa melihat langsung kondisi di lapangan. Karena, saya harus bolak-balik berobat ke Jakarta. Bahkan, kadang saya juga harus pergi ke luar negeri untuk berobat. Untuk itulah, saya mempercayakan masalah ini kepada mereka. Maafkan saya tuan muda.''


'' Maaf tuan muda, bolehkah saya mengetahui lebih detail mengenai permasalahan yang ada di wilayah ini. Jika nanti saudara Andre tidak bisa mengatasinya, biar saya yang langsung turun tangan.'' ucap Satria yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan mereka.


'' Begini paman Satria, pak Andre..! saya mendapatkan laporan dari seseorang yang bisa dibuktikan kebenarannya. Bahwa, lurah dan beberapa anteknya telah bekerjasama dengan beberapa petugas perkebunan kita. Mereka telah bekerjasama untuk melakukan pencurian hasil perkebunan milik kita secara besar-besaran, selama dua tahun terakhir ini. Untuk itulah saya sengaja ingin menemui kalian. Kenapa dalam jangka waktu yang cukup lama itu, kalian bisa tidak mengetahui masalah ini? bukankah ini sungguh mengherankan!'' ujar Alan dengan sedikit geram.


Sebenarnya, yang membuat Alan agak emosi, bukan karena masalah ketidaktahuan mereka. Melainkan dia teringat dengan sepak terjang lurah dan anaknya tersebut.


'' Maaf tuan muda. Ini salah saya, ini salah saya! Silahkan tuan muda hukum saya. Tapi saya mohon, tolong jangan keluarkan saya dari pekerjaan ini, saya sangat butuh pekerjaan ini agar bisa melunasi biaya pengobatan saya selama sakit kemarin tuan muda.'' Andre segera bersimpuh di hadapan Alan.


'' Tuan muda, saya juga ikut bersalah dalam masalah ini, saya kurang teliti dalam mengamati situasinya. Hingga masalah ini bisa tidak diketahui sampai waktu selama itu. Saya siap untuk di hukum tuan muda.'' ucap Satria yang juga ikut bersimpuh disebelah Andre.


Meskipun Satria belum mengetahui sifat dan karakter dari tuan mudanya, namun dia juga lebih memilih dihukum oleh Alan daripada oleh Arya Wijaya. Satria tahu betul bagaimana tuan besarnya itu jika sudah marah. Apalagi jika melihat sikap dan tampilan Alan yang lebih rendah hati, tentunya dia masih memiliki harapan untuk sedikit mendapat keringanan hukuman untuknya.


'' Kembalilah ke tempat duduk kalian, dan dengarkan baik-baik.'' ucap Alan.


Alan melihat kedua orang yang lebih tua darinya itu bersimpuh dihadapannya, dia merasa risih. Sambil berkata seperti itu dia berdiri dan berjalan melihat pemandangan gunung Ciremai dari jendela kaca di ruangan itu.


Satria dan Andrea segera kembali ketempat duduknya masing-masing. Sambil terus menunduk, mereka seakan sedang bersiap untuk menerima hukuman dari Alan.


'' Paman, pak Andre. Apakah kalian merasa bahwa ini semua merupakan kelalaian kalian?'' tanya Alan sambil berjalan menuju ke kursinya kembali.


'' Iya tuan muda.'' jawab mereka bersamaan.


'' Siap tuan muda.'' jawab keduanya.


'' Baiklah kalau begitu. Karena kalian sendiri yang mengatakannya, maka saya akan.''


tok..tok..tok... terdengar suara pintu diketuk.


'' Masuk.!'' ucap Alan.


Satria dan Andrea yang sedang dalam suasana hati yang tegang, seakan ingin menangis mendengar suara ketukan pintu tersebut. Dalam hati mereka berkata:


'' Siapa lagi ini? mengganggu saja. Tidak tahu apa tuanya muda sedang marah, mau cari mati.''


Saat pintu terbuka, beberapa orang pelayan datang membawa beberapa makanan dan minuman. Satria dan Andre secara bersamaan menoleh kearah mereka sambil melotot, membuat mereka terdiam kaku beberapa saat. Namun Alan segera memberi kode kepada mereka untuk segera masuk. Barulah setelah itu mereka masuk dan menghidangkan makanan dan minuman itu diatas meja makan yang tersedia di ruangan tersebut


'' lha.., ini yang ditunggu-tunggu. Dari pagi saya belum makan. Ayo paman, pak Andre kita makan dulu. dikira gak capek apa ngomong mulu..'' seloroh Alan sambil bangkit dari kursinya menuju meja makan tersebut.


Satria dan juga Andre, hatinya semakin tidak karuan. Rasanya mereka ingin menangis dan juga tertawa, melihat tingkah Alan yang sepertinya tiba-tiba lupa dengan masalah yang sedang mereka bicarakan.


'' Udah paman, pak Andre! Soal tadi nanti kita lanjutkan lagi setelah makan saja. gak baik lho menunda-nunda makan, ntar bisa kena penyakit mah.'' ujar Alan seenaknya.


Sebenarnya Alan bisa saja menyelesaikan masalah itu terlebih dahulu baru kemudian makan. Namun, karena melihat muka keduanya sudah begitu pucat ketakutan, akhirnya dia berfikir lebih baik makan dulu karena khawatir akan menghilangkan selera makan mereka.

__ADS_1


'' Itu.. anak-anak pak Andre, apa mereka juga sudah pesan makanan. Kalau belum, suruh mereka juga pesan. Kasian lho, mereka juga perlu makan, jangan sampai tidak dikasih makan pak Andre.''


Andre hanya menurut apa yang dikatakan oleh Alan padanya. Dia kemudian berjalan kearah pintu kemudian memerintahkan para pengawalnya untuk memesan makanan di restoran yang ada di hotel tersebut.


'' Nggak usah khawatir, seluruh tagihannya biar saya yang bayar.'' ucap Alan kemudian.


Setelah memerintahkan para pengawalnya untuk makan di restoran hotel, Andre kemudian duduk bersama Satria dan Alan untuk makan pagi bersama. Walaupun awalnya Satria dan Andre merasa agak canggung akibat masalah tadi, tapi karena sikap Alan yang begitu santai, akhirnya mereka perlahan bisa menikmati makan pagi itu dengan santai juga.


Usai mereka menyelesaikan makan itu, mereka kembali ke ruangan dimana mereka melakukan pertemuan. Sembari menikmati sebatang rokok kesukaannya, Alan kemudian berkata:


'' Paman Satria, pak Andre, berhubung tadi kalian sendiri yang mengatakan siap menerima konsekuensi dari kelalaian kalian, maka saya akan memberikan kalian kesempatan untuk menebus kelalaian kalian.''


'' Siap tuan muda, asal tuan muda mau memaafkan dan memberikan saya kesempatan untuk menebus kesalahannya saya, saya akan melakukan apapun yang tuan muda inginkan.'' ucap Andre.


'' Saya juga tuan muda, tolong berikan perintah tuan muda kepada saya. Saya akan langsung melaksanakan perintah tuan muda.'' ujar Satria penuh semangat.


'' Baiklah.., untuk pak Andre. Saya minta Anda segera cari bukti kejahatan lurah dan para antek-anteknya serta orang-orang kita yang ikut terlibat dalam kasus tersebut, tuntut mereka secara hukum, jerat mereka dengan pasal paling berat dan juga jangan biarkan mereka melakukan banding. Saya tidak ingin orang-orang seperti itu tumbuh subur di negeri ini.''


'' Baiklah tuan muda, saya akan mengerahkan seluruh kemampuan saya untuk menyeret para penghianat itu kedalam penjara, dan juga mengambil alih seluruh aset-aset yang bukan milik mereka yang telah mereka rampas dari orang lain.'' ucap Andre penuh semangat dan tekad yang kuat.


'' Bagus bagus.., tapi ingat, harus secara hukum yang berlaku di negara ini, jangan gunakan cara ilegal.''


'' Siap tuan muda.''


'' Dan untukmu paman Satria. Selain ikut membantu apa yang akan dilakukan oleh pak Andre biar lebih cepat, saya minta paman juga melakukan pembebasan beberapa lahan yang nantinya akan saya jadikan kawasan villa dan hotel serta beberapa kawasan pusat perbelanjaan. Apa paman sanggup?''


'' Siap tuan muda, secepatnya akan saya laksanakan.'' tegas Satria.


'' Tapi ingat paman, harus dilakukan secara sukarela. Tidak boleh dengan paksaan, apalagi dilakukan dengan ancaman.''


'' Baik tuan muda, akan saya lakukan sesuai perintah tuan muda.''


Setelah mendengar apa yang menjadi permintaan tuan muda mereka, Satria dan Andrea merasa lega. Mereka tidak mengira, ternyata tuan mudanya ini begitu bijaksana dalam menyikapi suatu permasalahan. Tidak seperti yang sering mereka dengar, biasanya para tuan muda itu suka bertindak arogan, dan suka main tangan jika sudah menemui hal yang tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginannya.


'' Satu hal lagi. jangan panggil saya tuan muda ketika berada ditempat umum.'' ucap Alan menatap keduanya.


'' Baik tuan muda.'' jawab keduanya bersamaan.


'' Saya rasa pertemuan kita kali ini cukup sekian, saya tunggu kabar selanjutnya. Jika nanti ada hal yang sangat penting untuk dibahas, kita akan bertemu lagi disini.'' ucap Alan sembari berdiri untuk beranjak dari tempat itu.


Satria dan Andre segera mengikuti dibelakangnya. Beberapa pengawal Andrea yang sudah selesai makan, mereka juga sudah kembali berkumpul didepan ruang tersebut.


Salah seorang pengawal Andre yang tadi bersama Alan, ingin mengajak bicara Alan. Tapi setelah melihat Andre dan Satria muncul dibelakangnya, dia segera mengurungkan niatnya.


Alan, Satria dan juga Andre menaiki lift yang sama, sedangkan para pengawal Andre menaiki lift yang lain. Sesampainya mereka dilantai bawah, Alan segera menuju meja resepsionis untuk membayar seluruh tagihan mereka.


Kasir yang melihat penampilan Alan dan juga melihat tagihan yang harus dibayarkannya, hampir saja dia berkomentar yang tidak baik. Tapi dia segera menutup mulutnya saat melihat dibelakang Alan Ada Andre bersamanya.


Setelah mengetahui jumlah total tagihannya, Alan segera mengeluarkan kartu premiumnya. Dia sengaja tidak mengeluarkan kartu pemberian kakeknya karena tidak ingin membuat kehebohan dan juga untuk tagihan tersebut uang yang ada pada kartu premium itupun sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


Awalnya Andre dan juga Satria memaksa agar mereka saja yang akan membayar tagihan hotel itu, tapi Alan mengatakan kepada mereka untuk kali ini dia yang mentraktir. Tapi lain kali mereka yang harus mentraktirnya. Akhirnya mereka berdua menyetujui permintaan Alan tersebut.


...****************...


__ADS_2