Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Sebuah keyakinan


__ADS_3

Untuk beberapa saat, suasana di meja makan itu begitu hening. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Setelah Alan duduk dan diam disana, dan semuanya juga masih tenggelam dalam kebisuan, Alan akhirnya membuka kata.


'' Maaf pak, mbak..! Apa kalian pernah mengenal orang yang agak mirip dengan saya? apakah orang itu bernama Fadil?'' tanya Alan memandang keduanya.


Tiara dan pak Syahroni saling berpandangan. Setelah ditanya oleh Alan, mereka baru menyadari bahwa ternyata orang yang ada didepannya, bukanlah Fadil seperti yang tadi mereka kira.


'' I iya mas, dan memang mas ini benar-benar mirip sekali dengan Fadil, hampir tidak ada bedanya sama sekali kecuali warna kulit kalian saja.'' ujar pak Syahroni, menjawab pertanyaan dari Alan.


Tiara masih tercengang. Ditatapnya wajah Alan dalam-dalam. Entah apa yang sedang dirasakannya saat ini, namun dari kedua sudut matanya yang indah itu, mengalir butiran air bening secara perlahan.


'' Mohon maaf, apakah orang yang bapak sebut tadi, telah meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan?'' tanya Alan penasaran.


Tujuan utama Alan datang ke Baturaja ini adalah untuk mencari alamat dari keluarga Fadil. Namun yang tidak disangka-sangkanya, dalam perjalanan ini dia malah bertemu dengan orang yang mengenal Fadil yang sedang dia cari. Oleh karena itu, saat pak Syahroni mengatakan bahwa dia mirip dengan Fadil, dia merasa bersemangat karena telah menemukan petunjuk.


'' Betul mas, dia memang sudah meninggal hampir setahun yang lalu. Menurut cerita yang saya dengar, dia meninggal karena tabrakan di jalan lintas Baturaja.'' jawab pak Syahroni.


Mendengar apa yang dikatakan oleh pak Syahroni, Alan benar-benar yakin kalau orang yang dimaksud adalah orang yang dia cari. Alan kemudian menoleh ke arah Tiara. Saat Alan menoleh ke arah Tiara, dia melihat Tiara meneteskan air mata. Melihat Tiara yang seperti itu, Alan merasa tidak tega. Dia rasanya ingin merengkuh Tiara dan memeluknya. Entah kenapa, hatinya merasakan kepedihan melihat Tiara yang seperti itu.


'' Mbak Tiara kenapa menangis?'' ucap Alan lalu memberikan sapu tangan miliknya kepada Tiara.


Perlahan, Tiara yang tengah menunduk, mengangkat wajahnya menatap Alan. Lalu dengan perlahan pula, dia mengulurkan tangannya menerima sapu tangan dari Alan. Pak Syahroni dan Zul, hanya menyaksikan keduanya seperti sedang menonton adegan drama. Apa yang dilakukan oleh Alan ini, Tiara seperti sedang bersama Fadil kekasihnya. Dia merasakan, perhatian yang diberikan oleh Alan, sungguh seperti rasa kasih sayang yang diberikan Fadil kepadanya.


'' Mas ini apanya Fadil? kok bisa tahu Fadil dan juga kenapa menanyakan dia?'' tanya pak Syahroni merasa heran.


'' Saya.. saya bukan siapa-siapanya dia, tapi saya memang sedang mencari alamat rumah dan keluarganya.'' jawab Alan, tidak ingin menjelaskan lebih jauh tentang maksud dan tujuan didalam hatinya.


'' Oh iya, kok mas ini bisa tahu Tiara anak saya?'' tanya pak Syahroni juga merasa heran kalau Alan juga mengenal Tiara.


'' Oh.. itu!. Itu saya pernah bertemu dengan mbaknya ini, beberapa bulan yang lalu saat bersama Mbak Naila.'' jawab Alan.


Tiara kemudian mulai teringat peristiwa penculikan itu. Dia teringat telah melihat wajah Fadil, saat setelah bangun dari pingsan dan sebelum dia pingsan kembali. Dia juga teringat, kalau Naila mengatakan orang yang telah menolongnya bernama Alan dan memiliki wajah tampan mirip dengan Hitrik Roshan. Tidak salah lagi, hatinya berkata bahwa orang yang ada didepannya ini adalah orang yang telah menolongnya waktu itu.


'' Apakah mas ini kang Alan, santrinya Abah dari Jakarta?'' tanya Tiara menatap wajah Alan.

__ADS_1


'' Betul mbak.'' jawab Alan singkat.


'' Kalau begitu, saya ucapkan terimakasih banyak atas bantuan kang Alan waktu itu. Dan maaf, saya baru bisa mengatakannya secara langsung sekarang. Sekali lagi terimakasih kang.'' ujar Tiara sambil meletakkan kedua tangannya didepan dada.


Pak Syahroni yang tidak mengerti apa yang dimaksud mereka hanya diam mendengarkan. Sedangkan Zul yang pernah mendengar cerita dari Alan, kini mulai paham, kalau ternyata Tiara adalah orang yang pernah ditolong oleh Alan dari penculikan yang dilakukan oleh Deddy pada waktu itu.


'' Oh iya, mari kita sarapan dulu!, nanti saja kita lanjutkan obrolan ini. Saya juga nanti kalau tidak keberatan, ingin minta tolong kepada bapak untuk menunjukkan alamat dari mas Fadil.'' ucap Alan yang tidak ingin membahas semuanya ditempat ini.


Meski dengan perasaan yang sulit untuk digambarkan, merekapun akhirnya menyantap hidangan yang telah disajikan di atas meja tersebut. Tiara yang posisi duduknya berhadapan langsung dengan Alan, sesekali dia menatap wajah Alan. Entah mengapa? lagi-lagi dia merasa, bahwa orang yang ada didepannya adalah Fadil bukanya Alan.


Usai sarapan, mereka kemudian kembali menaiki mobil yang dibawa oleh Alan, dan melanjutkan perjalanan mereka yang hanya tinggal sekitar dua jam lagi tersebut. Dalam perjalanan itu, mereka tidak banyak berbicara. Hanya Zul saja yang sesekali berbicara untuk menunjukkan arah kepada Alan, manakala mereka sudah memasuki daerah simpang Batumarta. Pak Syahroni juga tidak terlalu banyak berbicara, dia hanya menjawab beberapa pertanyaan dari Zul, sambil sesekali melirik kearah Tiara. Setelah bertemu Alan yang memiliki wajah mirip dengan Fadil, pak Syahroni kini merasa khawatir, kalau nanti Tiara akan bersedih dan teringat kembali Fadil kekasihnya yang telah tiada.


Setelah melewati sebuah pasar tradisional, Zul kemudian menunjukkan arah dimana tempat tinggalnya. Namun dia tidak turun, melainkan tetap bersama Alan mengantarkan pak Syahroni dan Tiara sampai didepan rumahnya. Jarak tempat tinggal Zul dan pak Syahroni tidaklah terlalu jauh. Hanya sekitar 2 km dari tempat tinggal Zul, mobil yang dikendarai oleh mereka kini sudah berada didepan rumah Tiara.


'' Alhamdulillah.., terimakasih mas, sudah diantar sampai didepan rumah. Mari! mampir dulu barang sebentar, biar nanti sekalian saya antar kerumahnya keluarga Fadil.'' ucap pak Syahroni sembari turun dari mobil tersebut.


'' Emm terimakasih pak, tapi sepertinya saya belum bisa mampir sekarang. Insyaallah, nanti sore saya akan kesini lagi. Soalnya sekarang, saya harus mengantarkan kang Zul dulu. Takutnya keluarga kang Zul merasa khawatir, karena sudah terlambat satu hari dari jadwal kepulangannya.'' ujar Alan menolak tawaran pak Syahroni.


'' Iya pak, sama-sama.'' ujar Alan, kemudian mencari tempat untuk memutarkan arah mobilnya.


Pak Syahroni dan Tiara masih berdiri ditepi jalan didepan rumahnya, hingga Alan kembali melewati mereka, setelah memutarkan mobilnya tak jauh dari tempat itu.


'' Mari pak, mbak, Assalamualaikum..'' ucap Alan ketika mobilnya tepat berada didepan pak Syahroni dan Tiara, lalu pergi meninggalkan tempat itu.


'' Mari mari, wa'alaikumsalam...'' ucap pak Syahroni sambil melambaikan tangannya.


Mendengar ada suara mobil berhenti didepan rumahnya, Bu Lilis, Yunita dan Vita segera keluar dari dalam rumah. Mereka melihat pak Syahroni dan Tiara, sedang berdiri ditepi jalan dan melambai kearah mobil Pajero sport yang berlalu disana. Pak Syahroni dan Tiara kemudian berbalik dan berjalan menuju rumahnya. Tiara langsung disambut oleh Bu Lilis dan kedua saudaranya. Setelah bersalaman, Tiara kemudian masuk kedalam rumah menuju kamarnya.


'' Mobilnya siapa itu yah?, kayaknya baru liat. Katanya naik bus?'' tanya Bu Lilis kepada pak Syahroni.


'' Mobil temannya Tiara, semalam ketemu di Lampung, kebetulan mau ke Baturaja. Tadinya sih ya naik mobil bus, cuman semalam busnya mogok, jadi ikut nebeng mobil tadi.'' jawab pak Syahroni.


'' Oh.. kirain, mobil travel.'' ujar Bu Lilis.

__ADS_1


'' Itu, Tiara kenapa yah? kok wajahnya kelihatan agak aneh?'' bisik bu Lilis yang sempat melihat raut wajah Tiara yang terasa agak berbeda.


'' Emm nanti Ayah ceritain.'' bisik pak Syahroni kepada Bu Lilis.


Tiara yang sudah berada didalam kamarnya, dia kemudian mengeluarkan beberapa pakaian dan buku dari dalam tas ransel bawaannya. Setelah meletakkan pakaian dan buku itu didalam lemari, dia lalu mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi dan berganti pakaian, dia kemudian mengambil bingkai foto yang selalu dia bawa, yang di ambil dari kamar Fadil waktu itu. Ditatapnya dalam-dalam foto Fadil dan dirinya yang ada didalam bingkai tersebut. Entah, sejak bertemu dengan Alan yang wajahnya mirip Fadil itu, Tiara tidak tahu apa yang sedang dia rasakan. Apakah harus bersedih, ataukah bahagia? Tiara benar-benar merasa bingung dengan apa yang sedang dirasakan didalam hatinya.


Disaat Tiara sedang menatapi foto dalam bingkai tersebut, Yunita masuk dan duduk disebelahnya. Tiara terkejut, lalu buru-buru meletakkan bingkai foto tersebut. Namun Yunita sudah mengetahui, kalau Tiara sedang menatapi bingkai foto itu. Yunita lalu meraih kedua tangan Tiara, meletakkannya di dadanya, lalu berkata:


'' Tiara, maafkan aku! maafkan aku Tiara!'' ucap Yunita dengan mata berkaca-kaca.


Tiara dengan perlahan, menarik kedua tangannya yang digenggam oleh Yunita. Dia kemudian mengambil kembali bingkai foto yang tadi dia letakkan. Sambil menatap foto dalam bingkai tersebut, tangannya kemudian membelai foto Fadil dengan penuh kelembutan.


'' Kak.. Sudahlah!, semuanya sudah terjadi. Walaupun tidak mungkin, tapi aku yakin. Aku yakin, A Fadil pasti akan kembali untukku.'' tanpa sadar Tiara mengucapkan kata-kata itu.


Mendengar kata-kata Tiara, hati Yunita semakin sedih. Air matanya kini malah semakin deras mengalir di kedua pipinya. Rasa bersalah atas peristiwa itu, benar-benar membuat Yunita semakin tak kuasa menahan air matanya.


'' Tiara.. bisakah kamu memaafkan aku? Bisakah kamu tidak mengingat Fadil lagi? Tidakkah kamu tahu? aku benar-benar menyesal Tiara, aku sangat-sangat menyesal.'' Yunita sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya.


'' Kak.. Sudah kubilang! biarkan apa yang sudah terjadi. Aku sudah memaafkan kakak. Tapi tolong!, jangan melarangku untuk selalu berharap akan bersama dengan A Fadil. Bagiku, A Fadil akan selalu ada untukku. Dan suatu saat nanti, aku akan bersamanya.''


Sambil berkata seperti itu, Tiara yang masih membelai foto Fadil tersenyum begitu manisnya. Seakan Tiara sedang menunggu kedatangan seseorang, yang orang tersebut telah memberi tahu, bahwa tak lama lagi dia akan datang menemuinya. Yunita sudah tak tahu lagi harus berbuat apa, dia kemudian keluar dari kamar itu sambil menangis. Bu Lilis yang melihat Yunita seperti itu, lalu segera menghampiri Yunita yang sedang menangis disudut ruang belakang.


'' Kamu kenapa Yun? apa ada masalah?'' tanya Bu Lilis setelah berada didekat Yunita.


'' Tiara bu.. Tiara masih saja mengingat-ingat Fadil. Dia bahkan bilang, kalau Fadil akan datang menemuinya.'' ucap Yunita sambil sesenggukan.


Bu Lilis menarik napas panjang mendengar apa yang dikatakan oleh Yunita. Dia kemudian meninggalkan Yunita dan berjalan menuju kamar Tiara. Ketika masuk ke dalam kamar tersebut, Bu Lilis mendapati Tiara yang masih sedang membelai bingkai foto itu.


'' Tiara.. apa kamu baik-baik saja nak? kenapa kamu masih saja seperti itu?'' Bu Lilis mendekati Tiara dan membelai rambutnya.


'' Tiara baik-baik saja kok bu! Tiara tidak kenapa-napa.'' jawabnya.


Kali ini Tiara tidak menyembunyikan bingkai foto itu dari ibunya, seperti yang tadi dia lakukan saat Yunita menghampirinya. Meski Tiara sedang menatapi foto Fadil, namun Bu Lilis sama sekali tidak melihat adanya air mata disudut kedua mata Tiara, seperti yang dulu sering Bu Lilis lihat. Namun bagaimanapun juga, Bu Lilis juga merasa sedikit resah dengan apa yang dilakukan oleh Tiara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2