Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Menjadikan Ulil Kepala Keamanan


__ADS_3

Tidak ada satupun dari para penjaga keamanan itu yang bergerak melakukan perintah Rio, termasuk juga dengan kepala penjaga itu. Mereka tidak berani melakukan apapun.


Selain mereka melihat Fadil yang sedang memegang pistol, mereka juga melihat Ulil yang tadi telah menjatuhkan banyak anak buah keponakan Rio, yang kini telah berada disamping Fadil. Ditambah lagi, mereka juga melihat kalau Rio tadi akan menembak Ulil, yang sudah membantu mereka melawan anak buah keponakan Rio tersebut.


'' Apa kalian semua tuli hah? kenapa kalian semua cuma diam saja? cepat tangkap orang ini!'' kembali Rio memberi perintah.


Semua penjaga keamanan itu melihat kearah pemimpin mereka. Kepala penjaga keamanan itu kemudian berjalan mendekati Fadil dan Rio.


'' Maaf tuan! tolong tuan jangan bertindak yang melanggar hukum. Tolong singkirkan pistol itu, dan juga lepaskanlah manajer kami tuan!'' pinta kepala penjaga keamanan itu, memohon kepada Fadil.


Fadil hanya tersenyum, sambil memain-mainkan pistol milik Rio tersebut. Dia lalu menatap Rio dan berkata:


'' Oh.. jadi ini manajer kalian yang suka korup itu? pantesan..! Udah jelek, pendek, pesek, brengsek pula.'' ujarnya sambil terus memain-mainkan pistol itu.


Mendengar ucapan Fadil tersebut, beberapa orang tersenyum geli. Bahkan ada beberapa diantaranya yang sampai tertawa. Tak terkecuali, kepala penjaga keamanan tersebut. Dia segera memalingkan wajahnya dan menutupi mulutnya, karena dia takut Rio akan melihatnya tertawa karena ucapan Fadil tersebut.


Mendengar Fadil berkata seperti itu, Rio menjadi semakin marah. Namun, dia merasa takut untuk berbuat sesuatu. Dia takut, kalau-kalau Fadil akan menembaknya. Dia juga masih merasakan sakit akibat tamparan Fadil tadi.


'' Kurang aj.. plak!''


Lagi-lagi, belum juga selesai dia berkata, satu tamparan kembali mendarat di pipinya. Gerakan Fadil begitu cepat, hingga hampir tidak terlihat sama sekali.


'' Ngomong seperti itu lagi! akan kubuat semua gigimu rontok.'' ancam Fadil.


Melihat pamannya dipermalukan seperti itu, keponakan Rio yang mukanya sudah begitu lebam akibat bogeman dari Ulil, dia mencoba untuk mengambil pisau belati yang berada tidak jauh darinya. Belum juga tangannya menyentuh pisau tersebut tiba-tiba!


" Dor!''


Pisau belati tersebut terpental beberapa meter, setelah dihantam peluru yang keluar dari pistol yang ada ditangan Fadil. Semua orang terkejut. Tiara yang berada disebelah Fadil, dia langsung jongkok dan menutupi kedua telinganya.


Keponakan Rio yang tadi hendak mengambil pisau itu, dia kemudian berdiri ketakutan. Hampir saja, tangannya terkena peluru itu. Dia lalu kembali melihat kearah Fadil.


Fadil yang masih berhadapan dengan Rio, dia sama sekali tidak melihat kearah keponakan Rio saat menembakkan senjata tersebut. Kini semua orang tercengang dengan apa yang barusan Fadil lakukan. Dengan cara seperti itu, bisa saja Fadil salah sasaran.


Tetapi pada kenyataannya, tembakan Fadil tadi benar-benar mengenai pisau yang akan diambil oleh keponakan Rio. Seakan-akan, Fadil memang melihat dan telah mengincar target tersebut.


'' Ayo! silahkan ambil pisau itu, jika kamu ingin ada peluru yang bersarang di kepalamu.'' ujar Fadil kepada keponakan Rio, tetapi dia sama sekali tidak melihat kearahnya.


'' Tuan, tolong hentikan semua ini tuan! Mari kita bicarakan hal ini secara baik-baik!'' ujar kepala penjaga keamanan itu dengan sedikit ketakutan.


'' Oke! baiklah. Mari kita bicarakan ini baik-baik.'' ujar Fadil lalu menyerahkan pistol milik Rio itu kepada kepala penjaga keamanan.


Fadil lalu meraih kedua bahu Tiara yang masih berjongkok. Namun, baru saja dia dan Tiara berdiri. Rio yang melihat pistol miliknya kini berada ditangan kepala penjaga keamanan itu, dia segera merebutnya lalu menodongkan pistol itu kepada Fadil.


'' klik, klik, klik''


Meskipun sudah berkali-kali Rio mencoba menembakkan pistol tersebut, namun tidak ada bunyi ledakan dari pistol itu sama sekali. Secara perhitungan, menurut Rio masih ada setidaknya dua peluru tersisa didalam pistol tersebut. Namun, ternyata pistol tersebut sudah benar-benar kosong tanpa amunisi sama sekali.


Semua orang terkejut dengan apa yang akan dilakukan oleh Rio. Mereka tidak menyangka, kalau ternyata Rio dengan cara licik dan tidak manusiawi, dia malah akan menembak Fadil yang sudah menyerahkan pistol itu, dan akan berbicara secara baik-baik.


Melihat sahabatnya akan ditembak, Ulil yang berada tak jauh dari Fadil dia langsung mengingatkan Fadil. Karena terlalu tiba-tiba, Ulil jadi tidak melakukan apapun dan hanya berkata kepada Fadil. Begitupun dengan Tiara. Saat melihat Rio tiba-tiba mengarahkan pistolnya kepada Fadil, Tiara langsung memeluk Fadil dengan begitu eratnya. Dia bahkan tidak sadar, kalau saat itu disekelilingnya banyak orang yang melihat kearah mereka.

__ADS_1


'' Mas Fadil, awas!'' teriak Ulil.


Fadil hanya tersenyum kepada Ulil. Dengan santainya, dia lalu mencoba melepaskan pelukan Tiara terhadapnya. Namun, sepertinya Tiara enggan melepaskan pelukannya. Tiara ingin melindungi Fadil, namun tidak tahu bagaimana caranya. Maka dari itulah, Tiara hanya bisa memeluk Fadil sebagai bentuk perlindungan dirinya kepada Fadil.


'' Tiara, lepaskan pelukanmu. Lihat! banyak orang yang melihat kita.'' bisik Fadil ditelinga Tiara.


'' Tiara, ayo lepaskan! tidak akan terjadi apa-apa kok! Pistol itu sudah tak ada pelurunya.'' bisiknya lagi karena Tiara tidak mau melepaskan pelukannya.


Setelah mendengar Fadil berkata seperti itu, dan juga memang tidak terjadi apapun, akhirnya Tiarapun melepaskan pelukannya terhadap Fadil. Begitu Tiara melepaskan pelukannya, Fadil kemudian menatap kearah Rio.


'' Kenapa? pistolnya rusak! apa kamu mencari ini!'' ujar Fadil, sambil menunjukkan dua buah peluru yang ada dalam genggaman tangannya.


Rio dan semua orang yang ada didekat mereka kembali tercengang. Entah kapan dan bagaimana caranya, tiba-tiba peluru tersebut sudah berada didalam tangan Fadil. Mereka bahkan tidak melihat sama sekali, kalau Fadil mengeluarkan peluru-peluru tersebut dari pistol itu, dan hanya memainkannya.


Disaat Rio dan semuanya masih merasa heran, Fadil lalu melemparkan peluru-peluru tersebut didepan Rio.


'' Dor!''


Dua buah peluru tersebut, meledak secara bersamaan didepan kaki Rio. Tak ayal lagi, Rio dan kepala penjaga keamanan tersebut langsung melompat-lompat seperti orang yang sedang dikejar tikus. Hal itu membuat Fadil, Ulil, dan juga yang lainnya terkekeh-kekeh melihat mereka.


Tiara yang ikut terkejut, dia kembali memeluk Fadil. Bahkan dia juga ikut melompat dan bergelantungan dalam gendongan Fadil.


Pada saat terjadi kehebohan tersebut, sebuah mobil mewah dan dua mobil Van datang memasuki halaman, lalu berhenti tak jauh dari keberadaan mereka. Seorang lelaki segera turun dari mobil mewah tersebut, diikuti oleh beberapa orang pengawal berseragam jas hitam yang keluar dari mobil Van tersebut.


'' Amankan area ini! jangan biarkan ada yang keluar dari tempat ini.'' perintah lelaki tersebut kepada para pengawalnya.


Para pengawal tersebut langsung menangkap teman-teman dan anak buah keponakan Rio, lalu mengikat dan mengumpulkan mereka, termasuk juga keponakan Rio.


Keponakan Rio dan teman-temannya, serta anak buah mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Selain para pengawal tersebut berjumlah cukup banyak, mereka juga memiliki tubuh yang terlihat sangat tegap dan benar-benar terlatih.


Lelaki yang memimpin mereka tersebut, dengan terburu-buru segera menghampiri Fadil yang masih menggendong Tiara, dan masih terkekeh karena melihat Rio dan kepala penjaga keamanan tadi, diikuti oleh beberapa orang pengawalnya.


'' Tuan muda!'' sapa lelaki tersebut kepada Fadil.


Melihat lelaki yang datang tersebut, Rio dan kepala penjaga keamanan itupun langsung menyapanya. Namun, lelaki tersebut tidak menghiraukan mereka sama sekali.


'' Tuan muda! apa tuan muda tidak apa-apa?'' tanya lelaki itu lagi.


Fadil lalu menurunkan Tiara yang masih berada dalam gendongannya. Setelah Fadil menurunkannya, Tiara baru sadar kalau sejak tadi dia berada dalam gendongan Fadil. Dia lalu melihat lelaki yang tadi menyapa Fadil, dan juga melihat banyak orang yang sedang melihat ke arahnya.


Wajah Tiara langsung memerah karena malu. Namun, alih-alih dia agak menjauh dari Fadil, Tiara malah menyembunyikan wajahnya didada kiri Fadil. Melihat sikap Tiara yang seperti itu, Fadil tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa membiarkan Tiara seperti itu.


Namun, dalam hatinya dia ingin tertawa. Dia benar-benar tidak menyangka kalau calon istrinya tersebut, selain baik, pemalu, agak galak, dan juga penyayang, ternyata dia juga manja dan lucu. Seperti sikap Tiara saat ini, dia benar-benar seperti anak balita yang sedang bersembunyi dibalik dekapan orang tuanya karena malu.


'' Tidak apa-apa pak Alex! saya baik-baik saja.'' jawab Fadil setelah tau bahwa yang datang tersebut adalah penanggung jawab wilayah tersebut.


Mendengar Alex selaku penanggung jawab wilayah, dan merupakan orang ternama, serta ditakuti didaerah ini menyebut Fadil dengan sebutan tuan muda, baik Rio ataupun yang lainnya merasa terkejut. Bahkan, sikap Alex yang terlihat begitu hormat kepada Fadil, membuat Rio dan yang lainnya menjadi bertanya-tanya akan status Fadil sebenarnya.


'' Tuan Alex, maaf! kalau boleh tahu! siapa pemuda ini tuan? kenapa tuan begitu hormat kepadanya?'' tanya Rio.


Mendengar pertanyaan dari Rio, Alex lalu menghampirinya. Bukannya langsung menjawab pertanyaan dari Rio, Alex malah memberikan tamparan beberapa kali di kedua pipi Rio hingga dia merasa begitu kesakitan. Setelah puas menampar Rio, Alex dengan marah berkata:

__ADS_1


'' Dasar b***h! bukannya kamu melindungi tuan muda pemilik hotel ini, kamu malah ingin mencelakainya. Mulai hari ini, kamu saya pecat!'' ujar Alex sambil menunjukkan jarinya ke wajah Rio.


'' A apa? tuan muda pemilik hotel ini!'' seru Rio dan yang lainnya terkejut.


'' Tuan muda, maafkan saya tuan muda! saya terlambat datang. Saya benar-benar tidak tahu, kalau hari ini tuan muda akan datang ke hotel ini.'' ujar Alex tanpa menghiraukan mereka yang masih terkejut dengan status Fadil.


'' Tuan muda! saya baru tahu dari nyonya, kalau saat ini tuan muda berada disini. Saya juga baru dapat laporan, kalau disini sedang terjadi insiden. Untuk itu tuan muda, saya siap dihukum atas kelalaian saya ini tuan muda.'' ujar Alex lalu bersimpuh didepan Fadil.


Semua orang benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Alex. Merekapun lalu segera ikut bersimpuh seperti Alex. Hanya Tiara, Ulil, dan beberapa tamu hotel yang masih berdiri. Ulil benar-benar bingung saat melihat hampir semua orang yang ada disana bersimpuh didepan Fadil.


'' Pak Alex, sudahlah! bangun dan suruh mereka juga ikut bangun. Jangan bersimpuh seperti itu.'' ucap Fadil.


'' Saya juga tidak apa-apa pak Alex, jadi untuk apa saya menghukum pak Alex.'' lanjutnya.


'' Baiklah tuan muda. Terima kasih karena tuan muda sudah memaafkan saya.'' ucap Alex, lalu segera memerintahkan yang lainnya untuk segera bangun.


'' Pak Alex! kebetulan sekali pak Alex datang. Saya ingin minta tolong sama pak Alex. Dia itu sudah merusak citra hotel ini. Dia juga sudah banyak melanggar peraturan dari hotel ini. Untuk itu, tolong usut sampai tuntas, apakah ada orang lain yang ikut bekerja sama dengannya.'' ujar Fadil sambil menunjuk kearah Rio.


'' Baiklah tuan muda. Perintah tuan muda, akan saya laksanakan dengan segera.'' jawab Alex.


'' Oh iya tuan muda! karena dia sudah saya pecat dari posisi manajer, apakah tuan muda punya pandangan untuk menggantikan posisinya?'' lanjutnya.


Fadil kemudian berpikir sejenak. Dia kemudian melihat kearah kepala penjaga keamanan. Kepala penjaga keamanan itu langsung menunduk. Hatinya jadi berdebar-debar. Dia merasa khawatir, kalau Fadil juga akan memecatnya.


'' Baiklah! untuk sementara ini, agar tidak terjadi kekosongan pada posisi manajer, saya akan menunjuk seseorang yang menurut saya pantas untuk posisi ini.''


'' Namun, ini sifatnya sementara. Tapi, kalau nanti ternyata dia mampu, maka untuk seterusnya dia boleh menduduki posisi ini.'' ujar Fadil.


'' Pak kepala! siapa namamu?'' tanya Fadil kepada kepala penjaga keamanan itu.


'' Maaf tuan muda, apa yang tuan muda maksud itu saya?'' tanya kepala penjaga keamanan tersebut lalu dibalas anggukan oleh Fadil.


'' Maaf tuan muda! saya tahu saya salah. Tapi tolong, jangan pecat saya tuan muda.'' ujarnya dengan penuh harap.


'' Pak, saya cuma ingin menanyakan namamu, bukan ingin memecatmu.'' ujar Fadil.


'' Maaf tuan muda! nama saya Nathan tuan muda.'' jawabnya lalu segera menunduk.


Kepala penjaga keamanan itu benar-benar tidak fokus dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Fadil dan Alex. Dia benar-benar merasa ketakutan, karena tadi dia sudah menceritakan masalah suap menyuap yang terjadi di hotel ini kepada Fadil.


'' Untuk sementara ini, saya serahkan posisi manajer kepada pak Nathan. Seperti yang tadi saya bilang, kalau sekiranya nanti pak Nathan mampu dan pantas untuk memegang posisi ini, maka pak Nathan boleh terus menjadi manajer di hotel ini.'' ujar Fadil.


'' Tapi tuan muda, saya..'' ucap Nathan masih merasa bingung.


'' Udah..! gak usah pake tapi-tapian. Bapak mau tidak? kalau bapak tidak mau, biar saya cari yang lain.'' ujar Fadil menunggu jawaban dari Nathan.


'' Mau tuan muda, saya mau.'' jawabnya segera.


'' Baik! karena posisi manajer sudah ada, maka untuk menggantikan posisi pak Nathan sebelumnya sebagai kepala penjaga keamanan, saya akan menunjuk teman saya ini sebagai penggantinya. Apa ada diantara kalian yang keberatan?'' tanya Fadil kepada seluruh penjaga keamanan yang ada disana.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2