
Hampir saja Alan tak dapat menahan emosi yang berkecamuk di dalam dadanya, jiwa mudanya telah terbakar. Dulu, Alan akan melakukan tindakan apapun jika sudah berhadapan dengan sesuatu hal yang tidak dia sukai. Alan yang sudah cukup lama berkecimpung dalam dunia balap liar, dia dan teman-teman gengnya, sering kali terlibat perseteruan dengan para geng lain. Bahkan diantaranya adalah mafia dunia gelap.
Berkat kemampuan ilmu beladiri dan juga kekuatan tersembunyi milik keluarganya, dia beserta teman-teman gengnya, banyak menaklukkan para geng lain di beberapa wilayah. Bahkan Alan juga mempunyai geng sendiri saat dia berada diluar negeri.
Mendengar tentang kelakuan lurah dan juga anaknya yang sudah keterlaluan itu, Alan rasanya ingin sekali melenyapkan mereka dari muka bumi ini secepatnya. Namun, dia kembali tersadar. Bahwa tujuannya datang ke pesantren ini adalah, untuk belajar ilmu agama dan bukan untuk mencari musuh. Sehingga akhirnya, Alan berfikir untuk membantu menyelesaikan masalah yang dialami oleh Abah dan pesantren ini, dengan cara yang legal sesuai aturan hukum yang ada.
'' Abah.., Ummi.., kang Zul, apa yang dilakukan oleh pak lurah dan juga anaknya itu, sudah sangat keterlaluan dan juga melanggar hukum. Saya mempunyai teman di beberapa instansi terkait yang berhubungan dengan permasalahan yang Abah miliki. Insyaallah Abah, saya akan berusaha sebisa mungkin, meminta teman-teman saya itu untuk membantu mengembalikan keadilan yang sudah terinjak-injak selama ini.'' ucap Alan dengan penuh keyakinan.
'' Dan untuk hal tersebut, saya mohon maaf kepada Abah dan para pengurus di pesantren ini, karena nanti saya harus sedikit melanggar peraturan di pesantren ini.'' lanjutnya.
Abah, Ummi, juga Zul. Meskipun belum sepenuhnya yakin dengan apa yang bisa dilakukan oleh Alan, dalam menghadapi kekuatan pak lurah dan para anteknya yang begitu licik itu, namun mereka juga menyambut gembira perkataan Alan tersebut. Setidaknya mereka memiliki sedikit harapan untuk bisa terlepas dari dilema yang sedang menimpa keluarga Abah dan juga pesantrennya.
'' Maksud kang Alan, melanggar bagaimana kang? tanya Zul.
'' Begini kang Zul, Abah.., kemarin saya sempat baca peraturan bagi setiap santri yang ada di pesantren ini, diantaranya adalah ( Setiap santri tidak diperbolehkan keluar masuk pesantren tanpa kepentingan dan izin dari pengurus. Setiap santri juga tidak diizinkan membawa ponsel di lingkungan pesantren ) Sementara nanti, saya pasti harus keluar masuk dan menggunakan ponsel untuk berhubungan dengan teman-teman saya, saat mengurus permasalahan ini.''
'' Kalau untuk hal seperti itu sih nak Alan!, itu sebuah pengecualian. Kami juga akan memakluminya.'' ujar Abah.
'' Iya nak Alan, kami juga sebelumnya sangat berterima kasih. Semoga teman-teman nak Alan nanti, bisa membantu permasalahan kami.'' sambung Ummi ikut menimpali.
'' Aamiin...'' ucap semuanya bersamaan.
Tujuan Alan menemui Abah itu, awalnya karena dia ingin meminta izin dan doa restu dari Abah selama mondok di pesantren ini. Namun tidak disangka, ternyata Alan malah menemukan permasalahan yang cukup pelik, yang sedang dihadapi oleh Abah dan pesantren tempat dia ingin menimba ilmu. Meskipun demikian, niatnya untuk terus belajar di pesantren ini, dan juga belajar memperbaiki diri tidaklah surut. Justru dengan adanya masalah ini, dia semakin merasa, inilah saatnya untuk dia berbuat kebaikan.
Setelah dirasa cukup, Alan dan Zul segera berpamitan. Alan kembali ke asrama untuk segera melakukan apa yang dia sampaikan kepada Abah, yaitu menghubungi seseorang yang akan membantu mengurusi persoalan ini. Sedangkan Zul langsung pergi ke kelas, karena hari ini dia ada jadwal untuk membantu Ustadz mengajar.
'' Abah.., apa menurut Abah anak itu bisa membantu kita ya bah?'' tanya Ummi setelah Zul dan Alan pergi meninggalkan kediaman mereka.
'' Ya.., mudah-mudahan saja memang begitu Ummi!. Walaupun kelihatannya anak itu tidak terlalu meyakinkan, tapi dari tatapan matanya, Abah merasa dia itu memiliki suatu kemampuan yang tersembunyi.'' ucap Abah.
'' Apa mungkin ini ada kaitannya dengan mimpi Abah tadi malam ya bah?'' tanya Ummi lagi.
'' Mungkin juga begitu Ummi. Soalnya, kedatangan anak itu, pas banget dengan momen setelah Abah bermimpi. Tapi ya sudahlah!. Lebih baik kita berdoa, semoga teman-temannya yang dia katakan itu, memang bisa membantu kita.''
...----------------...
Sampai didalam kamar asramanya, Alan kemudian mengeluarkan ponselnya yang dia simpan didalam tas ransel miliknya. Alan tidak mengatakan kepada Abah, kalau yang dimaksud dengan orang yang akan membantu mengatasi permasalahannya itu adalah kakeknya. Karena Alan tidak ingin, jati dirinya diketahui oleh seluruh orang yang ada di pesantren itu, termasuk juga Abah. Sehingga, dia hanya mengatakan memiliki beberapa teman yang mungkin bisa membantunya.
'' Assalamu'alaikum kakek..'' Alan menyapa Arya Wijaya, setelah panggilan itu terhubung.
'' Wa'alaikumsalaam..'' terdengar jawaban dari seberang telepon.
__ADS_1
'' Kakek!, Apakah kakek sedang sibuk?'' tanya Alan.
'' Oh.., tidak Alan, kakek tidak sedang sibuk. Apalagi untuk cucu kesayangan kakek yang satu ini, pasti kakek akan luangkan waktu untukmu.'' seru Arya Wijaya.
'' Ada apa? Kok tumben!, baru sehari disana sudah kangen sama kakek. Kamu baik-baik saja kan?'' lanjutnya.
'' Alan baik-baik saja kakek, Alan cuma ada sedikit perlu dengan kakek.''
Sejak Alan menceritakan tentang kejadian kecelakaan itu, kini sikap Arya Wijaya sedikit berubah. Sikapnya tak lagi sekeras sebelumnya. Dia juga mulai giat melaksanakan ibadah. Rupanya kisah yang diceritakan Alan itu telah membuka hatinya, sehingga dia memperoleh hidayah dari Allah SWT.
'' Kamu mau perlu apa? ayo katakan!. Kakek siap mendengarkan.''
'' Begini kek, apa kakek punya perkebunan teh di sekitar daerah Kuningan?'' tanya Alan.
'' Emm.., sebentar!'' ucap Arya Wijaya.
'' Iya!, tapi itu hanyalah salah satu aset kecil milik kita. Dan sepertinya juga sudah tidak terlalu menghasilkan. Mungkin lebih baik kita lepas saja kedepannya.'' lanjut Arya Wijaya, setelah melihat file dokumen perkebunan teh tersebut.
'' Jangan kek!. Sebenarnya kalau Alan amati, meskipun hasil dari perkebunan itu mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan bisnis kakek yang lain, tapi.., jika dikembangkan dan dipadukan dengan bisnis yang lain, seperti pembangunan Villa, hotel dan juga yang lain, Alan merasa itu akan menjadi aset keluarga yang tidak kecil.'' ujar Alan.
Sebelum Alan menghubungi kakeknya, Alan juga sempat membuka peta daerah sekitar itu melalui aplikasi google maps. Disana, dia menemukan beberapa objek wisata alam, serta letaknya yang cukup strategis. Karena berada diantara beberapa kota, serta tak jauh dari taman wisata nasional gunung Ciremai. Ditambah lagi, dia juga ingin mengembangkan racikan teh istimewa yang dimiliki oleh Abah Ubaid. Sehingga akan menjadi menu minuman utama di beberapa hotel yang ingin dikembangkannya ke depan.
'' Dan lagian kakek, menurunnya penghasilan dari perkebunan teh milik kita itu, disebabkan karena adanya beberapa pencuri yang merupakan para pegawai perkebunan milik kita sendiri.'' ujar Alan.
Alan teringat cerita Abah tentang Gus Alif, yang memergoki pencurian besar-besaran, yang melibatkan mandor perkebunan teh miliki kakeknya. Alan juga berfikir, mungkin selain mandor itu masih ada beberapa pegawai lainnya yang ikut terlibat.
'' Hemm.., ternyata begitu!, darimana kamu bisa tahu hal itu?'' tanya Arya Wijaya penasaran.
'' Ceritanya panjang kek.''
Alan kemudian menceritakan perihal kejadian yang menimpa keluarga Abah dan juga pesantrennya, serta tak lupa menyebutkan siapa aktor dibalik peristiwa-peristiwa tersebut.
'' Wah!. Ini tidak bisa dibiarkan!, kakek paling tidak suka dengan para penghianat seperti itu!'' Ucap Arya Wijaya mulai terbakar emosi.
'' Sabar kakek!. Alan mohon, kakek jangan bertindak seperti yang biasanya kakek lakukan.'' Alan mencoba meredakan emosi Arya Wijaya.
'' Jadi menurutmu! Apa yang harus kita lakukan Alan?'' ujar Arya Wijaya.
Alan menarik nafas dalam-dalam, baru kemudian berkata:
'' Begini kakek!. Tolong kakek hubungi orang kepercayaan kakek, sekaligus penanggung jawab daerah ini. Suruh dia menemui Alan besok jam 09.00 di pangkalan ojek taman kota. Dan juga, Alan minta tolong!. Kakek hubungi juga tim penyidik dari pusat, untuk membuka kembali kasus penganiyaan Gus Alif, yang selama ini tenggelam tanpa jejak. Serta menyelidiki siapa orang-orang yang terlibat didalamnya.''
__ADS_1
Arya Wijaya sangat setuju dengan pendapat Alan saat ini, meskipun sebenarnya dia bisa saja melenyapkan orang-orang yang menjadi penyakit itu lewat jalur gelap, namun dia lebih memilih cara yang legal sesuai hukum yang ada di negara ini.
'' Baiklah Alan, secepatnya kakek akan menghubungi orang-orang yang akan mengurusi masalah ini.''
'' Terimakasih kakek.., kakek memang yang terbaik.'' ucap Alan penuh rasa bangga.
'' Apa masih ada yang lain?'' tanya Arya Wijaya sebelum mengakhiri percakapan mereka.
'' Emm.., sebenarnya masih ada satu lagi kakek.'' ucap Alan ragu-ragu.
'' Udah..! Bilang aja, kok pake ragu-ragu segala.'' Arya Wijaya tampaknya mengetahui keraguan Alan.
'' Emm, baiklah kek. Kalau boleh, Alan ingin menyumbang di pesantren tempat Alan belajar, mumpung ada kesempatan untuk beramal.''
'' Oke! Besok kakek akan kirimkan seseorang untuk memberikannya padamu.'' ucap Arya Wijaya tanpa ragu.
'' Sekali lagi terimakasih kakek.'' Alan begitu gembira.
'' Alan..''
'' Iya kek..''
'' Ternyata tak sia-sia kamu minta pergi ke pesantren. Kakek bangga padamu.''
'' Makasih kek!. Assalamualaikum..''
Setelah menutup panggilan tersebut.Di tempatnya masing-masing, keduanya sama-sama tersenyum bahagia. Alan merasa bahagia karena dia akhirnya akan dapat membantu Abah menyelesaikan permasalahannya. Sementara Arya Wijaya bahagia, karena Alan walaupun dia di pesantren, tapi masih bisa ikut berpartisipasi mengurus usaha milik mereka.
Hari ini, sebenarnya Alan sudah bisa mulai masuk kelas. Tapi berhubung waktu sudah hampir Dzuhur, dan juga besok dia harus mulai sibuk mengurusi masalah Abah dan pesantrennya, akhirnya Alan memutuskan untuk sementara ini, dia hanya ikut belajar pada waktu malam harinya saja. Menjelang waktu Dzuhur.. teman-teman sekamar Alan datang, termasuk juga dengan Zul. Saat mereka melihat kalau Alan ada disana, mereka segera bertanya.
'' lho.., kang Alan tadi tidak ikut masuk kelas?'' tanya salah seorang dari mereka.
'' Belum kang! Mungkin untuk beberapa hari ini, saya cuma bisa ikut ngaji malam hari saja.'' jawab Alan.
'' Kok bisa gitu kang?'' tanya yang lain.
'' Iya!, soalnya kang Alan ini diberi tugas oleh Abah, makanya kang Alan akan sering keluar.'' Zul langsung menimpali pertanyaan dari teman-temannya.
Zul sengaja berkata seperti itu, karena dia tidak ingin teman-temannya yang lain, mengetahui misi yang dilakukan oleh Alan nantinya. Alan juga mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Zul. Karena untuk saat ini, dia juga tidak ingin jati dirinya di ketahui oleh orang lain.
...****************...
__ADS_1