Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Pertarungan


__ADS_3

Usai menulis surat itu, Tiara lalu berpikir. Bagaimanakah cara untuk menyampaikan itu kepada orang yang dia sendiri belum tahu seperti apa orangnya. Ditambah lagi peraturan di pesantren ini, tidak memperbolehkan santri laki-laki dan santri perempuan bertemu, membawa ponsel, dan juga beberapa hal lainnya, terkecuali untuk waktu-waktu tertentu. Namun Tiara juga merasa tidak enak hati, jika dia hanya berdiam diri tanpa menyampaikan ucapan terima kasih kepada orang yang telah menolongnya. Setelah berpikir lama, Tiara lalu teringat kalau Naila pernah bertemu dengan orang yang telah menolongnya. Dia lalu menghampiri Naila, yang sedang sibuk merapikan pakaian kering yang telah dicucinya.


'' Mbak Naila, boleh minta tolong!'' ucap Tiara setengah berbisik.


'' Mau minta tolong apa mbak?'' tanya Naila.


'' Bisa tolong sampaikan ini kepada orang yang waktu itu menolongku.'' ucap Tiara yang lupa nama orang yang telah menolongnya saat itu.


'' Maksudnya sama kang Alan?'' tanya Naila setelah melihat sepucuk surat yang dipegang Tiara. Tiara mengangguk. Lalu menyerahkan sepucuk surat itu kepada Naila.


'' Saya cuma ingin mengucapkan rasa terima kasih kepadanya.'' ucap Tiara yang melihat ekspresi Naila yang seakan mencurigainya.


'' Lebih dari itu juga gak papa kok mbak!, aku lihat, kalian sepertinya cocok. Yang satu cantik, dan yang satunya lagi tampan. Mungkin kalian berjodoh nanti!'' ucap Naila sedikit menggoda Tiara.


Digoda seperti itu, ekspresi wajah Tiara tampak datar, tidak seperti kebanyakan gadis pada umumnya. Hal itu membuat Naila semakin penasaran dan mencoba untuk menggoda Tiara lagi.


'' Eh mbak, beneran lho! kang Alan itu orangnya sangat tampan. Seperti.. itu, siapa namanya? emm..Hitrik Roshan, ya Hitrik Roshan. Andai saja hatiku masih kosong, pasti aku akan jatuh cinta padanya.'' ujar Naila agak malu-malu.


Tiara sendiri sebenarnya merasa agak penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Naila. Pasalnya, menurut teman-teman di kampungnya, wajah dan tubuh Fadil sekilas mirip dengan artis Bollywood Hitrik Roshan, pada film kahona pyaar hai yang dulu pernah booming di dunia perfilman. Baik di layar lebar maupun layar kaca.


'' Mbak Tiara! kok malah bengong. Tuuh..kan! kayaknya mulai tertarik ya.. sama kang Alan?. Udah.., tenang aja! nanti aku mintain deh nomor WA-nya.'' ujar Naila mencoba menjadi Mak Jomblang untuk Tiara.


'' Apaan sih mbak Naila!, beneran kok, aku cuma ingin mengucapkan rasa terima kasih saja sama dia.'' ucap Tiara tak ingin terus membicarakan soal Alan.


Bagi Tiara, di dalam hatinya telah ada Fadil. Meskipun Fadil telah tiada, tapi Tiara yakin, jika mereka bisa bersama di alam yang lain. Saat keduanya sedang sibuk membicarakan tentang Alan, Neng geulis yang tak jauh dari mereka kemudian datang merapat.


'' Hayo.., lagi pada ngomongin apa kalian? keliatannya rahasia banget. Sampai bisik-bisik kayak gitu!, pasti lagi ngomongin soal cowok ya..?'' ujar Neng geulis lalu duduk merapat bersama mereka.


'' Enggak kok!, kita tidak lagi membahas soal cowok, iya kan mbak Naila?'' ucap Tiara sambil memberi isyarat mata kepada Naila.


'' Ya.. gimana ya?, iya aja deh.'' ujar Naila kebingungan.


'' Tuuh..kan bener!, kalian lagi ngomongin cowok. Mbak Naila, coba ceritain dong! seperti apa dia, apa orangnya ganteng? Soalnya Eneng gak ridho ah, kalau calon kakak sepupu Eneng tidak ganteng. Masa teteh Tiara yang secantik ini, dapat cowok yang tidak ganteng! kan rugi.'' cerocos Neng geulis sambil mencubit kedua pipi Tiara dengan gemas.


'' Eneng... sakit tau!'' gerutu Tiara sambil mengelus-elus kedua pipinya yang jadi kemerahan karena cubitan Neng geulis itu.


'' Lagian, siapa.. juga yang lagi ngomongin cowok. Kan tadi aku udah bilang, kalau kami tidak lagi ngomongin cowok.'' sambung Tiara kemudian.


Naila yang menyaksikan keduanya seperti itu, dia senyum-senyum. Dia memang berniat menggoda Tiara, agar Tiara merasa penasaran dengan santri baru itu. Tapi melihat respon Neng geulis yang super ceriwis dan kepo itu, membuat dia tak ingin berlanjut menggoda Tiara. Apalagi Tiara juga sepertinya tidak begitu respon dengan godaannya.

__ADS_1


'' Iya Eneng.., betul kok kata mbak Tiara. Kita memang tidak lagi ngomongin soal cowok.'' ujar Naila kepada Neng geulis.


'' Beneran?'' tanya Neng geulis, seakan tidak percaya.


'' Suer deh.'' ucap Naila sambil mengacungkan dua jarinya.


'' Ooh gitu!, tapi beneran mbak ya? nanti kalau teh Tiara lagi dekat sama cowok, mbak harus ngasih tau Eneng. pokoknya Eneng mesti tahu seperti apa cowoknya Teteh.'' ujar Neng geulis setengah memaksa.


...----------------...


Sehabis sholat Maghrib tadi, seluruh santri senior telah siap siaga. Beberapa orang ditugaskan berjaga di pintu masuk area asrama santri putri. Sebagian berjaga-jaga di kediaman Abah, sebagian lainnya berjaga di pintu gerbang masuk pesantren dan sisanya standby di Masjid yang memang dekat dengan pintu gerbang pesantren tersebut.


Karena yang ditunggu belum ada tanda-tanda kemunculannya, Abah dan sebagian santri lalu melaksanakan shalat isya yang memang sudah masuk waktunya. Mereka melaksanakan shalat dengan bergiliran, karena khawatir jika nanti Deddy dan rombongan tiba-tiba saja datang. Namun, hingga semuanya selesai melaksanakan shalat, orang yang ditunggu masih belum datang juga.


Usai memimpin shalat isya, Abah kemudian kembali ke rumah beserta rombongan yang dipimpin oleh Zul. Sementara Alan beserta dua orang teman satu kamarnya, memimpin lima belas orang tetap standby di masjid. Tak berapa lama kemudian, ponsel Alan berbunyi.


'' Halo!, Assalamualaikum pak Andre.'' ucap Alan setelah melihat yang meneleponnya adalah Andre.


'' Wa'alaikumsalaam.., tuan muda.'' jawab Andre.


'' Bagaimana, apa mereka sudah bergerak?'' tanya Alan.


'' Sudah tuan muda, bahkan sepertinya pak Lurah sendiri ikut dalam rombongan itu.'' ucap Andre.


'' Baik tuan muda, tapi seperti yang saya bilang!, kami akan biarkan mereka beraksi terlebih dahulu, baru setelah itu kami akan bergerak.''


'' Oke, kami disini juga sudah siap untuk menghadapi mereka.'' ujar Alan.


'' Hati-hati tuan muda, jangan sampai terjadi apa-apa dengan tuan muda.'' ucap Andre mengingatkan Alan.


'' Pak Andre tenang saja, Insyaallah.., tidak akan terjadi apa-apa dengan saya.'' ujar Alan meyakinkan.


Alan lalu menutup telepon. Kemudian segera memberitahu teman-temannya untuk bersiap-siap. Dia juga meminta kepada temannya, untuk memberitahukan hal itu kepada Zul dan yang lainnya yang berada di pos lain. Tidak berapa lama kemudian, sebuah mobil Jeep dengan kasar menabrak pintu gerbang pesantren, yang mengakibatkan pintu itu ambruk. Dibelakangnya sebuah mobil pribadi dan beberapa mobil Van mengikuti.


Beberapa santri yang berjaga disekitar pintu gerbang itu segera berlari, menghindari pintu gerbang yang ambruk tersebut, serta menghindari mobil-mobil yang akan menabrak mereka. Mobil-mobil itu lalu berhenti tak jauh dari kediaman Abah. Puluhan orang preman dengan membawa berbagai senjata tajam, segera keluar dari mobil-mobil tersebut. Mereka lalu berkumpul disekitar mobil pribadi yang ditumpangi oleh pak Lurah dan Deddy anaknya. Setelah keduanya keluar dari mobil tersebut, mereka berdua lalu berjalan menuju kediaman Abah, diikuti oleh para preman tersebut.


'' Abah! keluar kamu Abah, cepat keluar!'' teriak pak Lurah dengan lantang.


'' Cepat keluar! kalau tidak, aku akan bakar seluruh pesantrenmu ini.'' lanjutnya penuh emosi.

__ADS_1


Abah yang sudah bersiap sejak tadi, segera turun ke halaman rumahnya diikuti oleh Zul dan beberapa para santri. Alan dan yang lainnya, serta para santri yang tadi menjaga pintu gerbang, segera berkumpul dan bergabung bersama Abah. Sementara beberapa santri yang menjaga pintu masuk asrama putri tetap siaga disana.


'' Ada apa pak Lurah?, kenapa datang-datang langsung marah-marah seperti itu?'' Ucap Abah dengan tenang.


'' Ada apa ada apa? Tidak usah berpura-pura lagi. Cepat! serahkan santri yang telah melukai anakku. Rupanya kamu ini tidak bisa dikasih hati ya!, Apa belum cukup pelajaran yang kemarin hah.'' ujar Lurah itu semakin arogan.


'' Maaf pak Lurah, anda adalah panutan masyarakat. Harusnya memberi contoh yang baik, dan bukan malah sebaliknya. Yang bersalah itu jelas-jelas si Deddy anak pak Lurah sendiri, kenapa pak Lurah malah melindunginya. Apa pak Lurah tidak takut akan dosa dan balasan dari Allah di akhirat nanti?'' ujar Abah.


'' Alaah... tak usah sok-sokan menasehati. Pokoknya, siapapun yang berani mengusik keluarga saya, maka dia harus menanggung akibatnya. Cepat! mana dia? Serahkan orang yang sudah bosan hidup itu!''


Pada saat itu, Alan kemudian berdiri disamping Abah dan Zul. Dengan tenang, Alan kemudian berkata:


'' Saya orangnya, memangnya kenapa?'' tanya Alan.


'' Ooh.. jadi kamu ya? orang yang telah menciderai anakku. Berani juga kamu rupanya ya?, Tapi sayang, hidupmu tidak akan lama lagi. Baron..!, seret dan beri pelajaran anak ini, biar jadi contoh bagi yang lain.'' ucap pak Lurah, yang merupakan mantan kepala preman kepada Baron anak buahnya.


Baron segera bergegas untuk melaksanakan perintah pak Lurah. Badannya yang tegap dan dipenuhi dengan tatto dan juga bersenjata parang yang tajam itu, akan membuat orang merinding saat melihatnya. Namun, baik Alan maupun seluruh santri yang ada disana, mereka sedikitpun tidak merasa gentar. Sebab, mereka semua memiliki kemampuan untuk bertarung serta telah dibekali dengan ilmu kebal senjata. Sehingga gertakan dari pak Lurah tersebut, sedikitpun tidak menakuti mereka.


'' Berhenti!, berani maju satu langkah, kami akan melawanmu.'' ujar Zul, menatap Baron yang akan mendekati Alan.


'' Apa? Hhh... kalian akan melawan kami? hhh sudah bosan hidup kalian rupanya!. Baron..!, cepat seret dia, siapapun yang menghalangi, beri pelajaran sekalian.'' ujar Deddy, sama arogannya seperti pak Lurah ayahnya.


'' Berhenti!, sudah saya bilang, berani maju satu langkah, kami semua akan melawan kalian.'' ucap Zul makin lantang.


'' Udah kang Zul, biarkan saja! kita akan lihat bisa apa dia.'' ucap Alan dengan tenangnya, dan malah maju ke depan menyongsong Baron yang akan menghampirinya.


Merasa dirinya ditantang oleh Alan, Baron malah semakin beringas. Dia lalu mengayunkan parangnya ke arah Alan. Namun, Alan dengan mudah mengelak dari serangan tersebut. Alan kemudian mengambil kesempatan untuk balik menyerang. Saat Baron lengah, Alan langsung menendang dada Baron, mengakibatkan Baron terpental dan jatuh tepat di hadapan Deddy.


'' Kurang ajar! berani melawan ya. Semuanya! Seraang...!'' perintah pak Lurah kepada seluruh orang-orangnya.


Bentrok antara orang-orang yang dibawa oleh pak Lurah, dengan para santri pesantren tersebut tidak bisa terelakkan lagi. Meskipun jumlah para preman itu jauh lebih banyak, tapi mereka tidak pandai ilmu bela diri. Mereka hanya mengandalkan senjata tajam yang ada ditangan mereka untuk melakukan penyerangan. Akan tetapi, nyali mereka mulai menciut, saat mengetahui kalau ternyata senjata tajam yang mereka bawa dan gunakan itu, tidak bisa melukai para santri.


Bahkan, Alan yang dikepung oleh 6 sampai 8 orang preman itu, dengan mudahnya dia merobohkan mereka satu persatu. Namun yang tidak disangka adalah, ternyata pak Lurah cukup pandai ilmu beladiri. Dia bahkan masih bisa mengimbangi serangan-serangan dari Abah dan juga Zul. Pertarungan tangan kosong antara mereka terbilang cukup sengit. Hanya saja, karena anak buah pak Lurah banyak yang tumbang, maka Deddy mulai merasa panik. Dia kemudian mulai mundur teratur, menjauhkan diri dari Alan. Sembari menjauh itu, Deddy mengeluarkan sebuah pistol dan mencoba membidik Alan.


Namun, karena Alan yang sedang bergerak dengan gesit kesana-kemari, melakukan serangan dan menghindari sabetan senjata dari para preman itu, membuat Deddy merasa kesulitan untuk mengarahkan pistol itu kepadanya. Alan sebenarnya bisa saja tidak perlu menghindari serangan-serangan tersebut, mengingat bahwa dia telah meminum air doa dari Abah yang membuat dia kebal dari senjata. Akan tetapi, Alan yang terbiasa bertarung di jalanan saat ribut dengan para genk di dunia balap liar, secara reflek dia selalu menghindari serangan-serangan tersebut. Hanya beberapa kali saja, dia menangkis senjata tajam itu dengan tangannya. Hingga disuatu kesempatan, Deddy melihat satu peluang untuk melepaskan tembakannya.


'' Dor.. Dor.'' suara tembakan dari moncong pistol yang dipegang oleh Deddy.


Mendengar suara tembakan tersebut, seketika pertarungan langsung terhenti. Semua orang, baik para preman anak buah pak Lurah, ataupun para santri langsung menoleh kearah sumber suara.

__ADS_1


'' Brukk.., Aah!'' terdengar suara erangan seseorang yang ambruk di tanah.


...****************...


__ADS_2