Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Dipinang untuknya


__ADS_3

Berhubung sudah tidak ada hal yang bisa diharapkan lagi untuk kelanjutannya, akhirnya pak Romli segera mengajak istri dan Yanto anaknya untuk pulang. Yanto yang masih tidak percaya kalau permintaan keluarganya ditolak, dia tidak ingin segera pergi. Dia terus berbisik kepada ibunya, agar membujuk Tiara dan keluarganya, supaya mereka bisa menerima keinginan dirinya untuk meminang Tiara. Hal itu membuat pak Romli semakin emosi terhadap Yanto.


Akhirnya dengan terpaksa dan berat hati, diapun hanya bisa menuruti perintah ayahnya untuk pergi meninggalkan kediaman pak Syahroni. Namun karena kekecewaan dan rasa sakit hatinya terhadap Alan dan keluarganya tersebut, Yanto bertekad akan membalas apa yang terjadi pada saat ini di lain waktu. Diam-diam, dalam hati dan pikirannya tengah merencanakan sesuatu.


Selepas kepergian keluarga pak Romli dari kediamannya, pak Syahroni dan Bu Lilis kemudian melanjutkan obrolan mereka bersama keluarga Alan. Rasa khawatir kalau-kalau keluarga Alan tidak bisa menerima keberadaan Tiara sebagai kekasih Fadil, kini sudah benar-benar hilang. Bahkan, sikap Sintya yang begitu perhatian terhadap Tiara, membuat Bu Lilis dan pak Syahroni ikut terharu.


'' Pak, Bu. Kami sangat menyukai Tiara. Meskipun Tiara adalah kekasih Fadil, namun bagaimanapun juga, nantinya Fadil akan jadi bagian dari keluarga kami. Karena nanti, Fadil akan menggunakan tubuh anak kami Alan, yang hari ini juga akan pergi meninggalkan kami semua sesuai takdir yang telah ditetapkan kepadanya.''


'' Sungguh berat sebenarnya bagi kami menerima kenyataan ini. Namun bagaimanapun juga, kamipun harus bersyukur serta berterimakasih kepada Fadil, atas pengorbanannya yang begitu besar untuk Alan anak kami. Sejujurnya, kami sendiri belum mengetahui bagaimana dan seperti apa sosok Fadil tersebut. Hanya saja, seperti yang diceritakan oleh Alan anak kami, bahwa Fadil sendiri selain memiliki fisik yang mirip dengan putera kami, juga dia merupakan orang yang baik.''


'' Untuk itu bapak, ibu! Ijinkan kami atas nama Fadil. Kami ingin meminang Tiara untuk kami jadikan istri Fadil anak kami. Bukan begitu Alan?'' ujar Andika setelah sebelumnya mendapatkan persetujuan dari Arya Wijaya, Sintya dan juga Alan puteranya.


Alan yang kini duduk disebelah Arya Wijaya mengangguk, memberikan tanda persetujuan dari apa yang ayahnya ucapkan. Setelah kepergian keluarga pak Romli tadi, Baik keluarga pak Syahroni maupun keluarga Alan, mereka semua duduk lesehan dan saling berhadapan. Sintya yang setelah bertemu dengan Tiara, dia tidak mau jauh darinya. Dia tetap duduk disamping Tiara yang berada disebelah Bu Lilis.


'' Maaf pak, Bu dan juga nak Alan, terima kasih sebelumnya. Bagi kami yang hanya berasal dari keluarga yang biasa ini, terus terang, ini merupakan sebuah kehormatan yang sangat besar. Sungguh, ini benar-benar diluar dugaan kami. Kami sungguh tidak menyangka, jika Tiara putri kami, akan dipinang oleh keluarga terhormat seperti keluarga bapak ibu sekalian.'' ujar pak Syahroni yang merasa terkejut dengan pernyataan dari keluarga Alan.


'' Namun demikian, terus terang kami katakan dengan sejujurnya. Kami sebagai orang tua, tidak bisa memutuskan untuk menerima, ataupun menolak tawaran dari keluarga bapak dan ibu tersebut. Karena semua itu tergantung kepada Tiara anak kami sendiri. Dan oleh karena itu, bapak dan ibu bisa langsung menanyakan hal tersebut kepada anak kami Tiara.'' ujar pak Syahroni selanjutnya.


Meski tadi Tiara sempat mengangguk mengiyakan saat ditanya oleh Sintya, namun agar lebih afdholnya, pak Syahroni ingin agar Tiara kembali memberikan jawabannya didepan semua orang. Pak Syahroni sendiri, sebenarnya sangat senang dan menyetujui keinginan dari keluarga Alan yang ingin meminang Tiara. Akan tetapi, dia perlu sedikit berbasa-basi, agar imejnya didepan keluarga Alan tidak jatuh dan terkesan orang yang materialistis.


'' Jadi bagaimana nak? Apakah kamu mau kalau dinikahi oleh Fadil yang bertubuh Alan putra kami?'' tanya Andika kepada Tiara.


Ditanya kembali dengan pertanyaan yang sama, seperti pertanyaan yang diajukan oleh Sintya, Tiara kemudian memandang wajah kedua orang tuanya. Pak Syahroni dan Bu Lilis tersenyum menatap Tiara. Tiara lalu menoleh kearah Sintya, dan juga melihat sekilas kearah Alan, seakan sedang meminta jawaban dari Fadil. Kemudian barulah dia berkata:


'' Insyaallah, Tiara bersedia pak.'' ucap Tiara sambil menunduk.

__ADS_1


'' Alhamdulillah..'' ucap seluruh keluarga Alan, hampir bersamaan.


'' Bapak, ibu! karena Tiara juga sudah menyetujuinya, maka setelah masalah Fadil dan Alan terselesaikan, dan untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan, sebaiknya nanti kita secepatnya membicarakan masalah hari pernikahan mereka berdua.'' ujar Andika lalu menoleh kearah Alan.


'' Alan! maaf ya nak! kamu tidak apa-apakan?'' ujar Andika merasa khawatir Alan akan bersedih, karena membicarakan hal tersebut disaat menjelang kepergian dirinya.


'' Tidak kok pa!, Alan justru merasa senang kalian memperhatikan mas Fadil. Mudah-mudahan, semua ini akan menjadi bentuk ucapan terima kasih Alan kepada mas Fadil.'' ujar Alan sambil tersenyum kepada Andika.


Melihat Alan yang tampaknya begitu tegar dan tidak ada kesedihan yang tampak dari wajahnya, Arya Wijaya begitu terharu. Dia kemudian memeluk Alan dan menyandarkan kepala Alan pada bahunya.


'' Alan, kamu memang cucuku yang terbaik. Kakek sangat bangga padamu nak!'' ujar Arya Wijaya sambil menepuk-nepuk pundak Alan.


Tiara merasa senang saat mendengar dirinya akan segera dinikahkan dengan Fadil, namun saat dia melihat kakaknya Yunita yang juga belum menikah, wajahnya terlihat sedikit gusar. Seperti halnya dengan Tiara, kedua orang tua Tiara juga terlihat ada beban dalam hati mereka.


'' Oh bukan begitu bu! kami juga merasa senang kalau Tiara Putri kami akan segera menikah. Tapi ini, saudaranya Tiara, putri kami yang pertama juga belum menikah. Kami khawatir, kalau nanti...'' ujar Bu Lilis tidak berani melanjutkan perkataannya.


'' Maaf ibu, bapak! bukannya saya sok tahu atau meremehkan ucapan orang tua-tua kita dulu. Tapi setahu saya, tidak ada dalilnya menikah itu harus yang tertua lebih dulu. Karena yang ada, perintahnya adalah segera menikahkan anak yang telah sampai pada jodohnya. Sementara untuk anggapan orang-orang tua dulu itu, sebenarnya hanya bertujuan agar saudara yang lebih tua itu tidak bersedih saat melihat saudaranya menikah terlebih dahulu. Atau dengan kata lain hanya sebatas bentuk sopan santun antara yang tua dan yang muda saja. Jadi bukan berarti kalau dilangkahi itu bisa menghilangkan jodohnya.''


'' Bapak ibu, didalam kehidupan masyarakat kita ini. Ada yang namanya adat dan juga ada yang namanya syariat. Menikahkan anak yang lebih tua dulu itu termasuk adat. Dan menikahkan anak yang sudah bertemu dengan jodohnya itu adalah syariat. Dan menurut agama kita, urutan dari dua hal tersebut adalah syariat dulu barulah adat. Sementara kita semua pasti tahu, bahwa jodoh, rejeki dan umur kita manusia itu, sudah ditentukan oleh Allah SWT. Jadi menurut saya, dilangkahi ataupun tidak dilangkahi, kalau memang belum sampai jodohnya ya tetap saja tidak akan menikah. Begitupun sebaliknya, kalau memang sudah saatnya bertemu dengan jodohnya ya tetap akan menikah.'' ujar Alan menjelaskan.


'' Begini saja pak bu! mohon ijinkanlah Tiara menikah lebih dulu. Dan sebagai bentuk simpati kami kepada.. siapa namanya?'' tanya Arya Wijaya.


'' Yunita.'' jawab pak Syahroni.


'' Ya, sebagai bentuk simpati kami kepada Yunita, kami akan memberikan sesuatu kepadanya. Selain itu, kami juga akan berusaha mencarikan jalan agar putri kalian bisa segera bertemu dengan jodohnya.'' lanjut Arya Wijaya.

__ADS_1


Sepertinya pak Syahroni dan Bu Lilis memang tidak punya pilihan lain. Alasan mereka yang disebabkan karena Yunita belum menikah itu juga tidak bisa dijadikan sebagai sandaran yang bisa dibenarkan. Karena nantinya, jika terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan menimpa pada diri Tiara, tentunya mereka juga yang akan merasa kesusahan. Sebagai contohnya adalah, selama satu tahun ini mereka juga tidak bisa merasa tenang akibat rasa kehilangan yang diderita oleh Tiara yang telah ditinggalkan oleh Fadil.


'' Yun, bagaimana menurutmu? apa kamu iklhas jika adikmu menikah lebih dulu?'' tanya pak Syahroni.


Yunita yang melihat bagaimana Tiara telah siap untuk menikah, dan juga teringat bagaimana kesedihan Tiara selama ini akibat kesalahan yang dia lakukan tahun yang lalu, terasa tidak tega jika harus menghalangi keinginan keluarga Alan yang ingin segera mungkin menikahkan Tiara dengan Fadil. Dia kemudian melihat kepada kedua orang tuanya dan berkata:


'' Ayah, ibu! jika memang Tiara sudah siap untuk menikah, biarlah Tiara menikah lebih dulu. Saya ikhlas meskipun dilangkahi. Saya juga tidak tega, kalau Tiara harus menunggu sampai saya menikah dulu. Sebab, saya sendiri memang masih belum punya keinginan untuk menikah yah!'' jawab Yunita sungguh-sungguh.


Mendengar pernyataan dari Yunita, yang tidak keberatan dirinya dilangkahi oleh Tiara untuk menikah lebih dulu, semua yang ada ditempat itu merasa senang dan terharu. Tiara menatap wajah Yunita dalam-dalam. Dia segera menghampiri Yunita dan memeluknya.


'' Kak, terimakasih!'' ucap Tiara pelan.


'' Tidak apa Tiara, sudah takdirnya kamu menemukan jodohnya lebih dulu. Insyaallah kelak kakak juga pasti akan menikah.'' ucap Yunita menatap Tiara.


'' Yunita, terimakasih kamu sudah mau berkorban untuk kebahagiaan adikmu. Kami berjanji, kelak saat kamu telah bertemu dengan jodohmu, dan juga sudah siap untuk menikah, seluruh biaya pernikahanmu biar kami yang akan menanggungnya. Kami juga akan memberikan sebuah rumah dan mobil untukmu. Iya kan pa?'' ujar Sintya sambil menoleh kearah Andika suaminya dan juga kepada Arya Wijaya.


Andika dan Arya Wijaya mengangguk. Mereka juga ikut menyetujui apa yang barusan Sintya katakan. Pak Syahroni dan Bu Lilis tak bisa menahan rasa haru dan gembira atas apa yang barusan mereka dengar. Baik ucapan dari Yunita maupun pernyataan Sintya tersebut. Mendengar perkataan dari Sintya yang juga telah disetujui oleh Andika dan Arya Wijaya, Yunitapun merasa bahagia. Karena jika benar demikian, maka tentunya dia dan kedua orang tuanya tidak perlu mencemaskan masalah biaya bagi pernikahannya kelak. Ditambah lagi dengan bonus rumah dan mobil, itu semua sudah benar-benar diluar imajinasinya.


'' Oh iya, satu lagi! Kalau kamu mau dan berminat untuk bekerja, kamu bisa datang ke kantorku di Baturaja. Aku akan pastikan kamu bisa langsung diterima disana.'' ujar Hartono yang sejak tadi hanya diam menyaksikan pembicaraan mereka.


'' Tapi saya cuma lulusan SMA pak, dan saya tidak punya keahlian apa-apa.'' jawab Yunita agak ragu dengan kemampuan dirinya sendiri.


'' Itu tidak masalah nak! segala sesuatu itu kalau belum dicoba ya kita tidak akan tahu hasilnya. Yang penting, asal kamu ada kemauan insyaallah, nanti juga kita akan tahu sendiri hasilnya. Dan nanti, kamu juga bisa datang bersama dengan nak Alfin, keponakan Fadil. Kebetulan dia juga berminat untuk datang kekantor kami.'' sambung Hartono.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2