Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Bertemu sahabat lama


__ADS_3

Sejurus kemudian, Tiara telah pergi meninggalkan rumahnya dengan mobil yang dikendarai oleh Fadil. Meski masih tampak canggung, namun tampak tersirat dari sudut kedua matanya, kalau hati Tiara sedang bahagia. Dari teras rumahnya, pak Syahroni dan Bu Lilis serta Vita dan Yunita, mereka masih menatap mobil tersebut hingga mobil yang dibawa oleh Fadil itu tak lagi terlihat dari pandangan mata mereka.


Tiara yang saat ini duduk disebelah kursi pengemudi, dia berulang kali melirik kearah Fadil. Fadil yang menyadari kalau Tiara sesekali mencuri-curi pandang kepadanya, dia tersenyum.


'' Udah..! Kalau mau liat, ya liat aja! ngapain pake nyuri- nyuri pandang gitu!'' ucap Fadil yang membuat Tiara jadi malu, karena Fadil mengetahui apa yang dilakukannya.


Tiara segera menunduk. Namun tak lama kemudian, dia mulai berani menatap Fadil dengan tanpa ragu-ragu lagi. Fadil yang menyadari kalau Tiara sekarang sedang menatapinya, dia lalu menoleh kearah Tiara.


'' Apa liat-liat, suka ya? kalau suka ya ngomong!, Gak berani? sms, jangan diam aja! ntar keburu digaet orang, baru nyesel!'' goda Fadil sambil cengar-cengir.


Mendengar celotehan Fadil yang seperti itu, Tiara gak bisa menahan diri. Dia dengan kesal namun penuh rasa sayang, segera mendaratkan cubitan kecil di pinggang Fadil.


'' Auw auw auw, sakit sakit! Tiara, lepasin! ah sakit banget tau!'' Fadil sambil menggosok-gosok bekas cubitan Tiara.


'' Ampun, busyet dah! itu jari apa tang ya? sakit banget!'' ujarnya masih menggosok-gosok bekas cubitan tersebut.


Melihat wajah Fadil yang terlihat kesakitan itu, Tiara jadi merasa kasihan. Namun dia juga merasa kesal dengan keusilan Fadil tadi.


'' Habisnya! A Fadil kayak gitu!'' Tiara cemberut manja.


'' Kayak gitu gimana?'' ujarnya.


'' Ya gitu, ngeselin!'' jawab Tiara pura-pura merajuk, kemudian memalingkan wajahnya dari Fadil.


Melihat Tiara yang sedikit merajuk, Fadil lalu tersenyum kemudian berkata:


" Soalnya, hari ini kamu cantik banget sih! aku kan jadi gemes liatnya!''


'' Emangnya, dulu-dulu aku gak cantik?'' tanya Tiara menoleh kembali kearah Fadil.


'' Enggak! maksudnya, hari ini kamu keliatan sangat-sangat cantik. Aku jadi padamu deh!'' ujar Fadil sembari mengkedip-kedipkan mata kirinya.


'' Elleh! gombal. Ngomong gitu pasti karena ada maunya kan?'' ujar Tiara sembari memalingkan wajahnya kembali. Namun, wajahnya menjadi memerah karena sanjungan dari Fadil.


'' Yaah, kalau gak percaya ya udah! Aku memang ada maunya sama kamu. Aku mau..mau menikah sama kamu. Kamu maukan! nikah sama aku?'' Fadil sambil menoleh kearah Tiara.


Tiara hanya diam. Semua juga tahu, kalau sebentar lagi mereka akan menikah. Jadi ngapain bertanya seperti itu. Bukannya jawabannya sudah jelas.


'' Kok diam aja! jadi kamu gak mau ya? nikah sama..''

__ADS_1


Belum juga selesai Fadil berkata, Tiara langsung menyahut memotong ucapan Fadil tersebut.


'' Mau mau, siapa yang bilang aku gak mau?'' ucap Tiara sambil menggenggam lengan Fadil dan menggoyang-goyangkannya.


'' Tiara, aku lagi nyetir nih! jangan kayak gitu, bahaya tau!'' ujar Fadil meminta Tiara melepaskan lengannya.


'' Ya A Fadilnya, ngomongnya kayak gitu! aku kan jadi takut!''


'' Takut apa?'' tanya Fadil yang melihat kekhawatiran dari wajah Tiara.


'' Ya takut! kalau-kalau, A Fadil nanti deketin cewek lain.''


Tiara kembali teringat kata-kata Vita. Kalau Vita yang merupakan adiknya sendiri saja, bisa terpesona oleh tampilan Fadil. Apalagi dengan wanita yang lain. Maka dari itu, Tiara segera memotong ucapan Fadil tersebut. Fadil tersenyum melihat tingkah Tiara. Dalam hatinya dia semakin percaya, kalau cinta Tiara kepadanya tidak pernah berubah dan masih seperti dulu.


'' Jadi, kamu memang padaku kan?'' tanya Fadil.


Tiara mengangguk pasti. Dengan pandangan yang penuh cinta dan kasih sayang, dia menatap dalam-dalam wajah kekasihnya tersebut. Lalu dia berkata:


" A Fadil. Meskipun aku tidak bilang kalau aku padamu, tapi A Fadil harusnya bisa mengerti. Kalau bukan karena aku padamu, mana mungkin saat ini aku mau jalan sama A Fadil. Apalagi, aku juga sudah bersedia untuk menikah denganmu. Kenapa A Fadil masih menanyakan hal itu?''


'' Tiara. Aku memang yakin kalau kamu padaku, seperti halnya aku padamu. Tapi bagiku, walaupun mungkin terlihat sepele, namun ucapanmu menyatakan perasaanmu padaku, akan selalu menjadi hal yang begitu indah dan bisa menjadikanku semakin sayang padamu.''


Tiara tersenyum manis memandang Fadil. Tatapan matanya yang lembut dan penuh cinta, membuat Fadil merasakan kesejukan didalam hatinya.


'' A Fadil, aku padamu. Aku padamu always and forever.'' bisik Tiara dengan lembut.


'' Aku juga Tiara! Aku juga padamu bidadariku. Semoga kita akan terus bersama dari dunia ini, hingga nanti dialam yang kekal dan abadi. Aamiin..'' ucap Fadil penuh rasa bahagia.


'' Aamiin..'' sambut Tiara turut mengaminkan.


...----------------...


Sepulangnya dari Baturaja, setelah selesai dengan urusan soal mencari Cincin, dan juga pakaian yang akan digunakan pada hari pernikahan mereka, Fadil hanya singgah sebentar dirumah Tiara. Setelah itu, diapun langsung pulang kerumahnya. Menjelang waktu Maghrib, seperti kebiasaannya dulu, dia nongkrong diteras masjid. Beberapa orang juga telah ada disana.


Kemunculan Alan yang berwajah sangat mirip dengan Fadil, memang sempat menghebohkan masyarakat disana. Namun, penjelasan dari Alfin yang mengatakan kalau dia adalah Alan, kerabatnya yang datang dari Jakarta, membuat masyarakat disekitar sudah tak lagi banyak membicarakan tentang dirinya dan mengira kalau dia adalah Fadil. Sehingga mereka tetap menganggap, kalau pemuda tampan yang sedang duduk tersebut adalah Alan.


Hanya saja, para gadis ditempat itu malah semakin penasaran dengan Alan, yang memang terlihat lebih tampan dari Fadil. Sehingga tidak sedikit diantara mereka yang mencoba untuk mencari perhatian dari Alan. Akan tetapi, Alan sepertinya memang tidak begitu memperdulikan mereka. Ditambah lagi, Alan juga memanglah jarang terlihat disana, disebabkan seringnya dia pulang pergi ke Baturaja. Maka dari itu, mereka jelas tidak memiliki banyak kesempatan untuk bisa mendekati Alan.


Mereka juga pernah mendengar, kalau Alan pernah mendatangi rumah Tiara, yang merupakan kembang desa disana. Tentunya hal tersebut, membuat para gadis itu merasa minder untuk bisa mendekati Alan. Kecantikan dan keanggunan dari diri Tiara, memanglah tidak bisa dibandingkan dengan diri mereka.

__ADS_1


Saat Fadil sedang duduk-duduk diteras masjid tersebut, seorang pemuda datang sambil senyum-senyum lalu menghampiri Fadil.


'' Assalamualaikum..mas Fad...dil, oh maaf!''


Tiba-tiba, pemuda yang tadi terlihat begitu gembira saat melihat Fadil, dia seakan baru menyadari kalau orang yang ada didepannya itu, bukanlah orang yang telah lama dikenalnya. Sehingga, saat dia akan menyebut nama Fadil jadi terbata. Lalu diapun segera minta maaf karena merasa telah salah orang. Semua orang yang ada ditempat itupun, menatap prihatin kepadanya.


'' Wa'alaikumsalaam warahmatullaah.'' jawab Fadil, lalu tersenyum kearah pemuda yang tadi datang menyapanya.


'' Gimana kabar ente Lil?'' Fadil sambil mengulurkan tangannya.


Antara percaya dan tidak percaya, pemuda itu yang ternyata adalah Ulil sahabat kental Fadil, dia tertegun menatap Fadil. Dia tidak segera menyambut uluran tangan dari Fadil, melainkan menoleh kearah orang-orang yang sedang menatap dirinya.


'' Lil, apa ente masih marah padaku karena kecelakaan itu? tanya Fadil menatap Ulil.


Karena yang diberikan oleh dokter Hafis kepada Ulil memang obat-obatan yang terbaik, maka semua bekas luka saat kecelakaan itu, kini sudah hampir tidak terlihat sama sekali. Ulil merasa kaget dengan pertanyaan Fadil tersebut. Dia kini semakin heran dengan orang yang ada didepannya. Siapa sebenarnya orang ini? kenapa dia bertingkah seolah-olah dia itu Fadil sahabatnya.


Ulil yang tidak lama setelah kecelakaan itu pergi merantau, baru siang tadi dia datang dari Jakarta. Karena baru kemarin, dia mendapatkan kesempatan untuk pulang mudik lebaran. Dia benar-benar tidak mengetahui, segala hal yang terjadi akhir-akhir ini di kampungnya. Sehingga diapun tidak mengetahui, jika di kampungnya telah kedatangan orang yang mirip dengan Fadil sahabatnya. Bahkan, diapun benar-benar tidak tahu, kalau didalam tubuh Alan yang sekarang ada dihadapannya, adalah Fadil sahabat karibnya sendiri.


'' Lil.. ini aku Fadil sahabatmu! apa kamu benar-benar tidak lagi mengenalku?''


'' A apa itu benar? apa mas yang ada didepanku ini adalah mas Fadil?'' selidik Ulil terus menatapi Fadil.


'' Lil.. kamu masih ragu kalau aku adalah Fadil sahabatmu. Apa perlu aku ceritakan semua kejadian sebelum kecelakaan itu? apa perlu juga aku ceritakan, waktu dulu pusarmu tersangkut kail pancing saat kita belajar berenang di sawah yang banjir itu?'' Fadil mencoba mengingatkan kembali, memori masa kecil Ulil bersama Fadil dulu.


'' Tapi.. bukankah mas Fadil sudah..'' ucap Ulil tidak melanjutkan kata-katanya.


'' Lil.. Memang benar, aku telah meninggal karena kecelakaan itu. Tapi Allah maha kuasa Lil, tidak ada yang tidak mungkin jika Dia menghendaki. Contohnya aku sendiri. Allah masih menghendaki aku hidup di dunia ini. Meskipun tubuh yang sekarang ini bukan tubuhku yang dulu, tapi melalui tubuh ini, Allah memberiku jalan untuk bisa kembali bersama kalian. Dan juga untuk kembali bersama Tiara, sang bidadariku Lil.'' ucapnya sambil tersenyum kearah Ulil yang sedang menatapnya.


Mendengar penuturan Fadil tersebut, mata Ulil berkaca-kaca. Dia memang merasa sangat terpukul dengan kematian Fadil. Oleh karena itulah dia pergi merantau. Dia merasa tidak sanggup untuk terus berada disini. Setiap kali dia pergi ke masjid, dia akan selalu teringat dengan Fadil. Apalagi dia juga mendengar, bagaimana kondisi Tiara yang begitu memperhatikan akibat kehilangan Fadil.


Seperti halnya dengan Ulil, orang-orang yang sedang berada tidak jauh dari keberadaan mereka berdua, yang juga sedang menyimak pembicaraan antara Ulil dan Fadil, mereka kemudian ikut merapat untuk mendengarkan kisah yang diceritakan oleh Fadil. Walaupun masih setengah tidak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar, mereka juga tidak bisa menyangkal. Bahwa meskipun mungkin hanya ada satu diantara sejuta kemungkinan, tapi memang benar, di dunia ini masih ada yang namanya sebuah keajaiban.


Ulil sudah tidak dapat menahan diri lagi, dia langsung memeluk sahabatnya itu dengan begitu erat. Rasa haru sekaligus bahagia karena bisa kembali bertemu dengan sahabatnya tersebut, membuatnya tanpa sadar berderai air mata. Hingga beberapa saat lamanya, mereka masih saling berpelukan. Orang-orang yang ikut menyaksikan mereka, juga ikut tersentuh melihat keakraban dari keduanya. Hingga kemudian, salah satu diantara mereka berkata:


" Mas Fadil, Ulil, sekarang sudah masuk waktu Magrib. Mari kita sholat!'' ucap orang tersebut sembari menepuk pundak mereka berdua.


Ulil dan Fadil, kemudian pergi ketempat wudhu. Keduanya lalu masuk kedalam masjid, untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah bersama mereka semua. Selesai sholat, mereka kembali melanjutkan obrolan mereka hingga datang waktu sholat isya. Karena Ulil dan Fadil merasa hari ini memang cukup melelahkan, usai shalat isya merekapun pulang kerumahnya masing masing.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2