Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Tiara berjanjilah


__ADS_3

Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Usai menunaikan ibadah sholat ashar, Alan pergi bersama Alfin kerumah pak Syahroni untuk bertemu dengan Tiara dan keluarganya. Tiara juga telah menyampaikan kepada kedua orang tuanya, kalau sore ini Alan akan datang bertamu ke rumah mereka. Namun, karena sekarang ini bulan puasa, maka mereka tidak perlu menyiapkan apa-apa untuk suguhan tamu tersebut.


'' Assalamualaikum.'' sapa Alan saat sudah berada didepan pintu rumah Tiara, setelah turun dari motor yang dibawa Alfin yang kini telah terparkir dihalaman rumah tersebut.


'' Wa'alaikumsalaam..'' terdengar jawaban dari dalam rumah.


Pak Syahroni dan Bu Lilis yang sedang mengobrol diruang tamu, segera mempersilahkan Alan dan Alfin untuk duduk. Tiara baru saja selesai menunaikan sholat ashar. Setelah mengobrol sebentar dengan mereka, Bu Lilis ingin pamit ke belakang untuk memasak. Sementara Yunita dan Vita, sedang berada dibelakang rumah, memetik buah duku dan manggis untuk ta'jil berbuka puasa hari ini.


'' Maaf nak ya? ibu tinggal kebelakang dulu, soalnya ibu mau masak buat berbuka puasa nanti.'' ucap Bu Lilis, lalu bangkit dari duduknya untuk pergi ke dapur.


'' Emm maaf bu, pak. Tidak bermaksud lancang. Tapi kalau tidak keberatan, biar hari ini, untuk menu berbuka puasa dan sahurnya, biar saya pesankan di rumah makan saja. Soalnya saya juga sekalian mau pesan untuk berbuka puasa dirumah, dan juga untuk dimasjid.'' ujar Alan menawarkan kepada mereka.


'' Ah gak usah repot-repot nak, biar saya masak sendiri aja.'' ujar Bu lilis.


'' Mohon maaf bu, bukanya saya memaksa. Tapi saya memang ingin sekali-kali memberikan orang lain makanan berbuka. Biar kebagian pahalanya orang yang berpuasa gitu! Itupun kalau sekiranya bapak sama ibu tidak keberatan.'' ujarnya.


'' Mengenai menunya, ibu dan bapak boleh memilih sendiri apa yang bapak dan ibu sukai. Kalau bapak dan ibu bersedia, biar sekarang saya pesankan.'' lanjut Alan kembali menawarkan kepada pak Syahroni dan Bu Lilis.


'' Iyakan saja bu, tidak baik lho menolak rejeki!'' sambung Alfin kepada mereka.


Melihat keseriusan Alan menawarkan itu, pak Syahroni dan Bu Lilis saling berpandangan. Setelah beberapa saat, akhirnya pak Syahroni memberikan isyarat kepada Bu Lilis untuk menerima tawaran dari Alan.


'' Ya sudah Bu, terima saja. Itung-itung hari ini libur masaknya, biar agak santai sedikit.'' ucap pak Syahroni.


Setelah mendapatkan persetujuan dari mereka, Alan kemudian memesan beberapa nasi kotak, dan juga beberapa nasi bungkus yang dipisah dengan lauknya supaya tidak mudah basi.


'' Ingat pak ya! selain yang dikotak, saya pesan empat porsi untuk satu keluarga komplit dengan lauk pauknya. Tolong semuanya yang masih hangat dan diantar ke alamat sebelum magrib.'' ujar Alan saat menghubungi rumah makan langganannya setiap kali dia datang ke kota Baturaja.


'' Siap siap tuan, saya jamin tidak akan mengecewakan tuan.'' jawab orang yang ada diseberang telepon yang sudah mengenal Alan sebelumnya.

__ADS_1


Setelah menutup teleponnya, Alan kemudian kembali masuk kedalam ruang tamu dan kembali duduk bersama Alfin yang sedang mengobrol dengan pak Syahroni dan Bu Lilis.


'' Sudah saya pesankan pak. Insyaallah, sebelum magrib nanti, pesanan itu sudah sampai disini.'' ujar Alan kepada pak Syahroni dan Bu Lilis.


'' Wah.. terimakasih banyak lho nak! maaf, ini malah saya yang merepotkan.'' ujar Bu Lilis.


'' Gak papa kok Bu, ini juga gak tiap hari. Malah belum tentu juga setahun sekali.'' jawab Alan.


'' Bu! kok belum mulai? apa kita tidak masak?'' tanya Vita yang tiba-tiba muncul dari belakang bersama Yunita.


Karena tadi Vita dan Yunita tidak melihat ibunya berada didapur, mereka yang tidak mengetahui kalau didepan sedang ada tamu, Vita langsung berkomentar kepada ibunya. Namun, setelah melihat kedua orang tuanya sedang mengobrol dengan Alan dan Alfin, Vita segera menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Vita yang merasa malu akibat ulahnya itu, dia segera lari kedalam kamarnya, dan diikuti oleh Yunita. Dari dalam kamar itu, terdengar Yunita yang terkekeh menertawai Vita. Melihat hal itu, semua yang ada diruang tamu tersebut, juga ikut tersenyum geli.


'' Maaf nak! Vita emang seperti itu. Kalau ngomong gak lihat-lihat. Mana suaranya kayak speaker lagi.'' ucap Bu Lilis mengomentari tingkah Vita.


Alan dan Alfin hanya tersenyum mendengarkan penjelasan Bu Lilis tersebut. Tiara yang masih berada didalam kamarnya, juga ikut tersenyum geli mendengar apa yang sedang terjadi disana. Setelah beberapa saat, pak Syahroni kemudian mulai sedikit serius bertanya kepada Alan, tentang maksud kedatangan mereka datang kerumahnya.


'' Oh iya, mohon maaf nih mas Alan. Kira-kira, kedatangan kalian berdua ini, apa memang ada perlu, atau cuma sekedar main?'' tanya pak Syahroni.


'' Oh gitu! pribadi atau gimana?'' lanjut pak Syahroni.


'' Ah tidak pak!. Saya cuma mau menjelaskan suatu hal, yang sifatnya boleh didengar oleh semua. Baik bapak, ibu, ataupun siapa saja yang ada dirumah ini. Walaupun ini memang agak sedikit tertutup sih!'' ujar Alan.


'' Oh.. ya udah, berarti tidak apa apakan kalau kami juga ikut nimbrung?'' tanya pak Syahroni kembali.


'' Ya gak papa pak!. Maka dari itu, saya juga kesininya sama Alfin.''


'' Ya udah, Tiara.. kemari nak! ini ada tamu.'' panggil pak Syahroni kepada Tiara.


Tiara lalu keluar dari dalam kamarnya. Dia kemudian duduk disebelah Bu lilis. Tampak bahwa hati Tiara kini sudah semakin membaik. Itu semua bisa dilihat dari rona wajah dan juga pancaran sinar matanya yang terlihat mulai berbinar. Rupanya, apa yang dikatakan oleh Alan tadi malam, semakin menambah besar keyakinannya, bahwa dia akan bisa bertemu dengan Fadil kekasihnya.

__ADS_1


Perlahan, setengah jiwanya yang telah pergi kini mulai kembali, bersama kembalinya semangat hidupnya yang dulu pernah memudar. Bu Lilis dan pak Syahroni yang melihat perubahan pada diri Tiara, mereka merasa senang. Namun, timbul pertanyaan dalam hati mereka. Apakah kini Tiara sudah bisa melupakan fadil? apakah Tiara juga mulai jatuh hati kepada Alan yang jelas terlihat lebih tampan dibandingkan dengan Fadil?. Apapun itu, mereka tidak perlu mengetahuinya. Karena bagi mereka, kembalinya Tiara pada kondisi semula. Sudah merupakan hal yang terbaik untuk semuanya.


'' Begini mbak Tiara. Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, kedatangan saya kemari ini, karena saya ingin menjelaskan semua yang menjadi pertanyaan mbak Tiara, ataupun yang lainnya.''


'' Perlu diketahui, bahwa wajah saya yang kebetulan mirip dengan mas Fadil. Itu adalah kuasa Allah semata. Namun yang jelas, antara saya dan mas Fadil, tidak ada hubungan darah sama sekali. Kecuali kita memang sama-sama terlahir dari keturunan nabi Adam as.''


'' Saya sendiri adalah putra tunggal dari kedua orang tua saya. Ayah saya memang berasal dari Baturaja. Namun, dia sudah lama tinggal di Jakarta semenjak dia masih remaja. Ibu saya masih keturunan Tionghoa dari kakek saya. Dan nenekk saya adalah orang Betawi asli. Maka, jika dilihat dari garis keturunan. Tentu antara saya dan mas Fadil, jelas tidak bisa bertemu. Karena menurut ibunda mas Fadil, dia murni keturunan dari keluarga Cirebon.''


'' Adapun mengapa saya sekarang berada ditengah-tengah keluarga mas Fadil, itu karena peristiwa yang terjadi hampir setahun yang lalu.''


Alan kemudian mulai menceritakan peristiwa kecelakaan yang menimpa dirinya. Yang secara kebetulan, kecelakaan itu juga melibatkan Fadil hingga Fadil harus kehilangan nyawanya. Alan juga menceritakan, bahwa yang seharusnya meninggal saat itu adalah dirinya. Tetapi berkat Fadil, dirinya kini masih bisa hidup walaupun tidak akan lama. Alan juga menceritakan bahwa usai bulan puasa ini, dan tepatnya pada hari kedua lebaran nanti, dia dan Fadil akan melakukan pertukaran nyawa.


,,,Dia akan kembali merenima takdirnya untuk menghadap kepada Allah SWT. Sedangkan jasadnya, akan digunakan oleh Fadil sebagai pengganti jasad Fadil yang telah dikuburkan. Semua yang ada ditempat itu begitu terharu dengan apa yang diceritakan oleh Alan. Yunita dan Vita yang tadi berada didalam kamar, juga keluar dan ikut mendengarkan penuturan dari Alan. Tiara dan Yunita tidak kuasa menahan air matanya. Walaupun tidak sampai termehek-mehek, namun air matanya juga tetap mengalir membasahi pipi mereka.


'' Begitulah pak, bu, mbak Tiara. Hidup saya sampai hari ini, adalah hasil pengorbanan mas Fadil yang begitu besar untuk saya. Demi memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa bertaubat, dia sudah mengorbankan dirinya sendiri, hingga harus menjalani kehidupan yang entah seperti apa dia disana.''


'' Maka dari itulah, saya merasa berkewajiban untuk menjelaskan hal ini kepada ibunda Fadil dan keluarganya. Sekaligus meminta maaf dan berterima kasih kepada mereka atas segala sesuatunya.''


'' Mbak Tiara, maaf. Karena saya, mbak juga ikut merasakan kesedihan selama setahun ini. Namun, seperti yang mbak yakini. Tak lama lagi kalian akan bisa kembali bersama. Hanya saja, tidak dengan jasad mas Fadil yang dulu. Melainkan dengan jasad yang sekarang ada dihadapan mbak ini.''


'' Mbak Tiara, jika sudah sampai pada waktunya nanti. Tolong kembalilah kepada mas Fadil. Saya tahu cinta kalian begitu luar biasa. Dan satu lagi pesan saya kepada mbak, tolong terima juga keluarga saya. Karena bagaimanapun juga, jasad saya ini masih memiliki keluarga selain dari keluarganya mas Fadil. Berjanjilah mbak! berjanjilah kepada saya. Selain menerima jasad saya, tolong terima juga keluarga saya.'' pinta Alan kepada Tiara setelah menjelaskan semuanya.


Tiara yang masih berlinang air mata, dia mengangguk. Walaupun dia tidak tahu bagaimana nanti dia harus beradaptasi dengan Fadil yang menggunakan tubuh Alan ini, dan juga belum mengetahui bagaimana keluarga Alan, namun kabar bahwa Fadil kekasihnya akan segera kembali untuknya itu, sudah menjadi sebuah kebahagiaan yang tak terhingga baginya. Maka dari itulah, mau apapun dan bagaimanapun, dia sudah siap menerima suratan takdir untuk dirinya dimasa depan.


Menjelang magrib, Alan dan Alfin pamit undur diri. Pesanan makanan dari rumah makan yang tadi dipesan oleh Alan juga telah datang. Bu Lilis dan yang lainnya terkejut. Ternyata apa yang dipesan oleh Alan ini, benar benar makanan yang sangat banyak dan terlihat begitu lezat. Alan dan juga Alfin yang tadi akan pulang, mereka ditahan oleh pak Syahroni agar ikut berbuka puasa disana.


'' Fin bagaimana ini?'' tanya Alan agak kebingungan.


'' Ya udah paman, paman ikut berbuka puasa disini saja. Biar saya yang menemani nenek berbuka, sekaligus membawa pesanan makanan untuk dirumah dan masjid.'' ujar Alfin lalu pergi bersama mobil yang membawa pesanan mereka, sementara motornya dia tinggal untuk Alan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2