
'' Akhi sekalian!, kita semua pasti paham tentang dilema yang ada di pesantren ini bukan? Dalam dua tahun belakangan ini, kita sama-sama merasakan ketidaknyamanan dalam berbagai hal. Ana sebagai kepala asrama putra, punya tanggung jawab untuk mengatasi segala permasalahan yang ada di pesantren ini. Namun sejujurnya, ana benar-benar tidak berdaya dalam menghadapi si Biang kerok itu!''
'' Ana juga telah beberapa kali berkonsultasi dengan Abah. Namun, Abah juga sepertinya begitu tidak berdaya. Dulu, saat kang Roshan dan Gus Alif masih ada, sepak terjang si Biang kerok itu tidak separah seperti sekarang ini.''
'' Betul kang Zul, Ini sudah tidak bisa lagi dibiarkan. Lama kelamaan, pesantren ini bisa bubar kalo si Biang kerok itu tidak segera kita usir dari pesantren ini.'' jawab salah seorang santri.
'' Maka dari itu akhi sekalian! Kita harus secepatnya mencari solusi. Agar jangan sampai bulan depan, dia terpilih menjadi kepala asrama yang baru.'' sahut Zul.
'' Ana bukannya tidak ikhlas melepas jabatan ini, tapi demi Allah! Ana tidak ridho kalau pesantren ini di acak-acak oleh dia. Kasian Abah, jika sampai pesantren yang selama ini beliau jaga, dihancurkan oleh Biang kerok itu.'' Lanjut Zul penuh kekhawatiran.
'' Bagaimana kalau kita lakukan demo secara besar-besaran di kantor kelurahan saja kang?, kita tuntut supaya pak lurah bertanggungjawab dengan perbuatan anaknya itu!'' usul santri yang lainnya.
'' Ana bukannya tidak setuju dengan usul antum kang. Tapi, kita tidak boleh gegabah. Ana juga tidak mau peristiwa yang lalu terulang kembali. Bagaimanapun juga, pak lurah dan anaknya itu!, mereka sebelas dua belas, tentu pak lurah akan melindungi si Biang kerok itu.''
'' Kita laporkan ke pihak yang berwajib saja gimana kang?'' usul yang lain.
Zul menarik nafas panjang, menatapi satu persatu teman-temannya, kemudian dia berkata:
'' Melaporkannya ke pihak yang berwajib itu memerlukan bukti kang!, tanpa bukti yang kuat, justru nanti membuat kita yang akan dituntut balik. Belum lagi, kita juga harus menjaga nama baik Abah dan pesantren kita ini.''
'' Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang kang?''
Setelah usulan demi usulan belum juga bisa dijadikan solusi yang tepat untuk mengatasi dilema yang ada, Alan yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, hatinya mulai tergerak untuk sedikit berpartisipasi dalam pembahasan masalah yang ada. Dia juga merasa penasaran dengan orang yang mereka sebut si biang kerok tersebut. Meskipun tadi dia sempat melihat sikap arogansi dari orang yang sedang mereka bicarakan, tetapi dia juga belum mengetahui secara detail sepak terjangnya.
Disaat semua orang sedang diam dengan fikirannya masing-masing, Alan setelah dia menghirup nafas dalam-dalam, dia kemudian membuka kata.
'' Maaf teman-teman sekalian, mohon ijin. Saya sebagai orang baru di tempat ini, bukannya saya bermaksud lancang. Tapi, setelah saya mendengarkan dan juga mengamati permasalahan yang ada, akhirnya saya memiliki satu kesimpulan.''
'' Kalau boleh saya sarankan! untuk sementara ini, sebaiknya teman-teman sekalian fokus dengan masalah pemilihan kepala asrama saja terlebih dahulu. Karena bagaimanapun juga, untuk menghambat langkah dari orang yang teman-teman maksud tadi, cara terbaiknya adalah menjauhkannya dari kekuasaan. Dengan begitu, setidaknya masih ada hambatan untuk dia berbuat yang lebih jauh.'' ujarnya.
Zul dan juga semua orang yang ada ditempat itu, sedikit terkesima memandang kearah Alan. Ada semacam aura yang terpancar dari diri Alan. Tatapan matanya saat berbicara, dan juga setiap kata-kata yang keluar dari mulut Alan, seakan penuh dengan kharisma yang membuat mereka seperti terhipnotis. Setiap kata yang diucapkan oleh Alan, terasa begitu penuh dengan makna. Singkat, padat, namun sangat berbobot.
Walaupun Alan adalah orang baru, yang mereka sendiri tidak tahu latar belakang dan juga karakter kepribadian diri Alan, namun.., mereka merasa. Saat Alan berbicara itu, seakan-akan mereka sedang berhadapan dengan sosok seorang pemimpin, yang penuh dengan wibawa dan sifat bijaksananya. Apalagi saran yang keluar dari mulut Alan ini, memang benar-benar sangat masuk di akal, dan juga merupakan solusi terbaik yang bisa dilakukan untuk saat ini.
'' Lalu, bagaimana caranya agar si biang kerok ini dapat pergi dari pesantren ini?'' tanya salah satu dari mereka.
'' Itu kita pikirkan nanti sambil berjalan saja kang!, tapi yang jelas, kita harus terus mengamati sepak terjangnya, sambil terus mencari titik kelemahannya. Agar nanti bisa menjadi senjata, untuk membuatnya tidak lagi bisa berbuat semaunya sendiri di pesantren ini.'' jawab Alan.
'' Ane setuju!, ini baru namanya usulan yang Ajib'' teriak salah satu dari mereka sambil mengacungkan jempol kepada Alan.
'' Ana juga!, sampeyan memang top markotop kang. Sudah tamvan, jenius pula. Pokoknya.., it's fantastis, bombastis and always.'' ucap santri yang tadi duduk disudut ruangan.
'' Aiyya.., antum ini, sok-sokan pake ngomong bahasa Inggris segala. Ngerti artinya aja nggak?'' ujar santri yang ada disebelahnya.
'' Ya ngerti dooong!!, ana gitu loh.'' serunya sambil membusungkan dada dan mengangkat dagunya.
__ADS_1
'' Haish, ngerti ngerti ngerti!. Emang, apa coba artinya?''
'' Ish.., gitu aja mah keciiiil..!, jawabnya.
'' Aiyya, dari tadi cuma kecal-kecil, kecal kecil, jawab aja gak!. Jangan-jangan! Emang gak ngerti beneran tuh, payah.., payah.''
'' Weh.., antum ngremehin ana ya? itu namanya felecehan tahu!'' jawabnya lagi.
Zul yang sejak tadi memperhatikan mereka, akhirnya dia angkat bicara.
'' Iya.., jadi artinya apa coba?, dari tadi kok antum cuma mutar-muter doang.'' ucap Zul mulai tidak sabar.
'' Ya.., ya itu kang! Pokoknya, ya begitulah.'' akhirnya santri yang duduk disudut ruangan itupun memberi jawaban yang tidak jelas.
'' Huu!. Dasar payah.''
Selain Zul dan Alan, serentak mereka segara menghambur kearah pemuda yang ada disudut itu. Menangkapnya, kemudian mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Alan dan Zul hanya menyaksikan kekonyolan dari teman-teman sekamarnya itu, sambil terkekeh-kekeh.
'' Haish.., ane udah menyangka dari awal. Ente itu, cuma sok-sokan bisa ngomong bahasa Inggris. Dasar dodool..dodol.'' ujar santri yang ada disebelahnya, setelah puas melampiaskan kekesalannya.
'' Aiyya.., itupun masih bercita-cita pengen punya istri empat!, payah.., payah.''
'' Haduh.., kalian ini. Ana cuma ingin mengekspresikan dukungan ana terhadap saran dari kang Alan saja, malah menghancurkan, dan memporak porandakan penampilan eksklusif ana sampai seperti ini. Sungguh terlalu.'' ujarnya dengan muka cemberut.
Tawa mereka pun kembali pecah, setelah mendengar keluhan dan juga melihat penampilan acak-acakan si raja ngeyel tersebut.
'' Sudah, sudah.., kasian teman kita ini. Liat!, penampilannya yang tadi begitu eksklusif, sekarang jadi seperti si Saprul kan? Hhh..'' ucap Zul menimpali keluhan dari temannya itu.
Sontak ucapan Zul itu malah membuat teman-temannya semakin terbahak. Pasalnya, Saprul adalah nama orang gila yang ada di daerah itu, yang acap kali nongkrong di depan pintu gerbang pesantren tersebut.
'' Wah.., kang Zul ini, masa ana mau disamain dengan orang gila sih!, sungguh terlalu.'' ucap pemuda itu dengan memasang muka yang kian cemberut.
'' Ya nggaklah kang..!, masa, ana mau nyamain antum dengan si Saprul!. Ana cuma bercanda.., jangan diambil hati.'' ucap Zul menghiburnya.
Setelah tawa mereka reda, Zul dengan serius kemudian berkata :
'' Akhi sekalian! yang ana maksud dengan Pandawa enam tadi adalah: Bahwa sekarang ini, kita telah mendapatkan kembali tambahan orang yang akan berjuang bersama-sama kita, untuk melawan kedzaliman dari si biang kerok itu.''
'' Memang benar.., jumlah santri yang ada didalam pesantren kita ada banyak. Puluhan, bahkan ratusan. Tapi, yang bisa berfikir dan bertindak dengan bijak, dan juga tidak gegabah sangatlah sedikit.
'' Ana sebagai kepala asrama putra, tidak mau asal-asalan dalam merekrut orang yang akan jadi partner, dalam mengemban amanah yang diberikan oleh Abah di pesantren ini. Ana selalu teringat akan pesan dari gus Alif, sebelum beliau meninggal. Ana juga selalu ingat kata-kata kang Roshan, sebelum kang Roshan pergi dari pesantren ini.''
'' Akhi sekalian.., antum adalah para senior di pesantren ini. Antum juga merupakan orang-orang terpilih, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing tentunya. Namun ana yakin, bersama kita akan bisa mengatasi berbagai kendala yang ada. Utamanya dalam menghadapi permasalahan yang sekarang ini tengah melanda pesantren kita. Dan dengan hadirnya kang Alan ini di tengah-tengah kita, maka otomatis bertambah juga kekuatan yang kita miliki''.
'' Sejujurnya, ana memang belum tahu bagaimana sifat dan karakter dari kang Alan. Tapi ana merasa, kalau kang Alan ini akan menjadi sumber kekuatan kita, dalam mengatasi berbagai macam kendala yang ada.'' Zul dengan panjang lebar menyampaikan maksudnya tentang Pandawa enam.
__ADS_1
Hari itu, meskipun Alan belum sempat bertemu dengan Abah Ubaid selaku pengasuh pondok pesantren tersebut, namun Alan secara resmi sudah menjadi santri di sana. Dia sangat bersyukur, bahwa di pesantren itu, dia dapat diterima dengan baik. Alanpun merasa sangat senang, karena mendapatkan teman-teman yang begitu baik padanya.
Alan juga berterus terang kepada teman-teman sekamarnya, kalau dia belum bisa membaca Alquran, tidak mengerti bagaimana cara melaksanakan sholat, dan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah lainnya. Namun, Zul dan yang lainnya tidak merendahkannya. Bahkan mereka dengan senang hati, mau membimbing dan mengajari Alan dalam belajar Alquran ataupun tata cara melaksanakan shalat dan lain sebagainya.
...----------------...
Pagi itu.., Alan sedang bersiap-siap untuk datang ke kediaman Abah Ubaid, untuk sowan dan menyatakan maksud dan tujuannya.
Sementara itu, di tempat kediaman Abah Ubaid, Ummi Hafshah sedang membuatkan teh untuk Abah Ubaid. Setelah siap, diapun segera membawakan secangkir teh dan juga beberapa kue kering kehadapan Abah Ubaid yang sedang duduk di serambi rumahnya.
'' Bah.., ini tehnya! Diminum dulu, mumpung masih hangat.'' ucap Ummi Hafshah kepada Abah Ubaid suaminya.
Usai menyuguhkan teh dan juga beberapa kue kering, Ummi Hafshah kemudian duduk di kursi yang ada di sebelah Abah.
'' Bah.., Abah tahu nggak santri baru itu?''
'' Santri yang mana Ummi?'' sahutnya.
'' Itu lho Bah..!, yang dari Sumatera.'' jawab Ummi.
'' Emangnya kenapa dia Ummi?'' tanya Abah penasaran.
'' Dia itu Bah.., udah cantik, penurut, rajin, pintar lagi bah! Andai saja Alif masih ada, pasti cocok kalau dijadiin menantu.'' ucap Ummi Hafshah.
'' Ummi.., udah.., jangan mengingat-ingat Alif lagi. Nanti penyakit Ummi kambuh lagi.'' jawab Abah setelah menghela nafas panjang.
'' Ummi bukan sedang mengingat soal Alif putra kita Bah.., Ummi hanya merasa kagum dengan anak itu. Walaupun dia itu terlihat seperti sedang menanggung suatu beban tersembunyi, tapi dia itu benar-benar membuat hati Ummi terkesan padanya.''
Abah Ubaid tidak memberikan komentar apapun terhadap apa yang disampaikan oleh istrinya, dia hanya manggut-manggut kemudian mengambil teh hangat yang dibuat oleh istrinya, kemudian meminumnya sedikit demi sedikit.
'' Abah.., dari tadi Ummi perhatikan, kayaknya ada yang sedang Abah pikirkan! Abah lagi mikirin apa sih bah? kok kelihatannya serius banget!'' tanya Ummi melihat suaminya yang sedari tadi sering merenung.
'' Ah.., bukan apa-apa kok Ummi. Abah hanya sedikit merasa aneh dengan mimpi Abah semalam.''
'' Emangnya, semalam Abah mimpi apasih bah? kok bisa sampai kepikiran kayak gitu? tanyanya kian penasaran.
'' Gini lho Ummi. Semalam, Abah mimpi ada satu bintang yang jatuh ditempat kita ini, tapi bintang ini sinarnya tidak begitu terang. Dan tak lama kemudian, datang lagi satu bintang yang sangat terang. Bintang itu kemudian berputar-putar diatas rumah dan pesantren kita ini, seperti sedang mencari sesuatu. Kemudian, akhirnya menemukan bintang yang redup itu.'''
Abah Ubaid kembali mengambil cangkir teh itu dan meminumnya lagi. Ummi Hafshah menggeser kursinya lebih dekat lagi, dia mulai tertarik dengan apa yang diceritakan oleh Abah.
'' Saat bintang yang terang tadi mendekati bintang yang redup itu, sinar bintang yang redup itu tiba-tiba ikut menjadi terang. Kemudian, dia ikut terbang berputar-putar bersama dengan bintang yang terang itu. Setelah beberapa kali berputar mengelilingi area pesantren kita, kedua bintang itupun lalu pergi bersama.'' ucap Abah teringat kembali akan mimpinya semalam.
'' Dan yang membuat Abah merasa heran! Meskipun dua bintang itu telah pergi meninggalkan tempat ini, tapi area pesantren kita tetap menjadi sangat terang, seperti saat kedua bintang itu masih ada. Padahal, dalam mimpi Abah itu, tadinya tempat kita ini sangat-sangat gelap. Sehingga, untuk melihat telapak tangan sendiri saja tidak bisa.'' lanjut Abah.
Ummi Hafshah manggut-manggut, fikirannya ikut membayangkan cerita dalam mimpi Abah itu. Tepat pada saat itu.., tampak dua orang pemuda yang sedang berjalan menuju kediaman mereka...
__ADS_1
...****************...