Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Berencana untuk menikah


__ADS_3

Malam berlalu begitu cepat. Para santri sudah bangun dan bersiap untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah, sebelum adzan subuh berkumandang. Alan, Zul, dan teman-temannya, sudah beranjak pergi ke masjid setelah mereka mandi dan berpakaian. Meskipun bagi Alan kegiatan seperti ini adalah hal yang baru dan belum pernah dia lakukan, tapi setelah seminggu ini berada di pesantren, dia mulai terbiasa dengan hal tersebut. Dia juga mulai merasakan nikmatnya bangun pagi dan sholat subuh beramai-ramai bersama dengan banyak orang. Ada rasa yang tidak bisa untuk diungkapkan dengan kata-kata ketika melaksanakan hal tersebut. Seperti sebuah simponi yang mengalun begitu merdu, hingga menyentuh kedalam relung kalbu.


Alan yang selama hidupnya tidak pernah melakukan hal itu, merasakan sebuah rasa, seakan dia adalah orang yang baru saja dilahirkan ke dunia ini. Apalagi saat sebelum adzan subuh dikumandangkan, telah diperdengarkan lantunan bacaan tarhim oleh seorang santri, dengan suara dan alunan nada yang begitu merdu. Saat mendengarkan itu, Alan dapat merasakan didalam hatinya, sebuah ketenangan yang semakin lama semakin merasuk didalam jiwanya yang begitu dalam.


Usai sholat subuh dilaksanakan, seperti biasanya, Abah memberikan siraman rohani atau kuliah subuh kepada seluruh santri selama 30 menit. Alan dan pada santri yang lain, dengan khusyuk mendengarkan apa yang Abah sampaikan. Walaupun ada juga beberapa diantara santri tersebut yang terlihat masih ngantuk dan bahkan ada yang sempat tertidur. Setelah kuliah subuh selesai, Alan, Zul, serta seluruh santri yang lain, kembali ke asrama mereka masing-masing dan bersiap diri untuk masuk ke kelas. Namun Alan dan Zul, mereka tidak pergi ke sana. Mereka berdua pergi ke kediaman Abah seperti pesan Abah semalam.


'' Silahkan diminum tehnya!'' Ucap Ummi kepada keduanya, setelah meletakkan teh hangat dan pisang goreng untuk mereka diatas meja.


'' Makasih Ummi.'' Ucap Zul dan Alan.


'' Apa kalian tidak apa-apa?, Ummi sampai takut lho, soalnya Ummi mendengar suara tembakan tadi malam.'' ujar Ummi kepada mereka.


'' Alhamdulillah Ummi, berkat doa Ummi dan Abah, kami semuanya baik-baik saja.'' jawab zul.


'' Syukur Alhamdulillah kalau begitu.'' ujar Ummi merasa lega.


Meskipun semalam Ummi sudah mendengar cerita dari Abah, serta Ummi sempat mengintip dari balik tirai jendela, tapi Ummi yang tidak begitu jelas melihat kejadian itu, dia sempat merasa khawatir dengan para santrinya, kalau-kalau ada yang terluka diantara mereka.


'' Zul, nak Alan, Alhamdulillah, sekarang masalah pak Lurah dan anaknya, insyaallah sudah terselesaikan. Untuk itu, Abah sangat mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kalian. Kalau bukan karena bantuan kalian dan para santri yang lain, mungkin masalah ini tidak akan selesai entah sampai kapan.'' ujar Abah membuka kata.


'' Iya Abah, insyaallah sekarang pak Andre juga sedang mengurus masalah tanah milik warga, termasuk juga kebun teh milik Abah yang telah diambil oleh pak Lurah. Mudah-mudahan masalah ini juga bisa cepat terselesaikan, sehingga tanah warga yang telah diambil oleh pak Lurah, bisa kembali kepada pemiliknya lagi.'' ucap Alan menanggapi perkataan dari Abah.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Alan, Abah dan Ummi manggut-manggut. Dalam hati, mereka merasa senang dan yakin jika ucapan Alan ini akan terlaksana. Mengingat sekarang ini, mereka telah mengetahui identitas dari siapa Alan sebenarnya. Tidak seperti sebelumnya, mereka hanya sekedar berharap dan berdoa agar ucapan dari Alan itu bisa terwujud.


'' Zul.., Abah ingin bertanya sesuatu kepadamu. Ini tentang masalah yang tempo hari belum sempat Abah sampaikan.'' ujar Abah sambil memandang ke arah zul.


'' Iya Abah, silahkan!'' ujar Zul singkat.


'' Begini Zul. Abah sekarang sudah tidak bisa lagi dibilang muda. Kamu juga tahu, anak laki-laki Abah sudah tidak ada. Satu-satunya anak Abah hanya tinggal Naila. Sementara itu, Abah dan Ummi sudah mulai merasa repot untuk mengurusi segala hal yang ada di pesantren ini. Untuk itu, perlu seseorang yang bisa terus berada di pesantren ini, untuk membantu Abah mengurusnya.''


'' Setelah Abah pikir dan pertimbangkan, juga setelah melihat situasi dan kondisinya, Abah dan Ummi sepakat ingin menjadikan kamu sebagai menantu, dengan menikahkanmu dengan putri Abah si Naila. Apakah kamu ada minat?'' tanya Abah langsung kepada intinya.

__ADS_1


Meskipun hal ini termasuk hal yang bersifat pribadi, dan disana ada Alan yang merupakan orang baru, namun Abah tidak lagi menganggap Alan sebagai orang lain. Bagi Abah, apa yang telah dilakukan oleh Alan beberapa waktu ini, sudah menunjukkan bagaimana Alan dimata Abah. Bahkan Zul sendiripun tidak merasa canggung jika Alan mengetahui hal ini.


Sementara itu didalam kamarnya, Naila yang sejak tadi pagi datang dan sedang berfikir bagaimana cara untuk menyampaikan titipan surat dari Tiara untuk Alan, dia merasa terkejut saat mendengar apa yang disampaikan oleh Abah kepada Zul. Meskipun dia sendiri menyukai Zul, tapi mendengar kalau Abah ingin menikahkannya, hatinya juga merasa berdebar-debar. Apalagi dia belum mendengar jawaban iya dan tidaknya dari Zul.


'' Abah, mohon maaf. Sejujurnya saya katakan, saya memang menyukai neng Naila. Tapi kalau untuk melangkah kearah yang selanjutnya, saya masih harus menanyakan hal ini kepada kedua orang tua saya terlebih dahulu. Dan juga, apakah neng Naila sendiri bersedia untuk menikah dengan saya. Karena sejujurnya Abah, Ummi, saya hanya orang biasa yang terlahir dari keluarga biasa. Bukan keturunan priyayi atau yang lainnya. Tapi saya juga mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Abah dan Ummi, atas segala kepercayaan yang diberikan kepada saya.'' jawab Zul menanggapi ucapan Abah.


'' Zul, Abah dan Ummi tidak pernah mempermasalahkan soal latarbelakang seseorang. Bagi kami, yang terpenting adalah dia orang yang amanah, jujur, dan bertanggung jawab. Abah sudah cukup lama mengenal kamu, untuk itulah mengapa Abah dan Ummi mempercayakan Naila untuk jadi makmummu.'' ujar Abah.


'' Iya Zul, kami memang sudah mempertimbangkan hal ini masak-masak. Ummi juga yakin, jika Naila akan menyetujui keinginan kami ini.'' ujar Ummi menyambung perkataan Abah.


'' Jika memang seperti itu, insyaallah saya sendiri bersedia. Namun mohon maaf Abah, Ummi, seperti yang saya katakan tadi, saya perlu membicarakan hal ini bersama kedua orang tua saya, untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Untuk itu, saya belum bisa menyebutkan kapan waktunya.''


Zul yang memang menyukai Naila, dia merasa senang dengan apa yang dikatakan oleh Abah dan Ummi kepadanya. Akan tetapi, sebagai anak pertama dari empat bersaudara, dia perlu berkonsultasi dengan kedua orang tuanya untuk membahas tentang persiapan-persiapan pernikahannya, mengingat bahwa kedua orang tuanya juga masih banyak membutuhkan biaya untuk keperluan sekolah adik-adiknya. Zul kemudian meminta izin untuk menghubungi kedua orang tuanya. Dia kemudian keluar dari ruang tamu dan menelpon keluarganya.


Saat Zul sedang menelpon diluar tersebut, Ummi kemudian pergi ke kamar Naila. Lalu menyampaikan dan menanyakan perihal masalah itu kepadanya Naila. Ditanya soal itu, Naila merasa malu namun menyatakan ketersediaannya untuk menikah dengan Zul. Mendengar jawaban Naila, Ummi benar-benar merasa senang. Dia kemudian akan beranjak ke ruang tamu untuk memberitahukan hal itu kepada Abah. Namun Naila keburu menghentikannya.


'' Ummi, boleh Naila ngomong sebentar dengan kang Zul?'' tanya Naila.


'' Kamu mau ngomong apa sih Nail, baru mendengar mau dinikahkan aja, kayaknya udah mau main nyosor aja kayak gitu, kamu itu cewek Nail, jangan kayak gitu! saru ah.'' ujar Ummi kepada Naila.


Setelah Naila menjelaskan tentang duduk permasalahan dan tujuannya kepada Ummi, akhirnya Ummi pun mengerti.


'' Ya sudah sana!, tapi jangan lama-lama, dan jangan sering-sering.'' ujar Ummi kepada Naila.


'' Tapi nanti Ummi ya yang jelasin ke Abah!'' ujar Naila.


'' Iya iya.'' ucap Ummi.


Naila keluar dari kamar bersama dengan Ummi, lalu pergi menemui Zul yang sedang berada diteras melalui pintu samping. Saat Naila menemui Zul, dia baru saja menutup panggilannya dan hendak masuk kembali kedalam ruang tamu.


'' Kang Zul.'' panggil Naila pelan.

__ADS_1


'' Eh, neng Naila. Ada apa?'' tanya Zul agak grogi ketika Naila memanggilnya.


Entah kenapa, semenjak Abah bilang ingin menikahkannya dengan Naila barusan, Zul merasa semakin grogi. Jantung dan hatinya semakin berdebar-debar saat melihat Naila.


'' Saya mau minta tolong sama kang Zul, tolong sampaikan ini kepada kang Alan!, ini dari mbak Tiara. Dan kalau boleh tolong mintakan nomor WA kang Alan, soalnya ini penting.'' ujar Naila dengan malu-malu memberikan surat itu kepada Zul.


'' Emm iya, insyaallah.'' ucap Zul saat menerima sepucuk surat itu dari Naila.


Keduanya kemudian masuk kembali kedalam rumah. Naila kemudian kembali masuk kedalam kamarnya, sementara Zul kembali duduk diruang tamu disebelah Alan.


'' Alhamdulillah Abah, kedua orang tua saya merasa sangat tersanjung mendengar kabar ini. Namun, mereka juga mengatakan bahwa paling cepat saya baru bisa menikah, nanti setelah lebaran.'' ujar Zul menyampaikan apa yang tadi dikatakan oleh kedua orang tuanya.


'' Insyaallah Abah, jika tidak ada udzur, sehabis lebaran tahun ini, mereka juga akan datang kesini untuk melamar dan sekaligus ingin menghadiri resepsi pernikahan saya dengan neng Naila.'' sambungnya.


Setelah menyampaikan apa yang menjadi alasan dan pertimbangan dari keluarga di kampung halamannya, Zul lalu memasrahkan hal ini kepada Abah dan juga Ummi. Apakah mereka akan menyetujuinya, ataukah Abah dan Ummi akan mencari pengganti untuk calon suami Naila. Namun ternyata, baik Abah maupun Ummi tidak merasa keberatan dengan itu semua.


Abah yang tadi sempat mengobrol dengan Alan, saat Ummi dan Zul meninggalkan mereka berdua diruang tamu, mereka membicarakan mengenai rencana Alan yang ingin mengadakan kerjasama dengan pesantren ini dengan perusahaan milik keluarganya. Abah merasa, jika keinginan dari orang tua Zul yang meminta untuk menikahkan Zul dengan Naila setelah lebaran nanti, merupakan waktu yang tepat. Karena untuk sekarang ini, masih banyak urusan-urusan seputar pembangunan pesantren yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Apalagi masalah kerjasama dengan perusahaan milik keluarga Alan, nantinya akan cukup banyak menyita waktu para santri, utamanya adalah santri-santri senior seperti Zul dan teman-temannya.


'' Baiklah zul, meskipun sebenarnya Abah ingin menikahkan kalian lebih cepat, namun karena banyak hal yang perlu diselesaikan terlebih dahulu, Abah juga menyetujui kalau kalian menikahnya usai lebaran tahun ini.'' ujar Abah.


'' Terimakasih Abah, saya juga rencananya Ramadhan dan idul Fitri tahun ini, ingin pulang terlebih dahulu. Sudah lima tahun, saya tidak pulang ke kampung halaman. Saya sudah merasa rindu dengan rumah. Untuk itu saya juga minta izin, tahun ini saya akan pulang dan kesini lagi bersama keluarga untuk melamar dan menikahi neng Naila.''


'' Jadi Ramadhan nanti kamu mau pulang Zul?'' tanya Ummi.


'' Insyaallah rencananya seperti itu Ummi.'' jawab Zul.


'' Tapi nanti kesini lagi kan..?'' ujar Ummi memastikan.


'' Insyaallah Ummi.'' jawab Zul singkat.


'' Ya iyalah Ummi.., masak gak kesini lagi. Orang belahan hatinya ada disini!'' seloroh Alan menggoda Zul.

__ADS_1


Ketika Alan berkata seperti itu, Abah, Ummi dan Alan tertawa renyah. Candaan Alan yang menggoda Zul itu, membuat mereka menjadi rileks. Zul tersenyum dan salah tingkah. Bahkan Naila yang ada didalam kamar, ikut tersipu malu mendengar perkataan Alan tersebut.


...****************...


__ADS_2