Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Tak sabar lagi menunggu


__ADS_3

Waktu Maghrib segera tiba. Alan, Alfin dan ibu Zaenab segera berbuka puasa dengan buah kurma dan buah-buahan yang dibawa oleh Alan dari Baturaja. Namun, mereka hanya sekedar berbuka untuk membatalkan puasa mereka, dan langsung pergi ke masjid untuk menunaikan sholat magrib berjamaah. Sepulang dari masjid itulah, mereka baru makan bersama. Setelah makan dan bersantai sejenak, Alan mengajak Alfin untuk pergi ke masjid, guna melaksanakan sholat isya sekaligus sholat tarawih disana.


Seperti halnya Tiara ataupun yang lainnya, mereka yang baru pertama kali melihat kehadiran Alan di masjid itu merasa terkejut. Mereka mengira kalau Alan adalah kembaran Fadil, atau Fadil yang tiba-tiba hidup kembali. Apalagi, Alan juga datang bersama Alfin. Dan mereka terlihat begitu akrab, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan dihati orang-orang yang melihatnya.


'' Tiara, lihat itu! apakah mataku yang salah lihat, atau itu memang mas Fadil?'' tanya Rina terkejut saat melihat Alan sedang berjalan bersama Alfin menuju masjid.


Tiara yang sedang duduk-duduk di teras masjid bersama Rina dan Yunita, dan sedang menunggu saatnya waktu sholat isya, dia tidak menjawab pertanyaan dari Rina. Tiara hanya diam memandang kearah Alan dan Alfin. Di dalam hati dan pikirannya, berkecamuk berbagai pertanyaan mengenai siapa Alan tersebut. Bahkan, Yunita yang sudah pernah bertemu dengan Alan, dan sedikit mengetahui informasi tentang Alan dari ayahnya, juga masih terpana saat melihat Alan. Dia bukan hanya merasa bingung dengan siapa sebenarnya jati diri Alan, tetapi juga terpukau oleh ketampanan Alan.


'' Mbak Tiara, itu.. itu!'' Rina sambil menggoyang-goyangkan bahu Tiara.


'' Entahlah Rin, saya juga tidak tahu.'' jawab Tiara setelah menghembuskan nafas panjang.


'' Apa jangan-jangan, mas Fadil hidup lagi?'' bisik Rina yang masih memperhatikan Alan.


'' Rin..!'' Tiara memberi isyarat agar Rina tidak beranggapan yang bukan-bukan mengenai Fadil.


Tak hanya Rina yang berpikiran seperti itu. Semua orang yang ada disana, mereka juga memiliki pertanyaan dan anggapan seperti pemikiran Rina tersebut. Sambil berbisik-bisik, mereka saling bertanya antara satu dengan yang lainnya.


Alan dan Alfin, mereka juga mengetahui kalau mereka saat ini sedang diperhatikan oleh semua orang. Terutama Alan. Dia sudah bisa menebak, kalau kehadirannya pasti akan menjadi perbincangan bagi semua orang. Namun, dengan penuh ketenangan, Alan tetap bersikap seolah tidak ada hal yang terjadi disekitarnya. Menanggapi kehebohan orang-orang tersebut, Alan hanya tersenyum, lalu berjalan menuju tempat wudhu, setelah memasuki pintu gerbang masjid tersebut.


'' Fin, i itu siapa ya?'' tanya seseorang yang tak bisa menahan rasa penasaran, sambil menunjuk kearah Alan yang sedang berwudhu.


'' Oh.. itu paman Alan pak! saudara kami dari Jakarta.'' jawab Alfin kepada orang tersebut.


'' Oh pantesan, masih kerabat kamu tho. Kok mirip sekali dengan Fadil ya? Sampai saya mengira dia itu Fadil.'' ujarnya sambil terus melihat kearah Alan.


Alfin hanya tersenyum mendengar ucapan orang tersebut. Alan yang sedang berwudhu, dia juga ikut tersenyum mendengar percakapan mereka. Meskipun jawaban Alfin belum sepenuhnya bisa menghilangkan rasa penasaran orang yang bertanya kepadanya, namun setidaknya, itu sudah cukup untuk sementara ini.


Hingga pelaksanaan sholat tarawih telah usai, Tiara yang masih kepikiran untuk mencari tahu mengenai identitas Alan yang sebenarnya, dia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Alan saat sebelum dia pulang kerumahnya.


'' Assalamualaikum Kang.'' sapa Tiara kepada Alan yang sedang duduk diteras masjid, menunggu Alfin yang masih ada didalam.


'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah.. Mbak Tiara!'' jawab Alan agak terkejut melihat kedatangan Tiara yang sudah berada tak jauh darinya.


'' Maaf kang Alan, boleh saya minta tolong sesuatu?'' ucap Tiara tanpa basa-basi agar keperluannya dengan Alan cepat selesai.


Tiara tidak ingin, orang beranggapan yang tidak-tidak kepadanya karena melihat dirinya yang sedang mendekati Alan. Andai bukan karena terpaksa, diapun tentu tidak akan melakukan hal tersebut.


'' Oh.. Silahkan mbak!, apa yang bisa saya lakukan untuk mbak Tiara?'' ucap Alan.

__ADS_1


'' Boleh saya minta nomor kontak kang Alan? ada banyak hal yang ingin saya tanyakan, soalnya kalau bertanya secara langsung, kayaknya juga tidak mungkin.'' ujar Tiara.


'' Emm.. apa mbak Tiara bawa ponsel? soalnya ponsel saya tertinggal dirumah.'' ujar Alan.


Tiara lalu mengeluarkan ponsel miliknya, dan menyerahkan ponsel itu kepada Alan. Alan lalu memasukkan nomor telepon miliknya ke ponsel milik Tiara.


'' Ini mbak, sudah saya masukkan nomor saya. Mbak tinggal buka saja kalau nanti ada perlu dengan saya.'' ucap Alan sambil menyerahkan ponsel itu kepada Tiara.


'' Iya kang, terimakasih. Nanti saya akan hubungi kang Alan, untuk menanyakan beberapa hal kepada kang Alan.'' ucap Tiara, lalu pamit dari hadapan Alan.


Tiara lalu pulang bersama Rina dan Yunita yang sejak tadi menunggunya. Kini Tiara sudah mulai merasa lega. Akhirnya, meskipun hanya melalui telepon, dia akan bisa menanyakan banyak hal kepada Alan. Apa yang menjadi unek-unek didalam hatinya, akan bisa pula dia ketahui jawabannya.


Sesampainya dirumah, Tiara langsung membuka ponselnya dan melihat nomor kontak milik Alan. Dia sedikit terkejut saat melihat nomor tersebut. Ternyata nomor kontak milik Alan, benar-benar nomor cantik yang tidak biasa. Tiara lalu membuka aplikasi WhatsApp dan melihat kontak milik Alan. Tampak Alan sedang duduk diatas mobil Lamborghini sport warna biru, dan begitu serasi dengan tampilan dirinya yang begitu elegan menghiasi photo profil miliknya. Sejenak, Tiara benar-benar terpukau dengan tampilan Alan yang ada didalam foto profil tersebut. Beberapa saat kemudian, Tiara mulai mengetik pesan ke nomor Alan tersebut.


'' Assalamualaikum kang.'' ketik Tiara mengawali pesan chattingnya.


'' Wa'alaikumsalaam wrwb.'' balasan dari Alan.


'' Maaf kang, kalau saya sedikit mengganggu.'' lanjut Tiara.


'' Oh gak papa mbak, tidak mengganggu kok.'' jawab Alan.


'' Oh itu. Sebenarnya saya bukan siapa-siapanya dia mbak!'' jawab Alan sejujurnya.


'' Tapi kenapa kang Alan bisa begitu akrab dengan keluarga A Fadil? serta maaf, kenapa juga wajah kalian begitu mirip?'' tanya Tiara lagi.


'' Emm kalau soal saya mirip dengan mas Fadil, itu sih Wallahu a'lam mbak. Saya sendiri juga, sejujurnya merasa terkejut saat mengetahuinya. Tapi kalau kenapa saya akrab dengan keluarganya, itu karena saya punya sebuah kewajiban yang memang harus saya lakukan kepada mereka.'' ujar Alan, masih merahasiakan maksud keberadaan dirinya berada ditengah-tengah keluarga Fadil kepada Tiara.


'' Maksud kang Alan?'' tanya Tiara yang tidak begitu puas dengan jawaban Alan.


'' Maaf mbak!, itu masih rahasia.'' jawab Alan singkat.


'' Oh iya, maaf. Kalau boleh saya tahu! apakah mbak ini punya suatu hubungan dengan mas Fadil? pacar misalnya.'' kini Alan yang balik bertanya kepada Tiara.


'' Maaf kang, jikapun iya. Memangnya kenapa?'' Tiara malah balik bertanya.


'' Ya gak kenapa-napa sih! cuma agak sedikit heran saja.'' jawab Alan.


'' Maksudnya heran bagaimana?'' tanya Tiara.

__ADS_1


'' Ya heran aja. Dulu, waktu mbak Tiara diculik itu, mbak berteriak memanggil mas Fadil. Terus, pas kemarin kita ketemu di rumah makan, mbak juga mengira saya mas Fadil. Dan terakhir, saya juga melihat mbak Tiara sedang berdoa didepan pusara mas Fadil.'' ujar Alan mengingatkan, saat Tiara selalu tak lepas dari hal-hal yang berkaitan dengan Fadil.


Tiara hanya diam. Dia tidak segera membalas apa yang ditulis Alan dalam pesan tersebut. Dia sebenarnya ingin mengatakan, bahwa Fadil adalah kekasihnya. Dia juga ingin berkata, bahwa dia dan Fadil begitu saling mencintai dan telah berencana untuk hidup bersama. Namun, karena kecelakaan itu, harapan mereka kini telah hilang. Tiara ingin mengatakan semua itu kepada Alan. Namun dia berfikir, apakah ada gunanya jika dia mengatakannya kepada Alan.


'' Mbak Tiara! Apakah mbak masih ada disitu?'' tanya Alan yang tidak lagi melihat Tiara menulis pesan.


'' Mbak?'' tulis Alan lagi.


'' Maaf kang Alan. Sebenarnya kami memang saling mencintai. Sampai detik ini, saya tidak bisa melupakan A Fadil. Apalagi, dalam mimpi saya, A Fadil mengatakan kalau dia nanti akan kembali. Walaupun A Fadil mengatakan itu hanya dalam mimpi, tapi saya yakin, apa yang dikatakannya akan benar-benar nyata.''


'' Saya tidak perduli, orang menganggap saya bagaimana. Saya hanya punya suatu keyakinan, kalau suatu saat nanti kami akan bisa bersama. Entah dimana, ataupun bagaimana prosesnya. Tadinya, saat saya melihat kang Alan. Saya mengira kalau kang Alan adalah A Fadil yang telah kembali. Tapi ternyata saya salah. Karena ternyata, kang Alan bukanlah A Fadil. Maaf kalau saya telah salah menduga.'' tulis Tiara mengungkapkan perasaannya.


Alan yang membaca tulisan Tiara, kini telah faham. Ternyata dugaannya juga benar. Dari awal bertemu dengan Tiara, dia sudah merasakan kalau antara Fadil dan Tiara, ada suatu ikatan batin yang begitu kuat mengikat keduanya. Alan lalu kembali menuliskan dalam pesannya:


" Mbak Tiara, maaf. Menurut saya, apa yang menjadi keyakinan mbak itu, insyaallah kelak akan terwujud. Mungkin tidak lama lagi, kalian benar-benar akan bertemu.'' ujar Alan.


'' Maaf kang Alan. Apa maksud kang Alan berkata seperti itu? kang Alan bukan sedang mencoba menghibur saya kan?'' tanya Tiara yang terkejut dengan kata-kata Alan.


'' Tidak mbak! Saya tidak sedang menghibur mbak Tiara. Apa yang saya katakan itu, memang benar dan tidak mengada-ada. Didalam diri saya, ada sebagian dari diri orang yang mbak tunggu kehadirannya. Walaupun untuk sekarang ini belum sepenuhnya, tapi insyaallah, tidak akan lama lagi mas Fadil akan benar-benar hadir untuk mbak Tiara.''


Setelah Alan mengetahui hubungan antara Tiara dan Fadil, dan juga dia merasakan kepedihan yang sedang dirasakan oleh Tiara, akhirnya Alan mencoba sedikit menyibak rahasia yang ada pada dirinya itu kepada Tiara.


'' Apa, apa maksud perkataan kang Alan tadi? kenapa kata-kata kang Alan hampir sama seperti yang A Fadil katakan dalam mimpi saya?'' ujar Tiara terkejut mendengar pengakuan dari Alan.


'' Maaf mbak, kata-kata yang mana? memangnya mas Fadil bilang apa kepada mbak Tiara?'' tanya Alan juga keheranan.


'' Itu! yang sebagian diri A Fadil ada pada kang Alan. A Fadil bilang didalam mimpi saya, saat malam sebelum kita bertemu di pemakaman. Dia bilang: '' Tiara, dia bukanlah aku. Tapi sebagian diriku ada padanya. Dan kelak, aku akan benar-benar ada pada dirinya'' Itulah sebabnya, kenapa saya ingin bertanya kepada kang Alan. Dan juga kenapa saya ingin tahu siapa kang Alan yang sebenarnya.''


'' Maaf mbak, ada banyak hal yang perlu saya jelaskan kepada mbak Tiara. Tapi sepertinya, kurang pas jika saya sampaikan disini. Kalau tidak keberatan, biar nanti saya sampaikan langsung kepada mbak Tiara dirumah mbak. Menurut mbak Tiara bagaimana?'' tanya Alan meminta pendapat dari Tiara.


'' Ya gak papa kang Alan. Jika memang kang Alan juga tidak keberatan, dan kang Alan ada waktu, saya juga ingin mengetahui hal yang sebenarnya langsung dari kang Alan.'' jawab Tiara penuh antusias.


'' Ya udah mbak kalau begitu, insyaallah nanti sore saya akan kerumah mbak untuk menjelaskan semuanya. Assalamualaikum.'' Alan menutup obrolan mereka melalui pesan chatting tersebut.


'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah.'' jawab Tiara mengakhiri pesan itu.


Tiara kini merasa agak sedikit lega. Teka-teki misteri yang selama ini menyelimuti hatinya, sedikit demi sedikit mulai menemukan titik terang. Mendengar bahwa Alan akan datang, untuk menjelaskan tentang beberapa hal yang selalu menjadi pertanyaan dalam hatinya, Tiara merasa sedikit tidak sabar, untuk menunggu hari menjadi sore.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2