Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Ijin Pamit


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi Tiara. Dimana di hari ini pada tahun yang lalu, dia dan Fadil berjanji akan jalan bersama. Namun sayangnya, sampai dengan hari ini rencana mereka tidak pernah terwujud. Karena sedikit kesalahan yang dibuat oleh Yunita kakaknya, telah membuahkan akibat yang begitu fatal untuk hubungan keduanya.


Sudah setahun lamanya, Tiara harus mengalami penderitaan batin akibat memendam rasa kerinduannya kepada Fadil sang kekasih hatinya. Namun, setelah setahun waktu berlalu. Dan tentunya tak ada seorangpun yang pernah menyangkanya, sebuah keajaiban tiba-tiba menghampirinya. Pertemuannya dengan Alan yang memiliki wajah seperti Fadil, dan mengatakan kalau nanti Fadil akan kembali dengan menggunakan tubuh miliknya, membuat harapan Tiara yang telah pupus kini kembali.


Pagi ini, Tiara sudah berdandan dengan sangat cantik. Sama seperti dihari kedua lebaran tahun lalu, dimana dia sedang bersiap menunggu kedatangan Fadil yang akan menjemputnya. Hanya saja, dihari lebaran kedua tahun ini, Tiara bukan hanya sedang menunggu kembalinya Fadil kedunia ini. Tapi juga sedang menunggu kehadiran keluarga Alan, yang akan datang berkunjung ke rumahnya. Tiara juga sudah memberi tahu kedua orang tuanya, bahwa hari ini, keluarga Alan dari Jakarta akan singgah kerumahnya, setelah berkunjung kerumah keluarga Fadil.


Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, Tiara lalu duduk diruang tamu bersama kedua orang tua dan juga kedua saudaranya. Tak berapa lama kemudian. Sebuah mobil Pajero sport limited milik Alan, berlalu dihadapan rumah mereka diikuti oleh dua mobil Fortuner dan Lands Cruiser dibelakangnya. Tiara yang melihat mobil Alan tersebut, hatinya semakin berdebar-debar. Apalagi setelah melihat kalau dibelakang mobil milik Alan, ada beberapa mobil yang lain yang mengikutinya. Dia langsung menduga, bahwa mobil yang berada dibelakang itu adalah mobil milik keluarga Alan.


Tiara langsung teringat kata-kata orang tuanya tadi malam. Hatinya pun mulai dilanda dilema. Antara rasa senang dan rasa cemas, kini tengah bergejolak dalam hatinya. Tak hanya Tiara yang sedang merasakan hal tersebut. Bahkan, kedua orang tua Tiara juga, mereka kini mulai digelitiki rasa keraguan. Melihat mobil-mobil tersebut, rasa minder mulai menggerogoti hati dan pikiran mereka. Mereka benar-benar merasa khawatir, jika nanti keluarga Alan tidak bisa menerima Tiara anak mereka yang merupakan kekasih Fadil, yang secara tidak langsung akan menjadi calon menantu dan istri dari anak mereka.


'' Tiara, apa itu tadi mobilnya Alan dan keluarganya?'' tanya pak Syahroni setelah melihat mobil-mobil tersebut berlalu didepan rumahnya.


'' Sepertinya memang begitu yah.'' jawab Tiara agak canggung.


'' Waah, kayaknya mas Fadil nanti, akan jadi anaknya orang kaya ya?'' ujar Vita ikut berkomentar, setelah melihat mobil-mobil tersebut.


'' Huss, kamu itu Vit ya!, kalo ngomong.'' ujar Bu Lilis menanggapi celotehan Vita.


'' Lho, kan nantinya memang bener seperti itu bu!'' ujar Vita.


'' Ya walaupun nantinya iya, tapi.., ah sudahlah! yang penting, nanti kamu jangan asal ngomong aja Vit ya!. Jaga kesopanan, jangan bikin malu keluarga kita.'' ujar Bu Lilis menasehati Vita.


'' Iya bu iya! Vita tahu itu!'' jawab Vita.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, sebuah mobil berhenti didepan rumah mereka. Namun, mobil tersebut ternyata bukan mobil milik Alan, ataupun salah satu dari mobil yang tadi ada dibelakangnya. Beberapa saat kemudian, Yanto dan kedua orang tuanya turun dari mobil tersebut. Dengan penuh semangat, Yanto langsung mengajak pak Romli dan isterinya untuk segera menuju rumah Tiara.


Lain yang ditunggu lain pula yang datang, Itulah yang terjadi. Tiara yang melihat kedatangan Yanto dan kedua orang tuanya, serta mengetahui untuk tujuan apa mereka datang, dia segera beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Dia lalu mengajak Vita untuk pergi kebelakang rumahnya, menghindari Yanto yang akan masuk bertamu tersebut. Melihat Tiara yang seperti itu, pak Syahroni dan Bu Lilis langsung mengerti akan sikap Tiara. Sehingga mereka membiarkan Tiara pergi dari ruangan itu, tanpa berkata apa-apa.


Sementara itu. Alan beserta kedua orang tuanya, kakek dan adiknya, serta pamannya yang kini sudah berada dikediaman ibu Zaenab, dia langsung mengajak mereka semua untuk memasuki rumah tersebut. Setelah mengucapkan salam dan masuk kedalam rumah itu, Alan yang sudah akrab dengan rumah dan penghuninya, langsung mempersilahkan mereka semua untuk duduk diruang tamu. Dia kemudian mencari ibu Zaenab yang sedang berada diruang belakang. Setelah bersalaman dan memeluk ibu Zaenab, Alan lalu mengajak ibu Zaenab untuk menemui keluarganya yang sudah berada diruang tamu tersebut. Alan kemudian duduk disebelah ibu Zaenab.


'' Kek, pa ma dan paman, perkenalkan! ini ibunda mas Fadil, namanya ibu Zaenab. Beliau tinggal dirumah ini hanya berdua dengan cucunya Alfin. Lho Bu, mana Alfin? kok dari tadi tidak kelihatan.'' tanya Alan yang tidak melihat keberadaan Alfin sejak tadi.


'' Dia lagi pergi kewarung nak. Tadi, ibu menyuruhnya untuk membeli gas.'' ujar Bu Zaenab.


'' Oh iya Bu, perkenalkan juga. Ini kakek saya, yang ini papa dan mama saya dari Jakarta. Dan kalau yang ini, adalah paman saya yang tinggal di Baturaja, yaitu adik dari papa saya.'' ujar Alan mengenalkan mereka satu persatu kepada ibu Zaenab.


Nadia yang tidak diperkenalkan oleh Alan, dia langsung cemberut. Dengan kesal, dia lalu memelototi Alan. Melihat Nadia yang seperti itu, ibu Zaenab yang menyadari kalau masih ada yang dilewatkan oleh Alan, ibu Zaenabpun lantas bertanya:


'' Ooh.. Kalau yang itu, gak usah diperkenalkan deh bu!. Soalnya nanti cuma bikin kesal aja.'' ujar Alan sambil melirik kearah Nadia.


'' Tuuh kek.., kak Alan kek..'' keluh Nadia mengadukan Alan kepada Arya Wijaya.


'' Alan..!'' ujar Arya Wijaya dan Sintya bersamaan.


'' Maaf bu! mereka berdua ini, memang suka seperti itu. Kalau bukan Alan yang memulai, ya Nadia yang mulai.'' ujar Sintya.


'' Dia ini putri kami juga bu, adiknya Alan.'' lanjutnya.

__ADS_1


'' Ooh adiknya! ibu kirain, calonnya nak Alan.'' ujar ibu Zaenab tersenyum kepada Nadia.


'' Nak.. jangan seperti itu!. Sesama saudara itu harus saling menjaga, dan juga harus saling menyayangi. Apalagi sekarang ini, kita dalam momen Idul Fitri. Harusnya kamu yang lebih dewasa, bisa memberikan contoh yang baik untuk adikmu.'' nasehat ibu Zaenab kepada Alan.


'' Iya bu, maafin Alan.'' ujar Alan terlihat begitu penurut kepada ibu Zaenab.


'' Lho kok minta maafnya sama ibu! minta maaf sana sama adikmu!'' perintah ibu Zaenab.


Tanpa membantah sedikitpun, Alan langsung meminta maaf. Tak hanya kepada Nadia saja, juga kepada semua orang yang ada disana. Melihat bagaimana cara ibu Zaenab menasehati Alan, dan juga Alan yang begitu penurut mengikuti apa yang diperintahkan oleh ibu Zaenab, Sintya dan yang lainnya merasa terharu. Sepanjang sejarah mereka mengenal Alan, baru kali inilah mereka melihat Alan yang seperti itu.


Hari ini adalah hari dimana ruhnya Alan akan pergi untuk selamanya. Meskipun jasad Alan nanti masih tetap hidup, namun ruh yang ada ditubuhnya akan digantikan oleh ruhnya Fadil. Akan tetapi, untuk saat ini ruh yang ada didalam tubuh Alan masihlah ruhnya Alan sendiri.


Sintya dan yang lainnya, yang seakan masih belum rela untuk benar-benar melepaskan kepergian ruhnya Alan, yang akan meninggalkan jasadnya untuk Fadil itu. Setelah melihat bagaimana ibu Zaenab memperlakukan Alan anak mereka, kini hatinya mulai merasa lega. Dalam hati dan pikiran mereka, Meskipun nanti tubuh Alan akan menjadi milik Fadil, namun mereka percaya, bahwa kelak Fadilpun dapat menerima mereka seperti Alan menerima keluarga Fadil, berkat bimbingan dan didikan dari ibu Zaenab.


Setelah saling mengenalkan diri, dan juga mulai memahami satu sama lainnya, Arya Wijaya, Sintya dan lainnya kemudian mulai akrab dengan ibu Zaenab. Tak lupa mereka juga mengatakan permintaan maaf dan ucapan terimakasih kepada ibu Zaenab atas segala yang terjadi pada Fadil putranya. Bahkan, untuk hal tersebut, Arya Wijaya ingin memberikan uang santunan yang tidak sedikit untuk ibu Zaenab. Namun, tentu saja ibu Zaenab menolak dengan halus pemberian dari Arya Wijaya tersebut.


Setelah merasa cukup dengan kunjungan mereka ke rumah Fadil, ditambah lagi bahwa siang hari nanti Alan harus berada dilokasi terjadinya kecelakaan waktu itu, maka Alan dan seluruh keluarganya segera undur diri dari kediaman ibu Zaenab. Dia meminta ijin kepada ibu Zaenab dengan penuh rasa haru.


'' Bu, Saya pamit. Jika nanti saya kembali kesini hari ini ataupun esoknya, maka saat itu saya bukan lagi saya yang sekarang. Melainkan Fadil anak ibu. Saya sangat berterima kasih kepada ibu. Walaupun hanya dalam hitungan hari saya bersama ibu, tapi saya sangat merasa bersyukur. Saya sudah diberi kesempatan untuk bisa mendapatkan kasih sayang dari ibu.'' ucap Alan penuh perasaan.


'' Bu, sekali lagi saya minta maaf. saya pamit bu, semoga kelak kita bisa berkumpul kembali di satu tempat yang penuh dengan rahmat Allah SWT. Assalamualaikum.'' ucap Alan lalu memeluk ibu Zaenab erat-erat.


Ibu Zaenabpun merasakan kesedihan didalam hatinya. Meskipun kepergian Alan adalah pertanda baik, karena dengan kepergiannya akan menjadi awal bertemunya dia dengan Fadil putranya. Namun, kebersamaannya dengan Alan beberapa hari terakhir ini juga, malah membuatnya tidak ingin berpisah darinya. Andai boleh meminta, dia tentu ingin tetap bersama Alan dan Fadil dalam waktu dan tempat yang sama.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2