
Waktu mulai beranjak malam. Usai menunaikan sholat isya, Fadil bersama Ulil keluar dari hotel, setelah berpamitan kepada Arya Wijaya dan yang lainnya. Tentu saja, kepergian Fadil dari hotel malam ini, membuat Tiara dan Sintya merasa khawatir. Namun, Fadil akhirnya berhasil meyakinkan mereka semua, bahwa dia dan Ulil akan baik-baik saja.
Setelah keluar dari hotel, Fadil memanggil taksi dan segera pergi ke suatu tempat, dimana Alan dan teman-temannya dulu sering berkumpul. Sebelum sampai di lokasi tersebut, diapun sudah menghubungi ketua genk dan meminta agar mereka semua berkumpul ditempat itu.
Beberapa saat kemudian, Fadil dan Ulil sampai ditempat yang dituju. Beberapa teman-temannya langsung menyambut kedatangan mereka berdua.
'' Kak Alan, selamat datang kembali ditempat ini. Sudah lama kak Alan tidak datang kemari.'' ujar salah satu diantara mereka yang merupakan ketua kelompok tersebut, dan jelas tidak mengetahui kalau Alan sekarang ini adalah Fadil.
'' Liu Feng, bagaimana kabar anak-anak?'' tanya Fadil kepada ketua kelompok tersebut.
'' Baik kak Alan. Tapi akhir-akhir ini, sejak kak Alan tidak pernah datang kemari, anak-anak genk Thian mulai mengusik wilayah kita.''
'' Beberapa kali, mereka juga berani membuat kekacauan. Tapi untungnya, kami masih bisa mengatasi mereka.'' ujar Liu Feng, memberi laporan.
Sewaktu Alan masih sering datang kesini, dia pernah menaklukkan beberapa genk di wilayah tersebut. Baik melalui balapan liar, maupun dengan berduel antar kelompok. Hingga lebih dari sepertiganya, kini tunduk terhadap kelompok teman temannya tersebut.
Mereka sebenarnya menginginkan Alan sebagai ketua mereka. Namun, Alan selalu menolak. Alasannya karena, dia tidak berniat menjadi ketua genk. Semua yang dilakukannya tersebut, hanyalah sebuah pelampiasan atas kesedihannya, karena ditinggal mati oleh kekasihnya dan juga sebagai pelampiasan emosi kepada Arya Wijaya kakeknya pada waktu itu.
'' Liu Feng, besok malam saya akan balapan dengan Thian. Saya minta tolong! siapkan mobil yang terbaik, serta kamu cek semuanya. Jangan ada sedikitpun, dari mobil itu yang tidak beres.'' ucap Fadil, setelah mereka duduk diruangan yang menjadi markas mereka.
'' Selain ini pertaruhan keluarga, saya juga sekalian mau memberi mereka pelajaran, agar kedepannya tidak lagi berani macam-macam dengan kita.'' lanjut Fadil.
'' Baik kak Alan! saya juga setuju dengan kak Alan. Mereka memang harus dikasih pelajaran. Saya akan menyiapkan semuanya dengan teliti, serta menyiapkan yang terbaik untuk kak Alan.'' jawab Liu Feng.
'' Betul kak Alan! kami siap mendukung kak Alan sepenuhnya. Karena kami yakin, cuma kak Alanlah yang bisa mengalahkan Thian dan genknya itu!'' sahut yang lain, diikuti oleh teriakan dukungan oleh semua teman-temannya.
'' Baik baik, terimakasih. Kalian memang teman-temanku yang terbaik. Saya pasti akan berusaha sebaik mungkin, untuk mengalahkan Thian dalam perlombaan nanti.''
'' Oh iya teman-teman. Perkenalkan, ini sahabat saya dari Jakarta. Namanya Ulil. Dia juga akan membantu kita, jika anak-anak genk Thian berbuat yang macam-macam.'' ujar Fadil memperkenalkan Ulil.
Teman-teman Fadil kemudian menyalami Ulil secara bergantian. Meskipun untuk pertama kalinya mereka bertemu, namun karena Ulil datang bersama Fadil, juga Fadil sendiri yang memperkenalkan Ulil kepada mereka, merekapun langsung menerima kehadiran Ulil ditempat mereka ini dengan baik.
'' Kak Alan.'' panggil seseorang yang baru saja datang ditempat tersebut.
'' Lian, kamu juga kesini?'' sahut Fadil menyapa Lian Chan, orang yang baru saja datang tersebut.
Dulu, Lian merupakan salah satu orang yang memusuhi Alan bersama Thian kakak sepupunya. Akan tetapi, sejak Alan menyelamatkan dia dalam sebuah perkelahian antar kelompok, kini dia juga bergabung bersama kelompok teman-temannya Alan, meskipun masih secara sembunyi-sembunyi. Hal ini dikarenakan, Lian masih belum berani bertentangan secara langsung dengan Thian dan kelompoknya.
'' Iya kak Alan. Ada yang ingin saya sampaikan kepada kak Alan. Saat ini, Thian dan kelompoknya, sedang menyusun sebuah rencana. Mereka akan melakukan sesuatu, agar dalam perlombaan besok malam, Thian tidak hanya bisa memenangkan perlombaan tersebut. Tapi, dia juga akan berusaha mencelakakan kak Alan.''
'' Bahkan, keluarga Chan juga memiliki rencana tersendiri, supaya mereka bisa menyingkirkan keluarga kakak.'' ujar Lian memberikan informasi.
__ADS_1
Lian juga memberitahukan rencana keluarga Chan, yang diprakarsai oleh Mei Ling dan juga Tony. Lian kemudian berbisik kepada Fadil. Fadil manggut-manggut, mendengar apa yang disampaikan oleh Lian tersebut.
'' Hemm.. Baiklah Lian. Terima kasih atas informasinya. Saya dan teman-teman, akan mengecek lokasinya malam ini juga.''
'' Oh iya! mungkin sebaiknya kamu tidak terlalu berlama-lama bersama kami. Saya khawatir, Thian dan yang lainnya akan mengetahui keberadaan kamu disini.'' ujar Fadil kepada Lian.
'' Iya kak Alan. Saya juga mau permisi. Saya cuma ingin menyampaikan hal itu, agar kak Alan jangan sampai celaka oleh ulah Thian dan yang lainnya.'' sahut Lian Chan, lalu segera beranjak pergi dari tempat tersebut.
'' Sekali lagi terimakasih Lian, kamu hati-hati dijalan.'' ujar Fadil, sambil mengantar Lian sampai didepan pintu.
...----------------...
Menjelang dilaksanakannya balapan mobil antara Fadil dan Thian Chan, kedua kelompok dari masing masing genk mereka berkumpul. Bahkan, kedua keluarga mereka juga ikut hadir disana, untuk menyaksikan jalannya pertandingan tersebut.
Balapan kali ini berlokasi di Woodleigh park, dengan dua kali putaran menyusuri seluruh jalanan terjauh di area itu, dengan start dan finish didepan gedung cafe football yang ada ditempat tersebut.
Meskipun lokasi ini bukanlah sebuah sirkuit untuk balapan, namun lokasi ini cukup untuk menguji ketangkasan dalam berkendara. Jalanan yang tidak terlalu lebar, dan juga beberapa tikungan serta adanya beberapa pertigaan, akan memaksa sang pengemudi harus ekstra hati-hati dan fokus membawa mobilnya.
Setelah semuanya telah siap, baik Fadil maupun Thian, mereka segera menghidupkan mesin mobil untuk memanaskan mesin mobil mereka. Begitu tanda balapan dimulai, keduanya sama-sama segera menginjak pedal gas, dan langsung meluncurkan mobil mereka di jalanan tersebut. Thian yang merupakan seorang pembalap, dengan cekatan dia memimpin didepan. Sementara Fadil, hanya beberapa meter berada dibelakangnya.
Hingga sampai satu putaran, Thian masih memimpin jalannya perlombaan tersebut. Arya Wijaya, Sintya dan juga yang lainnya, mereka merasa khawatir karena melihat Fadil berada dibelakang Thian. Sementara Tony dan seluruh keluarga Chan, mereka bersorak kegirangan dan meledek Fadil yang tertinggal di belakangnya.
Namun, setelah melewati garis satu putaran tersebut, Fadil mulai mencoba untuk mendahului Thian. Saat melihat ada celah untuk mendahului, Fadil segera menambah kecepatan mobilnya. Melihat kalau Fadil akan mencoba untuk mendahuluinya, Thian segera menutup celah tersebut dengan membawa mobilnya secara zig-zag.
Meskipun disepanjang jalan tersebut ada lampu jalan sebagai penerangan, namun tidak semuanya bisa menerangi area tersebut. Bahkan, ada beberapa diantaranya yang kebetulan mati, sehingga lokasi tersebut cukup gelap. Ditempat inilah Fadil memanfaatkan kondisi tersebut, untuk mengecoh Thian yang selalu menutupi jalan untuk dia mendahului.
'' Apa apaan ini! kenapa dia mematikan lampu mobilnya.'' gerutu Thian dalam batin.
Di sudut jalan yang lumayan gelap tersebut, Fadil yang sejak tadi berada tepat dibelakang mobil Thian, dia segera membuat terobosan. Dia kembali menghidupkan lampu mobilnya, lalu bergerak seolah-olah dia akan masuk melalui sebelah kanan. Namun, begitu Thian mencoba menutupi jalur sebelah kanan, tiba tiba Fadil langsung membanting setir ke kiri.
Tian yang tidak menduga Fadil melakukan hal tersebut, dia terkejut saat tiba-tiba Fadil sudah berada disebelahnya. Melihat kalau Fadil sudah ada disebelahnya, diapun segera memepet mobil Fadil. Berkali-kali, Thian juga membentur-benturkan mobilnya ke mobil Fadil. Diapun berusaha, supaya mobil yang dibawa oleh Fadil bisa keluar dari badan jalan.
Hingga tinggal setengah putaran lagi, Thian masih terus berupaya untuk menyingkirkan mobil Fadil. Nampaknya, Thian memang telah merencanakan, agar mobil Fadil bisa keluar dari badan jalan dan terguling di jurang yang ada disebelah kanan ataupun kiri jalan.
Namun, rupanya Fadil masih bisa menguasai mobilnya, sehingga upaya Thian masih belum berhasil. Andaipun tadi Fadil tidak bisa menyusul Thian, maka Thianpun sudah merencanakan agar Fadil bisa berada disebelahnya. Sehingga dia berkesempatan untuk mencelakakan Fadil, dengan cara menggulingkan mobil Fadil.
Hingga ketika mereka hampir sampai disebuah tikungan yang cukup tajam, Thian berusaha semakin keras lagi mendorong mobil Fadil agar keluar jalur. Karena hanya tinggal satu tikungan pertigaan lagi menjelang garis finis, Fadil semakin menambah kecepatan mobilnya. Begitupun dengan Thian.
Namun, karena Thian lebih terfokus untuk mencelakakan Fadil, dia akhirnya tertinggal dibelakang. Fadil tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah melewati tikungan yang cukup tajam tadi, dia kembali menambah kecepatannya. Beberapa ratus meter lagi, ada tikungan pertigaan dengan sudut 90 derajat.
Fadil dengan penuh persiapan dan perhitungan, dia akan segera melewati tikungan tersebut. Namun, Thian dengan cepat pula mengejar. Karena merasa tinggal sekarang inilah kesempatannya, Thian dengan sekuat mungkin, dia akan mencoba membenturkan mobilnya ke mobil Fadil.
__ADS_1
Menyadari kalau Thian sudah bersiap untuk membenturkan mobilnya dengan sekuat mungkin, Fadil tiba-tiba mengerem secara mendadak dengan menggunakan rem tangan. Akan tetapi, Fadil tetap menginjak gas mobil tersebut sehingga mobil yang dibawanya jadi berputar-putar ditempat.
Sedangkan Thian yang tidak menduga Fadil akan melakukan hal seperti itu, dia menjadi terkejut. Dia sudah membanting setir sekuat mungkin, namun mobilnya hanya menemukan ruang kosong. Tak ayal lagi, karena dalam kondisi kecepatan penuh dan ditambah lagi dengan kondisi jalan yang tidak terlalu lebar, mobil yang dikendarai oleh Thianpun jadi nyelonong keluar dari badan jalan.
Walaupun masih sempat mengerem, namun upayanya tidak bisa membuat mobilnya tak terjatuh di jurang sisi jalanan. Meskipun jurang tersebut tidak begitu dalam, namun mobilnya terus bergulingan sampai akhirnya mobil itu menghantam sebuah pohon dalam posisi terbalik.
Beberapa teman genk Thian yang berada tak jauh dari tempat kejadian tersebut, segera berlari untuk melihat dan menyelamatkan Thian dari dalam mobil. Namun, upaya mereka telah lebih dahulu didahului oleh Fadil, yang sudah mengeluarkan Thian dan membawanya menjauhi mobil tersebut.
'' Boom'' tiba-tiba mobil Thian meledak.
Beruntung, Thian sudah tidak lagi berada didalam mobil tersebut. Andai tadi Fadil tidak segera mengeluarkan Thian dan menjauh dari sana, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada diri Thian. Karena Thian sudah tidak mungkin lagi untuk melanjutkan balapan tersebut, Fadil lalu menghampiri Thian.
'' Maaf bro! sepertinya kamu harus menerima kekalahan ini. Kamu tidak mungkin lagi melanjutkan perlombaan ini.'' ucap Fadil, lalu meninggalkan Thian yang masih tergeletak ditanah.
'' Hey! mau kemana kamu? aku belum kalah, kamu curang! kamu curang.'' teriak Thian.
Fadil hanya tersenyum menanggapi perkataan Thian. Namun, dia tidak menghiraukannya dan terus berjalan menuju mobilnya. Setelah masuk kedalam mobil, Fadil langsung membawa mobilnya dengan santai hingga sampai di garis finis.
Disaat terdengar ledakan tadi, Tony dan keluarga Chan merasa gembira. Mereka mengira, kalau ledakan tadi adalah bunyi ledakan dari mobil Fadil. Namun, saat melihat mobil yang datang adalah mobil Fadil, mereka menjadi terkejut. Mereka juga terus menunggu kedatangan mobil Thian. Namun, hingga berapa lama, mobil yang mereka tunggu tidak juga muncul.
Sintya, Tiara, dan Arya Wijaya, serta yang lainnya, tentu saja merasa gembira dengan kemunculan Fadil tersebut. Mereka segera menghambur menyambut kedatangan Fadil. Dengan penuh rasa haru dan bahagia, mereka segera memeluk Fadil. Hal itu tentu saja membuat keluarga Chan, merasa sakit hati. Terutama Mei Ling Ling dan keluarganya.
'' Hey kamu! kamu pasti telah berbuat curang! mana mungkin Thian bisa kalah darimu. Sekarang, dimana Thian cucuku?'' ujar Mei Ling dengan emosi.
'' Alex, lihat bagaimana cucumu! Dia pengecut dan main curang. Kakek dan cucu memang sama saja!'' lanjutnya.
Baik Arya Wijaya maupun keluarganya, mereka hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Mei Ling. Mereka tahu, apa yang dikatakan oleh Mei Ling hanyalah ungkapan kekecewaan hatinya atas kekalahan mereka tersebut.
'' Tony, ingat perjanjian kita. Kamu sudah kalah. Kamu tidak boleh lagi mengusik keluargaku.'' ucap Arya Wijaya, sambil meminta surat perjanjian antara dia dan keluarga Chan.
Meskipun Tony merasa tidak puas dengan hasil yang diperoleh, namun dia juga tidak bisa mengelak dan harus memberikan surat perjanjian tersebut. Arya Wijaya, usai menerima surat perjanjian itu, dia lalu menuju mobilnya untuk kembali ke hotel bersama yang lainnya.
'' Tunggu! kalian tidak bisa seenaknya pergi meninggalkan tempat ini!'' ujar Thian yang sedang ditandu oleh teman-temannya.
'' Teman-teman! beri mereka pelajaran.'' perintah Thian kepada teman-teman genknya.
Mendapatkan perintah dari Thian untuk menyerang Fadil dan yang lainnya, teman-teman genk Thian langsung menghambur untuk menyerang mereka. Namun, tanpa di perintah, Ulil beserta Liu Feng serta yang lainnya, langsung menghadang mereka sehingga terjadilah perkelahian antar genk keduanya.
'' Tiara, kakek, juga semuanya, ayo cepat! segeralah kalian masuk kedalam mobil'' pinta Fadil kepada mereka.
Arya Wijaya dan yang lainnya, segera masuk kedalam mobil. Setelah memastikan semuanya dalam kondisi aman, Fadil lalu berbalik untuk membantu Ulil dan Liu Feng yang sedang bertarung melawan teman-teman Thian.
__ADS_1
...****************...