
Di sebuah persimpangan dari jalan lintas Sumatera, Fadil membelokkan arah motornya, memasuki wilayah kota Baturaja. Berkeliling keliling dijalan kota yg cukup padat dengan kendaraan tersebut, tanpa ada tujuan mau kemana, ataupun mau apa.
Sampai pada akhirnya, dia menghentikan motornya, didepan sebuah warung makan masakan padang yang ada disana. Mereka segera turun dan memesan makanan, karena cacing dalam perut mereka sudah meronta-ronta minta makan.
Fadil memesan nasi dengan lauk rendang dan cincang kesukaannya, serta es teh manis sebagai minumannya. Sementara Ulil, memesan nasi dengan lauk ayam opor dan gurame asam pedas, serta es teh manis juga sebagai minumannya. Karena siang ini, cuacanya juga cukup panas. Sehingga memesan minuman dingin adalah solusi yang tepat untuk menyegarkan tenggorokan mereka.
Usai mengisi perut mereka, sambil menunggu nasi yang belum turun dalam perut mereka, Fadil dan Ulil menyalakan sebatang rokok, sambil sesekali mengobrol ringan. Pikiran Fadil masih terasa galau. Tatapan matanya, seringkali terlihat kosong.
Ulil menatap wajah Fadil yang tampak lesu. Ulil merasa, saat ini Fadil sangat berbeda dari biasanya. Fadil yang bagi Ulil adalah orang yang sangat menyebalkan, sekaligus menyenangkan dengan berbagai candaan usilnya, yang terkadang juga, tiba-tiba sangat bijaksana disaat-saat sedang menghadapi hal yang serius. Hatinya merasa benar-benar sedih, seakan-akan Ulil dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Fadil saat ini.
Walaupun dalam obrolan mereka, Fadil masih sempat tersenyum. Namun senyumnya terasa hambar, bahkan lebih pantas disebut getir.
Setelah membayar makanannya ditempat kasir, Fadil mengajak Ulil untuk melanjutkan perjalanan. Ulil ingin memberikan uang untuk membayar makanan dan minuman yang dia pesan, namun Fadil menolak. Fadil mengatakan, kalau dia yang mentraktirnya sebagai ucapan rasa terimakasih, karena sudah menemaninya. Fadil juga membeli dua bungkus rokok, dan memberikan sebungkus untuk Ulil, yang kebetulan rokoknya sudah habis.
Fadil dan Ulil keluar dari pintu warung makan, kemudian kembali menaiki motornya. Saat motor yang mereka kendarai sudah berjalan di jalanan kota, Ulil kemudian bertanya:
'' Sekarang kita kemana mas Fadil?''
'' Kita pulang aja Lil.., rasanya aku capek banget.'' sahut Fadil.
Dalam hati, Ulil juga merasa setuju dengan apa yang dikatakan oleh Fadil.
Namun, baru beberapa meter mereka berjalan, terdengar suara adzan dzuhur. Karena sudah masuk waktunya untuk sholat dzuhur, merekapun berhenti untuk melaksanakan sholat dzuhur, di sebuah Masjid yang tak jauh dari posisi mereka berkendara.
Setelah memarkirkan motornya, Fadil dan Ulil pergi ketempat wudhu. Kemudian masuk kedalam Masjid, untuk melaksanakan sholat dzuhur berjamaah di Masjid tersebut.
Usai melaksanakan sholat dzuhur berjamaah, Ulil keluar dan duduk di teras Masjid, menunggu Fadil yang masih ada didalam. Dari balik kaca jendela Masjid yang transparan itu, Ulil dapat melihat Fadil yang sedang melakukan sholat Sunnah.
Dalam sujud pada rokaat terakhirnya, Fadil bersujud sangat lama dan tidak seperti biasanya. Andai saja Ulil tidak tahu suasana hati Fadil saat ini, pastinya saat Fadil keluar dari Masjid nanti, Ulil akan mengatakan dengan usilnya:
'' Mas Fadil, tadi itu, mas Fadil sujud apa tidur? kok lama banget.''
Namun Ulil sadar, kalau suasana hati Fadil saat ini benar-benar sedang tidak baik. Untuk itu, diapun hanya menyimpan ide usilnya tersebut didalam hati.
Beberapa saat kemudian, motor yang mereka kendarai telah keluar dari jalanan kota. Menelusuri kembali jalanan lintas, yang terkadang jalanan itu menanjak, menurun, dan juga ada beberapa tikungan-tikungan tajam, bahkan diantaranya juga ada beberapa tikungan ganda.
Dalam perjalanan pulang itu, awalnya Fadil membawa motornya dengan kecepatan yang sama, seperti saat dia berangkat. Namun setelah setengah perjalanan, secara tak sadar kecepatannya terus bertambah. 30 km, 40 km, 70 km, dan akhirnya mencapai kecepatan 90 km/jam.
__ADS_1
Saat berada di tikungan, Fadil dengan lihainya membawa motor itu laksana seorang pembalap professional. Tanpa mengurangi kecepatannya, dia terus melaju mengikuti alur jalan tersebut. Hingga di sebuah jalan yang panjang dan lurus, setelah melewati sebuah tikungan, Fadil kembali menambah kecepatannya hingga hampir mencapai kecepatan 130 km/jam.
Di depannya, sebuah mobil truk tanpa muatan, sedang melaju dengan cepat. Debu-debu berterbangan keluar dari bak mobil truk tersebut. Fadil dengan jarak aman berada dibelakangnya.
Namun, debu-debu dari bak mobil truk tersebut, cukup mengganggu konsentrasi Fadil yang berada dibelakangnya. Hingga akhirnya, Fadil kemudian menggeser posisinya masuk ke tengah badan jalan. Menyalakan lampu sein kanan, memberikan kode kepada sopir mobil truk itu, kalau dia akan menyalipnya.
Dari kaca spion, sopir mobil truk itu sudah melihat kode dari motor yang dikendarai Fadil. Namun sopir mobil truk itu tidak mengurangi kecepatan maupun menggeser posisinya yang memang agak ke tengah badan jalan, untuk memberikan ruang kepada kendaraan yang ada dibelakangnya.
Tanpa disadari, jalan lurus itu sudah hampir berada di pengunjungnya. Di depan sana, ada sebuah tikungan ke arah kiri. Motor yang dikendarai Fadil, sekarang dalam posisi beriringan dengan bak mobil truk tersebut.
Tiba tiba, dari arah tikungan yang ada didepannya, muncul sebuah mobil innova yang melaju dengan cepat juga. Pengemudi mobil innova itu terkejut, begitu juga dengan Fadil. Posisi keduanya sangat-sangat berbahaya.
Mobil Innova yang ada didepannya langsung memberikan tanda terus menerus, mengedipkan lampu tembaknya, mengingatkan agar Fadil segera menggeser posisinya.
Fadil pun menyadari posisinya yang sangat berbahaya, namun dia juga tahu, tidak mungkin untuk menggeser posisinya, mengingat jarak antara motornya dengan bak samping truk tersebut sudah terlalu sempit.
Dalam situasi yang kritis itu, baik Fadil maupun pengemudi mobil innova, keduanya sama-sama panik. Bahkan Ulil yang menyadari keadaan tersebut lebih panik lagi. Wajahnya pucat, dalam hatinya dia berkata:
'' mungkin inilah akhir hidupku.''
Dalam kepanikan itu, Fadil segera berfikir. Lalu mencari solusi, agar bisa terlepas dari keadaan kritis tersebut. Matanya menatap tajam kedepan, seperti sedang menghitung kecepatan mobil yang ada didepannya, sekaligus menghitung jarak dan waktu titik temu antara dia, mobil truk, dan mobil innova yang ada didepannya, lalu kemudian dia bergumam:
Dengan posisi dan kecepatan ke 3 kendaraan tersebut, sudah dapat dipastikan, disaat titik temu ketiganya, maka Fadil akan terjepit di tengah-tengah dua mobil tersebut. Dan dapat dipastikan juga, bahwa nyawa Fadil dan Ulil tak akan bisa diselamatkan.
Dalam perhitungan Fadil, untuk bisa keluar dari kondisi kritis tersebut, jika dia mengurangi kecepatan secara tiba-tiba, maka dia akan terjatuh mengingat kecepatan motor yang dikendarainya itu sudah terlalu cepat. jika dia terjatuh kearah kiri, maka dia akan terlindas dan terseret oleh mobil truk yang ada disampingnya.
Jika jatuhnya kearah kanan, maka diapun akan tertabrak dan terlindas oleh mobil innova yang ada didepannya. Sedangkan jika dia mengerem dengan perlahan, itu juga sudah terlambat, dia akan tetap terjepit oleh kedua mobil itu.
'' Lil.., pegangan!'' seru Fadil tiba-tiba.
Ulil yang memang telah pasrah dan wajahnya pucat pasi itu, mendengar teriakan Fadil merasa terkejut, secara reflek dia juga mengikuti perintah Fadil.
Tadinya Ulil memang sudah berpegangan. Kedua lengannya melingkar erat di perut Fadil. Namun, teriakan Fadil membuatnya semakin menambah erat pegangannya, seakan dia merasa akan terjatuh. Saking eratnya, sampai-sampai membuat Fadil merasa sesak napas dibuatnya.
Disaat Fadil berteriak itu, Fadil tiba-tiba menarik penuh gas motornya hingga benar-benar mentok. Secara otomatis, kecepatan motor CBR yang dikendarainya itu terus bertambah.
Dengan cepat, jarum speedometer motor Fadil terus merangkak naik melewati angka 160 km/jam dan terus naik.
__ADS_1
Terdengar suara raungan dari knalpot motor Fadil yang kian mengeras. Suaranya benar-benar memecahkan gendang telinga, bagi orang yang mendengar didekatnya.
'' Ngoouuuungg.., wush.., wush.''
Tepat 2 detik sebelum titik temu Ketiga kendaraan itu, motor yang dikendarai Fadil, melaju melewati kepala mobil truk, kemudian masuk di depan jalur mobil truk tersebut, sekaligus menghindari tabrakan dengan mobil innova yang datang dari arah depannya.
'' Deg.'' disaat yang bersamaan, sopir truk, sopir innova, dan juga Fadil, merasakan debaran jantung yang sama.
Nol koma sekian detik saja, jika Fadil terlambat ataupun salah perhitungan, maka kecelakaan yang melibatkan Ketiga kendaraan itu sudah pasti terjadi.
Disaat saat kritis tersebut, Ulil tidak tahu apa yang terjadi. Matanya sedari tadi terpejam, dia sudah pasrah menunggu detik-detik pergi nyawanya dari badannya.
Beberapa saat kemudian, saat menyadari tidak terjadi apapun seperti yang ada didalam pikirannya, Ulil membuka mata. Walaupun masih dalam suasana hatinya yang tegang, Ulil menghirup napas lega, namun tiba tiba.
'' Cuiiiiittt... bruaaak.''
...****************...
Pada saat yang sama ditempat yang berbeda.
Tiara baru saja selesai mencuci peralatan makan. Dia membawa setumpuk piring yang sudah dia cuci untuk diletakkan di rak piring.
'' Craaank.''
'' Innalilahi, A Fadil.'' tiba-tiba Tiara bergumam, tanpa sadar mulutnya menyebutkan nama Fadil.
'' Tiara..,apa-apaan sih kamu?''
Bu Lilis yang mendengar suara piring pecah, segera mendatangi sumber suara. Dia mendapati Tiara sedang memunguti pecahan piring yang berserakan dimana-mana. Yunita dan Vita yang sedang berada didalam kamar, langsung keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Pak Syahroni yang baru saja pulang dari tempat saudaranya, juga ikut berdiri dibelakang bu Lilis, yang masih berdiri di depan pintu ruang makan sambil memarahi Tiara.
'' Kalau kerja itu hati-hati!, jangan sambil melamun.'' lanjut bu Lilis dengan agak emosi.
Tiara yang sedang memunguti pecahan piring, tanpa sengaja jarinya tergores oleh pecahan piring tersebut. Jarinya yang tergores dan berdarah itu, segera dia kulum di mulutnya, untuk menghentikan darahnya.
Bu Lilis segera mengambil sekop sampah, mengumpulkan pecahan-pecahan piring itu, dengan sapu dan memasukkannya kedalam keranjang sampah. Melihat banyaknya piring yang pecah, bu Lilis terus mengomeli Tiara.
'' Marah ya marah Tiara!, tapi jangan juga piring yang kamu pecahin sebagai pelampiasannya, kamu maunya apa sih?'' Bu Lilis sambil menatap Tiara.
__ADS_1
'' Bu.., sudah, sudah!'' pak Syahroni menenangkan istrinya.
...****************...