Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Batuknya kok Berjamaah


__ADS_3

Lelaki tua itu begitu ketakutan. Dia mengira, kalau Fadil sedang menodongkan pistol di kepalanya. Pistolnya yang telah kehabisan peluru itu, segera dia jatuhkan ke lantai. Dia juga terkejut karena ternyata tiba-tiba Fadil sekarang sudah berada disampingnya.


'' Andai saya mau, saya bisa saja membunuhmu pak tua. Tapi, saya bukan orang sepertimu. Yang demi secuil harta dan jabatan, mau melakukan apa saja. Bahkan, sampai harus menghilangkan nyawa seseorang.''


'' Bb.. Bagaimana bisa kamu tiba-tiba ada disini, bukankah tadi kamu berdiri disana? Dan kenapa perkataanmu tadi jadi kenyataan? apa kamu itu jelmaan malaikat?'' tanya pak tua itu dengan gemetaran.


'' Menurutmu, apakah aku terlihat seperti malaikat?'' Tanya Fadil sambil menurunkan jari tangannya, lalu berjalan didepan lelaki tua tersebut.


Lelaki tua itu memandang Fadil dengan seksama. Dia kemudian bernapas dengan lega. Namun, dari raut wajahnya dia masih tampak bingung dan ketakutan.


'' Pak tua! Tolong jawab dengan jujur. Siapa orang yang menyuruh anda untuk membunuh saya?'' tanya Fadil sambil berdiri didepan orang tua tersebut.


'' Tidak ada, tuan muda. Tidak ada orang yang menyuruh saya untuk membunuhmu. Semua ini saya lakukan, karena saya tidak suka kalau nanti kamu menjadi pesaingku.'' ucap orang tua itu, masih mangkir.


'' Pak tua! Tidak usah mangkir lagi. Saya tahu, kalau anda sedang berbohong.''


'' Tidak tuan muda. Saya tidak berbohong! Saya memang melakukan itu, atas keinginan sendiri.'' ujarnya masih terus mencoba untuk menutupi hal yang sebenarnya.


'' Baiklah! karena anda tidak mau ngaku secara jujur, jangan menyesal karena apa yang anda takutkan akan terjadi.''


'' Saya tahu, sebenarnya anda itu diperintahkan oleh seseorang. Saya juga tahu, anda merasa takut kalau hal ini sampai anda bocorkan, orang yang menyuruh anda akan membunuh anda bukan?''


'' Tapi tak apa, kalau anda tidak ingin mengatakan semuanya. Hanya saja, seperti yang saya katakan tadi! besok pagi, apa yang anda khawatirkan akan benar-benar terjadi. Anda akan kehilangan semua yang anda miliki. Anak, istri, rumah, kendaraan, dan juga jabatan anda. Semuanya akan hilang dan kembali pada titik nol, dimana anda pertama kali datang ke ibukota ini.'' ucap Fadil, lalu berjalan kearah pintu untuk pergi meninggalkan rumah tersebut.


Didalam hati lelaki tua itu, sebenarnya dia merasa takut. Dia khawatir, kalau kali inipun, ucapan Fadil akan kembali terbukti. Namun, dia sendiri juga tahu. Jika sampai dia membocorkan rahasia tersebut, maka dia juga akan kehilangan semuanya, termasuk juga nyawanya. Maka dari itu, dengan sangat terpaksa, diapun tetap menutupi hal yang sebenarnya. Berharap, ucapan Fadil kali ini tidak menjadi nyata.


'' Oh iya pak tua! Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan kepada anda. Jika..''


'' Cukup! cukup tuan muda. Tolong jangan berkata apa-apa lagi tentang saya. Apa yang barusan tuan muda katakan tadi, jika itupun terbukti menjadi kenyataan, itu sudah lebih dari sekedar membunuh saya. Jadi, tolong pergilah! dan jangan bicara apa-apa lagi. Please..!'' pinta lelaki tua itu dengan nada memohon.


'' Hemm.. ya sudah kalau begitu! Sebenarnya, saya ingin menyampaikan hal baik kepada anda. Tapi, karena anda sendiri tidak mau, saya juga tidak perlu repot-repot menyampaikannya.'' ujar Fadil, lalu kembali berjalan menuju pintu.


Baru selangkah Fadil berjalan, lelaki tua itu langsung bangkit dari duduknya, dan berjalan dengan cepat mendekati Fadil. Sambil berjalan, lelaki tua itu kemudian berkata:


'' Tunggu tunggu tunggu! apa tadi kamu bilang? kabar baik? kabar baik apa yang ingin kamu sampaikan. Coba tolong katakan sekarang!'' ujar lelaki tua itu, meminta Fadil menyampaikan kabar tersebut.


'' Hemm.. Tadi bilangnya saya tidak boleh bicara apa-apa lagi. Giliran tau hal baik yang ingin saya sampaikan, malah melarang saya cepet-cepet pergi. dasar! kelakuan.'' celoteh Fadil, kemudian berniat kembali berjalan.


'' Iya iya maaf! lagian, siapa juga yang nggak mau mendengar kabar baik.'' ujar orang tua itu sambil cengar-cengir.


Melihat ekspresi lelaki tua itu yang begitu lucu, Fadil jadi terkekeh. Sebenarnya, apa yang sudah dilakukan oleh lelaki tua itu kepadanya, sudah membuat dia merasa geram dan ingin sekali menghajarnya. Namun, karena menurutnya lelaki itu begitu lucu, baik dari segi penampilan maupun cara bicaranya, dia jadi merasa tidak tega untuk melakukannya.


Fadil jadi teringat pada salah satu teman kostnya, saat dulu dia masih sekolah. Kalau diperhatikan dengan baik, lelaki tua ini begitu mirip dengan temannya tersebut. Hanya saja, umur keduanya itulah yang membedakan mereka.


'' Hhh... pak tua pak tua. Anda ini, benar-benar ya! Masih tua juga, suka nyebelin. Hhh..''


'' Sudah tua tuan muda, bukan masih tua.'' ujar lelaki itu dengan nada lemah, lalu cemberut.


'' Hhh.. ya ya ya. Sudah tua sudah tua, maaf maaf!'' Fadil kian terkekeh setelah melihat lelaki tua itu cemberut.

__ADS_1


'' Kalau boleh saya tebak, bapak ini pasti orang Tegal ya?'' tanya Fadil sambil tersenyum.


'' Kok tuan muda bisa tahu! apa sebenarnya tuan muda ini seorang peramal, atau jelmaan malaikat sih? kenapa banyak hal yang tuan muda ketahui.'' tanya lelaki tua itu.


'' Hhh.. pak pak! Anda ini, makin ngaco aja. Pakek bilangin saya jelmaan malaikatlah, ya peramallah, entah apalagi nantinya.''


'' Kalau cuma nebak bapak orang mana, kan bisa di liat dari aksen bicara bapak. Jadi, gak perlu harus jadi seorang peramal. Lagian pak, para peramal itu kebanyakan mereka dibantu oleh jin. Dan orang yang suka minta tolong sama jin, mereka tidak akan bisa masuk surga. Ya.. seperti yang biasa bapak lakukan, betulkan?''


Ketika Fadil berkata seperti itu, lelaki tua itu bukannya merasa menyesal, dia malah cengar-cengir tidak karuan. Dia kemudian berkata:


'' Tapikan, para peramal itu sering kali benar dengan apa yang dikatakannya.'' ujar lelaki tua itu.


'' Haish.. Cuma kebetulaan.., dan tidak selalu benar.'' sahut Fadil, lalu dia hendak kembali berjalan.


'' Hey tunggu tunggu! kamu belum bilang apa tadi hal baiknya. Ayo cepat! katakan apa itu?'' perintah lelaki tua tersebut.


'' Jadi, mau tahu nih berita baiknya?'' ujar Fadil kembali bertanya.


'' Ya iyalah! Dari tadi juga, saya sudah nungguin. Ayo cepetan ngomong!''


'' Hhh.. Bapak ini, masih tua juga, gak sabaran banget!''


'' Hallah, malah ngomong masih tua lagi, masih tua lagi! dasar bocah semprul.'' ucap lelaki tua itu dengan greget.


'' Hhh.. iya iya iya. Saya ngomong saya ngomong. Hhh..''


'' Jadi begini pak tua! Oh iya siapa namamu itu pak tua?'' tanya Fadil sebelum melanjutkan perkataannya.


'' Frangky'' jawab lelaki tua tersebut.


'' Frangky? Frangky apa Darso?'' tanya Fadil tidak yakin kalau orang tua itu bernama Frangky.


'' Frangky tuan muda.'' jawab lelaki tua itu lagi.


'' Frangky apa Darso, no.'' Fadil kembali bertanya kepadanya.


'' Darsono Darsono! jawab lelaki tua itu akhirnya mengakui nama aslinya.


'' Kalau udah tau nama saya, ngapain juga nanya nanya. Malah sedari tadi, panggilnya pak tua lagi! pak tua lagi!'' gerutu lelaki tua itu dengan kesalnya.


' Hhh.. Salah bapak sendiri lah, ngapa tidak bilang dari awal kalau bapak punya nama. Habis itu juga, bapak orangnya tidak jujur. Dan satu lagi pak ya, anda itu gak pantes banget jadi orang jahat. Soalnya, anda itu terlalu lucu. Hhh..'' ujar Fadil kembali terkekeh.


'' Sialan, dasar bocah semprul! Orang tua kok dibilang lucu. Emangnya, saya ini dakocan apa?'' jawab lelaki tua yang bernama Darsono itu.


'' Jadi begini pak Darsono. Bapak boleh percaya, boleh juga tidak. Tapi saya kasih tau ya! Besok pagi, anda akan benar-benar kehilangan semuanya. Tapi, yang perlu bapak ketahui dan bapak ingat! Sebenarnya, istri muda bapak itu sudah bersuami sebelum menikah dengan bapak. Bahkan, dia dan suaminya juga belum bercerai.''


'' Kemudian, anak laki-laki yang bapak akui dan bangga-banggakan itu, yang sekarang akan dihukum mati, dia juga bukan anak kandung bapak. Anak kandung bapak yang sebenarnya, dia sekarang telah bertemu dan bersama ibunya, yaitu istri bapak yang sudah bapak ceraikan beberapa tahun yang lalu. Mereka sekarang hidup tenang di kampungnya di daerah Tegal sana, di daerah asal bapak.''


'' Kalau bapak mau saya kasih saran, sebaiknya bapak kembali rujuk dengan istri bapak dan hidup bersama mereka disana. Insyaallah, hidup bapak akan lebih tentram dan jauh dari kemaksiatan seperti sekarang ini.''

__ADS_1


'' Rumah ini, dan semua yang bapak miliki sekarang, besok akan disita atas perintah orang yang menyuruh bapak untuk membunuh saya.''


'' Oh iya, satu lagi saran dari saya. Bapak jangan coba-coba untuk kabur, dan membawa apapun bentuk kekayaan yang sekarang ada pada bapak saat ini. Terkecuali, bapak sudah tidak sayang lagi terhadap nyawa bapak sendiri. Untuk alasannya, saya yakin bapak sudah tahu sendiri kenapanya.'' ujar Fadil kepada pak Darsono.


Lelaki tua yang bernama Darsono itu terdiam. Dia benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sepertinya, apa yang barusan Fadil katakan, semuanya benar-benar masuk di akal.


Dia teringat, kalau istri mudanya itu memang terkadang sering bersikap aneh sejak dia menikah dengannya. Namun, dia juga tidak terlalu perduli. Karena baginya, selama tidak ada bukti kalau istri mudanya itu melakukan hal yang tidak wajar, juga selama dia bisa menyenangkan hatinya, dia akan tetap menganggap istri mudanya itu sebagai istrinya. Hanya saja, sayangnya dia barusan melihat istrinya telah membohonginya, saat melihat berita di tv tadi.


Dia juga memang merasa sedikit aneh, dengan anak laki-laki yang selalu dia bangga-banggakan tersebut. Selain wataknya, secara fisik, dia tidak mirip sama sekali dengannya ataupun dengan istrinya. Namun, karena dia tidak berpikir kalau itu bukan anak kandungnya, diapun tidak pernah mencari tahu hal yang sebenarnya.


Fadil segera keluar dari rumah mewah tersebut. Setelah mengamati suasana disekitarnya, tiba-tiba Fadil berubah menjadi cahaya. Cahaya itu langsung melesat di angkasa, dan pergi meninggalkan pak Darsono yang masih termenung seorang diri.


Paginya, seperti yang Fadil katakan. Saat pak Darsono baru bangun dari tidurnya, dia didatangi oleh seorang pengacara dan juga beberapa orang polisi. Mereka membawa surat pernyataan, kalau rumah dan seluruh aset miliknya disita. Dia juga menerima telepon dari seseorang yang mengatakan kalau dia diberhentikan dari jabatannya di perusahaan tempat dia bekerja.


Dia juga mendapatkan ancaman dari seseorang, agar tidak berbuat sesuatu persis seperti yang dikatakan oleh Fadil tadi malam. Kini, terbukti sudah. Apa yang dikatakan oleh Fadil, semuanya benar-benar terjadi.


Dengan tubuh lesu dan penuh kesedihan, Darsono akhirnya keluar dari rumah mewah yang dia tinggali selama ini. Dia juga terpaksa harus meninggalkan semua kekayaan miliknya, dan hanya membawa beberapa helai pakaian serta beberapa lembar uang untuk ongkosnya pulang kampung dan untuk makan beberapa hari.


Kini, berakhir sudah kejayaan yang pernah dia rasakan. Tak ada lagi rumah megah, mobil mewah, dan istri muda dan cantik yang selalu dia bangga-banggakan. Semuanya telah sirna dalam waktu yang begitu singkat.


Dalam kesedihannya, dia kembali teringat akan pesan-pesan dari Fadil. Agar dia kembali ke kampung halamannya di Tegal. Menemui anak dan istrinya dan kembali rujuk dengannya, serta hidup disana bersama mereka.


...----------------...


Sementara itu. Setelah tubuhnya berubah menjadi cahaya, Fadil langsung kembali ke pesantren. Setibanya dia disana, diapun langsung menuju asrama laki-laki dimana kamarnya berada. Semua santri yang tadi masih berjaga di area tenda, kini telah tertidur dengan lelapnya.


Setelah masuk kedalam kamar, diapun melihat kalau teman-temannya juga sedang tertidur pulas. Karena masih ada waktu untuk beristirahat sebelum datangnya waktu subuh, diapun segera tidur bersama dengan teman-temannya itu di kamar tersebut.


Tidak berapa lama kemudian, adzan subuh segera berkumandang. Fadil segera bangun dan membersihkan tubuhnya, bergantian dengan yang lain. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, dia dan juga teman-temannya, segera menuju masjid untuk menunaikan shalat subuh berjamaah disana.


'' Ehm ehm.'' salah seorang diantara mereka, berpura pura batuk ketika mereka bertemu Zul didepan pintu masjid.


'' Ehm..ehm..'' sahut yang lainnya, juga ikut berpura pura batuk.


'' Eh, kalian pada kenapa sih? kok bisa barengan pada batuk begitu?'' ucap Zul yang berpura-pura tidak mengerti maksud dari batuk mereka.


'' Kang Fadil, kenapa mereka kang? perasaan, kemarin mereka baik-baik saja!'' lanjut zul, bertanya kepada Fadil.


'' Oh..itu! Mungkin karena semalam kang Zul.'' jawab Fadil asal.


'' Lho, emangnya semalam pada ngapain kang?'' tanya Zul.


'' Ya mereka sih, tidak ngapa ngapain kang. Tapi, kang Zul yang.. Eh, maksud saya! Semalam kan kang Zul yang bawain kue sama minuman. Mungkin, saat makan kue dan minum minuman itu, mereka lupa baca basmalah kang! Jadi mereka pada keselek, iya nggak teman-teman?'' ujar Fadil hampir keceplosan, dengan mengatakan kalau sebenarnya Zul lah yang semalam habis ngapain.


Mendengar jawaban Fadil itu, teman-teman sekamar mereka jadi tersenyum geli. Mereka juga langsung mengangguk, dan mengiyakan tentang alasan yang dibuat oleh Fadil tersebut.


'' Oh.. gitu!'' ucap Zul, seakan-akan percaya akan alasan yang dibuat oleh Fadil, lalu segera masuk kedalam masjid, dan segera diikuti oleh Fadil dan yang lainnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2