Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Takut Hantu


__ADS_3

Usai mengurusi segala urusan dikantor tersebut, Arya Wijaya, Fadil, juga beberapa orang keluarga Chan, mereka segera kembali ke hotel. Sementara Mei Ling dan beberapa keluarga Bao, mereka kini harus menanggung akibat dari perbuatan mereka.


Kini seluruh aset milik keluarga Chan, telah kembali kepada mereka. Tony dan seluruh keluarga Chan, sangat berterimakasih kepada Arya Wijaya. Walaupun demikian, pembekuan aset mereka belum bisa dibuka hari ini, dan baru bisa dibuka esok harinya.


Namun demikian, Tony dan keluarga Chan sudah sangat bersyukur, karena seluruh aset milik mereka sudah terselamatkan dan tetap menjadi milik mereka. Ya walaupun mereka juga harus menanggung kerugian yang tidak sedikit, akibat pembekuan aset tersebut.


'' Kak Arya, bisakah kakak kembali ke keluarga Chan dan menjadi pemimpin kami. Saya sekarang sadar, memang saya tidak memiliki kemampuan seperti kak Arya Wijaya.'' ujar Tony dan diikuti oleh seluruh keluarga Chan, yang mendukung permintaan Tony kepada Arya Wijaya.


'' Maaf Tony! walaupun saya bisa kembali ke keluarga Chan, tapi saya tidak bisa menerima untuk menjadi kepala keluarga kalian.''


'' Saya sendiri sudah ingin pensiun, dan mewariskan segala urusan bisnis saya kepada Nadia. Jadi, mana mungkin saya bisa menerima hal tersebut.'' jawab Arya Wijaya.


'' Saya juga sudah tua kak. Ditambah lagi, saya juga merasa sudah tidak pantas menjadi pemimpin keluarga ini.''


'' Bagaimana kalau kepemimpinan keluarga Chan, kami serahkan juga kepada Nadia?'' ujar Tony.


'' Tidak tidak! Nadia tidak mau jadi kepala keluarga kalian. Membayangkan harus menjadi pemimpin perusahaan milik kakek saja, Nadia rasanya sudah kayak enggak kuat.'' sahut Nadia langsung menolak tawaran tersebut.


'' Lalu, siapa lagi yang pantas jadi pemimpin kami, jika bukan dari keluarga kalian?'' tanya Tony.


'' Betul kak! Selain keluarga kak Arya sebagai keluarga tertua, kak Arya juga sudah menjadi penyelamat keluarga ini. Jadi menurut kami, keluarga kak Aryalah yang lebih pantas menjadi kepala keluarga kita.'' sahut Amy Chan.


'' Tidak Tony, Amy! Kita memang tetap akan menjadi keluarga. Tapi, saya tidak ingin terlalu banyak ikut campur urusan keluarga Chan lagi. Sebaiknya, kalian cari kepala keluarga dari keluarga kalian saja!'' ucap Arya Wijaya, setelah mendengar Nadia menolak tawaran untuk menjadi kepala keluarga Chan.


'' Fadil, bagaimana menurutmu? siapa yang pantas menjadi kepala keluarga Chan kami. Saya melihat, kalau pendapatmu itu sering tepat dalam menilai sesuatu.'' tanya Tony, yang kini mulai mengerti akan kemampuan Fadil.


'' Maaf tuan! kalau menurut pendapat saya, benar seperti yang dikatakan oleh kakek. Sebaiknya, kalian mencari kepala keluarga diantara kalian sendiri.''


'' Dan sepertinya, yang lebih cocok untuk hal tersebut, kalian bisa memilih antara tuan Lin, atau Lian Chan.'' ujar Fadil, memberi masukan.


Setelah berpikir sejenak, Tonypun sepertinya dapat menerima usulan dari Fadil tersebut. Namun dia juga masih menanyakan hal tersebut kepada Arya Wijaya. Arya Wijayapun rupanya sependapat dengan Fadil. Tony lalu menanyakan pendapat dari keluarga Chan yang lain. Mereka juga ikut menyetujui pendapat Fadil tersebut.


'' Lin.. Bagaimana menurutmu, Bersediakah kamu atau putramu Lian untuk menjadi kepala keluarga kita?'' tanya Tony kepada Lin Chan dan juga Lian Chan putranya.


'' Tuan Tony, mungkin tidak ada salahnya jika kali ini, kita mencoba anak muda saja yang menjadi kepala keluarga. Seperti yang dilakukan oleh tuan Arya Wijaya!'' usul Lin Chan yang ingin agar posisi ini diserahkan kepada Lian Chan saja.


'' Maaf pa! Lian belum menikah. Bukankah aturan keluarga kita mengharuskan, agar siapapun yang menjadi kepala keluarga harus sudah menikah?'' ujar Lian.


'' Untuk itu, saya lebih setuju kalau papa saja yang menjadi kepala keluarga.'' lanjutnya.


Akhirnya, sesuai kesepakatan bersama keluarga besar Chan, merekapun sepakat. Kalau yang menjadi kepala keluarga dari keluarga ini adalah Lin Chan. Namun, jika nanti Lian Chan sudah menikah, maka baik Lin Chan maupun keluarga Chan yang lain, mereka ingin agar posisi itu diberikan kepada Lian.


Bagaimanapun juga, aturan harus sudah menikah untuk menjadi kepala keluarga ini, sudah berlaku sejak jaman nenek moyang mereka. Maka dari itu, meskipun mereka tau kalau Lian Chan adalah pemuda yang baik dan cerdas, mereka juga harus menghormati aturan tersebut, dan tidak memaksa harus Lian Chan yang menjadi kepala keluarga saat ini.


Karena sudah didapatkan keputusan, mengenai siapa yang akan menggantikan posisi Tony sebagai kepala keluarga, merekapun lalu segera keluar dari hotel tersebut, dan kembali ke apartemen milik Arya Wijaya tempat tinggal mereka untuk sementara.


'' Ma, pa, kakek. Sepertinya urusan kita disini sudah selesai. Sebaiknya kita segera kembali ke Jakarta.''


'' Saya dan Tiara juga harus segera kembali ke Baturaja, untuk mengecek persiapan pernikahan kami. Selain itu, kami juga sudah cukup lama meninggalkan orang tua kami disana.'' ujar Fadil saat setelah rombongan keluarga Chan pergi dari hotel tersebut.

__ADS_1


'' Kamu benar Fadil! Kita memang harus segera kembali. Sudah beberapa hari ini, saya juga sudah meninggalkan pekerjaan.''


'' Andika! kamu pesankan kita tiket pesawat. Sore ini juga, kita akan kembali ke Jakarta.'' sahut Arya Wijaya.


'' Iya pa, saya akan pesankan sekarang!'' jawab Andika, lalu segera mengeluarkan ponselnya untuk memesan tiket pesawat secara online.


Sore harinya, merekapun kembali ke Jakarta setelah membereskan semua urusan ditempat tersebut. Setelah sampai di Jakarta, Fadil dan Tiara menginap satu malam di kediaman Sintya. Dan paginya, Fadil dan Tiara berpamitan untuk kembali ke Baturaja. Sementara Ulil, dia langsung kembali ke hotel tempat dia bekerja, saat mereka sampai disana.


Meskipun sekarang Fadil tak lagi menggunakan jasad milik Alan, dan berada kembali pada tubuhnya sendiri, namun oleh Arya Wijaya dan keluarganya terutama Sintya, Fadil tetap diperlakukan seperti sebelumnya. Yaitu seperti saat Fadil masih menggunakan jasad milik Alan. Berbagai fasilitas milik keluarga Arya Wijaya ataupun milik Sintya, yang sebelumnya digunakan oleh Fadil, tetap diberikan kepadanya.


Setelah berpamitan kepada mereka semua, Fadil dan Tiara kembali ke Baturaja dengan membawa mobil milik Alan. Seperti saat sebelumnya, Arya Wijaya, Sintya, serta Andika juga Nadia, mereka berpesan kepada Fadil dan Tiara agar berhati-hati dijalan. Mereka juga berjanji akan datang ke Baturaja, sebelum hari pernikahan Fadil dan Tiara.


'' Ma, pa, kakek dan Nadia. Kami pergi dulu ya! Kalian jaga diri baik-baik.'' ucap Fadil saat mau memasuki mobilnya.


'' Iya nak. Kamu juga, hati-hati dijalan! Jangan lupa, jaga Tiara baik-baik!'' jawab Sintya setelah melepaskan Tiara dari pelukannya.


'' Insyaallah, kami akan datang beberapa hari sebelum hari pernikahan kalian.'' sahut Andika.


'' Kami pergi ma, pa, kakek, Nadia. Assalamualaikum.'' ucap Fadil, lalu membawa mobilnya pergi meninggalkan kediaman Andika dan Sintya, setelah Tiara masuk kedalam mobil.


'' Wa'alaikumsalaam warahmatullaah..'' Jawab Arya Wijaya dan yang lainnya bersama-sama.


'' Kak, jangan lupa! Kalau udah nyampe telepon.'' teriak Nadia saat mobil itu sampai dipintu gerbang rumah tersebut.


...----------------...


Waktu terus berjalan. Detik demi detik, menit, jam, hingga haripun terus berlalu. Tanpa terasa, tinggal beberapa hari lagi, Fadil dan Tiara akan melangsungkan akad nikah. Semua keperluan acara tersebut, sudah dipersiapkan dengan begitu baik oleh Hartono. Sepertinya, pesta pernikahan Fadil dan Tiara ini, akan menjadi pesta pernikahan yang paling megah, yang pernah dilakukan di kampung halaman tempat Fadil dan Tiara.


Dua hari menjelang pesta pernikahan antara Fadil dan Tiara, Arya Wijaya dan seluruh keluarganya telah datang di Baturaja. Mereka juga ikut mengecek segala persiapan pesta tersebut. Meskipun mungkin tidak semewah pesta pernikahan orang-orang kaya di kota, namun bagi orang kampung seperti dilingkungan tempat tinggal Fadil dan Tiara, ini sudah sangat mewah dan megah.


Dengan pemilihan lokasi yang luas, dekorasi yang cantik dan elegan, serta penataan baik panggung maupun tenda para tamu, semuanya jadi tampak begitu indah dan berkelas. Apalagi, letak panggung pelaminan dan panggung hiburan serta tenda para tamu itu, diletakkan disekitar danau kecil ditempat tersebut.


Untuk tempat makan para tamu, juga telah disediakan beberapa meja prasmanan disekitar danau. Sehingga, mereka bisa menikmati makanan tersebut di saung-saung yang ada diatas air tepian danau tersebut. Dengan begitu, para tamu akan bisa menikmati makanan, sekaligus sambil menikmati pemandangan disekitarnya.


'' Waah.. ma, kakek! tempat resepsinya sangat indah dan nyaman. Nadia juga mau, kalau Nadia menikah nanti bertempat dilokasi seperti ini!'' ujar Nadia, setelah turun dari mobil yang diparkirkan di lapangan bola, dan berjalan menuju tenda resepsi yang sedang dipersiapkan.


'' Iya ma, ini nuansanya natural banget. Lihat! Suasana dan pemandangan ditempat ini, begitu memanjakan pandangan mata.'' sahut Andika, terpesona dengan suasana ditempat tersebut.


'' Kamu udah pengen nikah?'' tanya Arya Wijaya kepada Nadia.


'' Bukan bukan kek! Nadia bukan pengen nikah. Nadia cuma terkesan dengan suasana disini.'' sanggah Nadia, mengelak prasangka Arya Wijaya.


'' Kalau kamu udah pengen nikah juga, ya gak papa Nadia. Kan kamu udah gede!'' sahut Sintya.


'' Iih.. mama! kok jadi ikut-ikutan kakek sih! Nggak ma nggak ma! Mama jangan salah paham sama Nadia deh!'' jawab Nadia sambil melambai-lambaikan tangannya.


Arya Wijaya, Sintya, Andika dan juga Hartono, mereka terkekeh melihat Nadia yang seperti ketakutan mendengar tawaran untuk menikah. Sepertinya, Nadia memang belum ada sedikitpun keinginan untuk hal tersebut. Mereka lalu kembali berjalan meninjau lokasi itu, sambil menikmati pemandangan disana.


Setelah puas meninjau lokasi dan menikmati suasana, mereka duduk-duduk di saung yang ada di lokasi tersebut. Sambil mengobrol, mereka juga menikmati jajanan yang telah mereka pesan dari warung-warung kecil yang ada disana. Setelah puas, merekapun kembali ke Baturaja, tempat kediaman Hartono.

__ADS_1


Di tempat lain, Fadil sedang mengobrol dirumah pak Syahroni. Mereka tadi baru saja menemani Arya Wijaya dan yang lainnya, yang ingin menemui Tiara. Sebenarnya, Fadil dan Tiara ingin menemani Arya Wijaya, Sintya, dan yang lain, pergi meninjau lokasi di Taman Jodoh. Namun, karena permintaan dari keluarga pak Syahroni, kedua calon pengantin ini tidak diperkenankan untuk pergi jauh-jauh dari rumah. Baik Fadil maupun Tiara, mereka hanya diperbolehkan pergi disekitar rumah mereka saja.


'' Fadil, Tiara. Hanya tinggal sehari lagi, kalian akan segera menikah. Jaga kesehatan kalian. Istirahat yang cukup, dan juga jangan pergi kemana mana!''


'' Kalian ini calon pengantin. Orang tua-tua kita bilang! Calon pengantin itu darahnya manis. Jadi, jangan terlalu sering keluar rumah, kecuali untuk keperluan yang mendesak.'' ujar pak Syahroni dan Bu Lilis menasehati Fadil dan Tiara, sebelum akhirnya mereka meninggalkan Tiara dan Fadil berdua diruang tamu.


'' Tuuh..A, apa aku bilang. Jangan sering keluar rumah! Tapi A Fadil malah begitu!'' ujar Tiara, kembali mengulangi kata-kata orang tuanya.


'' Ya tapikan, aku keluar rumah karena ada perlu Tiara.'' jawab Fadil, membuat alasan.


'' Perlu apaan? kok hampir tiap hari A Fadil sering pergi keluar?'' ujar Tiara, yang sering melihat Fadil keluar membawa mobilnya.


'' Ya namanya juga orang hidup Tiara. Ya pasti ada aja keperluannya. Kalau orang mati, baru iya! gak boleh keluar masuk kuburannya!'' ucap Fadil sambil senyum-senyum.


'' Ih A Fadil! jangan ngomongin orang mati ah! Tiara jadi takut.''


'' Loh, sama orang mati kok takut! yang perlu ditakutkan itu, justru orang hidup Tiara.'' ujar Fadil.


'' Kok bisa?'' tanya Tiara.


'' Iya, justru orang yang masih hidup itulah yang banyak tingkahnya. Suka beginilah, suka begitulah. Kadang-kadang, demi keinginannya, dia suka berbuat sesuatu yang lebih setan daripada setan aslinya.''


'' Tapi kalau orang mati, ya sudah! dia tidak bisa apa-apa lagi. Meskipun bagi orang yang kurang amalnya dia ingin kembali lagi ke dunia ini, jika bukan atas kehendak Allah, maka tidak akan bisa.''


'' Apalagi, kalau orang yang sudah cukup amalnya. Dia tentu tidak ingin kembali ke dunia ini.''


'' Dan kalau yang sering muncul menakut-nakuti orang seperti kunti, pocong, dan lain sebagainya, itu sebenarnya hanyalah perbuatan jin jahat yang memang kerjaannya seperti itu.''


'' Walaupun terkadang, ada juga yang nampak dengan wujud seperti seseorang yang kita kenal. Tapi semua itu hanyalah perbuatan dari jin tersebut, dan bukan orang yang telah mati itu. Tuh.. seperti yang barusan lewat dibelakang kamu itu!'' ujar Fadil, sambil menunjuk ke belakang Tiara.


Melihat Fadil menunjukkan sesuatu dibelakangnya, spontan Tiarapun menoleh. Namun, dia tidak melihat siapapun dibelakangnya. Bulu kuduk Tiara jadi berdiri.


'' Udah A, jangan ngomongin itu! aku jadi takut.'' ucap Tiara terlihat ketakutan.


'' Tuuh kan, lewat lagi!'' ujar Fadil masih melihat kearah belakang Tiara.


'' A, udah udah! jangan nakut-nakutin Tiara A!'' pintanya sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.


Tepat pada saat tersebut, Vita adik Tiara muncul dari belakang. Dia lalu memegang pundak Tiara yang masih menutupi wajahnya tersebut.


'' Kak Tiara!'' bisik Vita ditelinga Tiara.


'' Aaaa...'' teriak Tiara, lalu melompat kearah Fadil dan akan memeluk tubuh Fadil.


Baik Vita maupun Fadil, mereka jadi terkejut dengan teriakan Tiara. Vita yang tidak mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan, dia lalu mundur sambil menutupi kedua telinganya. Teriakan Tiara ini cukup keras, sehingga membuat bising telinga Vita.


Fadil lebih terkejut lagi. Dia segera mengambil bantal kursi sofa yang ada disebelahnya, lalu meringkuk dan mengarahkan bantal tersebut kearah Tiara yang akan memeluknya. Tak ayal lagi, yang dipeluk oleh Tiara saat ini adalah bantal tersebut.


Namun, karena tubuh Tiara masih condong kearah Fadil, akhirnya tubuh Tiarapun jatuh menimpa Fadil dengan beralaskan bantal itu. Melihat pemandangan yang ada didepannya, Vita jadi melongo menyaksikan hal tersebut. Fadil yang menyadari kalau Vita masih terperangah melihat mereka, dia segera memberitahu Tiara.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2