Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Liburan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Alan dan Zul berpamitan kepada Abah dan Ummi. Zul mendapat tugas dari Abah untuk mengumpulkan seluruh santri putra dan putri di lapangan pesantren. Hari ini Abah ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Momen seperti ini jarang sekali terjadi, karena biasanya dalam setiap kegiatan, santri putra dan putri tidak pernah dikumpulkan secara bersama. Mereka selalu melakukan kegiatan secara terpisah. Bahkan untuk sholat berjamaah saja, mereka tidak melakukannya di satu tempat yang sama. Peraturan di pesantren ini begitu ketat. Abah menerapkan peraturan ini, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan. Momen seperti ini hanya ada beberapa kali saja dalam satu tahun, yaitu ketika acara hari-hari besar dan khataman Qur'an.


Naila yang mendengar kalau Abah ingin mengumpulkan seluruh santri putra dan putri, dia segera bergegas menuju asrama putri untuk menemui Tiara. Naila ingin memberitahukan kepada Tiara, bahwa saat ini Tiara berkesempatan untuk dapat melihat seperti apa orang yang telah menolongnya. Ya meskipun dari jarak jauh tentunya, karena pasti di lapangan nanti, mereka akan dibatasi jarak antara santri laki-laki dan perempuan. Namun setidaknya, akan ada sedikit kesempatan untuk bisa melihat seperti apa wajah Alan.


'' Mbak Tiara, ini kesempatan baik buat mbak lho.'' bisik Naila begitu menghampiri Tiara.


'' Kesempatan baik buat apa?'' tanya Tiara kebingungan.


'' Mbak pengen tahu kang Alan kan? Sekarang seluruh santri laki-laki dan perempuan akan dikumpulkan. Mbak Tiara nanti bisa melihat kang Alan saat di lapangan. Untuk itu, kita harus cepat kesana.'' ujar Naila penuh semangat.


Meskipun Tiara tak terlalu tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Naila, namun dia juga ingat kalau Naila bilang wajah Alan seperti Hitrik Roshan. Jika itu benar, maka tidak menutup kemungkinan kalau Alan yang dikatakan oleh Naila itu, akan sedikit mirip dengan Fadil. Maka dari itu, Tiara hanya menurut saja ketika Naila menarik tangannya untuk segera pergi ke lapangan.


Sementara itu. Alan yang baru saja keluar dari kediaman Abah bersama dengan Zul, dia mendapat pesan dari Satria untuk bertemu di hotel Atlantis bersama dengan Andre. Alan kemudian pergi ke asramanya untuk mengambil sesuatu.


'' Kang Zul, mohon maaf sepertinya saya harus keluar saat ini. Tolong jika nanti Abah menanyakan saya, katakan kalau saya sedang keluar karena ada keperluan.'' pinta Alan kepada Zul sebelum keduanya berpisah.


'' Iya kang insyaallah. Oh iya kang! ini ada titipan buat kang Alan dari Naila. Katanya dari temannya yang tempo hari kang Alan tolong.'' ujar Zul sambil menyerahkan sepucuk surat yang diberikan Naila kepadanya.


'' Apaan itu kang Zul.'' tanya Alan penasaran.


'' Tidak tahu kang, mungkin surat cinta, coba aja dibuka!'' ujar Zul sambil senyum-senyum.


'' Em em emm.. yang lagi kasmaran!, apa-apa dikaitkan dengan cinta.'' ujar Alan menggoda Zul.


'' Ya namanya juga siapa tahu kang.'' ucap Zul sambil cengar-cengir dan menaikturunkan alisnya menggoda Alan.


'' Ah kang Zul ini, ada ada saja.'' ujarnya lalu berjalan menuju asrama.


Saat Zul memberikan pengumuman kepada seluruh santri untuk berkumpul di lapangan melalui pengeras suara, Alan sudah keluar dari asrama dan segera bergegas keluar dari pesantren. Sebuah mobil pribadi ternyata sudah menunggunya diluar pintu gerbang yang rusak akibat kejadian semalam. Rupanya Andre telah mengirim anak buahnya untuk menjemput Alan disana. Pada saat mobil itu pergi dari sana, Naila, Tiara dan juga Neng geulis sedang berjalan menuju lapangan. Sengaja Naila terburu-buru mengajak Tiara, supaya bisa melihat Alan. Namun, hingga semuanya hadir dan Abah selesai menyampaikan beberapa hal, mereka tidak melihat kehadiran Alan.


Naila yang ingin menunjukkan kepada Tiara seperti apa wajah dan penampilan Alan, akhirnya merasa kecewa karena tidak menemukan keberadaan Alan di lapangan tersebut. Dia hanya melihat Zul dan teman-temannya yang lain, namun tidak melihat adanya Alan sama sekali. Dia dengan enggan akhirnya meninggalkan lapangan, setelah Tiara dan Neng geulis menarik tangannya.


'' Mbak, ayo balik ke asrama. Lihat!, yang lain udah pada bubar semua. Kan gak enak sama yang lain, nanti dikira kita lagi ada apa-apa.'' ajak Tiara berbisik kepada Naila.

__ADS_1


'' Mbak Naila, kita mau ngapain sih? tadi datang paling awal, sekarang baliknya paling akhir. Hemm.. jangan jangan?'' ujar Neng geulis mulai curiga.


'' Hus... jangan-jangan apanya? udah ah ayo cepat balik ke asrama! Kalau ketahuan Ummi, bisa dihukum kita.'' jawab Tiara dengan cepat memotong ucapan Neng geulis.


Tiara tidak ingin Neng geulis tahu mengenai tujuan Naila melakukan ini. Dia juga tidak ingin kejadian tempo hari diketahui oleh Neng geulis. Dia khawatir, kalau hal itu akan menjadi bahan perbincangan dikalangan para santri.


'' Maaf mbak Tiara, sepertinya hari ini belum rejeki.'' bisik Naila dengan tidak enak hati. Tiara tidak memberikan jawaban apapun. Dia hanya tersenyum , kemudian menoleh kearah Neng geulis untuk memastikan bahwa dia tidak mendengar ucapan Naila tadi.


...----------------...


Waktu terus bergulir, seiring berjalannya waktu, apa yang direncanakan oleh Alan, kini mulai terwujud. Dengan bantuan Andre dan juga Satria, beberapa lokasi yang akan dia jadikan villa, hotel, dan berbagai fasilitas lainnya, kini sedang dalam pengerjaan. Di lokasi sekitar pesantren, Alan juga membangun beberapa gedung karya. Disinilah nanti para santri akan dibimbing oleh para ahli, agar dapat mengembangkan berbagai macam karya sesuai bakat dari setiap santri. Alan juga membangun sebuah gedung galeri untuk memasarkan hasil karya dari para santri tersebut. Tentunya, semua itu akan dilakukan juga oleh para santri.


Tujuan dari apa yang dilakukan oleh Alan ini, selain agar para santri mampu menjadi pribadi yang mandiri saat mereka kembali ke tempatnya masing-masing, Alan juga berharap, agar selama mereka belajar di pesantren ini, mereka bisa mempunyai penghasilan sendiri untuk membiayai kebutuhan mereka selama belajar disini. Dengan demikian, mereka tidak perlu terlalu mengandalkan uang kiriman dari orang tua mereka. Mereka juga akan diawasi langsung oleh perusahaan milik keluarga Alan. Atau dengan kata lain, ini merupakan anak cabang dari perusahaan milik keluarganya. Hal ini disambut baik oleh Abah dan juga para santri. Mereka dengan antusias ingin ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Namun tentunya dengan tidak mengesampingkan tujuan utama mereka, yaitu belajar ilmu agama.


Karena letaknya yang cukup strategis dan sejalur dengan tempat wisata, hotel, pusat perbelanjaan dan sebagainya, maka tempat ini nantinya selain menjadi tempat para turis mencari oleh-oleh ( buah tangan ), juga sekaligus menjadi tempat wisata religi dan juga pendidikan. Dan karena letak dan para pekerjanya adalah para santri di pesantren ini, maka akan diberlakukan juga aturan yang dibuat sesuai peraturan dari pesantren. Hal ini akan menambah sedikit keunikan bagi para turis yang datang ketempat ini.


Karena kesibukannya yang begitu padat, meskipun sudah berada di pesantren ini beberapa bulan lamanya, Alan tidak pernah bertemu dengan Tiara. Bahkan, Naila yang tadinya masih sempat melihat Alan dan Zul, saat Alan berkunjung ke kediaman Abah, kini tidak pernah lagi melihatnya. Sehingga Naila yang ingin mempertemukan Tiara dengan Alanpun tidak mempunyai kesempatan sama sekali. Hingga menjelang liburan bulan Ramadhan tiba, Alan datang kekediaman Abah untuk berpamitan.


'' Assalamu'alaikum..'' ucap Alan.


'' Nak Alan, masuk masuk!'' ujar Abah mempersilahkan Alan. Alan lalu duduk disebelah Zul.


'' Ada yang bisa Abah bantu!'' ujar Abah setelah Alan duduk disana.


'' Emm begini Abah, berhubung sebentar lagi bulan Ramadhan, dan sekarang para santri juga banyak yang sudah pulang untuk liburan, saya juga ingin minta izin. Insyaallah, sore ini saya ingin balik ke Jakarta.'' ujar Alan langsung menyampaikan tujuan kedatangannya.


'' Jadi nak Alan mau pulang juga?'' tanya Ummi.


'' Iya Ummi, soalnya saya masih ada hal penting yang harus dilakukan.'' jawab Alan atas pertanyaan Ummi.


'' Yah..sepi dong!, kalau semua pada pulang. Nak Alan pulang ke Jakarta, Zul juga besok pulang ke Sumatera.'' ucap Ummi dengan agak keberatan.


'' Jadi, kang Zul mau pulang besok?'' tanya Alan menoleh ke arah Zul.

__ADS_1


'' Iya kang. Insyaallah, rencananya besok saya pulangnya.'' jawab Zul.


'' Ngomong-ngomong, tadi kemana pulangnya?'' tanya Alan agak penasaran.


Walaupun mereka sudah akrab dan berada dalam satu asrama, namun karena Alan yang sangat sibuk, Alan belum mengetahui dari daerah mana Zul berasal. Namun saat Ummi mengatakan kalau Zul akan pulang ke Sumatera, dia jadi penasaran.


'' Ke Sumatera kang, tepatnya ke Baturaja.''


'' Baturaja?'' Alan terkejut.


'' Iya kang, Baturaja. Apa kang Alan tahu daerah Baturaja?'' tanya Zul penasaran.


'' Emm.. Bagaimana kalau bareng saya aja kang Zul!. Saya juga rencananya dari Jakarta terus mau ke Baturaja.'' usul Alan setelah mengetahui jika Zul akan pulang ke Baturaja.


'' Apa kang Alan juga orang Baturaja?'' tanya Zul lagi.


'' Bukan kang, saya cuma mau ke rumah paman saya yang ada di Baturaja.'' jawab Alan.


'' Oh gitu!, jadi beneran kang Alan mau ke Baturaja?''


'' Insyaallah kang Zul.'' jawab Alan.


'' Ya kalau begitu, oke kang! kita barengan aja.'' Zul menerima tawaran dari Alan.


'' Baiklah kang Zul, berarti kita berangkat nanti sore ke Jakarta.'' ujar Alan.


'' Nak Alan, berapa lama rencananya nak Alan disana?'' tanya Abah.


'' Insyaallah, sampai habis lebaran Abah.'' jawab Alan.


'' Lama juga ya, berarti selama liburan ini, nak Alan ada disana. Terus, untuk proyeknya itu gimana? apakah libur?'' tanya Abah lagi.


'' Iya Abah, soalnya ada hal penting yang harus saya lakukan disana. Kalau soal proyek, insyaallah akan tetap berjalan. Biar nanti pak Andre atau pak Satria yang akan mengurusnya.''

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan Abah dan Ummi, juga Naila, Zul yang awalnya akan pulang besok, akhirnya merubah jadwalnya menjadi sore ini bersama Alan. Dia akan mampir ke Jakarta terlebih dahulu, baru nantinya berangkat ke Sumatera bersama dengan Alan. Karena sebelumnya Alan sudah memberitahu kalau hari ini dia akan pulang, maka Arya Wijaya segera mengirimkan sopirnya untuk menjemput Alan di pesantren. Selama Alan di pesantren, setiap Alan akan pulang ataupun berangkat ke sana, Arya Wijaya akan selalu meminta sopirnya untuk mengantar-jemput Alan. Sesekali Arya Wijaya, Andika dan Sintya juga datang menengok Alan disana. Hanya saja mereka tidak datang langsung ke pesantren, melainkan mereka akan menemui Alan dihotel bersama Andre ataupun Satria.


...****************...


__ADS_2