
Saat Alan keluar dari kamarnya, sebuah mobil bugati veron memasuki halaman villa itu, seorang lelaki berusia sekitar 70 tahun, tetapi masih tampak gagah dengan setelan jas abu abu, turun dari mobil itu diikuti seorang gadis berseragam SMU. Sintya dan Andika ayah Alan, segera menyambut lelaki itu.
'' papa.., kok bisa datang sama Nadia?Nadia.., bukannya sekarang belum waktunya pulang, kamu bolos ya? Sintya langsung nyerocos saat melihat Nadia ikut turun dari mobil kakeknya.
'' Iih mama.., Nadia pulang cepat ngomel, Nadia pulang telat juga ngomel, Kakek..'' Nadia menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal, sambil mengayunkan tangan Arya Wijaya kakeknya.
'' Sintya, papa memang sengaja mampir ke sekolah Nadia, lalu mengajak Nadia pulang, kebetulan guru-guru disekolah Nadia juga akan mengadakan rapat, jadi Nadia pulang lebih cepat!'' Arya Wijaya menjelaskan.
'' Ma.., papa sama Nadia belum juga masuk, malah sudah diinterogasi, biar mereka masuk dulu.., mari pa masuk.'' Andika sambil menasehati istrinya lalu mengajak Arya Wijaya untuk masuk kedalaman rumah.
'' Bener pa.., mama emang gitu, nyebelin.. Uek.'' Nadia menyahuti omongan Andika kemudian menjulurkan lidahnya kepada Sintya.
Melihat Nadia seperti itu, Sintya ingin menjewer telinga Nadia, namun Nadia buru-buru berlindung dibelakang Arya Wijaya.
'' Sintya.., Sudah.'' ucap Arya Wijaya.
Alan sudah turun dari lantai 2 saat semuanya mulai masuk kedalam rumah tersebut.
'' Kakak..'' Nadia berlari dan memeluk Alan dengan eratnya, Alan walaupun matanya masih merasa agak asing, namun dia tahu kalau gadis berseragam SMU itu adalah Nadia adiknya. Tapi saat melihat rok seragam sekolah Nadia yang sangat pendek, dia merasa risih melihatnya.
'' Kak Alan.., kata kakek, kak Alan udah bisa ngeliat lagi, coba liat sini-sini, ini siapa hayo..?'' Nadia sambil berpose seperti model didepan Alan.
'' Dasar bocah tengil.'' Alan sambil mendorong kening Nadia dengan jari telunjuknya.
'' Wah.., beneran, kak Alan udah bisa ngliat, dan wah!, kak Alan, kakak keliatan tampan dengan mata itu.''
'' Apaan sih lu bocah tengil, sana!, ganti baju elu, pakaian lu tuh udah kayak anak Paud aja, gak pantes banget tau!'' dengan ketus Alan mengomentari pakaian Nadia.
'' Iya iya.., cerewet banget sih, kayak mama aja!'' Nadia cemberut di komen oleh Alan. Dia kemudian pergi ke kamarnya. Namun sebelumnya, disaat Alan sedang meleng, Nadia dengan cepat mencium pipi Alan, kemudian kabur dengan cepatnya.
__ADS_1
'' Dasar bocah tengiiil..., ma.., Alan dengan ekspresi kesal, mengusap-usap pipinya yang tadi dicium oleh Nadia.
Arya Wijaya, Andika dan Sintya tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah keduanya. Apalagi melihat ekspresi kesal Alan oleh tingkah Nadia. Alan memang sedari kecil, paling tidak suka kalau pipinya dicium. Dia selalu berfikir hanya orang yang istimewa saja yang boleh mencium pipinya. Oleh karena itu, dia selalu merengek kesal kepada mamanya kalau Nadia mencium pipinya. Sementara Nadia memang paling suka menjahili Alan dengan mencium pipinya. Oleh karenanya juga, Alan menjuluki Nadia dengan julukan '' Bocah Tengil.''
Arya Wijaya segera menghampiri dan memeluk Alan, dia sangat menyayangi Alan, karena Alan adalah satu-satunya cucu laki-laki yang bakal menjadi penerus perusahaan milik keluarganya.
'' Alan, bagaimana kabarmu?''
'' Baik kek.'' jawab Alan singkat.
'' Ibumu memberi tahu kakek, kalau penglihatanmu sudah pulih, kakek sangat senang mendengarnya, makanya kakek datang kemari.''
Arya Wijaya merangkul pundak Alan dan mengajaknya menuju ruang makan, dan diikuti oleh Andika, Sintya, dan juga Nadia yang telah berganti pakaian.
'' kakek harap kedepannya kamu harus lebih bisa menjaga diri, bagaimanapun kakek berharap penuh agar kamu dapat meneruskan usaha keluarga kita. Kakek sudah tua, tak lama lagi perusahaan yang sekarang kakek pimpin, akan kakek berikan padamu.''
'' Kakek, tolong jangan terburu-buru, Alan masih baru mulai mau belajar.''
Arya Wijaya sebenarnya sudah sangat berharap, agar Alan bisa secepatnya ikut turun tangan dalam mengelola bisnis keluarganya, apalagi Alan juga sudah menyelesaikan pendidikan S1-nya diluar negeri. Walaupun Alan sering melakukan hal-hal yang kurang baik, seperti mabuk, judi, dan juga ikut balapan liar, namun karena kecerdasan otaknya, dia masih dapat menyelesaikan studinya dengan baik. Alan juga masih berencana untuk melanjutkan studinya hingga setidaknya sampai S3, tetapi rupanya takdir berkehendak lain.
Kecelakaan yang membuat hilangnya penglihatan matanya itu, benar-benar membuatnya sempat putus asa. Terlebih lagi Arya Wijaya, dia sempat merasa frustasi karena satu satunya cucu laki-lakinya itu, yang merupakan harapan baginya untuk menjadi penerus perusahaannya, malah kehilangan penglihatannya. Namun akhirnya Arya Wijaya bisa kembali merasa lega, setelah mendengar kalau penglihatan Alan sudah kembali pulih dalam waktu yang begitu cepat. Maka dari itulah dia ingin sesegera mungkin untuk menyerahkan urusan perusahaan itu kepada Alan. Setidaknya Alan bisa ikut mengurusi beberapa cabang dari perusahaan perusahaannya, baik yang ada didalam negeri maupun yang ada di luar negeri.
Tetapi karena Alan baru saja sembuh, maka Arya Wijaya tidak ingin suasana gembira itu dikacaukan karena membahas masalah masalah perusahaan.
Sebagai bentuk rasa bahagianya, Arya Wijaya berencana untuk mengadakan pesta perjamuan dan mengundang beberapa rekan bisnisnya, ataupun beberapa tokoh dan orang orang kaya kenalannya.
Rencananya pesta ini selain untuk merayakan kesembuhan mata Alan, juga sekaligus untuk merayakan kedatangan Alan yang baru saja menyelesaikan studinya dari luar negeri, saat sebelum kecelakaan itu terjadi.
Namun Alan menolak rencana kakeknya tersebut, dengan alasan kalau dia masih belum siap untuk acara semacam itu, dan juga dia masih ingin mencari suasana tenang agar dapat menghilangkan rasa traumatik dari beberapa peristiwa yang dialami.
__ADS_1
'' Baiklah, jika yang kamu inginkan seperti itu, kakek juga tidak ingin memaksa, oh iya, karena kebetulan juga besok hari libur, bagaimana kalau kita semua pergi ke puncak? sekalian kita ziarah ke makam nenek, rasanya sudah sangat lama kita tidak pernah pergi bersama-sama kesana .'' ajak Arya Wijaya.
'' Setuju kek, emang udah lama kita gak pernah pergi bersama-sama kesana, tiap kali kesana, masa cuma Kakek dengan Nadia aja yang pergi, mama sama papa selalu aja sibuk!, sedangkan kak Alan, yah., tau ndirilah!. Nadia sambil melirik kearah Alan.
'' Eeh.., dasar bocah tengil, selalu ada aja bahan buat nyalain orang.'' Alan dengan sedikit kesal karena terpancing oleh keusilan Nadia.
'' Sudah, sudah.., gak usah saling menyalahkan, papa dan mama juga setuju dengan usulan kakek Kalian.'' Andika melerai keduanya.
Setiap kali Alan dan Nadia bareng, pasti tidak pernah akur. Mereka sudah seperti Tom dan Jerry saja. Namun begitu, sebenarnya mereka itu benar-benar saudara yang saling menyayangi, hanya saja Nadia memang paling tidak tahan untuk berbuat usil kepada Alan.
Mereka semua akhirnya benar-benar dapat menikmati acara makan siang itu dengan penuh kegembiraan, momen langka seperti ini tentu tidak dapat dirasakan setiap hari, bahkan sebulan sekalipun belum tentu, itu karena kesibukan mereka masing-masing.
'' Alan, untuk rencana ke depan, apa yang ingin kamu lakukan?'' Andika membuka percakapan usai santap siang itu, dan mereka sudah berada di ruang keluarga.
'' Entahlah pa.., Alan masih belum ada rencana. Mungkin untuk sementara ini, Alan ingin rehat dulu, dan biarkan semuanya mengalir apa adanya sesuai dengan ketentuan takdir aja.''
Ucapan Alan ini, membuat Arya Wijaya, Andika, dan juga Sintya sedikit tercengang. Mengingat sejak lulus SMU, sampai sebelum terjadinya kecelakaan itu, sikap Alan yang sekarang sangat berbeda. Baik gaya bicaranya ataupun kata-kata yang diucapkan Alan biasanya sangat kasar dan arogan, tidak seperti hari ini yang terlihat lebih dewasa dan tampak seperti orang yang bijaksana.
Hanya satu yang sepertinya tidak berubah, yaitu suka meladeni keusilan Nadia. Namun begitu, justru itulah yang membuat keluarga ini lebih terasa hidup dan tidak monoton.
'' Menurut mama, apa yang dikatakan oleh Alan itu, juga ada benarnya. Soalnya Alan perlu waktu untuk dapat memulihkan urat urat syaraf mata dan juga otaknya agar dapat pulih dengan sepenuhnya.'' ujar Sintya.
'' Kakek setuju dengan pendapat mamamu Alan, tapi kamu juga harus ingat!, kamu tidak boleh seperti dulu, yang hanya taunya cuma berhura hura saja. Karena bagaimanapun juga, kamu harus banyak banyak belajar cara bersosialisasi yang baik, dan juga mempelajari cara bagaimana mengelola dan mengendalikan perusahaan.'' Arya Wijaya tak mau ketinggalan untuk memberikan nasehat kepada Alan.
Hingga menjelang sore, mereka terus berbincang-bincang, terkadang mereka berbicara tentang pekerjaan ataupun untuk rencana rencana kedepan.
'' Baiklah semuanya, karena ini sudah sore, kakek pulang dulu. Jangan lupa, besok kakek tunggu kalian di rumah. kita akan pergi ke Villa di puncak bersama sama. Nadia.., apa kamu mau ikut nginap di rumah kakek?'' Arya Wijaya sambil berjalan menuju mobilnya.
'' Lain kali aja kek, Nadia masih ada tugas sekolah, mumpung kak Alan ada di rumah, biar kak Alan bisa bantuin gitu.''
__ADS_1
Nadia memang paling suka kalau tugas tugas dari sekolahnya dibantu oleh Alan dalam mengerjakannya, karena selain hasilnya memuaskan, Nadia juga bisa sedikit iseng berbuat usil kepada Alan.
...****************...