Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Aku Padamu


__ADS_3

Hingga menjelang sore, mereka semua masih berkumpul dikediaman Hartono. Meskipun Sintya, Andika, Arya Wijaya dan juga Hartono, masih sedikit merasakan kehilangan atas kepergian Alan, namun dengan adanya Fadil yang menggunakan jasad Alan tersebut, ditambah lagi dengan sikap Fadil yang bisa segera beradaptasi terhadap mereka, membuat Sintya dan yang lainnya merasa seakan tidak ada yang terjadi pada keluarga ini.


Karena jauh hari sebelumnya, Alan juga telah berpesan kepada mereka semua, agar nanti tidak bersedih dengan kepergiannya tersebut. Kini Sintya dan yang lainnya, telah dapat melepaskan kepergian Alan dengan ikhlas. Mereka semua tidak ingin Alan kecewa terhadap mereka, sebab berlarut larut dalam kesedihan atas kepergiannya.


'' Ma, pa, kakek, maaf! saya tidak bisa menemani kalian terus disini. Sekarang saya harus kembali kerumah ibu, dan juga mengantarkan Tiara dan yang lainnya untuk pulang kerumahnya.'' ucap Fadil setelah melihat waktu yang sudah semakin sore.


'' Nak! sebenarnya mama masih ingin bersama kalian. Tapi mama juga tidak bisa memaksa kalian untuk tetap disini. Mama cuma mau pesan sama kamu, tolong hati-hati dijalan!. Jangan ngebut! dan juga tetap jaga kesehatan.'' ujar Sintya saat mengantarkan Fadil dan yang lainnya keluar dari pintu.


Arya Wijaya, Andika, Hartono dan yang lainnya, juga ikut keluar mengantarkan Fadil yang akan pulang ke Batumarta bersama Tiara, Vita dan juga Zul. Sebelum Fadil masuk kedalam mobil Alan yang akan dibawanya pulang ke Batumarta, mereka bersalaman dan saling berpelukan.


Tiara dan Vita yang sudah berganti pakaian setelah membersihkan diri dikamar mandi yang ada dikamar Olla, dia tampak semakin cantik. Setelah makan tadi, Sintya sempat mengajak mereka pergi ke mall untuk berbelanja. Bersama dengan Nadia dan Olla, Sintya membelikan beberapa pakaian untuk Tiara, Vita dan juga untuk kakaknya Yunita. Dan juga membelikannya oleh-oleh untuk keluarganya dirumah. Tampaknya, Sintya sudah benar-benar memberikan perhatian yang khusus untuk Tiara, calon menantunya tersebut.


'' Tiara, jaga diri baik-baik ya! Mama ingin saat kamu menikah nanti, kamu dalam kondisi yang terbaik. Salam buat ayah dan ibu.'' ucap Sintya saat memeluk Tiara.


'' Iya bu, insyaallah salam ibu akan Tiara sampaikan.'' ucapnya.


'' Tiara, panggilnya mama dong sayang! masa masih panggil ibu aja. Kan kamu akan jadi mantunya mama!'' ujar Sintya protes dengan Tiara yang memanggilnya ibu.


'' I iya ma.'' ucap Tiara masih agak canggung.


'' Nah.. gitukan kedengarannya lebih enak.'' ujar Sintya tersenyum menatap Tiara.


Tiara tersipu malu. Wajahnya tampak merah merona. Dihadapan Sintya, Tiara merasa dia diperlakukan bagai seorang putri. Fadil yang melihat wajah Tiara yang seperti itu, dia merasa gemas. Dia teringat, saat dimana pertama kalinya dia melihat wajah Tiara seperti itu. Saat dimana dia tanpa sadar, menggenggam jemari Tiara untuk menanyakan jawaban atas cintanya kepada Tiara.


'' Oh iya nak! Besok pagi mama dan yang lainnya, akan balik ke Jakarta. Jadi, untuk masalah penentuan hari pernikahan kalian, biar Fadil yang akan membicarakan masalah ini dengan ayah dan ibumu.'' ujar Sintya kepada Tiara.


'' Fadil! Mama serahkan urusan ini padamu. Mama, papa, dan kakekmu, ingin secepatnya mendengar kabar baik itu darimu.''


'' Ingat! secepatnya. Jangan sampai nanti Tiara keburu digaet orang. Kalau sampai itu terjadi, mama gak akan memaafkanmu.'' lanjut Sintya mengancam Fadil.


'' Iya ma iya! Fadil tau itu. Lagian, siapa yang rela bidadarinya diambil orang.'' ucap Fadil sambil melirik kearah Tiara.


Tiara menunduk. Wajahnya semakin memerah karena malu. Saat menunduk itu, diapun melirik kearah Fadil. Andai saja tidak banyak orang disekelilingnya, dia pasti akan mencubit pinggang Fadil tanpa ampun. Rasa kesal dan bahagia, kini berbaur menjadi satu. Berani-beraninya Fadil menggodanya didepan banyak orang.


'' Awas saja nanti '' ujar Tiara didalam hati.


'' Zul! tolong ingetin anak tante ini ya! jangan sampai dia ngebut-ngebut bawa mobilnya.'' pesan Sintya kepada Zul.


Zul yang kini telah mengetahui bahwa meskipun didalam tubuh Alan adalah Fadil, namun karena bagi Sintya dan keluarganya, Fadil juga sudah dianggap sebagai anak mereka sendiri, dia mengangguk lalu berkata:


'' Siap tante. Insyaallah, pokoknya Zul pasti akan selalu ingat pesan tante. Zul juga masih belum siap untuk mati. Zul kan belum kawin tante.'' ujar Zul menanggapi permintaan Sintya kepadanya.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Zul, semua orang ditempat itu tertawa. Mereka semua menggeleng-gelengkan kepala atas ucapan Zul tersebut.


'' Hhh Zuul Zul, kamu ini. Ada ada saja.'' ujar Andika.


Setelah mengucapkan salam perpisahan, Fadil, Tiara, Zul dan juga vita, mereka segera masuk kedalam mobil. Fadil dengan lihainya memutar arah mobil tersebut, lalu pergi membawa mobil itu meninggalkan rumah Hartono dan kembali ke Batumarta.


Dalam perjalanan pulang tersebut, sesekali Fadil menatap wajah Tiara melalui kaca spion yang ada didalam mobil itu. Begitupun dengan Tiara. Beberapa kali tatapan mata mereka bertemu. Namun, setiap tatapan mata keduanya bertemu, mereka buru-buru memalingkan pandangan mereka. Tiara bahkan terlihat salah tingkah. Hal itu membuat Vita yang melihat kakaknya seperti itu, jadi senyum-senyum penuh makna.


'' Ih, ngapain sih kamu Vit! kok senyum-senyum gitu?'' ujar Tiara curiga melihat Vita.


'' Enggaak.'' jawab Vita lalu membuang muka sambil terus tersenyum geli.


'' Enggak-enggak, enggak apaan? itu, kamu senyum-senyum!'' bisik Tiara sambil mencubit paha vita.


'' Auw, kak Tiara. Sakit tau!'' ujar Vita sambil mengusap-usap pahanya yang dicubit oleh Tiara.


'' Ya kamunya sih, kayak gitu!''


'' Kayak gitu gimana?'' tanya Vita.


'' ya itu! senyum-senyum!'' Tiara dengan muka kesal.


'' Kak Tiara ini, aneh deh! masa orang senyum aja gak boleh? senyum itu, kata ustadz sodaqoh lho kak!''


Melihat kakaknya yang tampak semakin kesal, Vita masih terus tersenyum. Dia makin tak bisa menahan rasa geli didalam hatinya, hingga membuatnya terkekeh. Vita lalu menutupi mulutnya dengan telapak tangannya.


'' Vit, Vita!'' Tiara sambil mengguncang-guncangkan tubuh Vita dengan kedua tangannya.


'' Apaan sih kak?''


'' Apaan?'' tanya Tiara makin kesal.


'' Apaan apanya?'' Vita balik tanya.


'' Itu! kamu senyum-senyum.''


'' Enggak! Jakarta rame, kuburan sepi.'' jawab Vita.


'' Vitaaa.'' Teriak Tiara sambil kembali mencubit paha Vita.


'' Auww.'' Vita meringis menahan rasa sakit akibat cubitan Tiara yang makin keras.

__ADS_1


Fadil yang menyaksikan tingkah kakak beradik itu dari kaca spion, diapun ikut tersenyum. Untuk mengalihkan perhatian dirinya agar tidak ketahuan sedang tersenyum karena ulah Tiara dan Vita, Fadil lalu mengajak ngobrol Zulkifli.


'' Oh iya kang Zul. Kang Zul ini, kapan rencananya balik ke pesantren?'' tanya Fadil yang teringat kalau Zul ini adalah sahabat Alan.


Melalui memory ingatan Alan, Fadilpun mengetahui. Kalau Zul ini adalah calon menantunya Abah Ubaid, pengasuh pondok dimana Alan dan Tiara belajar disana. Zulkifli agak terkejut. Darimana Fadil bisa tahu, kalau dia nanti akan kembali ke pesantren. Namun, meskipun merasa heran. Zul tetap menjawab pertanyaan dari Fadil.


'' Emm kalau untuk yang pastinya, saya belum tahu kang!. Soalnya, masih banyak yang mesti saya persiapkan.''


'' Kalau kang Fadil sendiri, apakah kang Fadil juga akan balik ke pesantren?'' Zul balik bertanya.


'' Insyaallah kang. Saya memang harus balik kesana. Soalnya, PR pemilik tubuh ini kan! masih banyak yang belum selesai. Bagaimanapun juga, saya merasa berkewajiban untuk melanjutkan semua yang telah mas Alan lakukan disana.''


'' Dan insyaallah, saat nanti kang Zul menikah dengan putrinya Abah Ubaid, saya akan usahakan sudah ada disana.'' lanjut Fadil.


Mendengar Fadil mengetahui, kalau tujuannya balik ke pesantren adalah untuk menikah, Zulpun semakin bertambah heran. Fadil yang melihat Zul merasa heran, karena dia tahu tentang persoalan Zul, dia lanjut berkata.


'' Kang Zul, maaf! kang Zul tidak usah heran, kenapa saya bisa tahu semuanya. Bagaimanapun juga, didalam tubuh ini ada ingatan memory dari mas Alan. Tentunya, saya juga tahu segala hal yang pernah terjadi di pesantren.''


Zulkifli manggut-manggut. Akhirnya dia mengerti, darimana Fadil bisa tahu perihal tentang dirinya, dan juga tentang masalah pesantren. Tiara yang ikut mendengar pembicaraan antara Zul dan Fadil, diapun ikut manggut-manggut.


Lebih kurang satu jam kemudian, mobil yang dibawa oleh Fadil, kini sudah berada didepan rumah Zul. Karena hari sudah menjelang magrib, Fadil tidak ikut turun untuk singgah dirumah Zul. Dia lalu memutar arah mobil yang dibawanya, langsung menuju rumah Tiara dan juga rumahnya sendiri yang tak jauh dari rumah Tiara.


Sesampainya didepan rumah Tiara, Fadil juga tidak ikut turun. Dia hanya tersenyum melihat kearah Tiara dan Vita. Vita yang telah mengerti situasinya, dia segera buru-buru turun dari mobil tersebut, meninggalkan kakaknya yang sedang mengemasi barang dan oleh-oleh yang diberikan Sintya kepadanya. Ketika Tiara akan memanggil Vita yang sudah kabur duluan masuk kedalam rumah, Fadil lebih dulu berkata kepadanya.


'' Tiara, aku gak mampir dulu ya! soalnya ini udah magrib. Insyaallah besok pagi aja aku kesini lagi.'' ucap Fadil tersenyum manis kepada Tiara.


Saat Fadil berkata dan tersenyum kepadanya, hati Tiara berdebar-debar. Entah kenapa, meskipun dia tahu kini orang yang ada didekatnya itu adalah Fadil kekasihnya. Namun dengan penampilan Fadil yang sekarang ini, ditambah lagi dia dan Fadil juga sudah lama tidak bertemu, Tiara masih merasa canggung untuk berhadapan dengan Fadil.


'' Kenapa? kamu ngeliat aku kok gitu! gak suka ya aku balik lagi? atau, kamu kira aku ini hantu gitu!'' celoteh Fadil menggoda Tiara.


'' Emm aku, aku.'' ucap Tiara begitu gugup.


'' Emm apa? aku aku. Aku padamu maksudnya? aku juga padamu!'' iseng Fadil kembali menggoda Tiara.


Di isengin oleh Fadil seperti itu, Tiara semakin tak bisa berkata apa-apa. Walaupun raga yang ada dihadapannya bukanlah milik Fadil, namun tingkah dan cara bicaranya itu benar-benar adalah tingkah Fadil sang kekasih hatinya. Fadil yang melihat Tiara seperti itu, dia lalu terkekeh geli.


'' A Fadiil...!!'' spontan Tiara berteriak kesal.


'' Masyaallah.. Setahun gak ketemu, tambah galak sekarang ya? hihihi.''


'' Udah! galaknya, sama itu tadi! aku padamunya, ditunda dulu buat besok aja. Sekarang aku pulang dulu ya adik manis, i love you.'' ujar Fadil lalu segera membawa mobil itu pergi meninggalkan Tiara yang masih terpaku berdiri menatap kepergiannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2