
Dreet dreet dreet. Ponsel yang ada didalam saku Fadil bergetar. Fadil yang sedang dalam pemulihan ingatan, akibat perpindahan ruhnya yang kini berada ditubuh Alan, dia terkejut. Dia kemudian mengeluarkan ponsel itu lalu membukanya.
iPhone 13 pro max edisi khusus seharga ratusan juta itu berkedip, dan menunjukkan sebuah alarm peringatan pada kalender hari ini. Fadil dengan memory ingatan milik Alan, langsung membuka sandi kunci ponsel tersebut. Dia kemudian membuka catatan yang ditulis oleh Alan, pada tanggal yang ada didalam aplikasi kalender tersebut.
" Untuk mas Fadil.
Assalamualaikum... Mas Fadil, saat mas Fadil membuka catatan ini, saya yakin mas Fadil telah berada didalam jasad saya. Saya juga yakin, kalau saat ini seluruh keluarga saya, ada disekitar mas Fadil.
Saya sangat berterima kasih kepada mas Fadil, yang telah rela berkorban, dan memberikan saya kesempatan memperbaiki hidup saya.
Mas Fadil. Saya sudah menceritakan segala yang terjadi diantara kita berdua kepada seluruh keluarga saya. Saya juga telah menemui keluarga mas Fadil, dan mengatakannya seperti kepada keluarga saya. Dan bahkan, kepada keluarga kekasih mas Fadil yaitu Tiara.
Untuk itu mas Fadil. Saya sangat berharap. Meskipun mas Fadil bukan berasal dari keluarga kami, namun bagaimanapun juga, tubuh yang mas Fadil gunakan ini, merupakan bagian dari keluarga saya juga, walaupun tidak seutuhnya.
Mas Fadil. Tolong jangan pernah menganggap mereka orang lain. Biarkan mereka tetap merasa, bahwa saya masih ada bersama mereka.
Mas Fadil. Saya titipkan mama, papa, kakek, paman dan adik saya kepada mas Fadil. Tolong jaga mereka. Anggaplah mereka seperti keluarga mas Fadil sendiri. Salam untuk ibunda mas Fadil.
Semoga kelak, kita semua akan bertemu dan bersama ditempat yang lebih baik, dalam naungan dan keridhaan Allah SWT. Wassalamu'alaikum warahmatullah.''
-------- ( Alan ) -------
Membaca catatan pesan dari Alan tersebut, Fadil merasa terharu. Dia lalu berdiri dari duduknya, dan menatapi mereka satu persatu. Merekapun memandangi Fadil dengan penuh rasa tanda tanya didalam hati mereka. Perlahan, Fadil lalu mendekati Sintya yang masih sesenggukan dalam pelukan Andika.
'' Bu, maaf!'' ucap Fadil saat sudah berdiri didekat Sintya dan Andika.
Mendengar Fadil memanggil dirinya, Sintya lalu menoleh kearah Fadil. Dengan perasaan yang masih penuh tanda tanya, dan dengan linangan air mata, Sintya lalu menatap wajah Fadil dalam-dalam.
'' Alan? apakah itu masih kamu nak?'' ujar Sintya agak ragu, dan juga sambil mengusap air matanya.
'' Maafkan saya bu! Alan kalian telah pergi.'' ucap Fadil penuh simpati.
'' Maafkan saya juga, karena terpaksa harus menggunakan tubuh Alan putra kalian. Semua ini bukan keinginan saya, tapi memang sudah menjadi takdir untuk kami berdua. Saya mohon, kalian tidak membenci saya karena ini.'' lanjutnya dengan penuh harap.
Melihat kesedihan yang ada pada raut wajah Sintya, Fadil benar-benar tidak tega. Dia memang paling tidak bisa melihat seorang wanita menangis. Hatinya seakan merasakan kepedihan yang sedang dirasakan oleh Sintya. Dulu, saat dia bertengkar dengan Tiara sebelum mereka jadian, meskipun saat itu dia juga marah kepada Tiara, namun saat dia teringat bahwa Tiara meneteskan air mata, dia terus-menerus dilanda kegelisahan.
__ADS_1
Tanpa sadar, air matanya juga ikut menetes. Terbayang dalam benak dan pikirannya, bahwa yang menangis dihadapannya tersebut adalah ibunya sendiri. Melihat ada air mata yang menetes dari sudut mata tubuh anaknya itu, dan meskipun Sintya telah menyadari kalau didalam tubuh Alan adalah Fadil, Sintya lalu buru-buru menghampiri Fadil.
'' Jangan menangis nak! jangan menangis. Kami bukanya tidak ikhlas kamu berada pada tubuh Alan, atau tidak ikhlas dengan kepergiannya, bahkan Alan juga telah meminta kami untuk menganggapmu sebagai putra kami sendiri. Tapi saat melihatmu yang seperti tadi, kami benar-benar takut, kamu tidak bisa menerima kami sebagai keluargamu.'' ujar Sintya sambil menghapus air mata Fadil dengan penuh kasih sayang.
'' Nak, bisakah kamu menganggap kami sebagai keluargamu? bisakah kamu tidak menjadikan kami sebagai orang lain?'' tanya Sintya menatap Fadil dengan penuh harap.
'' Bu, tubuh ini adalah milik Alan. Bagaimana mungkin saya tidak mau menganggap kalian sebagai keluarga? bagaimana mungkin saya bisa menjauhkan tubuh ini dari kalian? yang ada, justru saya yang merasa khawatir. Jika nanti kalian semua, tidak bisa menerima kehadiran saya ditengah-tengah kalian.''
'' Nak, sekarang ini kamu telah menjadi bagian dari keluarga kami. Dan kamipun, mau tidak mau adalah bagian dari keluargamu. Maka mulai saat ini, jangan lagi ada istilah kalau diantara kita semua adalah orang lain, termasuk juga dia. Karena nantinya, diapun akan menjadi bagian dari keluarga ini.'' ucap Arya Wijaya sambil menepuk pundak Fadil, kemudian menunjuk kearah Tiara dan Vita yang tengah berdiri terpaku melihat mereka.
Setelah berkata seperti itu, Arya Wijaya langsung memeluk Fadil. Diapun meminta Andika, juga yang lainnya untuk melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan. Arya Wijaya ingin, agar saat ini Fadil tidak lagi merasa asing kepada mereka semua. Suasana haru langsung menebar ditempat itu. Mereka semua akhirnya bisa merasakan kembali keutuhan dari keluarga ini.
'' Baiklah semuanya. Karena urusan kita ditempatkan ini telah selesai, sekarang mari kita kembali ke rumah. Tidak baik rasanya, kalau kita terus berlama-lama ditempat ini.'' ujar Hartono mengajak mereka untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju kediamannya di Baturaja.
'' Fadil! apakah kamu bisa bawa mobil? tanya Hartono.
'' Bisa pak!'' jawab Fadil.
Meskipun keluarganya tidak memiliki mobil, namun Fadil juga pernah ikut kursus mengemudi dan telah memiliki SIM. Ditambah lagi, tubuh dan memory Alan yang berangsur-angsur semakin mengisi ingatannya. Tentunya, bukanlah hal yang sulit baginya untuk melakukan hal tersebut.
'' Iya om.'' jawab Fadil singkat.
Sesaat kemudian, merekapun telah masuk kedalam mobil masing-masing. Seperti saat berangkat dari kediaman pak Syahroni tadi, Fadil membawa mobil milik Alan bersama dengan Sintya, Tiara Vita dan Nadia. Sementara Andika dan Arya Wijaya mereka kembali menaiki mobil berdua. Hartono yang kini ditemani oleh Zul, dia langsung memimpin didepan dan langsung membawa mobilnya menuju tempat kediamannya.
Setengah jam kemudian, mereka telah sampai di kediaman Hartono di Baturaja. Setelah memarkirkan kendaraan mereka dihalaman rumah yang cukup luas tersebut, mereka langsung duduk mengobrol santai di serambi rumah tersebut. Istri dan anak perempuan Hartono yang tadi tidak ikut bersama mereka, segera menyambut kedatangan mereka dan menyuguhkan minuman segar dan aneka kue lebaran.
Diantara kue-kue tersebut, ada juga makanan khas daerah seperti pempek lenjer, pempek telor, dan kapal selam, buatan istri Hartono.
'' Ayo kak, Nadia, Alan, itu dimakan empek-empeknya! maaf kemarin belum sempat buat. Dan baru hari ini bisa menyediakannya.'' ucap Lisnawati mempersilahkan.
'' Alan, biasanya kamu yang paling doyan sama pempek telor, makanya tante hari ini sengaja buatkan yang banyak untukmu. Tapi ingat ya! jangan lupa kalau udah selesai, langsung gosok gigi. Biar giginya gak ompong kayak si Olla.'' ucap Lisna yang masih belum tahu apa yang terjadi dengan keponakannya Alan.
Mendengar Lisnawati berkata kepada Fadil seperti itu, semua orang melihat kearah Fadil. Mereka merasa penasaran, bagaimana reaksi Fadil atas ucapan dari Lisna.
'' Waah makasih banyak tante, saya memang paling demen sama empek-empek.'' ujar Fadil segera mengambil beberapa buah empek-empek dan langsung menyantapnya.
__ADS_1
Rupanya, antara Fadil dan Alan memang memiliki banyak kesamaan. Bukan hanya secara penampilan mereka saja, tapi juga termasuk dalam hal makanan kesukaan mereka. Melihat reaksi Fadil yang hanya biasa-biasa saja, mereka semua cuma saling pandang. Lalu tanpa memberikan komentar apapun, mereka segera melanjutkan kembali menikmati makanan dan minuman yang ada.
Beberapa saat kemudian. Olla putri kedua Hartono yang seumuran dengan Vita, mengajak Nadia, Tiara dan Vita pergi ke taman belakang rumahnya. Sambil menikmati camilan yang mereka bawa, mereka duduk-duduk ditepi kolam ikan yang ada disana. Mereka tampak begitu gembira, saat melihat ikan-ikan yang berwarna-warni yang ada dikolam tersebut.
'' Kak Tiara! nanti kalau kakak udah nikah sama kak Fadil, kakak mau tinggalnya dimana?'' tanya Nadia tiba-tiba.
Ditanya seperti itu secara tidak terduga, Tiara jadi terkejut. Meskipun tadi pagi memang sudah ada rencana antara keluarganya dengan keluarga Alan, untuk segera membicarakan masalah pernikahan dirinya dengan Fadil, namun sepertinya hal ini belum tepat untuk dibicarakan. Mengingat baru saja Fadil dan Alan melakukan pertukaran posisi. Apalagi, Tiara juga belum sempat berbicara dengan Fadil yang kini berada didalam tubuh Alan.
'' Nadia!'' ucap Tiara lalu meletakkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan agar Nadia tidak membahas hal tersebut.
'' Ooh, jadi kak Tiara ini sudah mau menikah ya? aduh! kok sayang banget ya?'' ujar Olla dengan wajah yang terlihat sedikit kecewa.
'' Lho, kok sayang banget gimana sih la?'' tanya Nadia.
'' Iya, sayang banget! Tadinya Olla kira, kak Tiara ini adalah pacarnya kak Alan. Yang berarti nanti, kak Tiara akan jadi kakak sepupunya Olla juga. Tapi ternyata, kak Tiara malah udah mau menikah sama orang lain. Padahal menurut Olla, kalian ini cocok banget lho! Kak Tiaranya cantik, kak Alan juga ganteng.'' ujarnya.
'' lha, kan emang gitu la! kak Tiara inikan, memang calon kakak sepupunya kita.'' jawab Nadia.
'' Iih, kak Nadia ini gimana sih? tadi bilangnya gini!, sekarang bilangnya gitu! jadi pusing Olla.'' ucap Olla sambil menepuk-nepuk keningnya pelan.
'' Ya maksudnya! duuh gimana sih ngomongnya?'' Nadia kini merasa kebingungan untuk menjelaskannya kepada Olla.
'' Sudah sudah! gak perlu dijelaskan sekarang. Nanti Olla juga tahu sendiri.'' ujar Sintya yang kini sudah berdiri dibelakang mereka.
Mendengar Sintya yang tiba-tiba berbicara dibelakang mereka, Nadia dan yang lainnya jadi terkejut. Spontan mereka menoleh ke belakang, dan mendapati Sintya yang sedang berdiri tersenyum kepada mereka.
'' Mama! bikin kaget kita semua aja.'' ujar Nadia sambil melipat mukanya.
'' Uluh uluh, anak mama lagi sewot. Gak malu tuh sama kakak ipar? ujar Sintya mencubit pipi Nadia, kemudian menoleh kearah Tiara dan Vita yang tersenyum kepadanya.
Tiara lalu segera menunduk. Mukanya sedikit memerah karena ucapan Sintya tersebut. Hari ini, Sintya sudah benar-benar menganggap dan memperlakukan dirinya, seperti sudah menjadi menantu baginya.
'' Olla, Nadia! ajak kakakmu dan juga Vita masuk! kita makan dulu. Kalian sudah ditunggu yang lain didalam.'' ujar Sintya lalu berjalan menuju kedalam rumah.
...****************...
__ADS_1