Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Jalan Jalan


__ADS_3

Paginya, Fadil bersikap seperti biasa saja. Seolah peristiwa tadi malam, hanyalah sebuah mimpi yang tidak bermakna sama sekali. Hari ini, Fadil tidak memiliki rencana yang penting. Dia hanya ingin bersantai dirumah, sambil menemani sang ibu ngobrol-ngobrol dengan beberapa tamu yang datang. Ulil yang masih merasa kangen dengan Fadil, pagi itu sudah datang bertandang ke rumah sahabatnya tersebut.


'' Assalamualaikum'' sapa Ulil setelah mengetuk pintu.


'' Wa'alaikumsalaam.. Lil, ayo masuk!'' seru ibu Zaenab yang kebetulan sedang berada diruang tamu.


'' Mas Fadilnya ada gak bu?'' tanya Ulil yang langsung masuk dan bersalaman dengannya.


'' Ada, itu! lagi di kamarnya. Kamu kapan datang Lil? kayaknya ibu baru liat!'' ujar ibu Zaenab.


'' Iya bu, saya baru pulang kemarin siang. Soalnya, dapat tugas lembur dari perusahaan. Makanya gak bisa mudik lebih cepat.'' jelas Ulil lalu duduk disofa.


'' Lil, udah sarapan belum?'' tanya Fadil keluar dari dalam kamarnya.


'' Udah mas Fadil, tadi barusan sebelum kesini.'' jawabnya sambil menunjukkan perutnya yang sedikit buncit.


Fadil tersenyum melihat Ulil. Dia kemudian duduk bersamanya diruang tamu tersebut.


'' Ngomong-ngomong, kamu kerjanya dimana Lil? sampai mudiknya bisa terlambat gitu!'' tanya Fadil.


'' Anu mas Fadil, saya kerjanya di Hotel Puri Indah Garden, bagian COTD.'' Ulil sambil cengar-cengir.


'' Lho, emangnya ada Lil pekerjaan seperti itu? kok kayaknya aku baru dengar!''


'' Ada mas Fadil! itu lho maksudnya, buka tutup pintu mobil sekalian markir, he..''


'' Lil.. Lil, ente tuh ya! emang gak pernah berubah dari dulu. Suka banget bercanda.''


'' Iya mas, gara-gara mas Fadil dulu bilangin saya untuk jadi tukang parkir! sekarang malah jadi beneran.''


Saat Ulil bilang kalau dia bekerja di hotel Puri Indah Garden, Fadil sepertinya ingat sesuatu. Namun, dia tidak melanjutkan untuk menyelidikinya lebih dalam. Dreet..dreet.. ponsel Fadil bergetar. Tampak dilayar ponsel tersebut, sebuah panggilan VC dari seseorang.


'' Halo, Assalamualaikum ma!'' sapa Fadil setelah mengetahui bahwa yang sedang menghubunginya adalah Sintya.


'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah, kamu lagi dimana nak?'' tanya Sintya kepada Fadil.


'' Sekarang sih lagi dirumah ma. Paling siangan dikit nanti, Fadil mau kerumahnya kang Zul. Buat nanyain kapan dia balik ke pesantren.''


'' Oh iya, mama udah nyampe di Jakarta?'' Fadil balik bertanya.


'' Udah dari semalem sayang. Ini mama dan semuanya lagi pada kumpul dirumah, lagi pada mau sarapan. Kamu udah sarapan belum?'' ujar Sintya, sambil mengarahkan kamera ponselnya kepada orang yang ada disana.


Andika, Arya Wijaya, dan juga Nadia, melambaikan tangan mereka ke kamera menyapa Fadil. Fadil tersenyum dan membalas lambaian tangan mereka.


'' Fadil, bagaimana dengan urusan pernikahan kalian? apa sudah dibicarakan dengan keluarga Tiara?'' Sintya tidak sabar menunggu kabar tersebut.


'' Alhamdulillah ma, sudah kelar semuanya. Kami juga kemarin udah nyari cincin dan pakaian buat pernikahan nanti.''


'' Ya syukurlah kalau begitu. Jadi kapan hari H-nya? mama udah gak sabar untuk melihat kalian bersanding di pelaminan.''


'' Insyaallah, habis lebaran haji ini ma.'' ujar Fadil tersenyum.


'' Lho kok masih lama ya? kirain mama minggu-minggu depan gitu!''


'' Ma, kurang lebihnya hanya dua bulan lagi kok ma, tidak lama. Kan semua butuh waktu untuk mempersiapkanya.''


'' Iya sayang! tapi mama rasanya udah gak sabar, pengen cepat-cepat bisa dekat dengan calon mantu mama.''


'' Sabar dong ma. Insyaallah takkan lari gunung dikejar. Oh iya ma, udah dulu ya! soalnya Fadil lagi ada tamu nih! gak enak kalau kelamaan didiemin. Takut basi ma!'' ujar Fadil sambil nyengir melirik kearah Ulil.

__ADS_1


Ulil yang sejak tadi tengah menyimak obrolan Fadil, dia jadi cemberut. Dalam hatinya dia merasa kesal. Lalu dengan lirih dia berkata:


'' Ish mas Fadil ini, emangnya saya ini kue lemper apa? bisa basi kalau terus didiemin.'' celoteh Ulil dengan mukanya yang ditekuk.


Sontak Fadil jadi terkekeh melihat tingkah Ulil yang seperti itu. Dia memang paling senang, kalau sahabat kentalnya itu sudah memasang muka cemberut begitu. Rasanya sudah seperti double strike saat memancing. Diseberang telepon, Sintya yang melihat Fadil terkekeh bahagia itu, dengan curiga lalu bertanya:


'' Siapa tamunya, Tiara?''


'' Bukan ma, ini teman Fadil.'' jawab Fadil masih terkekeh.


'' Cewek apa cowok?'' selidik Sintya semakin curiga.


'' Cowok ma, temen karib Fadil.''


'' Oh.. kirain cewek. Awas aja ya! kalau masih dekat-dekat sama cewek lain!'' ancam Sintya khawatir kalau Fadil menyelingkuhi Tiara.


'' Enggak ma, mana ada Fadil seperti itu!'' seru Fadil yang melihat kekhawatiran Sintya.


'' Ya udah! tolong jaga baik-baik diri kamu, juga calon mantu mama. Jangan sekali kali bikin dia sedih! kalau berani seperti itu, siap-siap saja menerima hukuman dari mama!'' ujar Sintya lalu memberi kecupan sayang kepada Fadil didepan kamera ponselnya.


'' Iya ma iya! galak amat, kayak calon mantunya.'' gumam Fadil pelan, lalu tersenyum membalas kecupan dari Sintya.


'' Apa? ngomong apa tadi?'' ujar Sintya yang tidak begitu jelas, mendengar gerutuan Fadil.


'' Nggak ma, Fadil gak ngomong apa-apa kok.'' jawabannya lalu mengucap salam kepada Sintya.


Seperti yang orang bilang, kalau diperhatikan dengan baik. Orang yang akan menjadi jodoh kita itu, entah dari segi rupanya ataupun sifat dan karakternya. Maka akan ada kemiripan dengan diri kita sendiri ataupun dengan keluarga kita. Seperti halnya Tiara yang bukan hanya memiliki wajah yang mirip dengan Susi Wijaya ibunya Sintya, tapi juga sedikit galak seperti Sintya.


Saat Fadil menutup panggilan tersebut, ibu Zaenab muncul dari dalam. Dia sempat melihat dan mendengar percakapan Fadil dengan Sintya. Dengan penuh kelembutan, ibu Zaenab lalu menasehati Fadil.


'' Nak.. bagaimanapun juga, Sintya itu juga ibu kamu. Segalak apapun seorang ibu, pasti selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Jadi, sepanjang bukan untuk bermaksiat kepada Allah, kamu harus mengikuti nasehat dan juga menjaga adab sopan santun terhadapnya.'' ujar ibu Zaenab memberikan nasehat kepada Fadil.


Setelah ngobrol beberapa saat, Fadil mengajak Ulil untuk pergi ke rumah Zul. Setelah berpamitan kepada ibunya, Fadil bersama Ulil pergi dengan mengendarai mobilnya. Saat Ulil melihat plat nomor mobil tersebut, dia seperti ingat sesuatu.


'' Ente kenapa Lil, ayo masuk! kok malah bengong?'' seru Fadil kepada Ulil yang masih termangu didepan mobil tersebut.


'' Lil, tolong jangan bikin perutku sakit lagi deh! tolong untuk hari ini saja! biarkan aku istirahat dari ketawa akibat pola tingkah ente. Please!'' ujar Fadil kemudian membunyikan klakson mobilnya.


Sontak saja Ulil yang sedang merenung dan mengingat-ingat sesuatu, dia jadi terkejut. Keterkejutan Ulil tersebut, malah justru membuat Fadil langsung terkekeh. Melihat Fadil yang terkekeh itu, Ulil justru semakin memasang muka jengkelnya. Dan sebaliknya, semakin muka Ulil seperti itu, maka Fadil tak lagi bisa menahan rasa geli dihatinya.


'' Mas Fadil ini ngapain sih? suka banget bikin orang kesal!'' ucap Ulil setelah masuk dan duduk disebelah kursi kemudi.


'' Eit, enak aja ente Lil! bukannya justru ente yang suka bikin aku kesel. Liat nih! aku sampai keluar air mata gara gara kesel ketawa oleh tingkah ente.'' jawab Fadil sambil menghapus air matanya dengan sapu tangan.


Meskipun Ulil merasa kesal kepada Fadil, tapi dia memang tidak bisa marah kepadanya. Dia hapal betul dengan sikap Fadil. Semakin dia menunjukkan rasa kesal kepadanya, maka Fadil tidak akan pernah menganggap dirinya marah. Justru Fadil akan semakin menganggap dirinya sedang melucu. Oleh karena itu, Ulil memang paling bingung. Bagaimana caranya menunjukkan rasa marah kepada Fadil.


'' Lil.. udah!, jangan pasang muka lucu itu terus. Aku jadi gak tahan ngeliatnya. Apa ente mau, aku mati gara-gara melihat muka ente yang kayak gitu?'' Fadil sambil menepuk-nepuk pundak Ulil pelan.


Mendengar Fadil berkata tentang kematian, hati Ulil terenyuh. Dia masih bisa merasakan, betapa hatinya tidak bisa menerima kenyataan saat Fadil sahabatnya itu meninggal beberapa waktu yang lalu. Rasa kesalnya langsung menghilang, dan berganti menjadi rasa khawatir akan kehilangan sahabatnya tersebut.


'' Iya iya.. saya nyerah deh sama mas Fadil. Saya memang paling gak bisa dan tidak tahu, bagaimana caranya biar mas Fadil tau, kapan saatnya saya sedang marah sama mas Fadil.''


'' Ya kalau begitu, ente gak usah marah sama aku Lil! Lagian, tidak ada gunanya marah-marah. Bikin ente nanti cepat tua kayak wa' Uban. Ente mau?'' goda Fadil.


'' Ish, enak aja! masa saya mau dibandingin sama wa' Uban. Ya beda jauh kali mas.''


'' Ya bedanya sih emang jauh, tapi miripnya dekat.'' jawab Fadil lalu terkekeh.


'' Maksudnya, miripnya dekat bagaimana?'' Ulil penasaran.

__ADS_1


'' Ya itu, badan ente kan! sama dengan wa' Uban, sama-sama laki-lakinya maksudnya he.'' celoteh Fadil menggoda Ulil.


'' Haish mas Fadil ini, kirain sama apanya. Kalau itu sih! semua orang juga tahu mas Fadil..mas Fadil. Ada-ada aja mas Fadil ini.'' ujar Ulil terhibur oleh candaan Fadil.


'' Ya udah! kita berangkat sekarang ya!'' ajak Fadil.


'' Oke mas Fadil. Let's go!'' jawab Ulil penuh semangat.


Fadil lalu menginjak pedal gas mobilnya. Dengan perlahan, mobil itupun bergerak meninggalkan rumah Fadil menuju kediaman Zul. Saat melewati rumah Tiara, dia melihat Tiara sedang berada diteras rumahnya bersama Rina sahabatnya. Fadilpun segera menghentikan laju mobilnya.


'' Tin.''


Fadil membunyikan klakson mobil dan membuka kaca mobilnya. Tiara yang melihat Fadil, segera beranjak menuju kearahnya bersama dengan Rina. Sesampainya mereka didekat mobil itu, Fadil kemudian berkata:


'' Tiara, aku mau kerumahnya kang Zul. Kamu mau ikut?''


'' Emm gimana ya! Rin, mau gak temenin?'' tanya Tiara kepada Rina.


'' Ya terserah kamu aja Tiara, aku manut.'' jawab Rina.


'' Ya sebenarnya sih, boleh juga. Tapi, aku belum ngomong sama ayah dan ibu.'' ucap Tiara.


'' Ya udah, ijin dulu sana! apa harus aku yang minta ijin sama mereka?'' ujar Fadil.


'' Kayaknya gak usah deh A, biar Tiara aja yang ngomong sama mereka.''


'' Ya udah, aku tunggu disini ya?'' ucap Fadil sembari tersenyum kepada Tiara.


Melihat senyuman Fadil yang penuh makna terhadap Tiara, Rina yang ada disebelah Tiara jadi ikut salah tingkah. Dia memang sudah tahu, kalau pemuda yang sedang berbicara dengan Tiara itu adalah Fadil dengan tubuh Alan. Namun, penampilan Fadil yang sekarang ini, ditambah lagi baru pertama kalinya dia melihat dengan dekat wajah tersebut, membuatnya ikut merasa grogi didepan Fadil.


'' Rin, gimana kabarnya? baik!'' sapa Fadil kepada Rina.


'' Alhamdulillah, baik mas.'' jawab Rina lalu segera menunduk.


Saat Fadil masih dengan tubuhnya yang dulu itu, Rina sendiri termasuk salah satu diantara gadis yang menyukai Fadil. Namun, karena Fadil memang telah memilih Tiara, maka Rinapun hanya bisa ikut mendukung Tiara yang dirasa lebih pantas untuk Fadil. Sama seperti yang dilakukan oleh Ulil kepada Tiara.


Tak lama kemudian, Tiara yang tadi masuk ke dalam rumahnya. Dia keluar bersama ibunya. Melihat Bu Lilis keluar, Fadil kemudian turun dari mobilnya dan berjalan menuju kearah Bu Lilis. Ulil yang belum sempat bersilaturahim ke rumah Tiara, diapun ikut turun dan menyapa Bu Lilis.


'' Lho, nak Ulil! kapan datang? saya dengar, kamu pergi ke Jakarta.'' tanya Bu Lilis terkejut melihat kehadiran Ulil.


'' Iya bu, saya baru datang kemarin siang. Minal 'aidin wal Faidzin bu, Tiara, Rina.'' ucap Ulil lalu menyalami mereka.


Tiara hanya menangkupkan kedua telapak tangannya didepan dada, saat Ulil akan mengajaknya untuk bersalaman. Ulil langsung paham dengan apa yang dilakukan oleh Tiara.


'' Jadi, kalian mau pergi kemana?'' tanya Bu Lilis tanpa basa-basi.


'' Oh ini bu, kami sebenarnya cuma mau kerumah kang Zul, ingin bersilaturahmi kesana. Sekaligus pengen menanyakan kepada kang Zul, kapan dia balik ke pesantren.'' ujar Fadil menjelaskan.


'' Oh, Zul yang tempo hari ikut mengantar kemari itu?'' tanya Bu Lilis.


'' Iya bu.'' jawab Fadil dan Tiara bersamaan.


Melihat begitu kompaknya Tiara dan Fadil menjawab pertanyaan dari Bu lilis, mereka semua tersenyum menatap keduanya. Tiara segera menunduk, sementara Fadil tersenyum salah tingkah. Melihat mereka berdua seperti itu, Bu Lilis hanya manggut-manggut mengerti.


'' Ya sudah, kalau kalian mau pergi silahkan!, tapi hati-hati dan pulangnya jangan sampai ke sorean.'' ucap Bu Lilis mempersilahkan mereka semua.


...****************...


--

__ADS_1


__ADS_2