Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Bertukar kematian


__ADS_3

Sintya, Andika, Arya Wijaya dan juga Nadia tercengang. Mereka benar-benar tidak mengerti dengan maksud dari apa yang barusan Alan katakan.


'' Alan.., kami sungguh tidak mengerti apa maksudmu mengatakan itu, dan lagi.., apa kaitannya kematian orang yang kamu sebut tadi, dengan ucapanmu barusan?'' Sintya semakin merasa bingung dan juga penasaran.


Alan bangkit dari kursi, kemudian berjalan meninggalkan ruang makan, menuju ruang keluarga. Dia lalu duduk bersandar di atas sofa. Sintya segera mengikuti dan duduk disebelah Alan dan diikuti yang lainnya.


Alan menengadahkan wajahnya, menatap langit-langit ruangan itu. Lukisan 3 dimensi yang dibuat di langit-langit ruangan itu, memperlihatkan warna langit yang biru, dengan beberapa gumpalan awan putih, dan juga dengan pengaturan pencahayaan lampu di langit-langit ruangan itu, membuat orang yang berada disana, terasa seakan-akan sedang duduk menikmati indahnya nuansa malam diruang terbuka.


Alan kembali menarik nafas panjang, lalu menatapi wajah mereka satu persatu, kemudian mulai berkata:


'' Ma..pa.. kakek.., kalian pasti tahu, kondisi organ dalam tubuh Alan sudah sangat rapuh semenjak kecelakaan motor 5 tahun yang lalu. Dokter juga mengatakan agar menghindar dari benturan di bagian dada Alan, karena dapat mengakibatkan pecahnya beberapa organ penting, yang ada didalam tubuh Alan. Tahukah kalian?, kecelakaan yang kemarin itu!''


Alan kemudian mulai mengingat kembali segala hal yang dia alami pada saat kecelakaan di jalan lintas Sumatera pada waktu itu.


......................


Tepat pada saat tubuh Fadil terhempas dari kap mobil Fortuner yang dibawa oleh Alan, setelah tubuh Fadil dengan kerasnya menghantam kaca mobil tersebut, dan disaat mobil itu menabrak tugu batu pembatas, tubuh Alan juga menghantam keras setir kemudi mobil, setelah softbelt yang dipakainya terlepas dengan tiba-tiba. Wajahnya juga menghantam aquarium mini yang dia letakkan didepan kemudi mobil itu hingga pecah. Beberapa pecahan kacanya sempat menggores kedua matanya.


Pada saat itulah ruh keduanya keluar dari jasad mereka hampir bersamaan. Alan terkejut mendapati dirinya yang tiba-tiba berada di suatu tempat yang sangat asing.


'' Dimana aku? tempat apa ini? kenapa seluruh tubuhku terasa begitu sakit dan pedih? dan kenapa tempat ini terasa begitu sangat panas?''


Alan terus memandang sekeliling, namun sejauh mata memandang, dia hanya melihat ruang kosong dan tak ada satu objek apapun yang dia temukan.


'' Mama.., papa.., kakek.., dimana kalian?, tolong Alan ma.., ah sakit, sakit sekali.''


Alan mencoba berteriak memanggil orang-orang yang dikenalnya, dan juga terus mengeluhkan atas rasa sakit di seluruh tubuhnya. Tiba-tiba..., sesosok mahluk hitam besar muncul dihadapannya.


'' Ss.. Siapa kamu? mau apa kemari? uh, bau sekali, jangan mendekat!, pergi!, pergi!Ah.., sakit.''


Alan mencoba untuk mundur menjauhi sosok mahluk tersebut, namun dia seperti tidak memiliki tenaga sama sekali.


'' Hai manusia durjana.., Tuhanmu telah memberimu kehidupan yang baik, nikmat yang banyak, dan juga kesempatan untuk mencari bekal saat kepulanganmu di alam yang kekal. Tapi semuanya telah kamu sia-siakan. Kamu telah menggunakan segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Tuhanmu, hanya untuk berbuat dosa dan dosa. Engkau abaikan segala kewajibanmu, dan hidup dalam kekufuran. Kau jalani hidupmu dengan buruk, maka tempat kembalimu juga adalah seburuk-buruknya tempat.''


Dengan suara yang begitu menggelegar, sosok mahluk itu berkata sambil mendekati Alan. Dari mulutnya keluar jilatan-jilatan api dan juga bau yang sangat busuk saat sosok itu berbicara. Saat mahluk itu mulai mendekat, Alan benar-benar merasakan perasaan takut yang begitu dalam. seluruh tubuhnya gemetar, dia ingin lari, tapi dia benar-benar tidak punya tenaga sama sekali.


'' A.. Apa yang akan kamu lakukan?Jj..jangan mendekat! Pep.. Pergi!, jangan mendekat!''


Alan benar-benar lunglai, bahkan untuk berdiripun dia sudah tidak mampu, dia tersungkur sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


'' Ampun.., ampun.., lepaskan aku, mau kau bawa kemana aku? tolong lepaskan!, Ahh.. sakit.''


Alan sambil merengek memegang tangan besar sosok mahluk itu, yang dengan kasarnya menarik rambut kepalanya dan menyeretnya tanpa belas kasihan.


'' Manusia durhaka, apa kau ingin tahu kemana aku akan membawamu?, lihat kesana!'' sosok mahluk itu melemparkan tubuh Alan, kemudian menunjukkan arah didepannya.


Alan melihat kearah yang ditunjuk oleh sosok mahluk itu, wajahnya semakin terlihat ketakutan. Nun jauh disana, terlihat kobaran dari lautan api yang menyala-nyala. Yang membuatnya merasa heran adalah meskipun jaraknya masih sangat-sangat jauh, tapi hawa panasnya terasa seperti dia sudah dalam kobaran api tersebut.


'' Ah.. Panas. Panas.., ampun.., ampun.., tolong lepaskan aku.., ampuun..!''


'' Dasar manusia tengik, kenapa baru sekarang kamu minta ampun?, kenapa tidak saat kamu masih diberikan kesempatan hidup di dunia?''


Sosok mahluk itu kembali mendekati Alan yang masih berteriak-teriak kesakitan. Namun, pada saat mahluk itu akan kembali menyeret tubuh Alan, tiba-tiba sosok mahluk itu terkejut dengan kehadiran seseorang didepannya.


'' Ss.. Siapa kamu? kenapa kamu bisa ada disini?'' Sosok mahluk itu kini tiba-tiba merasa kebingungan.


'' Astaghfirullahal'adzim...''


Fadil yang juga terkejut, karena tiba-tiba berada di tempat itu, dan kemudian melihat sosok mahluk yang ada dihadapannya. Setelah menarik nafas beberapa kali, Fadil menatap mahluk itu kemudian dengan tenang berkata:


'' Wahai mahluk Allah, apa yang sedang kamu lakukan padanya?, dan kenapa juga tampangmu jelek sekali?''


'' Hai hamba Allah, ketahuilah!. Bahwa mahluk durhaka ini, telah sampai pada batas umurnya. Selama hidupnya dia tidak pernah melaksanakan kewajiban yang Allah perintahkan kepadanya. Hidupnya hanya untuk hal yang sia-sia dan berbuat dosa. Maka, sekarang adalah saatnya dia menuai balasan dari segala yang pernah dilakukan dalam masa hidupnya di dunia.''


'' Wahai hamba Allah.., bukankah belum waktunya untukmu kembali kepada Rabbmu?, tapi mengapa engkau ada disini?'' dengan lemah lembut sosok yang telah berubah itu bertanya kepada Fadil.


'' WAllahu a'lam, Dia-lah yang Maha tahu, aku sendiri tidak mengerti, tapi aku yakin Allah punya maksud dengan semua ini.''


'' Hai hamba Allah, jika seperti itu, apa sebenarnya yang engkau inginkan?'' sosok itu menatap Fadil dengan rasa penasaran. Fadil menoleh kepada Alan yang sedang memperhatikan dirinya, kemudian diam sejenak lalu berkata:


'' Lepaskan dia, berikan kesempatan untuk dia bertobat.''


'' Wahai hamba Allah, sudah terlambat untuknya bertobat, dia sendiri yang telah menyia -nyiakan kesempatan itu, karena hari ini adalah batas akhir hidupnya, maka sudah tidak mungkin lagi untuknya kembali ke dunia.''


'' Hai mahluk Allah, engkau tahu bahwa belum waktunya aku menghadap Robbku, maka ambillah jatah umurku selama satu tahun, berikan kepadanya!'' Fadil berkata kepada sosok pemuda tampan yang ada dihadapannya.


'' Wahai hamba Allah, itu jelas lebih tidak mungkin lagi. Apa engkau tidak tahu? Setiap mahluk, masing-masing sudah di tentukan umur, jodoh dan juga rejekinya. Jadi, mana bisa mengikuti keinginanmu yang seperti itu!, Itu sudah menyalahi takdir.'' jawab sosok pemuda itu kepada Fadil.


'' Hai mahluk Allah, apakah kamu lupa? Allah itu maha berkehendak. Apakah kamu juga tidak mengerti mengapa aku ada disini? Padahal kamu sendiri tahu. Sekarang, disini bukanlah tempatku. Dan ingatlah! Aku disini bukan atas kemauanku, melainkan atas kehendak-nya.''

__ADS_1


'' Dan juga apakah kamu lupa?, kalau nabi Adam, pernah memberikan jatah umurnya kepada nabi Daud? Apakah itu tidak menyalahi takdir?''


'' Tapi...'' Sosok pemuda itu merasa ragu.


'' Sudahlah.., sekarang pergilah kamu kepada Robb pemilik seluruh alam ini!, Sampaikan kepada-Nya, tentang permintaanku ini. Kalau tidak, aku akan mengadukanmu kepada-Nya.'' perintah Fadil kepada sosok pemuda itu.


Tak menunggu lama usai Fadil berkata seperti itu, sosok pemuda itupun tiba-tiba menghilang. Kemudian, setelah beberapa saat, diapun muncul kembali di hadapan Fadil.


'' Wahai hamba Allah, Robb pemilik seluruh alam ini, telah memerintahkan kepadaku untuk memenuhi keinginanmu. Tapi, ada beberapa konsekuensi yang harus kalian tanggung. Apakah kalian siap untuk menjalaninya?'' ucap sosok pemuda itu memandang Fadil dan juga Alan.


'' Insyaallah.., dengan kehendak-Nya, aku akan bersedia menanggung segala konsekwensinya.'' jawab Fadil.


'' Lihatlah kesana!'' perintah pemuda itu kepada Fadil dan Alan.


Ketika mereka menoleh kearah yang ditunjukkan oleh pemuda itu, mereka melihat sebuah gambaran saat terjadi kecelakaan itu, mereka melihat segalanya seakan sedang terhenti layaknya sebuah film yang di pause.


'' Lihatlah bagaimana tubuh manusia durhaka itu! Seluruh organ dalamnya sudah hancur, dan juga kedua matanya terluka parah. Ibarat sebuah kendaraan, mesinnya sudah tak bisa digunakan lagi. Sedangkan engkau wahai hamba Allah, Tuhanmu telah menjagamu sehingga seluruh tubuhmu luar dan dalam tetap utuh.''


'' Akan tetapi, karena sudah menjadi garis takdir untuk kalian, hanya ada salah satu diantaranya kalian yang akan tetap hidup. Untuk itu, supaya bisa mewujudkan keinginanmu wahai hamba Allah, dengan ijin-Nya, aku akan menukar bagian organ dalam milikmu dengan miliknya. Sehingga, dia akan tetap bisa hidup dengan normal. Tapi, untuk kedua matanya yang rusak itu, kalian sendirilah yang nanti akan menukarnya.''


'' Selama satu tahun, dia akan diberi kesempatan untuk bertobat dan merubah hidupnya yang buruk menjadi baik. Dan engkau wahai hamba Allah. Engkau tidak akan bisa lagi kembali kedalam jasadmu. Tetapi setelah satu tahun, engkau akan menempati jasad miliknya hingga sampai kepada waktumu untuk kembali kepada Robbmu. Dan selama menunggu waktu itu, engkau akan ditempatkan di sebuah tempat yang engkau tidak boleh keluar dari tempat itu. Karena, jika engkau sampai keluar, maka engkau tak akan bisa kembali kedalam jasadmu ataupun jasad miliknya. Apakah kalian sanggup?''


Tanpa ada rasa ragu Fadil menyanggupi persyaratan itu, sedangkan Alan yang memang lebih diuntungkan, dia merasa sangat senang dan berterima kasih kepada Fadil, yang mau berkorban untuk memberinya kesempatan membenahi hidupnya yang tidak baik.


'' Ingat!, siap atau tidak. Tepat satu tahun nanti, aku akan datang untuk menjemputmu. Dan juga, kamu harus datang ditempat ini.'' serunya kepada Alan, dengan tatapan matanya yang tajam penuh ancaman, sambil menunjuk tempat terjadinya kecelakaan itu.


...----------------...


Mendengar apa yang diceritakan oleh Alan, mereka ( Sintya, Andika, Arya Wijaya serta Nadia ) merasakan perasaan takut, juga sedih bercampur haru. Mereka benar-benar tidak menyangka, ternyata dibalik perubahan sikap Alan, dan juga permintaannya untuk pergi ke pesantren, ada hal yang begitu misteri, yang kadang sulit untuk dicerna hanya dengan akal saja.


Arya Wijaya yang sejak dulu tidak pernah memikirkan tentang masalah kehidupan setelah kematian, dan hanya mementingkan bagaimana bisa hidup sukses dan berjaya selama hidup di dunia ini. Sehingga, yang ditanamkan dalam hatinya dan juga kepada anak cucunya, hanyalah uang dan kekuasaan, kini mulai merasa bersalah. Apalagi, dia juga sampai menganggap permintaan Alan yang ingin belajar agama di pesantren adalah hal yang sia-sia.


'' Kakek.., itulah alasan mengapa Alan ingin pergi ke pesantren. Hidup Alan hanya tinggal menghitung hari, jika sampai Alan menyia-nyiakan kesempatan, dan tidak merubah diri menjadi orang yang baik, maka Alan adalah orang yang paling bodoh sepanjang sejarah hidup manusia. Alan bukan hanya menyia-nyiakan diri sendiri, tapi juga menyia-nyiakan pengorbanan Fadil yang begitu besar itu.''


'' Untuk itu ma.. pa.. kakek.., tolong ijinkan Alan untuk pergi ke pesantren. Ijinkan Alan, bersiap diri dalam mengahadapi kematian Alan yang tak lama lagi ini.'' Alan dengan derai air mata, menangkupkan kedua telapak tangannya memohon kepada mereka.


Sintya tak lagi sanggup membendung air matanya. Dia langsung memeluk erat tubuh Alan. Meskipun secara hitungan, Alan masih akan hidup selama sembilan bulan kedepan. Tapi, bagaimanapun juga, mengetahui sisa waktu yang bisa mereka habiskan bersama Alan, putra semata wayangnya. Tentulah, itu akan menjadi sesuatu yang teramat berat. Apalagi, dalam pada waktu itu juga, Alan akan pergi ke pesantren. Yang berarti juga, hampir tidak ada waktu yang tersisa untuk bersama dengan Alan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2