
Beberapa hari kemudian. Zul dan seluruh keluarganya, pergi ke pesantren dengan mencarter mobil milik tetangganya. Setibanya mereka disana, Zul dan keluarganya disambut oleh Abah dan Ummi dengan penuh kehangatan. Karena mereka dalam beberapa hari akan tinggal disana, maka Abah telah mempersiapkan sebuah rumah khusus yang akan mereka tempati.
Rumah ini letaknya tidak jauh dari kediaman Abah. Biasanya, Abah selalu menempatkan tamu-tamunya yang akan menginap di lokasi pesantren di rumah tersebut. Meskipun rumah ini jarang ditempati, namun rumah ini selalu terpelihara. Beberapa santri secara bergantian, ditugaskan untuk mengurus dan merawat rumah tersebut.
Para santri yang pulang liburan sebelum bulan Ramadhan kemarin, kini hampir semuanya sudah kembali ke pesantren. Mereka juga sudah diberitahu, bahwa pada tanggal 15 Syawal ini, putrinya Abah yaitu Naila akan menikah dengan Zul kepala asrama mereka. Untuk itu, para santri secara bergotong royong membantu mempersiapkan segala sesuatunya.
...----------------...
Beberapa hari menjelang pernikahan Zul dan Naila. Fadil yang masih belum berangkat ke pesantren, siang itu dia datang kerumah Tiara. Dia ingin menanyakan kepadanya, apakah Tiara akan ikut menghadiri pernikahan Zul dan Naila ataukah tidak. Saat Fadil datang kesana, dia langsung disambut oleh pak Syahroni dan Bu lilis.
'' Assalamualaikum..'' sapa Fadil saat didepan pintu.
'' Wa'alaikumsalaam.. Silahkan masuk nak! ayo duduk-duduk.'' ujar Bu Lilis, setelah menjawab salam dari Fadil.
'' Iya Bu! makasih.'' jawab Fadil, kemudian duduk di sofa berhadapan dengan pak Syahroni.
'' Tiaranya ada?'' tanya Fadil kepada Bu Lilis dan pak Syahroni yang tadi sedang mengobrol berdua diruang tamu.
'' Ada, sebentar nak ya! Tiaranya lagi ada dibelakang.'' jawab Bu Lilis, lalu pergi kebelakang untuk memanggil Tiara.
Sebelum Fadil datang, pak Syahroni dan Bu Lilis sedang membahas masalah persiapan pernikahan mereka. Meskipun seluruh biaya, dan rangkaian acaranya nanti sudah di handle oleh Hartono sebagai wakil dari Sintya, namun sebagai pihak tuan rumah, pak Syahroni dan Bu Lilis juga perlu melakukan beberapa persiapan. Diantaranya adalah masalah undangan untuk kerabat dan tetangga kenalanya.
'' Kamu mau berangkat ke pesantren lagi?'' tanya pak Syahroni.
'' Insyaallah, iya pak! Soalnya, saya sudah janji sama kang Zul untuk menghadiri pesta pernikahannya. Selain itu juga, saya harus mengurus proyek yang dibuat oleh Alan di sana. Maka dari itu, saya ingin menanyakan kepada Tiara, apakah Tiara juga akan pergi ke pesantren lagi atau tidak?'' jawab Fadil.
Tak berapa lama kemudian, Bu Lilis dan Tiara datang dari belakang dan segera duduk disana. Pak Syahroni kemudian menanyakan kepada Tiara, apakah dia akan kembali ke pesantren lagi dan ikut menghadiri pesta pernikahan Zul dan Naila.
'' Ayah, ibu! Tiara memang harus kesana. Selain Tiara ingin menghadiri pernikahan antara kang Zul dan mbak Naila, Tiara juga belum sempat ijin boyong ke Abah dan Ummi. Untuk itu, Tiara mohon ijin sama ayah dan ibu, supaya Tiara diperbolehkan untuk pergi ke pesantren lagi untuk pamitan.'' ujar Tiara.
'' Kalau nak Fadil, apakah mau pergi kesana juga?'' tanya Bu Lilis yang belum tahu kalau Fadilpun akan pergi ke pesantren juga.
'' Iya bu! Insyaallah.'' jawab Fadil mengangguk.
'' Rencananya, kapan nak Fadil perginya?'' lanjut Bu Lilis bertanya.
'' Insyaallah, besok saya berangkat. Tapi saya mau mampir ke Jakarta dulu, baru setelah itu saya akan pergi ke pesantren.'' jawab Fadil.
'' Dengan siapa nak Fadil berangkat?'' tanya pak Syahroni.
'' Insyallah sama Ulil pak. Dan kalau Tiara mau kesana juga! mending kita bareng aja, biar ada temannya. Atau kalau bapak sama ibu mau ikut, boleh juga biar tambah rame.'' ujar Fadil mengajak kedua orang tua Tiara.
'' Emangnya berapa lama nak Fadil disana?'' tanya Bu Lilis.
'' Insyaallah, antara dua atau tiga minggu. Tergantung situasi dan kondisinya bu! tapi paling cepat sekitar seminggu.'' jawab Fadil.
'' Bagaimana ini yah, apa kita perlu ikut kesana nganterin Tiara?'' tanya Bu Lilis kepada suaminya.
__ADS_1
'' Sebenarnya sih, ayah pengen juga ikut kesana Bu! Tapi.. kayaknya masih banyak hal yang perlu kita lakukan untuk persiapan pernikahan mereka. Bagaimana denganmu Tiara? apa kamu gak papa ke pesantrennya cuma sama Fadil dan Ulil?'' ujar pak Syahroni menatap Tiara.
'' Ya kalau ayah dan ibu gak keberatan, Tiara sih gak papa Yah!'' jawab Tiara.
'' Bagaimana menurutmu bu? apa kita biarkan mereka pergi tanpa ada yang mendampingi?'' ujar pak Syahroni meminta pendapat istrinya.
'' Ya gak papa sih Yah! kan Tiara perginya juga sama Fadil! yang penting kalian jangan macem-macem! ingat itu!'' ujar Bu Lilis mengingatkan Fadil dan Tiara.
'' Iya bu..! Insyaallah, Tiara bisa jaga diri kok!''
Meskipun Tiara dan Fadil sudah resmi tunangan, tapi bagaimanapun juga mereka belum resmi menikah. Jadi baik Bu Lilis ataupun pak Syahroni, mereka tidak ingin kedua calon pasangan ini melakukan hal yang tidak dibenarkan. Baik secara hukum agama, ataupun secara hukum pemerintahan.
'' Sekali lagi, tolong kalian ingat-ingat ya! Fadil, Tiara, kalian baru tunangan dan belum menikah. Jaga diri kalian baik-baik. Jangan melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Sebab, setan itu akan selalu berusaha, untuk menjerumuskan manusia kedalam perbuatan yang dilarang oleh Tuhan.'' tambah pak Syahroni menasehati mereka berdua.
'' Insyaallah pak, bu! kami akan mengingat pesan kalian. Lagi pula, selain hanya tinggal menunggu waktu saja, kami juga selama di pesantren tidak bisa bebas bertemu. Apalagi, saya juga akan sangat sibuk disana. Dan tentunya, kami tidak akan punya waktu untuk bertemu apalagi melakukan hal yang kalian khawatirkan.'' jawab Fadil.
'' Terus, bagaimana nanti kamu pulangnya Tiara? apa harus kami jemput, atau nunggu bareng sama Fadil? Dan juga, siapa yang akan mendampingi kamu untuk minta ijin boyong ke Abah dan Ummi?'' tanya pak Syahroni kepada Tiara.
'' Maaf pak bu! mungkin sebaiknya Tiara pulangnya bareng sama saya saja. Nanti, sambil menunggu urusan saya selesai, biar Tiara tetap ikut kegiatan di pesantren. Dan mengenai ijin ke Abah dan Ummi, biar saya yang akan wakilkan.'' ujar Fadil menjawab pertanyaan pak Syahroni kepada Tiara.
'' Ya sudah kalau begitu! kami cuma berpesan sama kamu nak Fadil, tolong hati-hati dijalan dan jaga Tiara baik-baik!'' pesan Bu Lilis kepada Fadil.
Setelah urusannya dirumah Tiara selesai, Fadilpun segera undur diri. Dia lalu pulang kerumahnya. Namun, sebelum kembali kerumahnya, Fadil menyempatkan diri untuk mampir di rumah Ulil, yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Saat Fadil turun dari mobilnya, Ulil yang melihat Fadil datang, dia segera menyambutnya.
'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah...'' ucap Ulil saat Fadil baru beberapa langkah berjalan.
'' Kamu tuh Lil ya! belum juga saya ucap salam, malah udah dijawab duluan.'' seru Fadil yang dibuat bingung oleh Ulil.
Ulil hanya cengar-cengir sambil terus mengipasi tubuhnya yang dipenuhi keringat, menggunakan kipas yang terbuat dari anyaman bambu. Sambil berkipasan tersebut, Ulil lalu duduk di kursi rotan yang ada diteras rumahnya.
'' Mas Fadil, gak usah masuk ya! disini aja. Soalnya gerah banget didalam.'' ucap Ulil asal ceplos.
'' Hemm..ini nih! tuan rumah paling gak sopan sedunia. Tamunya bukan disuruh masuk, malah disuruh duduk diluar. Lagian, ente gak takut apa? nanti direbutin sama kucing-kucing yang lewat?'' ujar Fadil.
'' Direbutin kucing? kok bisa?'' tanya Ulil heran.
'' Ya iyalah.. Lihat tuh badan ente! udah kurus, gak pake baju, bau pula. Kalau ada kucing lewat yang khilaf, pasti ente disangkanya ikan asin. hhh..'' celoteh Fadil sambil berpura-pura menutupi hidungnya.
Melihat Fadil menutupi hidungnya, Ulil merasa penasaran. Apakah benar kalau badannya itu bau seperti yang dikatakan oleh Fadil. Dia kemudian mengendus-endus kedua ketiaknya. Namun, dia yang selalu rajin menggunakan deodorant tersebut, tidak mencium bau seperti yang Fadil katakan. Malahan, dia merasa aroma ketiaknya cukup wangi.
'' Ah, enggak bau kok mas Fadil! ini malah wangi tuh! coba aja kalau mas Fadil gak percaya!'' seru Ulil sambil menunjukkan ketiaknya.
'' Ishh..sono-sono! bau asin gini ente bilang wangi. Berarti, hidung ente udah eror tuh Lil!'' ucap Fadil sambil berpura pura menjauhkan wajahnya dari Ulil.
'' Enggak kok mas Fadil! Suerr.. ini beneran wangi lho! atau jangan-jangan.. karena mas Fadil sekarang udah jadi orang kaya, sekarang mulai eneg dengan bau orang miskin kayak saya.'' ujar Ulil merendah diri.
'' Hemm...lekas, kumat..kumat! Begitu aja diambil hati. Lil.. Lil, asal kamu tahu aja ya! kalau bukan karena sudah takdir dari-Nya, aku lebih memilih jadi diriku yang seperti dulu. Sederhana, namun tetap bahagia.'' ujar Fadil dengan muka serius.
__ADS_1
'' Lho, kok bisa begitu mas Fadil? bukanya enak jadi orang kaya?'' tanya Ulil keheranan.
'' Ya aku akui sih! ada enaknya juga jadi orang kaya. Mau apapun, semuanya bisa terlaksana. Tapi.. ribetnya ini Lil, aku jadi gak bisa santai kayak dulu lagi.''
'' Contohnya sekarang ini nih! harusnya aku yang sebentar lagi mau nikah, bisa santai dan cukup mengerjakan pekerjaan yang ringan-ringan saja, biar bisa rileks saat hari H-nya nanti.''
'' Tapikan, sekarang ini mas Fadil bisa juga kan dibuat santai. Apalagi, mas Fadil enggak perlu takut soal biaya dan lain-lainnya. Enggak kaya kita-kitaan, yang pasti bingung mencari dana kesana-kemari.'' ujar Ulil yang tidak memahami situasi yang sedang dialami oleh Fadil.
'' Iya sih.. tapi Lil, apa yang ada padaku sekarang ini, adalah amanah dari pemilik jasad ini dan keluarganya Lil. Kalau aku cuma santai-santai dan tidak melakukan apapun, dan hanya menggunakan semua sarana dan prasarana miliknya, apa kata dunia Lil?'' jawab Fadil.
'' Maka dari itu Lil, secepatnya aku harus pergi ke pesantren, dan melakukan sesuatu yang memang sudah menjadi tanggung jawabku disana.'' lanjutnya.
'' Jadi, mas Fadil beneran mau pergi ke Jawa? kapan?'' tanya Ulil.
'' Insyaallah besok Lil. maka dari itu, aku juga mau mastiin, ente jadikan ke Jakartanya?'' tanya Fadil.
Sebenarnya, beberapa hari yang lalu Ulil akan berangkat ke tempat kerjanya di Jakarta. Namun Fadil meminta Ulil, untuk bareng berangkat kesana. Dan karena tadinya Fadil masih belum bisa memastikan kapan dia akan berangkat, akhirnya Ulil sudah terlambat untuk masuk kembali ke tempat kerjanya.
Fadil sempat bertanya kepada Ulil, dimana dia bekerja. Dan ketika Ulil menyebutkan nama hotel tempat dia bekerja, Fadil langsung mengerti dan ingin membuat surprise kepada Ulil. Untuk itu, meskipun Fadil tahu kalau Ulil sudah terlambat masuk kerja, namun dia tetap bersikap santai dan tidak mengkhawatirkan kalau-kalau Ulil nanti akan dikeluarkan dari tempatnya bekerja.
'' Insyaallah mas Fadil. Tapi kayaknya, saya harus mencari lagi deh tempat kerja yang lain. Soalnya, hotel tempat bekerja saya itu, peraturannya cukup ketat. Dalam MOU yang saya tanda tangani kemarin, kalau saya terlambat masuk kerja lebih dari dua hari, maka artinya saya sudah termasuk mengundurkan diri. Dan sekarang, sudah lebih dari dua hari saya belum masuk. Berartikan, sudah jelas apa artinya.'' ucap Ulil sedikit berat hati.
'' Tenang saja Lil, ente gak usah khawatir soal itu. Insyaallah, ente masih bisa kerja disana. Aku akan bantu ente, supaya ente tetap bisa masuk kerja walaupun ente sudah terlambat.'' ujar Fadil dengan santainya.
'' Ya mudah-mudahan, apa yang dikatakan mas Fadil itu benar mas. Tapi, jikapun saya gak bisa lagi kerja disana, saya ikhlas kok mas Fadil. Mungkin masih ada tempat lain yang bisa memberikan tempat untuk saya bekerja.'' sahut Ulil.
'' Ya udah Lil, pokoknya ente siap-siap saja. Besok kita berangkat ke Jakarta. Aku balik dulu ya Lil!'' pamit Fadil kepada Ulil.
'' Mas Fadil mau pulang? gak minum dulu mas Fadil?'' tanya Ulil.
'' Udah telat Lil.., harusnya tadi ente nawarin. Giliran aku udah mau pulang, ente baru nawarin.'' ucap Fadil pura-pura menggerutu.
'' Enggak mas Fadil. Kalau mas Fadil mau! saya buatin ya! teh apa kopi? apa susu?'' tanya Ulil sambil berdiri dan akan masuk kedalam rumah.
'' Udah gak usah! udah telat ente nawarinya.'' jawab Fadil yang mulai bangkit dari tempat duduknya.
'' Beneran nih mas Fadil mau pulang? gak mau nunggu saya buatin minuman dulu?'' tanya Ulil lagi.
Fadil hanya tersenyum, lalu mulai berjalan menuju mobilnya.
'' Ya udah, kalau memang mas Fadil beneran mau pulang, saya gak bisa menahannya. Daripada nanti saya usir! hhh..'' seru Ulil yang tidak jadi masuk kedalam rumah.
'' Aku udah tahu Lil, emang sebenarnya kamu mau ngusir aku kan? makanya, aku cepat-cepat pamitan dulu. Emang ente itu, satu-satunya tuan rumah yang gak sopan, hhh...'' jawab Fadil, membalas candaan Ulil.
Sambil memandangi Fadil yang sedang berjalan menuju mobilnya, Ulil terus terkekeh. Begitu juga Fadil, hingga dia masuk kedalam mobilnya, diapun terkekeh atas candaan Ulil.
...****************...
__ADS_1