
Kupu-kupu yang baru saja terbang, kemudian jatuh itu memang masih hidup. Namun, kupu-kupu tersebut terlihat begitu lemah saat mencoba kembali mengepakkan sayapnya. Hingga tak butuh waktu yang lama, kupu-kupu tersebut diam tak bergerak sama sekali.
Semua orang yang melihat kejadian itu jadi bergidik. Mereka tidak menyangka, ternyata kupu-kupu yang tadinya terlihat begitu lincah terbang kesana kemari itu, tiba-tiba mati dalam detik. kupu-kupu itu mati, setelah terkena racun yang menempel pada bekas lubang peluru di sepatu tersebut.
'' Begitulah efek racun yang terdapat pada lumbu Ireng. Racun ini tidak berbau, tidak berbekas dan hampir tidak terlihat. Namun, akibatnya bisa menghilangkan nyawa mahluk hidup.''
'' Bagi manusia seperti kita, kinerja dari racun ini cepat dan lambatnya tergantung pada kondisi fisik masing-masing. Kalau sistem imun kita kuat, dalam dosis yang sedang, mungkin bisa bertahan hingga 24 jam. Tapi bagi orang yang memiliki tekanan darah rendah seperti Tiara ini, racun ini kinerjanya bisa 3-4 kali lipat lebih cepat atau bahkan lebih.'' ucap Fadil menjelaskan.
'' Apakah semua lumbu Ireng memiliki racun seperti itu?'' tanya seseorang merasa penasaran.
'' Iya, semua lumbu Ireng memang memiliki racun.Tapi tidak semuanya memiliki racun yang kuat seperti ini.''
'' Hanya lumbu Ireng yang tumbuh di daerah tertentu saja, yang memiliki racun yang kuat. Sedangkan untuk lumbu Ireng yang sering tumbuh pada umumnya, efeknya hanya bisa membuat orang merasa pusing, muntah-muntah, dan paling banter membuat orang pingsan saja.'' jawab Fadil.
'' Lalu, bagaimana dengan Tiara Fadil? apakah racun yang ada pada lukanya termasuk racun lumbu Ireng yang kuat? Dan bisakah Tiara diselamatkan?'' tanya Sintya semakin panik mendengar penjelasan dari Fadil.
'' Iya ma. Racun yang sekarang ada pada tubuh Tiara, memang racun lumbu Ireng yang kuat. Tapi untungnya, peluru tadi sempat mengenai karet sepatu ini. Sehingga racun yang ada pada peluru tersebut, tidak terlalu banyak. Namun begitu, karena Tiara memiliki tekanan darah rendah seperti nenek. Maka, itu juga bisa membahayakan nyawa Tiara.''
'' Jadi bagaimana ini Fadil? Apa kita hanya diam saja, dan membiarkan Tiara seperti ini tanpa melakukan apa-apa?'' ujar Sintya dengan bercucuran air mata.
Fadil kemudian mengambil Tiara dari pangkuan Sintya. Lalu berdiri sambil menggendong Tiara. Dia lalu melihat kearah Abah Ubaid dan berkata:
'' Abah, apakah boleh saya pinjam ruangan untuk mengobati luka Tiara?'' tanya Fadil kepadanya.
'' Iya nak, silahkan silahkan!'' jawab Abah.
Fadil lalu membawa Tiara ke kediaman Abah. Dia juga meminta dokter Linda untuk mengikutinya. Karena nanti, dia membutuhkannya untuk memberikan suntikan obat bius kepada Tiara. Sintya, Andika, Abah, Ummi, Zul dan Naila serta Neng Geulis juga mengikuti mereka. Fadil lalu meletakkan Tiara di salah satu ruangan kosong dikediaman Abah.
'' Abah, apa Abah punya air zam-zam?'' tanya Fadil.
'' Ada nak, ada. Sebentar! Ummi, tolong ambilkan air zam-zam itu dan bawa kemari!'' pinta Abah kepada Ummi.
'' Apa masih ada yang lain yang dibutuhkan?'' tanya Abah.
Fadil lalu meminta baskom, kapas, garam kasar, kopi bubuk dan juga daun Bidara Arab secukupnya. Setelah semua yang diperlukan telah tersedia, Fadil lalu meminta dokter Linda untuk memberikan suntikan obat bius kepada Tiara. Dia juga meminta agar dokter Linda membersihkan luka Tiara. Sambil menunggu obat bius itu bereaksi, Fadil meracik ramuan yang terbuat dari bahan-bahan yang telah disediakan tadi.
Setelah beberapa menit, obat bius yang disuntikkan oleh dokter Linda kepada Tiara mulai bekerja. Fadil lalu meminta agar Tiara dipangku. Sintya dan Neng Geulis segera memangku Tiara.
__ADS_1
'' Baiklah, sekarang saya akan membuka kembali totokan yang tadi saya lakukan untuk menghambat menyebarnya racun tersebut.''
'' Ma, tolong nanti segera telungkupkan Tiara setelah totokannya saya buka, juga letakkan baskom ini dibawah lukanya nanti.'' pinta Fadil.
'' Dan tolong lakukan dengan cepat. Soalnya letak peluru yang berarun itu terlalu dekat dengan jantungnya. Saya khawatir, racun tersebut menjalar ke jantung Tiara.'' lanjutnya.
'' Iya nak! Tolong lakukan yang terbaik. Mama tidak ingin, Tiara nanti kenapa-napa.'' ujar Tiara.
Fadil segera membuka totokan di titik-titik syaraf pembuluh darah disekitar luka Tiara. Sintya dan Neng Geulis segera melakukan apa yang tadi diminta Fadil. Begitu Fadil membuka totokan tersebut, darah kembali merembes dari luka Tiara. Namun, begitu darah itu keluar dari luka Tiara, dengan cepat darah itu langsung mengental laksana jelly.
Fadil lalu meletakkan telapak tangannya dipunggung Tiara yang sudah telungkup dipangkuan Sintya dan Neng Geulis. Secara bertahap, Fadil menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Tiara. Saat tubuh Tiara mendapatkan aliran tenaga dalam dari tangan Fadil, tiba-tiba keluar darah kental dari luka Tiara.
'' Bismillah.. Bertahanlah Tiara, ini mungkin akan sedikit terasa sakit!'' ujar Fadil.
Meskipun sudah diberikan suntikan obat bius, dan juga Tiara masih dalam keadaan pingsan, namun saat setelah Fadil berkata seperti itu, tiba-tiba tubuh Tiara bergerak-gerak seakan sedang menahan rasa sakit. Setelah beberapakali keluar darah kental dari luka tersebut, entah bagaimana caranya, tiba-tiba peluru itu secara perlahan keluar dari tubuh Tiara.
Namun, setelah peluru itu keluar dari dalam luka Tiara, kembali darah kental keluar dari luka tersebut. Setelah darah kental itu telah habis dan berganti menjadi darah normal, Fadil meminta Sintya untuk membalikkan tubuh Tiara. Dia lalu meminta dokter Linda kembali membersihkan luka Tiara dengan air zamzam dan segera meneteskan ramuan yang tadi dia buat.
Setelah meneteskan air dari ramuan tersebut pada luka yang ada ditubuh Tiara, Fadil lalu meletakkan telapak tangannya diatas luka tersebut.
'' Bismillah, Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah..'' ucap Fadil sambil meletakkan tangannya di atas luka bekas peluru itu.
'' Secara dzohir, lukanya memang sudah sembuh. Namun, efek racun dari lumbung Ireng tadi, masih ada dalam tubuh Tiara.''
'' Titik hitam itu sebagai petandanya. Namun Insyaallah, dengan rutin meminum air zam-zam dan juga beberapa tetes ramuan dari daun Bidara, bubuk kopi, dan sedikit garam tadi selama satu Minggu, dia akan benar-benar pulih seperti sedia kala.'' ucap Fadil sambil menunjukkan titik hitam tersebut.
Semua orang yang ada didalam ruangan tersebut merasa takjub dan terheran-heran. Jelas-jelas, Tiara baru saja terluka. Bahkan darah dari luka tersebut juga masih berbekas pada pakaian yang dikenakan oleh Tiara, Fadil dan juga Sintya. Dan juga, peluru dan darah kental yang tadi keluar dari luka tembak di tubuh Tiara pun, masih ada didalam baskom tersebut.
Namun sekarang, luka tersebut telah hilang dan hampir tidak ada bekas sedikitpun, kecuali titik hitam tersebut. Entah bagaimana itu semua bisa terjadi. Dokter Linda yang menyaksikan hal tersebut dengan mata kepalanya sendiri, jadi dibuat bingung dengan apa yang telah disaksikannya. Ini memang benar-benar diluar nalar dan tidak bisa dijelaskan secara medis.
Tidak berapa lama kemudian, Tiara mulai tersadar dari pingsannya. Efek obat bius yang tadi disuntikkan, juga sudah mulai hilang. Tiara lalu membuka matanya. Dia terkejut saat melihat dirinya sedang berada dalam pangkuan Sintya yang sedang menatapnya sambil berderai air mata.
'' Ma, aku dimana dan aku kenapa ma?'' tanya Tiara lalu bangkit dan segera duduk.
'' Tadi kamu terluka sayang! Tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Fadil telah mengobati dan menyembuhkan lukamu.'' jawab Sintya yang langsung memeluk Tiara.
Tiara lalu teringat, kalau tadi saat dia berada diatas panggung, tiba-tiba dadanya terasa sakit dan panas. Kemudian dia ingin berlari mendekati Fadil. Namun setelah itu, dia sudah tidak ingat apa-apa lagi dan sekarang dia tiba-tiba sudah berada didalam ruangan dan dikelilingi oleh banyak orang.
__ADS_1
'' A Fadil. Bagaimana dengan A Fadil? apa dia baik-baik saja ma?'' tanya Tiara yang teringat kalau tadi Fadil diserang oleh seseorang dan dia mendengar suara tembakan.
'' Aku disini Tiara. Aku baik-baik saja!'' ujar Fadil sambil tersenyum memandang Tiara.
Tiara lalu menoleh kearah Fadil yang ada dibelakangnya. Dia ingin bangkit dan berjalan kearah Fadil untuk memeluknya. Namun, Tiara segera sadar kalau disini banyak orang serta diapun merasakan sedikit sakit di dadanya.
'' Sudah! kamu istirahat saja Tiara. Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Ini, minumlah air zam-zam ini. Niatkan untuk obat saat meminumnya.'' Ujar Fadil mencegah Tiara berdiri, sambil memberikan segelas air zam-zam kepada Tiara.
Menurut penelitian, meskipun wujud dan rasa air yang diambil dari sumur zam-zam itu tidak jauh berbeda dengan air sumur lainnya, namun para peneliti telah menemukan. Bahwa partikel dari air ini, begitu padat dan indah, serta memiliki kandungan mineral dan ion yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, serta tidak bisa ditemukan didalam air selainnya.
Beberapa keterangan juga menyebutkan. Bahwa Rasulullah Saw dalam beberapa riwayat mengatakan, bahwa air zam-zam ini, selain lebih bisa menghilangkan dahaga, juga bisa menjadi obat untuk berbagai penyakit serta tergantung daripada niat bagi orang yang meminumnya.
Setelah menerima air tersebut, Tiara kemudian meminum air itu, dan berniat seperti yang tadi dikatakan oleh Fadil. Saat air zam-zam itu telah melewati tenggorokannya, Tiara merasakan kalau rasa sakit didalam dadanya, kini mulai sedikit berkurang.
Sedikit demi sedikit, wajahnya yang tadi terlihat agak pucat, kini mulai tampak kembali normal. Hal itu membuat Sintya, juga yang lainnya merasa lega dan bersyukur, karena Tiara secara ajaib telah sembuh dan selamat dari bahaya yang barusan menimpa Tiara.
Naila dan juga Neng Geulis, langsung memeluk Tiara dengan begitu eratnya. Rasa haru dan gembira menyelimuti hati dan perasaan mereka. Hingga merekapun tidak sadar, kalau air mata mereka mengalir begitu derasnya.
Karena keadaan Tiara sudah mulai membaik, dan para tamu diluarpun masih banyak, Abah, Zul dan Ummi pun segera keluar untuk menemui mereka. Meskipun tadi telah terjadi kekacauan, namun para tamu tersebut hanya sedikit sekali yang pulang. Kebanyakan dari mereka tetap menunggu disana, dan mencari kabar selanjutnya apa yang terjadi dengan Tiara.
Para tamu itu merasa penasaran, hal apalagi yang akan dilakukan oleh Fadil selanjutnya. Mereka baru saja terkesima oleh aksi Fadil yang bisa terbang dan menangkap penembak jitu tersebut, dengan menghancurkan batang pohon yang besar itu dengan satu pukulan, hingga pohon tersebut patah menjadi dua.
Sementara itu, ditengah ramainya orang yang sedang membicarakan Fadil, Andre segera mengamankan orang yang telah menyerang Fadil, dengan membawanya kedalam mobilnya. Hampir saja, orang tersebut akan dihakimi oleh massa dan para santri yang merasa marah, akibat ulahnya mengacaukan acara tersebut. Untungnya, Andre mencegah mereka dengan mengatakan kalau orang itu akan diurus oleh Fadil seperti pesan Fadil kepadanya.
Meskipun para santri itu cukup emosi kepada orang yang telah menyerang Fadil itu, namun setelah mendengar perkataan dari Andre, bahwa tidak ada yang boleh melakukan apapun terhadapnya atas permintaan Fadil, mereka akhirnya tidak berani melakukan apapun terhadap orang tersebut.
Di sudut lain, Letnan Rifai segera mengamankan dua orang yang tadi menembak Fadil dan Tiara. Karena keduanya dalam keadaan terluka, akhirnya diapun membawa keduanya ke rumah sakit untuk diobati. Bagaimanapun juga, letnan Rifai membutuhkan informasi dari kedua orang tersebut, untuk mencari tahu siapa dalang dibalik penembakan tersebut seperti permintaan Fadil.
'' Ma, Pa, Fadil permisi dulu! Fadil mau bersihin badan dan ganti pakaian di asrama. Kalian juga sebaiknya begitu!'' ujar Fadil kemudian keluar dari kediaman Abah diikuti oleh Andika, dokter Linda dan juga Neng Geulis.
Fadil kemudian pergi ke asrama untuk membersihkan diri, mengganti pakaian dan juga sholat Dzuhur disana. Sementara Sintya, Tiara, dan Naila, mereka membersihkan diri dikediaman Abah. Sedangkan Neng Geulis dan dokter Linda, mereka pergi ke asrama putri dan mandi disana.
Meskipun Tiara tadi cukup banyak mengeluarkan darah, namun berkat energi yang tadi disalurkan oleh Fadil dan juga berkat meminum air zam-zam itu, kondisi fisik Tiara kembali normal. Bahkan, saat diperiksa oleh dokter Linda tadi, tekanan darah rendah Tiara juga menjadi normal.
Usai membersihkan diri, Fadil lalu kembali untuk mencari Andre yang sudah sejak tadi menunggunya. Hingga Fadil kembali ke tempat tersebut, suasana disana masih tampak kacau. Semua orang masih berkerumun membentuk kelompok masing-masing. Keluarga Abah dan keluarga Zul juga tampak kebingungan. Apakah acara tersebut akan dilanjutkan atau dihentikan.
Melihat kondisi ini, Fadil segera menghampiri Abah dan yang lainnya. Dia lalu mengajak mereka untuk berdiskusi. Mengingat masih banyaknya tamu yang berdatangan, juga permasalahan yang ada sudah bisa diatasi, Fadil lalu mengusulkan agar acara kembali dilanjutkan.
__ADS_1
Bagaimanapun juga, Fadil tidak ingin karena insiden yang barusan terjadi itu, membuat pesta pernikahan antara Zul dan Naila semakin kacau, serta meninggalkan kesan yang tidak baik untuk mereka.
Setelah melalui berbagai macam pertimbangan, baik dari pihak keluarga Abah, keluarga Zulkifli, tokoh masyarakat dan pihak panitia penyelenggara pesta pernikahan antara Zul dan Naila, akhirnya diputuskan kalau acara resepsi pernikahan ini tetap dilanjutkan. Melalui diskusi tersebut, Fadil juga meminta ijin kepada Abah dan yang lainnya, untuk menyampaikan sesuatu kepada seluruh orang yang ada disana.