Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Akhirnya Mereka Resmi Menikah


__ADS_3

Fadil yang merasa tidak nyaman karena kejadian tersebut, dia segera mengingatkan Tiara agar segera bangkit dari posisinya. Selain dia khawatir nanti hafalannya akan hilang lagi, dia juga takut Vita berpikir yang macam-macam kepada dia dan Tiara.


'' Tiara, cepat bangun ih! Kamu nggak malu apa diliatin sama Vita!'' bisik Fadil.


Tiara terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Fadil. Dia segera bangkit dan menoleh kebelakang. Dilihatnya, Vita masih terbengong melihat kearahnya.


'' Vita? i ini tidak seperti yang kamu bayangkan Vit. Kamu jangan berfikir yang macam macam!'' ujar Tiara dengan gugup.


'' Siapa.. lagi yang berfikir macam macam? bukannya kak Tiara sendiri yang macam-macam! Lagian, sabar dikit ngapa! Kan tinggal sehari lagi kalian menikah!''


'' Lagi pula, ini masih siang lho! di ruang tamu pula!'' celoteh Vita tak sadar mengucapkan kata kata tersebut.


'' Ih.. apaan sih kamu Vit? ini beneran tidak seperti yang kamu kira.'' Sanggah Tiara.


'' A Fadil sih.. ngomongin soal hantu, aku kan jadi takut! kamu juga Vit, ngagetin orang aja! orang lagi takut juga!''


'' Enak aja! Aku tuh cuma mau ngasih tau kak Tiara, kalau kakak dipanggil ibu dibelakang. Tapi, kak Tiara malah lompat dan ingin...'' ucap Vita tapi tidak berani melanjutkan kata-katanya, dan hanya cengar-cengir kepada Tiara.


Melihat Vita yang cengar-cengir seperti itu, Tiara jadi salah tingkah. Karena Tiara tadi berteriak cukup keras, pak Syahroni, Bu Lilis, dan Yunita yang tadi ada diruang belakang, merekapun jadi terkejut dan segera datang untuk melihat apa yang sedang terjadi.


'' Tiara, Vita! ada apaan sih, kok sampai teriak-teriak gitu?'' tanya Bu Lilis kepada mereka berdua.


Karena malu, Tiara jadi bingung untuk menjawab pertanyaan dari ibunya. Akhirnya, Vita-lah menceritakan kejadian itu. Namun, saat menceritakan hal tersebut, Vita yang teringat bagaimana tingkah Tiara yang terkejut saat disentuh olehnya, dia jadi terkekeh. Mendengar cerita Vita tersebut, Bu Lilis dan yang lainnya jadi ikut tertawa. Sementara Fadil dan Tiara, mereka jadi tersenyum malu-malu.


'' Oh.. Jadi begitu, kirain ada apaan?'' ucap Bu Lilis sambil tersenyum geli mendengarnya.


...----------------...


Dua hari kemudian. Pagi-pagi sekali Fadil sudah selesai mandi. Setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid, dia lalu berdandan dengan rapi. Dengan memakai setelan jas warna hitam dan juga kemeja putih dibagian dalamnya, dia terlihat begitu gagah dan tampan. Rambutnya juga telah dirapikan, sehingga semakin membuat dia tampak begitu menawan.


'' Waah.. Paman! Hari ini, paman keliatan beda banget. Saya sampai pangling liat paman.'' ujar Alfin.


Sejak kepulangannya dari Singapura, Fadil telah menceritakan semuanya kepada ibunya dan juga Alfin. Awalnya mereka memang terkejut, karena sebelum berangkat pergi, Fadil masih menggunakan tubuh Alan. Namun, saat pulang, yang dia datang dengan tubuh miliknya sendiri.


'' Makasih Fin. Oh iya Fin, tolong kamu masukkan parcel-parcel ini kedalam mobil ya! Sekalian, kamu panaskan mesin mobilnya.'' pinta Fadil kepada Alfin sambil menyerahkan kunci mobil kepadanya.


'' Iya paman, siap laksanakan!'' jawab Alfin penuh semangat, dan segera melakukan permintaan Fadil tersebut.


Tidak berapa lama kemudian, setelah para tetangga yang akan mengantarkan Fadil berkumpul dan sarapan disana, Fadil dan rombongan penggombyong berangkat ke rumah pak Syahroni. Arya Wijaya dan seluruh keluarganya, juga sudah datang dari Baturaja bersama Hartono dan yang lainnya. Mereka juga ikut bersama rombongan tersebut.


Puluhan mobil yang sudah dipersiapkan untuk membawa para pengantar tersebut, baik dari tempat kediaman Fadil, sampai nanti membawa rombongan kedua pengantin tersebut, menuju lokasi resepsi di Taman Jodoh usai ijab qobul nanti, semuanya telah berbaris dengan rapi ditepi jalan.


Sesampainya mereka di kediaman mempelai wanita, mereka langsung disambut oleh pak Syahroni dan keluarga besarnya, serta para penyambut tamu yang lain. Sambil menunggu kedatangan petugas P3N, yang akan mencatat dan memandu jalannya acara ijab qobul tersebut, mereka juga disuguhi hiburan musik Hadroh, sambil menikmati aneka kue yang telah disediakan disana.


Acara ijab qobul pun segera dilakukan, saat petugas tersebut telah hadir disana. Setelah proses pemeriksaan ulang data kedua calon pengantin, dan juga nasehat pernikahan yang disampaikan oleh petugas P3N tersebut selesai, barulah ijab qobul tersebut dimulai.

__ADS_1


'' Saya terima nikah dan kawinnya Mutiara Wulandari binti Syahroni dengan maskawin tersebut dibayar kontan.'' ucap Fadil melafazkan ijab qobul tersebut dengan jelas dan lancar.


'' Bagaimana saksi, apakah sah?'' tanya petugas tersebut menanyakan keabsahan ijab qobul tersebut.


'' Saaaaah..'' teriak semua orang yang ada ditempat tersebut, berbarengan dengan jawaban kedua saksi, lalu diikuti gelak tawa mereka.


'' Bapak ibu hadirin sekalian, karena kedua saksi dan semua orang yang ada disini sudah mengatakan sah, maka ijab qobul ini tidak perlu diragukan lagi keabsahannya.'' ujar petugas P3N tersebut sambil ikut tertawa, akibat kekompakan semua orang yang tadi ikut mengesahkan ijab qobul tersebut.


'' Mas Fadil dan mbak Tiara, sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri. Baik menurut hukum pemerintahan, maupun hukum agama.''


'' Dan mulai saat ini, kalian sudah tidak lagi bisa berbuat seperti saat kalian masih singgel. Kalian sudah memiliki tanggung jawab dan kewajiban terhadap pasangan kalian.''


'' Kalian sudah menyempurnakan setengah dari agama kalian, dan yang setengahnya lagi kalian berdualah yang harus melengkapinya.'' ujar petugas tersebut, memberikan wejangan kepada keduanya.


Setelah selesai menandatangani berkas-berkas surat pernikahan itu, Fadil dan Tiara lalu bersimpuh meminta doa restu dari kedua orang tua dan keluarga mereka. Tidak lupa, Fadil dan Tiara meminta doa restu dari Arya Wijaya, Andika, Sintya dan juga yang lainnya.


Suasana haru menyelimuti tempat tersebut, manakala Fadil dan Tiara bersalaman dengan mereka, diiringi dengan lantunan sholawat dari mereka semua yang hadir ditempat tersebut. Isak tangis haru dan bahagia, terdengar dari sanak saudara Tiara, Sintya dan juga ibu Zaenab.


Bagi ibu Zaenab, dia bukan hanya merasa bahagia karena kembalinya Fadil secara utuh bersamanya. Namun, melihat Fadil akhirnya bisa bersanding bersama Tiara, itu juga merupakan kebahagiaannya yang lain. Hanya saja, memang tidak ada kesempurnaan dalam kehidupan dunia ini. Ketidak hadiran ayah Fadil yang memang sudah lama meninggal, menjadi kekurangan baginya saat ini.


Namun, dengan adanya Arya Wijaya, Andika, Sintya dan yang lainnya, ini sudah ikut menutupi kekurangan tersebut. Apalagi, keluarga Arya Wijaya juga terlihat sangat menyayangi Fadil dan Tiara seperti anak dan menantunya sendiri.


Usai acara ijab qobul dan salam-salaman, mereka lalu bersiap-siap untuk pergi ke tempat resepsi pernikahan tersebut ditempat wisata Taman Jodoh. Sebelum mereka sampai di lokasi resepsi, disepanjang jalan menuju pintu gerbang tempat tersebut, berbagai macam aneka karangan bunga ucapan '' selamat menempuh hidup baru '' dari para pengusaha dan beberapa instansi, menghiasi kanan kiri jalanan tersebut.


Selain itu, berbagai aneka hiasan yang terbuat dari janur dan juga kertas hias, serta binder ucapan selamat datang yang dihiasi dengan balon warna warni, menjadikan tempat tersebut seperti tempat karnaval yang begitu meriah. Begitu rombongan pengantin tersebut turun dari mobil setelah memarkirkan mobil-mobil tersebut di lapangan, mereka langsung disambut dengan tarian daerah hingga mereka sampai didalam tenda.


Saat kedua pengantin menaiki panggung dan duduk diatas pelaminan, banyak sekali orang yang berdecak kagum memuji ketampanan dan kecantikan kedua pengantin tersebut. Dengan pakaian adat yang digunakan oleh Fadil dan Tiara, mereka terlihat seperti seorang pangeran dan putri raja, meskipun pakaian keduanya tetap menutup aurat.


Pakaian ini dibuat khusus, atas permintaan keduanya pada seorang desainer di Baturaja. Meskipun tidak seperti pakaian adat yang sering digunakan oleh kebanyakan orang, namun baik bentuk maupun coraknya tidak jauh berbeda dari yang ada pada umumnya.


Setelah semuanya siap, acara resmi-pun segera dimulai. Sambutan demi sambutan, baik dari pihak panitia pelaksana maupun dari kedua belah pihak mempelai, dan juga sambutan wakil dari para tamu segera berlalu. Semuanya diwakili oleh tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh di wilayah tersebut.


Bahkan, untuk sambutan mewakili dari para tamu, sambutan itu langsung disampaikan oleh kepala daerah, yang memang sengaja datang memenuhi undangan dari Hartono. Bagaimanapun juga, Hartono adalah orang yang memiliki pengaruh besar di daerah tersebut. Maka tidaklah mengherankan. Jika banyak tokoh-tokoh baik dari kalangan pegawai sipil maupun swasta, dan juga para pengusaha yang datang ke tempat tersebut.


Apalagi, Hartono juga mengatakan kepada mereka, kalau Arya Wijaya dan keluarganya, juga akan hadir dalam acara tersebut. Tentu saja, mendengar kalau acara ini akan dihadiri oleh orang yang cukup memiliki pengaruh di negeri ini, membuat mereka sengaja menyempatkan diri untuk ikut hadir disana.


Hal ini menjadikan pesta pernikahan Fadil dan Tiara ini, benar benar dipenuhi oleh orang-orang penting di wilayah ini dan sekitarnya. Fadil sendiri tidak pernah menyangka, kalau Hartono akan membuat pesta pernikahannya akan jadi sedemikian rupa. Namun, hal ini sangat disambut baik oleh pemerintah setempat. Karena dengan adanya hal tersebut, area tempat wisata ini akan lebih dikenal luas oleh masyarakat.


Sudah seharian penuh, Fadil dan Tiara duduk diatas singgasananya. Beberapa kostum pakaian, dari pakaian adat hingga pakaian jas dan gaun pengantin telah mereka gunakan. Mereka juga terlihat begitu sibuk, bersalaman dengan para tamu yang datang silih berganti. Mereka hanya bisa istirahat sejenak, untuk makan dan menunaikan ibadah sholat, ketika telah tiba waktunya.


'' Huff.. Tiara. Ternyata jadi pengantin itu melelahkan juga ya! Rasanya, pengen cepat-cepat selesai.'' bisik Fadil, usai melaksanakan sholat ashar di musholla yang ada ditempat tersebut.


'' Iya A, mana tamunya gak habis-habis lagi. Liat! tanganku sampai kesemutan karena terus-terusan bersalaman dengan mereka.'' sahut Tiara sambil menunjukkan telapak tangannya kepada Fadil.


'' Emm.. kasian, sini aku obatin!'' ujar Fadil, lalu memijit pergelangan tangan Tiara.

__ADS_1


Saat tangannya dipijat oleh Fadil, Tiara merasakan rasa nyaman. Bahkan, saking nyamannya, dia sampai memejamkan matanya. Beberapa orang yang akan dan usai shalat disana, mereka senyum-senyum melihat sepasang pengantin yang sedang duduk di teras musholla tersebut. Fadil yang melihat Tiara memejamkan mata tersebut, dia lalu berkata:


'' Hey, kok malah tidur! lupa ya kita masih harus menemui para tamu itu!'' ujar Fadil sambil mencubit hidung Tiara.


'' Bukan lupa A, tapi pijitan A Fadil rasanya enak banget sih! Tiara jadi ngantuk.'' jawab Tiara.


'' Emm.. jadi, enak ya? Ya udah! Nanti malam aku pijitin kamu, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dari depan juga dari belakang.'' bisik Fadil, sambil tersenyum dan menggerak-gerakkan alisnya.


'' Ih, A Fadil ngeres ah, jorok.'' ucap Tiara, lalu menutupi wajahnya yang sedikit memerah karena ucapan Fadil tadi.


'' Loh, jorok apanya? Masa iya, orang mijitin kok jorok?'' sahut Fadil.


'' Itu tadi, masa mijitin depan belakang? Emang mijitin apa coba kalau didepan.'' sahut Tiara bergidik.


'' Kalau dari belakang, ya mijitin punggung. Kalau dari depan, ya tangan, terus telapak kaki juga bisa. Emangnya, kamu pikir mijitin apa coba?'' jawab Fadil menerangkan.


'' Emm.. berarti, kamu yang ngeres Tiara.'' lanjutnya.


Merasa dirinya salah tebak, Tiara jadi semakin merasa malu. Untuk itu, dia segera bangkit dari duduknya, dan mengajak Fadil untuk kembali menemui para tamu disana. Namun, baru saja keduanya akan beranjak dari tempat tersebut, tiba-tiba:


'' Hemm.. Pantesan, dicariin kemana mana nggak ada. Ternyata, kalian malah enak enakan mojok disini!'' Ujar seseorang kepada mereka berdua.


'' Mbak Naila, kang Zul, kalian ada disini?'' ucap Tiara dan Fadil bersamaan.


'' Ulil, kamu juga?'' lanjut Fadil.


Fadil dan Tiara terkejut melihat kedatangan Zulkifli dan Naila, ditambah lagi mereka juga terkejut dengan kedatangan Ulil yang menyusul dibelakangnya.


'' Waah.. mbak Naila jahat ih, datang tidak ngasih kabar terlebih dahulu.'' ucap Tiara.


'' Surprise...'' sahut Naila, lalu langsung memeluk Tiara dengan erat.


Begitu pula Fadil dan zul.ereka juga saling berpelukan walau tidak seperti Tiara dan Naila. Fadil lalu berpelukan dengan Ulil dan memperkenalkannya kepada Zul.


'' Waah emang beda ya kalau anaknya bos besar. Nikah aja udah kayak karnaval tujuh belasan.'' celoteh Naila sambil mencubit kedua pipi Tiara.


Sudah menjadi kebiasaan Naila, kalau dia sudah bertemu dengan Tiara, dia akan merasa gemas dan langsung mencubit pipi Tiara. Tiara juga tidak mau kalah. Jari-jari mungilnya juga langsung beraksi mencubit dan menggelitiki pinggang Naila. Beberapa saat kemudian, keduanya lalu terkekeh sambil sambil mengelus-elus bagian tubuh yang terkena cubitan tersebut.


'' Kang Zul, Lil. Mari kita menyingkir dari tempat ini. Sebentar lagi, perang dunia ketiga akan segera dimulai.'' ujar Fadil, mengajak Zul dan Ulil sedikit menjauh dari Tiara dan Naila.


'' Betul kang Fadil. Ayo, sebelum kita terkena imbasnya.'' sahut Zulkifli.


Saat Fadil dan Zul berkata seperti itu, secara bersamaan Tiara dan Naila langsung menoleh kearah mereka. Sambil melotot keduanya secara kompak melepaskan salah satu sepatu yang mereka pakai, dan berpura-pura akan melemparkan sepatu-sepatu tersebut kearah Fadil dan Zul.


Secara bersamaan, Zul dan Fadil langsung merunduk. Mereka khawatir, Tiara dan Naila akan benar-benar melemparkan sepatu tersebut kepada mereka. Hanya Ulil yang masih berdiri disana. Itu dikarenakan Ulil belum tahu, bagaimana Tiara dan Naila kalau mereka sudah bersama.

__ADS_1


Melihat suami mereka merunduk ketakutan, Naila dan Tiara langsung terkekeh. Sebenarnya, mana berani mereka berbuat seperti itu kepada suami mereka. Sebagai santri dan putri seorang Kiyai, Tiara dan Naila mengetahui tentang hukum masalah tersebut. Hanya saja, karena suami mereka begitu kompak berkata seperti itu, mereka jadi ingin iseng berpura-pura melakukan hal itu.


...****************...


__ADS_2