Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Getaran hati


__ADS_3

Di seberang sana, Naila yang sedang terkekeh karena aksinya menggoda Tiara mendapat respon, dia langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya. Teriakan Tiara yang cukup keras itu, membuat telinganya terasa berdenging. Setelah beberapa saat, Naila kembali mendekatkan ponselnya di telinganya.


'' Wah.. benar-benar ya mbak Tiara ini!'' ucap Naila kemudian.


'' Benar-benar apa?'' tanya Tiara masih agak garang.


'' Ya itu!. Benar-benar Macan.'' jawab Naila.


'' Maksudnya?'' Tiara penasaran.


'' Ya selain manis dan cantik, juga garang kayak Harimau Sumatera. Jangan-jangan?''


'' Jangan-jangan apa?'' Tiara makin penasaran.


'' Jangan-jangan, karakter harimau Sumatera yang ada di komedi Atok Labu di You tube itu, terinspirasi dari mbak Tiara ya? ccc.'' ujar Naila yang gemar nonton video komedi Atok Labu di ponselnya.


'' Yey.. mana ada seperti itu!. Tapi baiklah, kalau menurut mbak Naila seperti itu. Nanti kalau aku sudah balik ke pesantren, mbak Naila akan aku gigit-gigit sampai habis. Aumm...'' ujar Tiara menirukan suara harimau.


Naila yang mendengar Tiara menirukan suara harimau itu, lantas membayangkan bagaimana dia nanti dicakar dan digigit oleh Tiara. Namun bukannya merasa ngeri, tapi dia malah merasa geli saat membayangkan hal tersebut.


'' Ampun nona Macan!, ampun nona Macan!'' ucap Naila lalu terkekeh.


'' Mbak Tiara!'' panggil Naila.


'' Iya nyonya Zul, ada apa?'' jawab Tiara menyebut Naila.


'' Ccc nyonya Zul, kayak orang-orang kaya aja panggil begituan. Eh, mbak Tiara!. Saya gak bisa bayangkan ya. Kalau nanti mbak Tiara udah nikah, terus malam pertamanya mbak Tiara segarang itu, apa berani suami mbak mendekati mbak Tiara.''


'' Duuh.. yang sudah kebelet nikah!. Sampai ngebayangin malam pertama.'' ujar Tiara.


'' Yah.. saya kan lagi ngebayangin malam pertamanya mbak Tiara lho.'' ujar Naila.


'' Ish..mbak ini, au ah lap.'' jawab Tiara tidak mau membahas hal yang seperti itu.


'' Iya deh iya!, gitu amat sih jawabnya. Eh iya mbak!. Soal yang tadi mohon maaf. Sampai sekarang, saya belum dapat nomor WA-nya kang Alan. Soalnya, pas kemaren ada kesempatan, saat kang Zul sama kang Alan kerumah, saya gak berani minta. Takut sama Abah dan Ummi.'' ujar Naila agak menyesal.

__ADS_1


'' Oh.. ya udah mbak, gak papa.'' ujar Tiara sedikit kecewa.


'' Tapi tenang saja mbak!, kalau jodoh mah tak akan kemana!'' Naila mencoba sedikit menghibur Tiara.


'' Sebenarnya, saya sudah bertemu dengan kang Alan mbak. Cuman, saya belum sempat bicara sama dia. Padahal saat ini, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan sama dia. Tapi sayangnya, sudah satu minggu ini, kang Alan tidak pernah terlihat lagi. Entah! Apa sekarang dia sudah balik lagi ke Jakarta.''


Tiara lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Alan dan juga Zul. Mulai dari saat perjalanan pulang dari pesantren, hingga dia bertemu dengan Alan saat berziarah di makam Fadil kekasihnya yang sudah tiada tersebut. Naila begitu antusias mendengarkan cerita dari Tiara. Dia bahkan ikut menangis, saat Tiara menceritakan tentang Fadil kekasih Tiara yang telah meninggal yang ternyata memiliki wajah seperti Alan, santri Abah yang datang dari Jakarta.


'' Mbak, yang sabar ya!, insyaallah semua ada hikmahnya. Mungkin ada sesuatu dibalik semua itu. Atau mungkin juga, Allah kirimkan kang Alan sebagai pengganti untuk kekasih mbak yang telah tiada.'' ujar Naila menghibur Tiara.


Tiara yang mendengar ucapan dari Naila, dia tidak begitu respon. Walaupun Tiara memang mengakui, bahwa wajah Alan yang begitu mirip dengan Fadil itu lebih tampan dan terlihat lebih kaya, namun didalam hatinya sudah terpatri rasa cinta kepada Fadil. Dan Tiara hanya berharap, entah di alam manapun, dia dan Fadil akan menyatu.


Karena waktu sudah semakin larut, Tiara lalu mengakhiri percakapannya dengan Naila. Yunita yang sejak tadi melihat Tiara sedang asyik menelpon, dia tidak berani mengganggu Tiara. Dia hanya berbaring ditempat tidur, sambil asyik melihat ponsel miliknya. Mereka kemudian tidur hingga terbangun saat waktunya untuk makan sahur.


...----------------...


Menjelang waktu Ashar, Tiara mulai sibuk membantu ibunya memasak didapur. Hingga terdengar suara adzan dari pengeras suara di masjid, dia masih terlihat begitu sibuk. Bu Lilis kemudian menyuruh Tiara untuk melaksanakan sholat ashar. Tiara lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk. Lalu pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Usai mandi dan berganti pakaian serta melaksanakan sholat ashar, Tiara lalu pergi ke depan rumahnya. Beberapa daun yang telah berwarna kuning, banyak yang berjatuhan dari pohon duku dan kelengkeng yang ada didepan rumahnya. Karena didapur sudah ada Vita dan Yunita yang membantu ibunya memasak, maka Tiara berinisiatif untuk menyapu halaman rumahnya itu tanpa diperintah oleh siapapun. Apalagi, itu memang sudah menjadi tugasnya dulu sebelum pergi ke pesantren.


'' Deg'' Jantung Tiara seakan mau lepas. Baru tadi malam dia membicarakan Alan dengan Naila. Kini, orang yang sedang dicari tahu keberadaannya itu malah berlalu di hadapannya. Senyum khas milik Fadil, kini terlihat dari bibir Alan. Tiara dengan hati yang masih tidak karuan, dia membalas senyuman Alan. Entah kenapa, perasaannya saat membalas senyuman Alan itu, dia benar-benar merasa seakan sedang membalas senyuman dari Fadil.


'' Ya Allah, pertemukanlah aku secepatnya dengan A Fadil.'' gumam Tiara dalam hati.


Meskipun akhir-akhir ini Tiara selalu teringat dengan Fadil, namun Tiara tidak lagi sering menangis. Dia sudah lebih tegar menjalani hari-harinya,semenjak mendengar kata-kata Fadil yang diucapkannya dalam mimpinya itu. Meskipun hanya dalam mimpi, namun Tiara merasa yakin, bahwa ucapan Fadil tersebut akan terwujud menjadi kenyataan.


Alan langsung membawa mobilnya menuju rumah ibu Zaenab. Meskipun baru satu minggu dia tidak bertemu dengan ibu Zaenab, Alan sudah merasa rindu dengan ibunda Fadil itu. Sikap perhatian dan kasih sayang ibu Zaenab terhadapnya, membuat hatinya selalu merasa nyaman. Untuk itulah. Begitu urusannya di Baturaja sudah banyak yang dia selesaikan, dia segera minta ijin kepada Hartono pamannya. Bahwa dia akan tinggal di Batumarta bersama ibu Zaenab, ibu dari orang yang telah mendonorkan kedua bola mata untuknya.


Alan juga telah menceritakan segalanya kepada Hartono, sehingga Hartonopun bisa memaklumi segala yang ingin dilakukan oleh Alan. Hartono juga ingin sekali bertemu dengan keluarga Fadil, untuk mengucapkan rasa terima kasih atas segala pengorbanan keluarga ini untuk Alan keponakannya. Namun, karena Hartono juga masih banyak kesibukan yang begitu padat, maka dia sementara ini belum bisa mengunjungi keluarga Fadil, dan hanya bertitip salam melalui Alan.


'' Assalamualaikum.'' ucap Alan ketika turun dari mobil, dan melihat Alfin dan ibu Zaenab yang sudah berdiri didepan pintu menyambutnya.


'' Wa'laikumsalaam warohmatullah'' jawab Alfin dan ibu Zaenab tersenyum melihat kedatangan Alan.


Alan langsung mencium tangan ibu Zaenab dan memeluknya, baru setelahnya dia menyalami Alfin.

__ADS_1


'' Ibu sehat?'' tanya Alan kepada ibu Zaenab.


'' Alhamdulillah nak, seperti yang kamu lihat.'' ujar ibu Zaenab.


'' Kamu juga baik-baik saja kan?'' lanjutnya.


'' Alhamdulillah juga bu!, berkat doa ibu, saya sangat baik.'' jawab Alan.


'' Oh iya Fin!, tolong bantu mengeluarkan ini!'' ujar Alan setelah dia membuka bagasi mobilnya.


Beberapa puluh nasi kotak dan juga buah-buahan, tampak menumpuk dibagasi mobil Alan yang baru saja terbuka.


'' Ini ada sedikit oleh-oleh buat ibu dan Alfin. Juga beberapa bungkus nasi buat berbuka puasa, untuk orang yang ada dimasjid.'' ujarnya sambil mengeluarkan semua isi bagasi mobilnya.


'' Wah.. banyak sekali paman, ini kayaknya berlebih kalau ditaruh di masjid.'' ujar Alfin yang melihat tumpukan nasi kotak tersebut.


'' Ya kalau kira-kira banyak lebihnya, bisa dibagikan kepada tetangga sekitar.'' ucap Alan.


'' Oh iya, sekalian saya minta tolong sama kamu ya Fin, untuk membagikannya.'' pinta Alan kepada Alfin.


'' Iya paman. Siap siap!'' Alfin sambil mengangguk siap melakukan permintaan Alan.


Setelah semua isi bagasi itu dikeluarkan, Alfin lalu membawa beberapa bungkus nasi kotak dan beberapa kantong plastik buah-buahan ke masjid secukupnya. Lalu sisanya dia bagikan kepada tetangga di sekitarnya. Saat menerima bungkusan nasi kotak itu, para tetangga begitu merasa senang. Pasalnya, selain menu dan ukurannya yang tidak biasa, didalam bungkusan itu juga terdapat amplop berisi uang lima ratus ribu. Sehingga tentunya akan sangat berguna untuk kebutuhan mereka yang saat ini sedang merasa kesulitan.


'' Nak, apa itu tidak berlebihan.'' ucap ibu Zaenab yang melihat Alan begitu banyak memasukkan uang kedalam amplop, lalu memasukkan amplop itu kedalam bungkusan nasi kotak.


'' Bu, sekarang ini bulan Ramadhan. Saatnya pahala amal dilipat gandakan. Saya ingin berbagi sedikit rejeki kepada orang lain. Mudah-mudahan Allah menerima amal saya, sehingga hidup saya yang tidak lama lagi ini, bisa menjadi penebus dosa dan kesalahan saya dimasa lalu.'' ucap Alan tersenyum kepada ibu Zaenab.


Ibu Zaenab bukan tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Alan. Tetapi, dia yang tidak tahu sebanyak apa harta yang dimiliki oleh keluarga Alan, merasa itu sudah terlalu banyak. Apalagi dia juga merasakan, bahwa untuk mencari uang dimasa sekarang ini begitu sulit. Ditengah melonjaknya harga segala kebutuhan, harga getah karet yang menjadi tumpuan utama penghasilan masyarakat disini juga termasuk rendah. Sehingga untuk mendapatkan uang sebanyak itu, tentu butuh waktu dan tenaga yang super ekstra.


'' Bu, tidak apa-apa. Insyaallah, Allah nanti akan memberikan ganti yang lebih dari ini.'' Ucap Alan sambil memeluk ibu Zaenab.


Ibu Zaenab tersenyum. Meski antara Alan dan Fadil tidak ada ikatan darah sama sekali, tapi ternyata bukan hanya rupa keduanya saja yang mirip. Bahkan, sifat murah hati saat beramal mereka juga sama persis. Dulu, Fadil juga pernah berwakaf tanah seluas satu hektar. Padahal, tanah yang dimiliki oleh Fadil hanya dua hektar. Itupun hasil dari jerih payahnya menabung selama beberapa tahun, dari hasil upah buruh menyadap getah karet milik orang lain.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2