
Usai melaksanakan shalat ashar berjamaah di masjid, para santri senior putra segera berkumpul di Aula pesantren. Jumlah santri senior yang ada saat ini sekitar 40-an orang, karena sebagian besar sudah pulang ke kampung halamannya masing-masing. Selain mereka yang saat ini dalam masa pengabdian selama satu tahun disini, diantaranya juga mereka adalah pengajar tetap di pesantren ini. Dan ada juga beberapa ustadz yang tinggal di luar pesantren.
Beberapa saat kemudian, Abah diikuti oleh Zul, datang dan memasuki ruangan. Semua santri segera berbaris untuk menyambut dan bersalaman dengan Abah. Setelah Abah duduk di kursi di samping podium di ruangan itu, semua santri lalu duduk lesehan. Karena di ruang Aula tersebut, tidak disediakan kursi.
'' Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.'' Abah membuka kata pada pertemuan itu.
'' Wa'alaikumsalaam warahmatullahi wabarokaatuh.'' jawab seluruh yang hadir ditempat itu.
'' Para santriku sekalian. Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa saat ini kalian Abah panggil untuk berkumpul di tempat ini?''
'' Ada sesuatu yang penting, yang ingin Abah sampaikan kepada kalian semua. Ini berkaitan dengan masalah pesantren kita, baik masalah yang terdahulu, sekarang, ataupun yang akan datang. Abah juga mohon maaf, karena beberapa tahun terakhir ini, banyak terjadi sesuatu yang membuat kalian kurang nyaman, baik dalam hal belajar ataupun mengajar. Abah bukannya tidak respon dengan masalah ini, tapi sejujurnya, Abah benar-benar tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi itu semua.''
'' Tapi Insyaallah.., mulai saat ini, Abah tidak akan tinggal diam. Abah akan berusaha sebisa mungkin, untuk melawan kedzaliman yang terjadi pada pesantren ini. Untuk itu, karena Abah juga tidak mungkin bisa melakukannya sendirian, maka Abah meminta bantuan kalian semua untuk berjuang bersama-sama.''
'' Apakah kalian semua siap berjuang untuk pesantren ini?'' tanya Abah dengan suara menggema.
'' Insyaallah, kami siap Abah.'' jawab para santri penuh semangat.
'' Apakah kalian semua berani berkorban untuk pesantren kita?'' tanya Abah lagi.
'' Insyaallah, siap Abah.'' jawab mereka lagi.
'' Apa ada diantara kalian yang ragu-ragu atau takut? kalau ada! silahkan mundur dan bergabung bersama santri junior saja.'' Abah mencoba meyakinkan.
Semua yang hadir di ruangan itu terdiam. Sudah cukup lama mereka menantikan kesempatan ini, tetapi Zul dan Abah selalu melarang mereka untuk bertindak. Maka dari itu, tentunya tidak ada satupun dari mereka yang ingin mundur.
'' Tidak Abah, kami tidak ingin mundur. Inilah kesempatan kami untuk membuktikan bahwa kami cinta pada pesantren ini, dan tidak suka dengan kedzaliman. Allahu Akbar!''... Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar ucap salah satu santri yang langsung di sambut gema takbir oleh seluruh yang hadir ditempat itu.
'' Alhamdulillah, baik kalau begitu, Abah akan sampaikan. Menurut informasi, nanti malam Deddy dan para anak buah bayaran pak Lurah, akan datang membuat keonaran di pesantren kita. Malam ini, kita akan melakukan pembelaan. Abah akan memberi kalian air minum yang sudah Abah bacakan dzikir, agar kalian kebal senjata. Namun perlu kalian ingat!, ini sifatnya hanya sementara. Jadi jangan beranggapan kalian akan kebal seterusnya. Dan juga perlu kalian ketahui, ini hanya kebal dari senjata, bukan kebal pukulan. Untuk itu, sebisa mungkin kalian harus menghindar dari pukulan yang datang kearah anggota tubuh kalian.''
__ADS_1
'' Untuk nanti malam, Abah hanya mengijinkan kalian untuk melawan. Jadi jangan sampai ada yang punya niat untuk membunuh. Ingat itu!. Hanya sebatas membela diri, dan tidak untuk melukai. Dan sebagai senjata kalian, cukup gunakan kayu atau bambu tumpul. Paham semuanya?!'' ujar Abah.
'' Paham Abah!'' serentak para santri itu menjawab.
Setelah apa yang perlu disampaikan kepada para santri itu telah tersampaikan semua, Abah kemudian memanggil Zul, Lalu menyuruh Zul untuk menyiapkan air yang tadi dibawanya. Zul segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Abah kepadanya. Setelah semua siap, Abah kemudian mempersilahkan satu persatu orang yang hadir disana, untuk mengambil air itu dan meminumnya. Setelah semuanya telah meminum air doa tersebut, secara acak Abah memanggil 3 orang yang akan melakukan testimoni kekebalan tubuh dari senjata.
Abah kemudian memanggil seorang santri lagi untuk memegang sebuah golok yang sangat tajam, yang biasa digunakan untuk menyembelih hewan qurban. Abah lalu memerintahkan santri itu untuk menyerang ketiga santri tadi. Karena serangan itu terlalu tiba-tiba, maka ketiga santri tersebut tidak sempat mengelak. Mereka secara reflek hanya menangkis serangan itu dengan tangan dan kaki mereka. Hal itu membuat semua orang yang hadir ditempat itu merasakan ketegangan.
Bagaimanapun, mereka juga mengetahui, kalau golok yang digunakan untuk menyembelih hewan qurban itu sangat tajam. Namun, mereka akhirnya tercengang, saat melihat ketiga santri yang diserang secara tiba-tiba itu, tidak ada satupun dari mereka yang terluka. Padahal, jelas-jelas mereka itu terkena sabetan dari golok tersebut. Setelah dirasa cukup, Abah kemudian menyuruh mereka untuk berhenti dan kembali ketempat masing-masing.
Setelah menyaksikan adegan tadi, semua yang hadir disana semakin merasa tenang. Karena sekarang, mereka tidak perlu takut lagi, jika nanti orang-orang yang akan mereka lawan membawa senjata. Tak lama setelah itu, mereka lalu kembali ke asramanya masing-masing, untuk membersihkan diri dan juga makan sore bersama dengan para santri yang lain.
...----------------...
Sementara itu, didalam asrama putri...
Naila, Tiara, neng Geulis ( sepupu Tiara ), dan beberapa santri putri yang lain, sedang sibuk menyiapkan makanan untuk makan sore seluruh santri yang ada di pesantren tersebut. Hari ini mereka mendapat giliran untuk memasak. Karena jumlah santri disini lumayan banyak, maka untuk keperluan dapur umum, setiap santri putri mendapat jatah seminggu sekali untuk memasak.
'' Mbak Tiara.., jangan melamun. Nanti masakannya gosong lho!'' ujar Naila saat melihat Tiara yang terlihat sedang tidak fokus.
'' Iya lho Teh.., emangnya lagi nglamunin siapa sih? akhir-akhir ini, Teteh kok keliatannya sering bengong gitu!'' sahut Neng geulis ikut menimpali.
Saat Naila dan Neng geulis berkata, Tiara agak terkejut. Dia memang sedang kepikiran tentang Fadil kekasihnya. Dia juga kepikiran, tentang siapa orang yang telah menolongnya saat kejadian minggu yang lalu. Dia masih terbayang wajah Fadil, saat kejadian dikebun teh tersebut. Sebenarnya, siapa orang yang telah menolongnya?, mengapa yang dia ingat, hanya wajah Fadil saat itu?. Tapi mengapa Naila mengatakan, kalau yang menolongnya itu bernama Alan, seorang santri baru dari Jakarta. Itulah yang ada dalam pikiran Tiara selama beberapa hari ini. Lalu, tiba-tiba Tiara kembali ingat dengan kata-kata Fadil saat dia koma dulu.
'' Tiara.., jika kamu merasa berat menjalani hidup ini, dan jika kamu begitu merindukanku, maka pergilah ke pesantren, belajarlah dengan baik disana! Insyaallah rindumu akan terobati.''
Entah, sebenarnya apa maksud Fadil berkata seperti itu. Tiara benar-benar merasa bingung dengan semua ini. Namun, ada satu hal yang membuat Tiara merasakan sesuatu yang berbeda, yaitu: saat dia melihat ataupun menyentuh sorban putih pemberian Alan, sebagai pengganti kerudungnya waktu itu. Tiara merasa, setiap melihat atau menyentuh sorban itu, seakan Fadil sedang berada didekatnya.
'' Mbak.., jangan dipikirin terus! Insyaallah semuanya akan ada hikmahnya.'' ucap Naila.
__ADS_1
'' Betul itu.., Insyaallah, kalau memang sudah jodoh mah, pasti gak akan kemana. Kayak mbak Naila ini lho! ehm ehm.'' celoteh Neng geulis menggoda Naila.
'' Iih.., apaan sih kamu?'' ucap Naila sedikit malu-malu.
Dalam pikiran Naila, saat ini Tiara masih kepikiran soal kejadian itu, sehingga dia mencoba untuk menghibur Tiara. Namun berbeda dengan pikiran Neng geulis, Dia malah mengira kalau Tiara sedang jatuh cinta pada seseorang, makanya dia malah menggoda Tiara. Neng geulis juga tidak mengetahui, tentang kejadian yang telah di alami oleh Naila dan Tiara. Sebab, baik Naila maupun Tiara, mereka merahasiakan kejadian itu kepada semua orang, termasuk kepada Neng geulis. Maka dari itu, yang mereka ketahui waktu itu adalah, kalau Naila dan Tiara terjatuh dari motor yang menyebabkan sebagian belanjaan mereka rusak atau hilang.
'' Saya tidak melamun kok mbak.., saya cuma lagi ingat keluarga dirumah.'' jawab Tiara, menutupi apa yang sedang dirasakannya.
'' Itu mah wajar mbak, saya juga dulu awal-awal seperti itu. Kangen rumah, kangen teman-teman, tapi lama-lama nanti juga biasa.'' ucap santri yang lain.
'' Oh iya, mbak Naila, Neng geulis. Emangnya nanti malam ada apaan sih? kok ngajinya sampai libur, terus kita juga tidak boleh keluar dari asrama.'' lanjut santri itu.
'' Tidak tahu mbak!, tapi yang jelas, ini pasti untuk sesuatu yang sangat penting. Kalau tidak, mana mungkin Abah sama Ummi meminta kita untuk seperti itu.'' jawab Naila.
'' Betul mbak. Tapi yang penting, kita tinggal manut aja. Saya yakin, ini adalah demi kebaikan kita semua.'' ucap Neng geulis.
Tanpa terasa, waktu sudah menjelang magrib. Seluruh santri segera datang ke masjid untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. Bagi santri laki-laki, mereka sholat di masjid Sedangkan untuk santri perempuan, mereka sholat di mushola yang ada dilokasi asrama putri. Usai sholat Maghrib, seluruh santri kembali ke asramanya masing-masing. Tiara, Naila dan Neng geulis, serta teman-teman sekamarnya, mereka melakukan darus Qur'an. Karena malam ini tidak ada kegiatan, Tiara kemudian mengeluarkan buku dan pena. Di kertas yang kosong tersebut, Tiara menulis sepucuk surat.
'' Assalamualaikum... ''
Mohon maaf sebelumnya. Dengan tidak ada maksud apapun, sengaja ku tulis sepucuk surat ini. Saya adalah orang yang beberapa hari lalu anda tolong. Maaf juga, bila saya belum sempat mengucapkan rasa terima kasih atas pertolongan anda secara langsung. Itu bukan berarti bahwa saya tidak ingin mengucapkannya, tapi situasi dan kondisi ini yang tidak memungkinkan untuk hal tersebut.
Andai saja waktu itu tidak ada anda yang menolongku dari kedzaliman orang itu, pastilah akan hancur hidupku ini. Setengah jiwaku telah hilang. Jika bukan karena bantuan anda saat itu, saya tak tahu lagi, harus bagaimana saya akan bertahan hidup. Untuk itu, dengan tidak mengurangi nilainya, melalui goresan pena ini, saya ingin mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada anda. Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya atas pertolongan anda.
Dan andai diperbolehkan, saya mohon ijin dan mohon maaf, karena kain sorban milik anda belum bisa saya kembalikan. Saya tak tahu apa sebabnya. Tapi kain itu terasa begitu berarti bagi saya. Seakan kain sorban itu, mampu mendekatkanku kepada orang yang telah membawa setengah jiwaku. Maaf... Saya mungkin tidak bisa membalas kebaikan anda. Saya hanya bisa berdoa, semoga kebaikan anda dibalas oleh Allah SWT dengan kebaikan di dunia dan juga di akhirat. Amiiin...
'' Wassalamu'alaikum...''
^^^Tiara. ^^^
__ADS_1
...****************...