Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Dan Akhirnya


__ADS_3

Malam hari usai sholat isya di masjid, Fadil kembali ke rumah Tiara. Selama satu minggu ini, sesuai kebiasaan dan adat masyarakat setempat, kedua pengantin akan tinggal di kediaman wanita. Barulah kedepannya, mereka bisa memilih tempat tinggal sesuai kehendak mereka. Mau tinggal dirumah sendiri, rumah orang tua pengantin pria, ataupun tetap tinggal di kediaman pengantin wanita.


'' Tiara! Kamu sudah sholat?'' tanya Fadil yang melihat Tiara sedang asik dengan ponselnya.


'' Udah dong A..! Tadi pas habis selesai dengerin A Fadil adzan, Tiara langsung sholat.''


'' Eh iya A, kita makan malam dulu yuk! Tiara udah lapar nih!'' ajak Tiara.


'' Emang kamu belum makan?'' tanya Fadil.


'' Belum. Kan Tiara nunggu A Fadil!''


'' Ya udah, kalau gitu ayo kita makan! Aku juga udah lapar.'' ujar Fadil, lalu beranjak menuju ruang makan bersama Tiara.


'' Tiara, ajak suami kamu makan sana! Sekalian, kamu juga belum makan kan?'' ujar Bu Lilis saat melihat Tiara dan Fadil.


'' Iya bu, ini kami juga mau makan.'' jawab Tiara.


Usai makan malam berdua, Fadil dan Tiara lalu ikut berkumpul diruang keluarga bersama yang lainnya. Disana, kedua orang tua dan juga kedua saudara Tiara, yaitu Yunita dan vita, mereka sedang duduk sambil menonton tayangan acara televisi. Sementara Nadia, sore tadi sudah kembali ke Baturaja bersama Sintya, Andika, dan juga Arya Wijaya yang menjemputnya.


Saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Fadil dan Tiara pergi ke kamarnya. Namun, mereka tidak langsung tidur, melainkan kembali mengobrol berdua dikamar tersebut sambil rebahan.


'' A Fadil! kalau nanti kita punya anak, kira-kira A Fadil pengen punya anak berapa?'' tanya Tiara yang berbaring di sisi Fadil.


'' Ya.. Kayaknya sih, cukup dua.'' jawab Fadil.


'' Belas'' lanjutnya.


Tiara yang tadinya akan menyetujui jawaban Fadil, dia akhirnya malah protes setelah mendengar kelanjutan jawabannya. Mendengar jumlah anak yang Fadil sebutkan tersebut, Tiara langsung berkomentar.


'' Dua belas? Hhh, kayak mau bikin club sepakbola aja! Enak di A Fadil enggak enak di aku dong!''


'' Loh kok bisa?'' tanya Fadil.


'' Ya iyalah! Kan perempuan yang harus mengandung dan bertaruh nyawa saat melahirkan. Sementara laki-laki, dia tidak ikut merasakan kesusahannya.'' jawab Tiara.


'' Tapikan, pahalanya juga sebanding dengan kesusahannya.'' ujar Fadil.


'' Ya iya sih, tapi gak mau ah kalau sampai dua belas mah, kayak apa aja?'' sahut Tiara menolak usulan Fadil.


'' Jadi, kamu maunya berapa?''


'' Dua aja lah A! Satu cowok satu cewek.'' jawab Tiara.


'' Ya kurang lah Tiara, kalau segitu sih.''


'' Kurang bagaimana? Kan udah lengkap, ada cowok dan juga ada cewek!'' ujar Tiara.


'' Bagimana kalau tiga?'' tanya Fadil.


'' Apa nggak masih kebanyakan?'' Tanya Tiara balik.


'' Ya nggak lah Tiara, kan pas. Nanti, kalau anak pertama kita udah gede, terus mondok di pesantren, adiknya kan masih ada temannya.'' ujar Fadil.


'' Liat nanti aja deh A! Mau dua ataupun tiga, terserah sama yang di atas saja. Yang penting, asal tidak lebih dari itu.''


'' Iya deeh.. Terserah kamu aja. Kan nanti kamu yang mengandung!'' ujar Fadil sembari menoleh kearah Tiara.


'' Nah gitu dong! Itu baru namanya suami yang sayang istri.'' sahut Tiara, lalu meletakkan kepalanya didada Fadil yang bidang. Dengan lembut, Fadil lalu membelai rambut panjang Tiara.


'' A! A Fadil pengennya, anak kita yang pertama cewek apa cowok?'' tanya Tiara sambil menghadapkan wajahnya kepada Fadil.


'' Ya.. Aku sih, maunya cowok dulu baru cewek Tiara.'' jawab Fadil, masih membelai rambut Tiara.


'' Kenapa A?'' tanya Tiara lagi.


'' Ya supaya dia nanti bisa jagain adiknya.'' sahut Fadil menjawab pertanyaan dari Tiara.


'' Apa nggak kebalik A?''

__ADS_1


'' Kebalik bagaimana maksudmu Tiara?''


'' Ya kebalik! Kan biasanya yang bisa momong itu anak cewek, bukan cowok!'' ujar Tiara.


'' Ah nggak juga Tiara. Buktinya, waktu aku masih kecil, aku juga suka momong keponakan-keponakanku. Padahal, aku kan cowok.''


'' Tapi aku pengennya cewek, biar nanti bisa bantuin aku.'' ujar Tiara.


'' Cowok!'' ucap Fadil.


'' Cewek!'' balas Tiara.


'' Cowok aja!''


'' Gak mau, aku maunya cewek.'' sahut Tiara.


Keduanya masih terus saling berebut menyatakan keinginan mereka. Hingga setelah beberapa saat, Fadil yang melihat Tiara tidak mau berhenti berkata, dia akhirnya menutup mulut Tiara dengan bibirnya.


'' Ce-wpp!?''


Tiara terkejut saat Fadil tiba tiba menciumnya. Karena kaget dengan ciuman yang tiba-tiba itu, apalagi ini merupakan untuk pertama kalinya, mata Tiara jadi terbelalak. Namun beberapa saat kemudian, diapun mulai memejamkan matanya dan membalas ciuman Fadil tersebut.


...----------------...


Beberapa minggu kemudian, Fadil, Tiara, dan juga keluarganya pergi ke Jakarta, untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Fadil dan Tiara yang diadakan oleh Sintya. Disana, Fadil dan Tiara akan kembali di rias seperti saat waktu usai ijab qobul kemarin. Hanya saja, ibunda Fadil yaitu ibu Zaenab mengatakan kepada Fadil, kalau dia tidak bisa ikut bersama mereka.


Walaupun Fadil sangat berharap agar ibunya itu ikut bersamanya ke Jakarta, namun dia juga tidak bisa memaksanya. Mungkin, ibu Zaenab memiliki alasan tersendiri, kenapa dia tidak mau ikut menghadiri acara resepsi pernikahan putranya tersebut. Fadilpun akhirnya dengan terpaksa, tidak membawa ibunya itu saat pergi ke Jakarta.


Mengingat besarnya pengaruh Arya Wijaya dalam dunia bisnis di negeri ini, tidak begitu mengherankan jika para tamu yang diundang dalam acara tersebut, merupakan orang-orang penting dan berpengaruh dari seluruh kota-kota besar dari seluruh pelosok negeri. Bahkan, Tony Chan dan seluruh keluarga besarnya, juga ikut datang menghadiri acara tersebut.


'' Wah.. Bu Sintya, kami ini orang kampung. Sepertinya untuk berada di pesta semegah ini, kami merasa tidak pantas. Kami takut, nanti kami akan membuat malu Bu Sintya dan keluarga.'' ujar pak Syahroni yang merasa minder, saat melihat persiapan pesta tersebut.


'' Iya bu, sepertinya lebih baik kami tidak ikut muncul ditengah pesta nanti.'' Sahut Bu Lilis.


'' Nggak apa-apa kok bu, pak! Kalian tidak perlu minder. Lagi pula, kami sudah mempersiapkan orang yang akan membimbing dan mengarahkan kalian untuk persiapan di pesta nanti.'' jawab Sintya.


Dua hari kemudian, acara resepsi pernikahan Fadil dan Tiarapun dilaksanakan di tempat kediaman Sintya. Selain tempat dan acaranya yang lebih berkelas, pesta tersebut juga diadakan selama dua hari. Dalam acara tersebut, Arya Wijaya juga mengumumkan kalau dalam tiga bulan mendatang, posisinya akan digantikan oleh cucunya yaitu Nadia.


Andai saja Fadil bersedia, tentulah posisi tersebut akan Arya Wijaya berikan kepada Fadil. Namun, meskipun berulangkali Arya Wijaya, Andika, dan juga Sintya membujuk Fadil, tetap saja Fadil menolak. Bahkan, Fadil juga sempat mengatakan, dia tidak akan mau membantu mereka lagi, kalau mereka semua masih tetap membujuknya tentang masalah tersebut.


Maka dari itu, Arya Wijaya tidak punya pilihan lain, kecuali memberikan posisi tersebut kepada Nadia. Sedangkan Fadil, dia hanya bersedia untuk menjadi wakil dalam membantu Nadia. Akan tetapi, ketika mendengar kalau Fadil bersedia menjadi wakil Nadia, Arya Wijaya sudah sangat senang. Karena hal itu berarti, Fadil masih akan ikut turun tangan dalam mengawasi jalannya bisnis keluarganya.


'' Tiara, menurutmu. Apakah kita ini sedang bermimpi?'' tanya Fadil.


'' Gak tau A, Tiara juga merasa seperti itu. Coba A, ini sakit nggak?'' ucap Tiara, lalu mencubit lengan Fadil.


'' Aw auw... Sakit Tiara! Enak banget ya, main cubit aja!'' teriak Fadil merasa kesakitan.


'' Berarti, kita enggak lagi mimpi A, hihihi..'' sahut Tiara cekikikan.


Fadil dan Tiara merasa terkejut. Ternyata, kado dari Arya Wijaya dan juga Sintya untuk pernikahan mereka itu adalah: Sebuah rumah yang cukup besar dan mewah, komplit dengan segala perabotannya, walaupun memang tidak sebesar dan semewah rumah Sintya. Namun, bagi Fadil dan Tiara, semua itu tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Apalagi, selain rumah tersebut, sebuah mobil sport Lamborghini Gallardo warna biru, juga sudah terparkir di garasi rumah itu lengkap dengan kunci dan surat-suratnya. Usai melihat-lihat seluruh ruangan dan sekeliling rumah tersebut, Fadil dan Tiara lalu duduk diruang keluarga sambil menonton siaran televisi disana.


'' Ini benar-benar surprise banget ya Tiara! Aku nggak nyangka, kalau kakek, mama dan papa bakalan ngasih kado seperti ini.'' ucap Fadil sambil duduk diatas sofa diruangan tersebut.


'' Bener A, coba ayah dan ibu belum pulang! Pasti mereka juga akan terkejut melihat semua ini.''


'' A, apa nggak sebaiknya ibunya A Fadil dibawa kesini aja. Kasian lho A, disana dia sendirian. Sekaligus, biar kita ada temannya gitu! Masa, rumah sebesar ini cuma ada kita berdua!'' usul Tiara.


'' Aku juga berpikir begitu Tiara. Ya udah, nanti aku akan hubungi Alfin dan meminta kepada ibu untuk tinggal bersama kita disini.'' sahut Fadil.


'' Oh iya A, ada satu lagi kejutannya.'' ucap Tiara sambil senyum-senyum.


'' Apaan itu Tiara? Kok keliatannya kamu seneng banget sampai senyum-senyum gitu!'' tanya Fadil penasaran.


Tiara lalu membisikkan sesuatu ke telinga Fadil. Mendengar kata-kata yang dibisikkan oleh Tiara, wajah Fadil begitu tampak gembira. Dia lalu menatap wajah Tiara dalam-dalam. Wajah Tiara yang cantik itu, tiba-tiba langsung memerah saat ditatap oleh Fadil. Tiara langsung menundukkan wajahnya karena malu.


'' Alhamdulillah.. Beneran Tiara? Kamu nggak bohong kan?'' ujar Fadil.

__ADS_1


Tiara mengangguk. Dia lalu menutupi wajahnya dengan bantal sofa, karena Fadil yang terus menatapnya dan membuatnya jadi salah tingkah.


'' Akhirnya, setelah sekian waktu kita menunggu, kesempatan itu datang juga ya! Mudah mudahan, kali ini tidak ada hal lain lagi yang menjadi penghalangnya.'' ucap Fadil.


'' Aamiin.'' sahut Tiara.


'' Tapi, kenapa harus nunggu nanti malam tiara? Apa nggak bisa sekarang aja, mumpung situasi dan kondisinya memungkinkan.'' ujar Fadil sambil mengernyitkan alisnya.


'' Sabar dong A! Masa, tinggal beberapa jam lagi aja A Fadil gak bisa! Lagian, Tiara juga belum bersuci.'' ujar Tiara.


Rupanya, walaupun kedua insan ini sudah resmi menikah, namun mereka belum sempat melakukan hubungan layaknya sepasang suami istri. Setiap kali mereka ingin melakukannya, ada saja sesuatu yang menjadi penghalangnya. Terakhir kali mereka ada kesempatan, ternyata Tiara malah kedatangan tamu bulanannya.


'' Iya iya, tenang aja Tiara. Aku kan cuma mau ngetes kamu aja. Lagi pula, aku juga mau minta tolong sama kang AG!''


'' Kang A-G, kang AG siapa A?'' tanya Tiara penasaran.


'' Itu tuuh! Maksudnya kang Alan Gerhana. Author yang nulis tentang kisah kita ini.''


'' Ooh.. Itu! Emang bisa?''


'' Ya kita coba aja Tiara, siapa tau bisa!'' ujar Fadil.


'' Terus! A Fadil mau minta tolong apa sama kang AG?'' tanya Tiara.


'' Ya soal nanti malam Tiara. Aku tuh maunya, kang AG tidak menceritakan soal apa yang akan kita lakukan nanti malam.''


'' Selain hal tersebut memang tidak boleh untuk diceritakan, aku juga tidak mau, kalau nanti ada pembaca yang ikut membayangkan apa yang diceritakan oleh kang AG tentang kita.''


'' Setuju A, Tiara juga sependapat dengan A Fadil.'' Sahut Tiara mendukung apa yang disampaikan oleh Fadil.


'' Eh iya Tiara! Ngomong-ngomong, kamu tau nggak kalau kang AG juga udah mulai nulis buku baru?''


'' Maksud A Fadil, kang AG bikin novel baru gitu?'' tanya Tiara sembari memeluk bantal sofa, lalu menengok kearah Fadil.


'' Iya. Judulnya agak lucu lho!'' ujar Fadil.


'' Lucu gimana A? Emang, apa sih judulnya?'' tanya Tiara mulai penasaran.


'' Iya lucu Tiara. Masa bukunya itu dikasih judul '' Dikejar Cinta Anak Juragan Jengkol'', kan lucu hhh..!'' jawab Fadil terkekeh.


'' Hhh.. iya juga ya A. Tapi, kalau dilihat dari judulnya, ini pasti tentang masalah cinta.'' ujar Tiara ikut terkekeh.


'' Sepertinya sih memang begitu Tiara. Lihat ini! Pada deskripsi ceritanya, kang AG menceritakan tentang seorang gadis anak juragan jengkol, yang sepertinya tidak menyukai seorang pemuda.'' ujar Fadil sambil menunjukkan ponselnya.


'' Kalau menurut perkiraanku, pasti pada akhirnya si cewek inilah yang nantinya akan mencintai dan mengejar cinta pemuda tersebut. Ya, hampir samalah seperti kisah kita dulu.''


'' Sama bagaimana maksudnya A?'' tanya Tiara.


'' Kan dulu kamu juga begitu! Sok jual mahal sama aku, tapi ujung-ujungnya, kamu sendiri yang klepek-klepek pengen nikah sama aku.'' ujar Fadil mengulas kembali tentang hubungan awal mereka, sambil senyum-senyum.


'' Ya beda lah A! Dulu kan, aku belum ngerti masalah cinta. Jadi ya wajar dong kalau aku tidak perduli dengan perasaan A Fadil saat itu.''


'' Tapi sekarang udah ngerti kaan?'' tanya Fadil sembari mencubit hidung Tiara.


Tiara tersenyum manis lalu mengangguk. Dengan manja, tiara kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Fadil. Fadil kemudian memeluk tubuh Tiara, lalu meletakkan kepala Tiara dalam pangkuannya.


'' A, kalau kang AG lagi nulis buku baru, berarti kisah tentang kita ini juga udah selesai dong ya?'' ucap Tiara yang kini sedang berada dalam pangkuan Fadil.


'' Sepertinya sih memang begitu Tiara. Soalnya, menurut komentar dari kang AG yang aku baca, dia bilang akan segera menamatkan buku ini.''


'' Yaah.. Gak seru deh! Padahal, kisah kita ini kan baru aja dimulai. Kenapa gak nanti aja pas kita udah punya anak, lalu punya cucu dan hidup bahagia.'' ujar Tiara.


'' Mana bisa begitu Tiara. Kan kisah ini merupakan hasil dari pemikiran kang AG. Mungkin dia punya pemikiran lain, sehingga akhirnya dia harus menamatkan kisah ini.'' ujar Fadil.


'' Yang penting, sekarang kita kan sudah bisa bersatu. Ini juga sudah merupakan akhir yang bahagia Tiara. Istilahnya itu, happy ending gitu.'' lanjutnya.


'' Tapi.. Bagaimana kalau ada pembaca yang masih menginginkan kisah ini berlanjut?'' tanya Tiara yang masih merasa kurang puas.


'' Ya tunggu nanti aja Tiara. Siapa tau, dalam buku yang akan ditulis oleh kang Alan Gerhana selanjutnya, kita masih akan ada dalam cerita tersebut.'' ucap Fadil lalu merengkuh tubuh Tiara kedalam pelukannya.

__ADS_1


...---------- TAMAT --------...


__ADS_2