
Malam itu.. Setelah Fadil bertemu dengan Ulil sahabat karibnya. Setelah dia pulang kerumahnya dan tertidur beberapa saat, dia terbangun ditengah malam. Fadil segera mengambil air wudhu, dan melaksanakan sholat malam di dalam ruang sholat yang ada dirumahnya. Disana sudah ada ibu Zaenab yang sedang melaksanakan sholat malam, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh ibunda Fadil tersebut.
Fadil usai sholat dan berzikir, dia kemudian keluar dari dalam rumahnya. Malam itu, Fadil merasakan ada sesuatu yang janggal yang sedang terjadi disekitar rumahnya. Saat dia keluar, dia melihat ada sebuah bola api yang sedang berputar-putar diatas rumahnya.
'' Hemm.. Banaspati.'' gumamnya dalam hati.
Fadil yang memang memiliki kemampuan dalam hal ilmu kebatinan, dia langsung mengetahui. Jika bola api yang sedang berputar-putar diatas rumahnya tersebut, adalah Banaspati ( jin jahat ) kiriman dari seseorang yang ingin mencelakainya. Fadil sambil mulutnya terus berzikir, dia kemudian melemparkan tasbih yang ada di tangannya.
Saat tasbih itu dia lemparkan, tiba-tiba tasbih tersebut berubah menjadi sebuah cahaya biru kehijauan. Cahaya tersebut kemudian membentuk sebuah jaring lingkaran, yang mengelilingi bola api merah yang menyala-nyala tersebut. Sehingga bola api itu tidak bisa pergi kemana-mana, karena terkurung oleh cahaya biru yang terhubung dengan tangan Fadil.
Fadil kemudian mencoba untuk menarik bola api tersebut, agar turun dari atas rumahnya. Namun gerakannya jadi terhenti, karena dia tiba-tiba merasakan kehadiran seorang yang tak jauh darinya.
'' Assalamualaikum.. Nur! kamu juga ada disini?'' sapa Fadil yang membuat orang yang baru saja datang itu terkejut.
'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah, paman Fadil? apakah benar ini paman?'' tanya Nur Alim yang merupakan keponakan Fadil, yang tinggal di daerah lain tak jauh dari kampungnya.
'' Menurutmu, kalau bukan aku! terus siapa lagi?'' tanya Fadil kepada anak dari saudaranya yang tertua tersebut.
'' Saya sudah menduga, kalau paman sebenarnya belum meninggal. Tapi saya benar-benar tidak mengerti, bagaimana paman bisa kembali!'' ujar Nur Alim.
'' Panjang ceritanya Nur! tapi itu tidak penting. Tapi ngomong-ngomong, kok kamu sendiri bisa sampai kesini, ada apa?'' tanya Fadil tersenyum menatap Nur Alim.
Fadil memang tidak merasa heran, jika keponakannya tersebut tiba-tiba bisa hadir disini. Itu memang karena keponakannya tersebut juga memiliki kemampuan seperti dirinya. Namun Fadil sedikit merasa heran, kenapa dia bisa datang ditempat ini.
'' Begini paman. Tadi saya sempat melihat, ada Banaspati yang terbang kearah sini. Saya merasa kalau Banaspati ini akan menuju ke rumah nenek, makanya saya langsung kesini. Dan ternyata itu benar. Namun saya tidak menyangka, ternyata saya malah akan bertemu paman lagi.''
'' Paman, tampaknya ada orang yang sudah paman singgung, sehingga dia telah menyuruh seseorang untuk mencelakai paman.'' ujar Nur Alim kemudian bersalaman dengan pamannya tersebut.
'' Kamu benar Nur. Kemarin memang ada orang yang tidak bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya tidak ditakdirkan untuk bersanding dengan calon istri paman. Mungkin karena itu, dia dan keluarganya ingin menyingkirkan paman.'' jawab Fadil yang sudah mengetahui siapa orang dibalik semua ini.
'' Jadi, apa yang ingin paman lakukan selanjutnya.'' tanya Nur Alim.
'' Tidak ada Nur, paman cuma mau mengirimkan kembali Banaspati ini kepada majikannya.''
'' Bagaimana kalau kita datangi majikan Banaspati ini paman? kita beri sedikit pelajaran kepadanya. Soalnya saya yakin, ini bukan untuk pertama kalinya dia melakukan ini. Mungkin sudah banyak yang menjadi korbannya.'' usul Nur Alim.
'' Hemm boleh juga Nur. Tapi paman serahkan semuanya sama kamu ya! kamukan emang paling seneng kalau ngurusin yang beginian!'' ujar Fadil sambil menyerahkan kendali cahaya biru itu kepada Nur Alim.
Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh keduanya diselimuti cahaya putih. Lalu cahaya tersebut melesat ke angkasa menuju arah darimana Banaspati tadi datang, diikuti oleh Banaspati yang masih terkurung oleh cahaya biru tersebut.
...----------------...
Ditempat lain. Seorang lelaki tua berpenampilan kumuh sedang duduk bersila. Mulutnya terus komat-kamit merapal mantra. Ditangannya, dia sedang memegang sebuah keris yang terus dia bolak-balik diatas asap kemenyan yang dia bakar.
__ADS_1
Dia adalah Mbah Tiwon. Seorang dukun yang cukup terkenal dengan ilmu hitamnya. Beberapa hari yang lalu, Yanto dan Iwan datang menemuinya. Yanto meminta kepada mbah Tiwon untuk berbuat sesuatu kepada orang yang mirip Fadil yaitu Alan, yang membuat dia dan kedua orang tuanya, ditolak oleh pak Syahroni yang ingin meminang Tiara.
Yanto yang saat itu sempat mengambil foto Alan dengan kamera ponselnya, dia lalu mencetak hasil jepretan kameranya, dan menyerahkan foto tersebut kepada mbah Tiwon. Yanto meminta agar orang dalam foto tersebut, bisa dilenyapkan dari muka bumi ini, karena telah menghalangi niatnya untuk mendapatkan Tiara.
Pada saat Mbah Tiwon sedang sibuk melakukan ritual-ritual tersebut, konsentrasinya tiba tiba menjadi buyar. Dia merasakan kalau aksinya kali ini, terkendala oleh sesuatu. Oleh karena itu, Mbah Tiwon berusaha untuk terus menambah dan mengerahkan seluruh kemampuannya, agar aksinya tersebut bisa membuahkan hasil yang dia inginkan. Namun tiba-tiba dia merasa terkejut.
'' Bruak''
wadah tempat dia membakar kemenyan itu tiba-tiba hancur. Keris yang sedari tadi dia genggampun terlempar entah kemana. Bersamaan dengan itu, dua orang pemuda tiba-tiba muncul dihadapannya.
'' Won won! kamu itu, sudah setua ini juga masih belum mau bertobat. Demi sedikit kesenangan! kamu juga rela menjadi budaknya setan.'' ucap Nur Alim.
'' Ss siapa kalian? kenapa kalian bisa ada disini?'' teriak Mbah Tiwon terkejut.
'' Menurutmu kami siapa? coba kamu lihat dia baik-baik! dan lihat apa yang kami bawa untukmu?'' perintah Nur Alim kepada Tiwon.
Mbah Tiwon kemudian memperhatikan wajah Fadil dengan seksama. Sepertinya dia merasa tidak asing dengan wajah tersebut. Kemudian tanpa sengaja, Tiwon melihat foto yang tergeletak dilantai yang ada didepannya.
'' Oh, ternyata kamu orang yang ada didalam foto itu. Sangat kebetulan kalau sekarang kamu datang sendiri kemari hhh.'' ujarnya sambil tertawa.
Mbah Tiwon merasa senang. Melihat kalau targetnya sekarang malah sudah ada didepannya langsung. Namun, dia terkejut saat melihat Banaspati yang dikirim olehnya sedang terkurung oleh cahaya biru.
Perlahan bola api yang menyala-nyala tersebut, berubah wujud menjadi sosok Buto ijo yang terus meronta-ronta, akibat tubuhnya terkurung oleh cahaya biru yang tadi dibuat oleh Fadil. Semakin sosok itu berusaha berontak untuk melepaskan dirinya, maka semakin erat cahaya biru kehijauan itu mengikat dan mengurungnya.
'' Lepaskan aku, lepaskan aku! Tiwon, kamu harus bertanggung jawab. Kamu telah mengirimkan aku pada orang yang salah.'' Teriak Banaspati dengan suara menggelegar.
'' Berisik tau! dasar mahluk jelek. Sudah seperti itupun masih mau yang aneh-aneh lagi. Mau aku habisin sekalian apa?'' kini Nur Alim merasa kesal mendengar ucapan dari Banaspati.
Nur Alim kemudian menggerak-gerakkan tangannya. Bersamaan dengan gerakan tangannya tersebut, cahaya biru yang mengurung Banaspati semakin menyempit. Menyebabkan tubuhnya yang besar itu, dipaksa mengecil mengikuti cahaya biru tersebut.
'' Ampuun, ampuun!, tolong lepaskan aku. Aku kapok tuan!'' teriak Banaspati kesakitan.
Melihat apa yang dilakukan oleh Nur Alim kepada Banaspati tersebut, mbah Tiwon dan Banaspati sendiri merasakan ketakutan. Mbah Tiwon yang sudah cukup lama bergelut dalam dunia hitam itu, dia tidak pernah menyangka, kalau kali ini dia akan bertemu dengan orang yang memiliki kemampuan jauh diatasnya.
Dia sendiri belum sanggup menaklukkan Banaspati, dan hanya bisa bekerjasama dengannya, melalui berbagai macam perjanjian-perjanjian. Yang tentu saja, perjanjian-perjanjian itu lebih menguntungkan pihak Banaspati.
Mbah Tiwon yang sudah terlanjur melakukan perjanjian dengan Banaspati, dan telah dibayar oleh Yanto untuk menyingkirkan Fadil, meskipun dia merasa takut kepada Nur Alim. Namun karena melihat Fadil yang cuma diam dan tidak menunjukkan kalau dia memiliki kemampuan, dengan diam-diam dia menggunakan ilmunya untuk menyerang Fadil.
Dengan kesaktian yang dimilikinya, dengan tanpa menyentuhnya, dia lalu menggerakkan beberapa benda pusaka yang berada di dinding dibelakangnya, dan mengarahkannya kepada Fadil.
Nur Alim yang mengetahui perbuatan yang akan dilakukan oleh mbah Tiwon, dia hanya diam seakan tidak mengetahui segalanya. Hal ini membuat mbah Tiwon semakin merasa senang, karena akhirnya dia bisa segera menyelesaikan tugas dari Yanto.
'' Wush wush wush..''
__ADS_1
Beberapa senjata seperti keris, pedang, dan tombak tiba-tiba melesat dari tempatnya menuju Fadil yang sedang berdiri diam ditempatnya. Hingga senjata-senjata itu sudah hampir menyentuh tubuh Fadil, barulah Fadil dengan begitu santainya dia mengibaskan telapak tangannya seperti mengusir nyamuk ataupun lalat saja.
'' Klontang, pletak, pluk''
Entah bagaimana caranya, namun semua senjata yang tadi akan menyentuh tubuh Fadil, tiba-tiba berjatuhan dengan sendirinya. Hal ini membuat mbah Tiwon cuma bisa melongo menyaksikan apa yang terjadi didepan matanya. Hanya dengan seperti itu saja, dia yang sudah susah-susah berupaya mengumpulkan kekuatan batinnya, ternyata didepan orang yang tadi dianggapnya tidak bisa apa-apa, malah membuatnya semakin tidak punya kemampuan apapun.
Namun, meskipun dia menyadari akan kemampuan Fadil yang tidak terduga tersebut, mbah Tiwon tetap belum bisa menerima kenyataan akan kegagalan dirinya. Dia kemudian mencoba menyerang Fadil dengan menggunakan pedang yang berada didekatnya.
Namun, lagi-lagi Mbah Tiwon dibuat semakin tercengang. Saat dia mencoba untuk menebaskan pedangnya kepada tubuh Fadil, sebuah energi besar mendorongnya hingga menyebabkan dia terpental jauh kebelakang. Dari mulutnya keluar darah segar, setelah tadi tubuhnya sempat menghantam dinding dengan cukup keras.
'' Paman, tampaknya orang ini mata hatinya sudah benar-benar buta. Bagaimana kalau sebagian tangan dan kakinya kita buat supaya tidak bisa melakukan kejahatan lagi.'' usul Nur Alim setelah melihat betapa kedekutnya Mbah Tiwon tersebut.
'' Nur, biarkan Allah saja yang nanti mengurusnya. Cukup kita hilangkan kemampuannya dalam menggunakan ilmunya, sehingga dia tidak akan membuat kerusakan lagi kepada orang lain.''
'' Baik paman, sepertinya ide paman memang lebih baik.''
'' Ya udah Nur, kamu aja yang lucutin ilmunya, kamukan paling demen dengan hal yang seperti itu.'' ujar Fadil lalu mempersilahkan Nur Alim untuk mengeksekusinya.
Dihadapan Fadil dan Nur Alim, Mbah Tiwon benar-benar tidak berdaya sama sekali. Dia hanya bisa pasrah menerima ilmu dan kemampuannya dihilangkan oleh Nur Alim. Berpuluh puluh tahun lamanya, dia telah mempelajari ilmu tersebut. Namun kini, hanya dalam hitungan detik ilmunya telah hilang sama sekali.
'' Won, andai kami mau! kami bukan hanya bisa melenyapkan kemampuanmu saja. Kami juga bisa melakukan seperti yang sudah kamu lakukan kepada orang lain.''
'' Untuk kali ini, kami masih memberimu kesempatan untuk berbenah diri dan bertaubat. Untuk itu, selagi masih ada waktu dan kesempatan bagimu untuk berubah, gunakanlah kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.''
'' Ingat! lain kali, kami belum tentu memberimu kesempatan seperti ini lagi.'' ujar Nur Alim memperingatkan mbah Tiwon, yang kini tertunduk lemas karena segala kemampuannya telah dihilangkan oleh Nur Alim.
'' Paman, bagaimana dengan mahluk jelek ini! apa yang harus kita lakukan padanya?'' tanya Nur Alim sambil melihat kearah Banaspati yang masih terkurung oleh cahaya biru disana.
'' Biarkan saja seperti itu dulu! Supaya nanti, saat orang yang menyuruh mbah Tiwon itu datang kemari, dia bisa mengambil pelajaran dari apa yang sudah dilakukannya.''
'' Nur, sepertinya urusan kita dengan mbah Tiwon sudah selesai. Biarkan besok dia menyelesaikan sendiri urusannya dengan orang yang telah menyuruhnya. Ayo kita pulang!'' ajak Fadil kepada Nur Alim keponakannya.
'' Iya paman, mari!''
Usai berkata seperti itu, tubuh keduanya lalu diselimuti cahaya putih. Lalu dengan cepat, cahaya putih itu langsung melesat di udara dan kembali ke tempatnya masing-masing.
Tidak banyak orang yang mengetahui, jika ternyata Fadil memiliki kemampuan seperti itu. Dia memang tidak pernah menunjukkan kemampuannya tersebut kepada orang lain. Kemampuan yang dimilikinya tersebut, selain memang pernah dipelajarinya saat masih remaja, sewaktu dia berada di Cirebon, juga memang sudah dia miliki dari garis keturunan.
Kakek buyutnya yang memang seorang Elang ( semacam punggawa kerajaan ), dia telah menurunkan ilmunya kepada Fadil dan juga kepada Nur Alim. Namun, Fadil selalu menyembunyikan kemampuannya itu kepada orang lain. Fadil hanya mempergunakan ilmunya tersebut, untuk keadaan tertentu saja. Oleh karena kemampuannya itu juga, saat kecelakaan yang terjadi padanya waktu itu, tubuhnya tidak mengalami luka-luka yang serius.
***
Kepada seluruh pembaca KDL ( kisah dari langit ). Author mengucapkan '' Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal 'Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.''
__ADS_1
Semoga semuanya selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan juga kehidupan yang baik, serta diberikan rezeki yang banyak. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin..
...****************...