Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Tertangkap Basah


__ADS_3

Abah Ubaid dan juga Ummi Hafshah, memperhatikan dua orang pemuda yang sedang menuju kearah mereka. Dilihatnya, salah satu pemuda yang berpakaian santri itu adalah Zulkifli, orang kepercayaan Abah. Namun mereka tidak mengenali pemuda yang bersama dengan Zul.


'' Assalamualaikum...'' Ucap Zul dan Alan ketika keduanya sudah berada didepan kediaman Abah Ubaid, dan melihat Abah dan Ummi yang sedang duduk disana.


'' wa'alaikumsalaam warahmatullah.., Zul, sini! Duduk duduk.'' Seru Abah mempersilahkan mereka berdua, duduk di kursi kayu jati yang ada disana, usai mereka bersalaman.


'' Zul, mau minum apa nih? kopi, teh, atau apa, dan ini..?'' Abah sambil membenahi posisi duduknya, lalu memandang kearah Alan.


Abah Ubaid memang sudah sangat akrab dengan Zul. Selain Zul merupakan santri senior, Zul juga merupakan orang kepercayaan Abah Ubaid. Maka dari itu, Abah Ubaid tidak lagi menganggap Zul sebagai orang lain. Apalagi sejak putranya Gus Alif meninggal dua tahun yang lalu, Dia sudah menganggap Zul seperti keluarga sendiri. Namun begitu, Zul tetap menjaga adab kesopanan terhadap Abah Ubaid.


Zul tidak pernah menyalah gunakan kepercayaan dari Abah Ubaid, untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Dia justru semakin berhati-hati dalam melakukan apapun, agar tidak merusak kepercayaan dari gurunya tersebut. Hal itulah yang membuat Abah Ubaid semakin besar menaruh kepercayaan terhadap Zul.


'' Tidak usah repot-repot Abah.., saya kesini karena ada sedikit keperluan dengan Abah. Oh iya Bah..! Ini, perkenalkan santri baru kita namanya Alan dari Jakarta.'' Zul lalu memperkenalkan Alan, setelah mereka duduk disana.


'' Oh.., jadi ini santri baru ya? Pantesan, Abah belum pernah melihat. Nak, siapa tadi namanya?'' tanya Abah.


'' Alan Abah.'' Alan langsung menjawabnya.


'' Oh.., iya ya ya!, Nak Alan mau mondok disini?'' tanya Abah Ubaid.


'' Iya Abah.., saya pengen belajar ilmu agama disini.'' jawabnya.


'' Ya ya.., bagus bagus. Ngomong-ngomong nak Alan ini pernah mondok dimana?'' tanya Abah menyelidik.


Ditanya seperti itu, Alan hanya diam kemudian menoleh kearah Zul. Melihat Alan hanya diam dan malah menoleh kearah dirinya, Zul seakan mengerti akan maksud Alan. Zul kemudian berkata:


'' Emm.., begini Bah. Kang Alan ini, baru mulai belajar hijrah. Jadi, baru memulainya di pesantren kita ini.'' ucap Zul mewakili Alan.


'' Oh.., bagus itu.! Nak Alan tak perlu malu untuk berhijrah. Tidak ada kata terlambat untuk berbenah diri. Hidayah tak selalu datang dari awal, dia bisa datang di pertengahan, bisa juga di akhir.''


'' Tidak masalah kapan datangnya. Namun yang jelas, selama nyawa masih ada di badan, Allah akan selalu menerima kehadiran hambanya. Dan jangan lupa, hidayah itu tak selalu hadir kepada setiap orang. Jadi, bagi kita-kita yang masih diberi kesempatan memperoleh hidayah entah itu dari awal, tengah, ataupun akhir! maka, harus bersyukur serta selalu menjaganya.''


Disaat Alan dan Zul tengah khusu' mendengarkan wejangan dari Abah Ubaid, dari dalam rumah muncul Ummi dan putrinya membawakan dua cangkir teh dan juga beberapa makanan ringan.


'' Wah.., Ummi, kok ini malah repot repot.'' ucap Zul, melihat kedatangan Ummi dan juga Naila putrinya.


'' Walah Zul..Zul. Kamu ini, kayak Ummi gak hapal kamu aja!. Biasanya juga, kamu yang selalu nanyain. Apalagi kalo Abah habis berpergian, yang kamu tanyain pasti oleh-oleh terlebih dulu.'' celoteh Ummi kepada Zul.


Ketika Gus Alif masih ada, Roshan dan juga Zul, merupakan teman karib gus Alif. Sehingga mereka bertiga, sudah seperti saudara kandung di mata Ummi Hafshah. Maka dari itulah, baik Abah maupun Ummi, sudah tidak segan-segan lagi bercanda dengan mereka. Namun tentunya, masih dalam batas-batas yang wajar.

__ADS_1


'' Aduh Ummi.., Ummi tahu aja bagaimana Zul. Zul jadi malu.'' ucap Zul sambil berpura-pura menutupi mukanya.


'' Elleh, malu malu!, tapi ya mau juga kan..?'' ucap Ummi sambil meletakkan dua cangkir teh, dan beberapa piring kue diatas meja bundar tersebut.


Alan yang menyaksikan itupun ikut senyum-senyum.


'' Yah..!, beginilah nak Alan. Ummi kalo udah ketemu sama Zul, Roshan dan Alif putra kami, suka banget bercanda. Kadang-kadang, Abah sampai di cuekin. Kalau saja Ummi itu masih muda, pasti Abah akan cemburu.'' ucap Abah sambil berpura-pura merajuk.


'' Abah.., kita ini udah tua!, sudah bukan masanya lagi dengan hal-hal yang kayak gitu!. Lagian, yang harusnya cemburu itu ya si Naila ini.., ya gak Nail?'' Ummi sambil melirik kepada Naila putrinya.


'' Iih.., apaan sih Ummi? pakai bawa-bawa Naila segala.'' ucap Naila malu-malu, yang kemudian segera bergegas masuk kedalam rumah.


Melihat itu, Abah dan Ummi saling memandang. Mereka memang telah menyadari, kalau sebenarnya putrinya tersebut memiliki perasaan terhadap Zul.


Dulu, Gus Alif juga pernah berkata dalam candanya kepada Naila, untuk memilih antara Zul dan Roshan. Dan ternyata Naila lebih tertarik kepada Zul. Begitu pula halnya dengan Zul, diapun memiliki rasa terhadap Naila. Hanya saja, Zul belum berani menyampaikan niat hatinya itu kepada Abah dan Ummi, karena dia masih belum siap lahir dan batin.


'' Tuuhkan! apa Ummi bilang? Zul..''


Usai berkata seperti itu, Ummi serta Abah memandang Zul. Zul yang mengerti akan maksud dari sikap Abah dan Ummi tersebut, kemudian berkata :


'' Waktunya masih belum tepat Ummi..!, persoalan yang ada di pesantren ini, masih lebih harus di perioritaskan terlebih dahulu.'' ujar Zul.


'' Eh iya, gara-gara Zul nih!. Ummi sampai lupa kalau lagi ada tamu. Maaf ya!, nak.. siapa tadi namanya?''


Ummi Hafshah bertanya kepada Alan, karena saat Zul memperkenalkan Alan tadi, Ummi sudah beranjak pergi ke dapur membuat minuman.


'' Nama saya Alan Ummi.'' jawab Alan singkat.


'' Oh.., nak Alan. Itu!, silahkan diminum tehnya. Mumpung masih hangat, sambil dicicipi juga camilannya.'' ujar Ummi.


Alan mengangguk, kemudian mengambil cangkir teh hangat yang barusan dihidangkan. Saat teh hangat itu sudah dekat dengan hidungnya, Alan mencium aroma segar dan wangi daun teh yang keluar dari cangkir tersebut, kemudian mencicipinya.


'' Wah.., tehnya benar-benar wangi dan segar Ummi. Rasanya juga, bener-bener istimewa. Jarang-jarang yang bisa membuat teh seperti ini lho Ummi! Kenapa tidak dikembangkan untuk usaha saja?''


Alan teringat saat dia masih diluar negeri. Saat itu, dia bertemu dengan seorang yang ahli dalam hal meracik teh. Dia juga sempat mencicipi teh buatannya. Dan rasanya, sangat berbeda dengan minuman teh pada umumnya.


'' Ah, nak Alan bisa saja. Ini cuma minuman teh biasa kok, ya Bah?'' ujar Ummi sambil melirik ke Abah.


Abah Ubaid juga manggut-manggut, namun sikap keduanya malah membuat Alan merasa Abah dan Umi sedang menyembunyikan sesuatu. Tadinya Ummi juga mengira, jika ucapan Alan itu hanyalah sekedar basa-basi, seperti yang sering dilakukan oleh Zul. Namun saat mendengar penuturan Alan berikutnya mereka malah tercengang.

__ADS_1


'' Tidak Ummi, ini benar-benar teh istimewa. Meski saya bukan penikmat teh sejati, namun saya bisa membedakan aroma dan rasa teh biasa dengan yang istimewa.'' ucap Alan dengan mimik wajah yang serius.


'' Sepertinya, teh buatan Umi ini, menggunakan tehnik racikan kuno pada jaman Belanda. Kalau begitu, tolong ajarin saya juga dong Ummi! Siapa tahu, bisa bermanfaat buat saya kedepannya.'' ucap Alan selanjutnya.


Abah dan Umi saling pandang. Mereka benar-benar tidak menyangka, ternyata Alan ini, mengetahui rahasia tentang racikan teh istimewa mereka.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Alan, Zul juga ikut terbengong. Dia yang sering menikmati teh buatan Ummi ini, tidak pernah tahu kalau yang diminumnya adalah teh biasa ataupun istimewa. Yang dia tahu, teh buatan Ummi ini rasanya memang nikmat.


Awalnya, Ummi ingin masuk kedalam rumah. Tapi, setelah melihat kalau santri baru ini ternyata berbeda dengan santri-santri Abah yang lain, akhirnya diapun ikut duduk disebelah Abah. Abah yang merasa rahasia milik keluarganya itu ketahuan oleh Alan, akhirnya dia mulai bercerita.


'' Begini nak Alan.., memang apa yang nak Alan katakan itu adalah benar. Teh yang kami suguhkan itu, memang merupakan teh istimewa warisan dari orang tua Abah, yang diturunkan secara turun temurun dari jaman dulu.''


'' Dulu.., orang tua Abah juga telah melakukan pembudidayaan jenis bibit teh istimewa ini, dan menjualnya kepada pemilik pabrik perkebunan teh yang ada di daerah ini. Walaupun belum sampai menjualnya dalam bentuk siap konsumsi, tapi hasilnya, Alhamdulillah.., bisa untuk membangun pesantren ini. Namun sayangnya, sejak musibah itu terjadi, semuanya kini sudah hilang. Kebun teh milik kami yang ada dibalik bukit itu, sekarang disita oleh juragan tanah yang merupakan lurah disini.''


Abah Ubaid menarik nafas panjang, dadanya terasa sesak mengingat peristiwa pahit yang dialami oleh keluarganya.


'' Sekarang, yang tersisa hanya tinggal beberapa petak sawah, yang hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja. Nak Alan bisa lihat!. Beberapa bangunan asrama, dan juga bangunan yang lain, kini terbengkalai karena tak ada dana untuk melanjutkannya.''


'' Padahal, dulu Romo yai ketika menyerahkan pesantren ini kepada Abah, Beliau mengatakan, bahwa ditangan Abahlah pesantren ini nanti akan mencapai kemajuan. Tapi pada kenyataannya, justru malah ditangan Abahlah, sekarang ini sudah mulai terlihat tanda-tanda kehancuran. Abah jadi malu dan merasa bersalah sama Romo yai.'' ucap Abah penuh kesedihan.


Alan yang merasa penasaran dengan kisah yang diceritakan oleh Abah, membenahi posisi duduknya, kemudian bertanya.


'' Abah.., kenapa kebun teh milik Abah bisa disita oleh pak lurah?'' tanya Alan penasaran.


'' Begini nak Alan. Dua tahun yang lalu, Alif putra Abah saat sedang melihat-lihat kebun teh milik kami, menemukan sekelompok orang yang melakukan pencurian besar-besaran, di perkebunan teh milik pengusaha yang katanya dari Jakarta. Saat itu, Alif segera melaporkan kejadian itu kepada mandor perkebunan tersebut. Namun, mandor itu malah mengancam Alif agar tidak ikut campur dengan urusan perusahaan mereka. Karena ternyata, para pencuri tersebut memang sudah bekerjasama dengan mandor tersebut. Dan menurut yang Alif katakan kepada Abah, ternyata para pencuri itu adalah orang-orang suruhan dan kaki tangan pak Lurah.''


'' Mengingat bagaimana sifat pak lurah, tadinya Abah sudah melarangnya untuk ikut campur masalah itu. Karena Abah khawatir, nanti akan berakibat yang kurang baik bagi Alif. Namun akhirnya, Alif tetap melaporkan hal itu kepada pihak yang berwajib, dan juga berencana melaporkan hal itu kepada pemilik perkebunan teh tersebut.''


'' Karena kurang cukup bukti, dan ditambah lagi dengan sifat licik pak Lurah itu, akhirnya Alif malah dilaporkan balik. Gugatan pak lurah dikabulkan pengadilan. Dan kami harus membayar denda sebesar 500 juta, dalam waktu kurang dari satu bulan. Hal itulah yang membuat pada akhirnya kebun kami disita. Tidak berhenti disitu. Setelah kebun kami disita, di hari yang berduka itu.., kami juga menemukan Alif yang tergeletak di pematang sawah dengan kondisi yang sangat mengenaskan dan sudah meninggal.''


Abah dengan berderai Air mata, masih terus menceritakan peristiwa pahit itu kepada Alan, laksana seorang korban yang sedang meminta keadilan kepada seorang hakim. Ummi dan Zul juga ikut menangis sesenggukan. Rasa sakit dan pedih dari peristiwa dua tahun silam itu, kembali melintas didalam benak mereka.


Alan mendengar penuturan Abah, hatinya ikut merasakan kepedihan. Matanya juga ikut berkaca-kaca. Untuk beberapa saat lamanya, Abah terdiam. Kemudian, setelah menarik nafas dalam-dalam beberapa kali, diapun mulai lanjut bercerita.


'' Sejak saat itu, Ummi sering sakit-sakitan. Dan untuk berobat Ummi, kami juga terpaksa menjual beberapa lahan disekitar pesantren. Dan yang lebih membuat kami semakin tidak berdaya lagi adalah, pak lurah berpura-pura menitipkan anaknya si Deddy untuk belajar di pesantren ini. Tentunya dengan maksud tertentu yang tidak baik. Dan itu terbukti setelah setahun dia disini, dia mencoba untuk berbuat tidak senonoh terhadap santriwati kami. Meskipun perbuatannya tidak sampai kepada hal yang lebih jauh, namun orang tua dari korban, menuntut pertanggungjawaban dari pihak kami selaku pengasuh pesantren ini.''


'' Meminta si Deddy untuk bertanggungjawab, adalah hal yang tidak mungkin. Sebab, di luar sana sudah banyak yang menjadi korban kebejatannya. Akhirnya, demi menjaga nama baik Abah dan pesantren ini, nak Roshan selaku kepala asrama putra, bersedia berkorban untuk menikahi santriwati tersebut. Selama anak itu masih ada di pesantren ini, kami masih selalu dihantui rasa kekhawatiran yang mendalam. Kalau-kalau dia akan mengulangi lagi perbuatannya itu kepada santriwati lain.''


Semakin mendengar tentang sepak terjang pak lurah dan anaknya, Alan seperti terbakar emosi. Tanpa sadar, dia mengepalkan kedua telapak tangannya. Dalam hatinya dia bertekad, akan memberi pelajaran kepada kedua orang itu beserta para kaki tangannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2