Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Pertukaran


__ADS_3

Setelah mengamati dengan teliti kondisi fisik dari jenazah Fadil, dokter Yusril kemudian berkata :


'' Sepertinya ini entah suatu kebetulan, atau mungkin memang Tuhan telah mengatur untuk semua ini, tapi.. Ini memang satu-satunya solusi terbaik untuk dapat menyelamatkan penglihatan keponakan anda pak Hartono!, saya hanya bisa mengusulkan, agar anda segera menghubungi keluarga korban ini, kemudian meminta dengan cara anda, agar bersedia mendonorkan kedua mata korban ini untuk keponakan anda. Juga ini harus secepatnya dilakukan, kalau tidak.. Saya juga tidak bisa meyakini, kalau mata korban ini masih bisa berfungsi.'' ucap dokter Yusril sambil memandang kearah Hartono.


'' Suster!, apa keluarga korban ini ada disini?'' tanya dokter Hafiz kepada salah satu asistennya.


'' Iya dok..!, Keluarga korban baru saja datang dan sedang mengurus administrasi, sepertinya ingin segera membawa pulang jenazahnya. Hanya saja sepertinya keluarganya masih ada kendala dalam menyelesaikan masalah administrasi tersebut.''


Sementara itu, Alfin yang mendapat kabar kalau Fadil pamannya mengalami kecelakaan dan meninggal, segera menuju rumah sakit dimana jenazah Fadil berada. Mendapati kalau pamannya sudah tidak lagi bernyawa, hati Alfin sangat sedih. Sejak ayahnya meninggal karena kecelakaan, dia dirawat oleh nenek dan Fadil pamannya. Sedangkan ibunya juga sudah lama meninggal saat melahirkanya. Ayahnya meninggal saat dia berumur 5 tahun. Sejak saat itulah dia hidup bersama nenek dan Fadil pamannya. Baginya, Fadil sudah seperti ayahnya sendiri. Namun ternyata, kini orang yang begitu menyayanginya juga pergi karena kecelakaan.


Alfin ingin menyampaikan kabar itu kepada ibu Zaenab neneknya, namun dia khawatir neneknya akan shock. Sehingga diapun menunda memberikan kabar itu sampai nanti jenazah Fadil dibawa pulang.


'' Suster! Apa pamanku tidak bisa lagi ditolong? Apa tidak ada cara lagi supaya pamanku bisa diselamatkan?'' Alfin dengan suara gemetar menahan kesedihan hatinya.


'' Maaf pak.., nyawa pasien sudah tidak ada sejak dalam perjalanan menuju kemari, kami sudah berusaha dari awal untuk menyelamatkannya. Namun takdir berkehendak lain. Paman anda benar-benar tidak bisa diselamatkan. Menurut hasil diagnosis, organ dalam pasien terluka sangat parah. Jantung dan paru parunya sudah tidak mungkin lagi dapat berfungsi akibat kecelakaan yang dialaminya, kami hanya dapat mengkremasi jenazahnya saja.''


'' Suster!, Jika memang begitu, bolehkah saya membawa pulang jenazah Paman saya?''


'' Oh tentu pak, tapi tolong untuk segera menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu, baru jenazah bisa dibawa pulang.''


Karena ingin segera membawa pulang jenazah Fadil secepatnya, Alfinpun segera menuju ruang kasir untuk menyelesaikan administrasi kepengurusan jenazah Fadil sekaligus biaya pengobatan Ulil sahabat pamannya. Saat Alfin melihat jumlah total biaya yang tertera pada struk itu, dia terkejut.


'' 20 juta.'' suster maaf, kenapa biayanya sampai semahal itu ya? Padahal hanya untuk membawa dan mengurusi jenazah dan sedikit perawatan untuk teman paman saya saja.'' Alfin terkejut melihat nominal itu.


'' Maaf pak!, jumlah tersebut memang merupakan biaya standar di rumah sakit ini, semuanya juga sudah tertera secara rinci didalam struk tersebut.''


'' Iya.., tapi kok bisa sampai semahal itu ya?'' Alfin masih merasa heran.


'' Begini pak, semua peralatan dan perawatan, baik ketika pasien baru dibawa dari TKP, hingga uji diagnosis untuk tubuh pasien di rumah sakit kami, semuanya dilakukan dan menggunakan peralatan yang terbaik, ditambah lagi untuk obat dan perawatan teman paman anda, juga kami menggunakan yang terbaik. Jadi biayanya memang cukup mahal.'' suster itu menjelaskan.


'' Suster, kalau untuk jumlah sebanyak itu, terus terang kami belum siap. Bagaimana kalau saya bayarkan sebesar 5 juta dulu, sisanya menyusul 2 atau 3 hari lagi, telat telatnya satu minggu lagi, asal hari ini jenazah paman saya bisa dibawa pulang.'' pinta Alfin serius.


'' Maaf pak.., prosedur rumah sakit kami, tidak mengizinkan hal itu, jadi.., jika anda ingin membawa jenazah paman anda sekarang, anda harus segera menyelesaikan administrasinya hari ini juga. Tapi kalau anda merasa keberatan dengan ini, anda sebenarnya bisa menghubungi pihak asuransi, karena pihak asuransilah yang nanti akan membayarkan biayanya. Biasanya untuk kecelakaan yang sampai menghilangkan nyawa, pihak asuransi akan memberikan dana sampai 30 juta.''


Suster itu menyarankan solusi kepada Alfin. Mendengar itu Alfin merasa sedikit lega, namun tiba-tiba wajahnya sedikit murung.

__ADS_1


'' Suster, apa kantor asuransi tetap buka dan melayani dihari hari lebaran seperti sekarang ini?''


'' Oh iya..., maaf saya lupa pak, ini masih hari libur lebaran, dan kantor asuransi baru buka sekitar seminggu lagi, maaf.'' suster itu berkata sedikit menyesal.


'' Jadi, apa bisa untuk biaya sisanya menunggu sampai dana dari pihak asuransi turun suster?''


'' Maaf pak, kami tidak bisakah'' jawab suster itu singkat.


Alfin merasa sedikit putus asa, kemudian mencoba menghubungi beberapa saudara dari pamannya yang lain, sekaligus memberitahukan kabar tentang kematian paman bungsunya itu kepada mereka. Namun sayangnya, beberapa saudara pamannya juga tidak bisa banyak membantu, karena mereka juga tidak bisa mengumpulkan dana itu sekarang, dan perlu waktu beberapa hari lagi untuk mengumpulkan uang tersebut.


Pada saat itulah, dokter Yusril, dokter Hafiz, dan Hartono datang menghampiri Alfin. Kemudian Alfin diajak ke ruangan dokter Hafiz untuk membicarakan sesuatu.


Setelah mempersilahkan Alfin untuk duduk, kemudian dokter Hafiz berkata :


'' Emm.. Begini mas..''


'' Alfin dok, saya keponakan pasien yang meninggal.'' sahut Alfin.


'' Iya, begini mas Alfin. Kami dari pihak rumah sakit ikut berduka atas meninggalnya paman anda, kami juga minta maaf, karena tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Kami sudah berupaya sebisanya, namun kondisi luka organ dalam paman anda sangat serius, anda juga pasti sudah tahu kalau paman anda juga meninggal saat dalam perjalanan menuju rumah sakit ini.''


'' Iya.., terima kasih dok.'' Alfin mengangguk.


'' Kami juga minta maaf tidak bisa membantu, karena itu memang benar-benar prosedur di rumah sakit kami, dan kami tidak bisa melanggarnya. Namun, pak Hartono ini bisa membantu anda. Hanya saja pak Hartono juga ingin meminta bantuan pada anda. Untuk itu silahkan anda dan pak Hartono berbicara secara langsung, karena kami hanya sebatas menjembataninya saja. Pak Hartono, silahkan.'' ucap dokter Hafiz. Hartono menghela nafas lalu berkata kepada Alfin :


'' Begini nak Alfin, sebelumnya saya juga secara pribadi ingin mengucapkan turut berbela sungkawa untuk paman anda.''


'' Nak Alfin, perlu diketahui, dalam tragedi kecelakaan ini, selain paman anda dan temannya, masih ada korban yang lainnya. Dan kebetulan itu adalah keponakan saya. Saya tidak ingin membicarakan tentang siapa yang bersalah dalam kasus kecelakaan ini, karena kedua belah pihak adalah sama sama menjadi korban, dan tidak ada yang diuntungkan dalam masalah ini.''


'' Nak Alfin.., dengan tidak bermaksud apapun, saya sangat sangat berharap bantuan dari nak Alfin.''


'' Pak.., maaf, sebenarnya ini maksudnya bagaimana ya? Terus.., bantuan apa sebenarnya yang bapak inginkan dari saya?'' Alfin semakin kebingungan.


'' Jadi begini mas Alfin, dalam kecelakaan ini, keponakan dari pak Hartono mengalami cedera mata yang serius dan mengakibatkan kebutaan pada kedua matanya. Untuk dapat mengembalikan kembali penglihatannya, dia membutuhkan donor mata. Dan setelah saya periksa, satu-satunya bola mata yang cocok dan sesuai dengan kedua bola mata keponakan pak Hartono saat ini, hanya kedua bola mata milik paman anda.'' Dokter Yusril segera menjelaskan agar tidak bertele-tele, mengingat kondisi dan situasinya yang harus disegerakan.


'' Nak Alfin, benar apa yang dikatakan dokter Yusril itu, saya berjanji akan menyelesaikan permasalahan administrasi paman anda dan temannya. Juga akan mengurus masalah asuransi, supaya dana itu bisa turun sepenuhnya, serta saya akan memberikan uang kompensasi kepada keluarga anda, sebagai ucapan terima kasih. Asalkan anda mengijinkan dan bersedia mendonorkan bola mata paman anda untuk keponakan sayangnya.'' sambung Hartono.

__ADS_1


'' Maaf pak, keluarga kami mungkin bukan orang yang mampu, tapi kami tidak akan menjual salah satu organ tubuh paman saya. Apalagi dengan keadaannya yang seperti ini, terus bagaimana saya akan menjelaskan kepada keluarga kami nanti, seandainya saya tega menjual bola mata paman yang sudah meninggal.'' ujar Alfin tidak senang.


'' Nak Alfin, mohon untuk tidak salah paham. Saya bukan ingin membeli kedua bola mata paman anda, saya juga memahami perasaan dan kondisi keluarga anda, apa yang saya ucapkan tadi, itu merupakan bentuk betapa saya sangat-sangat membutuhkan bantuan dari anda, supaya bisa menolong keponakan saya,''


'' Demi untuk kemanusiaan, bukankah saling tolong-menolong itu sangat dianjurkan? dan saya rasa, paman anda juga akan merasa senang dan bangga karena sebagian dari anggota tubuhnya masih bisa bermanfaat untuk orang lain, walaupun dirinya sudah meninggal.''


'' Mas Alfin, apa yang dikatakan pak Hartono itu ada benarnya, coba mas Alfin fikir, seluruh tubuh paman anda akan dikubur didalam tanah, kemudian membusuk dan hanya menjadi santapan ulat dan cacing tanah, tetapi jika kedua bola matanya didonorkan untuk yang membutuhkan, setidaknya selama orang itu masih hidup, bola mata paman anda akan terus memberikan manfaat, meskipun anggota tubuh yang lain sudah tak bersisa.'' Dokter Hafiz juga ikut meyakinkan Alfin.


'' Tapi.., bagaimana bisa saya membawa jenazah paman saya dengan tanpa adanya kedua bola matanya? bagaimana nanti saya menjelaskan? saya juga tidak yakin, jika keluarga dan orang-orang dapat menerima alasan saya.'' Alfin mulai bimbang.


'' Begini mas Alfin, saya adalah dokter spesialis mata dan organ dalam, dan untuk operasinya saya yang akan langsung menanganinya.''


'' Nanti saya akan memasangkan juga, bola mata milik keponakan pak Hartono ditubuh paman anda dengan sebaik baiknya, sehingga jika tidak diperiksa secara intens, tidak akan ada yang tahu kalau bola matanya sudah diganti. Atau lebih tepatnya kita akan melakukan pertukaran bola mata.''Dokter Yusril menambahkan.


Akhirnya, setelah melalui beberapa pertimbangan, Alfinpun menyetujui pertukaran bola mata milik Fadil dan bola mata milik Alan. Setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan, Alan yang masih tertidur akibat suntikan obat pemenang, dan juga jenazah Fadil segera dibawa keruang operasi.


Dokter Yusril dengan sangat hati-hati memindahkan bola mata keduanya. Dengan dibantu oleh beberapa orang dokter yang ada disana, termasuk juga dokter Hafiz.


Operasi pemindahan itu dijadwalkan akan memakan waktu paling cepat selama 3 jam, namun ternyata malah dapat diselesaikan dengan baik hanya dalam waktu 1 jam.


'' SubhanAllah.., ini sungguh benar benar suatu keajaiban. Ini sepertinya memang sudah ditakdirkan. Bahkan syaraf syaraf mata dari keduanya, bisa dengan cepat menyatu saat bola mata itu diletakkan. SubhanAllah... SubhanAllah.. '' Dokter Yusril tak henti hentinya bertasbih mendapati keanehan yang terjadi didepan matanya.


Usai proses operasi pertukaran kedua bola mata itu, jenazah Fadil langsung dibawa keruang pemandian dan langsung dikafani. Semuanya dilakukan oleh orang orang yang memang ahli dalam hal itu.


Semuanya dilakukan dengan sebaik baiknya sesuai instruksi dokter Hafiz, selaku kepala rumah sakit itu, dan tentunya atas permintaan dari Hartono. Sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada pihak keluarga jenazah Fadil.


Pada saat jenazah Fadil akan dikafani usai dimandikan, salah satu petugas berkata pada rekan rekannya:


'' SubhanAllah.. Pak, baru kali ini saya melihat jenazah korban kecelakaan yang tersenyum seperti ini. Kalau diperhatikan, ekspresi wajahnya bukan seperti orang yang meninggal, tapi lebih seperti orang yang sedang tidur.''


'' Betul pak, sepertinya jenazah ini orang yang baik dimasa hidupnya, sungguh sangat disayangkan, dia meninggal dalam usia yang masih sangat muda.'' ucap yang lainnya.


Setelah semua prosesnya selesai dan jenazah Fadil akan dibawa ke rumah duka, Alfin menghubungi ketua Rt setempat, agar menyampaikan kabar itu kepada ibunda Fadil, sekaligus menyiarkan kabar itu melalui pengeras suara di masjid.


Saat Alfin akan meninggalkan rumah sakit itu, Hartono memberikan padanya uang tunai sebesar 10 juta rupiah untuk biaya pemakaman Fadil, awalnya Alfin menolak tapi karena didesak oleh Hartono, akhirnya Alfinpun menerimanya. Selain itu, Hartono juga mentransfer uang sejumlah 50 juta ke rekening Alfin. Alfin sangat terkejut dengan ketulusan Hartono yang memberikan uang sebanyak itu. Dalam perjalanan pulang itulah, Tiara menelpon ponsel Fadil dan mendapati kalau yang mengangkatnya adalah Alfin.

__ADS_1


Sementara disisi lain, Alan yang sudah diganti bola matanya dengan bola mata milik Fadil , masih tertidur karena suntikan obat bius tersebut. Dia segera dibawa ke Jakarta untuk perawatan selanjutnya. Hartono juga menghubungi kedua orang tua Alan. Awalnya mereka sangat terkejut dan shock saat mendengar kalau putranya mengalami kecelakaan. Namun Hartono menjelaskan bahwa keadaan Alan sekarang sudah cukup baik, barulah kedua orang tuanya merasa sedikit lega. Bersama dengan dokter Yusril, Hartono membawa Alan kembali ke Jakarta dengan pesawat pribadi keluarganya.


...****************...


__ADS_2