
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Semenjak Alan menceritakan segala peristiwa yang dialaminya dengan Fadil, dan juga rahasia dirinya kepada Tiara dan keluarganya, Tiara kini mulai merasa akrab dengan Alan. Namun demikian, antara Alan dan Tiara, mereka tetap menjaga jarak. Bukan hanya karena sekarang bulan puasa, tapi lebih karena Alan tidak ingin, Tiara hatinya terusik oleh kehadiran dirinya. Dengan penampilan Alan yang seperti itu, siapa yang bisa menolak Alan. Meskipun hanya sebentar, bisa saja hal itu akan terjadi. Apalagi kelak, Fadil juga akan menempati tubuh Alan. Maka dari itu, baik Tiara ataupun Alan, mereka berdua benar-benar saling menjaga diri masing-masing.
Sehari menjelang lebaran, Sintya, Andika, Arya Wijaya dan juga Nadia datang ke kota Baturaja. Selain mereka ingin mendampingi Alan saat kepergiannya nanti, mereka juga sudah lama tidak datang berkunjung ke rumah Hartono. Sudah satu bulan juga, mereka tidak bertemu dengan Alan. Untuk itu, mereka sengaja datang ke kota ini untuk berlebaran dan berkumpul bersama, sekaligus melepaskan rasa kerinduan mereka kepada Alan untuk yang terakhir kalinya.
'' Alan mama dan semuanya sekarang sudah ada ditempat pamanmu. Apa kamu masih berada ditempat ibunda Fadil?'' tanya Sintya melalui panggilan ponselnya.
'' Kalian semua sudah ada di Baturaja? kapan datang ma?'' Alan balik bertanya.
Mendengar kalau seluruh keluarganya telah datang ditempat Hartono pamannya, Alan begitu sangat gembira. Meskipun hampir setiap hari mereka saling menghubungi lewat VC atau telepon, namun rasanya jelas akan berbeda jika dibandingkan dengan bertemu secara langsung.
'' Ya udah ma! Alan secepatnya akan kesana.'' ujar Alan penuh semangat.
'' Ya Alan. Tapi ingat! hati-hati dan jangan ngebut!'' ujar Sintya mengingatkan Alan.
'' Oke ma. Alan akan ingat itu.'' jawabannya.
'' Bu, Keluarga saya dari Jakarta sekarang sedang ada di Baturaja. Saya sekarang akan kesana. Apa ibu mau ikut ke Baturaja?'' tanya Alan kepada ibu Zaenab.
'' Sepertinya ibu belum bisa ikut kesana nak. Besok kan lebaran!. Jadi ibu harus menyiapkan segala sesuatu dirumah. Ibu tidak enak kalau nanti orang-orang datang bersilaturahim, sementara dirumah tidak ada orang.'' ujar ibu Zaenab menolak ajakan Alan.
'' mungkin lain waktu saja, baru ibu ikut kamu menemui mereka.'' lanjutnya.
'' Ya udah gak papa Bu, biar besok atau lusa saja mereka yang saya ajak kemari untuk bertemu dengan ibu.''
'' Oh iya Bu, karena besok saya akan berlebaran disana, sekalian saja sekarang saya mau mengucapkan minal aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin.'' ucap Alan sambil mencium tangan ibu Zaenab lalu memeluknya.
'' Iya nak. Ibu juga, kalau ada salah kata dan tindakan ibu yang kurang baik kepadamu, ibu minta maaf. Kita tidak tahu, umur kita sampai dimana. Mumpung kita masih bisa bertemu, ibu sekali lagi minta maaf.'' ucap ibu Zaenab masih memeluk Alan.
Siang itupun Alan pergi ke Baturaja untuk menemui kedua orang tuanya dan juga kakek serta adiknya. Satu jam kemudian, Alan sudah sampai di kota Baturaja. Dia lalu mengarahkan mobil yang dikendarainya, memasuki wilayah perumahan Elite di wilayah Baturaja yang tidak jauh dari pusat keramaian kota tersebut. Perumahan elite ini sendiri, merupakan bagian dari anak cabang milik keluarganya yang dikelola oleh Hartono pamannya. Sesampainya dia didepan rumah yang paling besar dan mewah, Alan segera memarkirkan mobilnya didepan garasi mobil rumah tersebut. Tampak beberapa mobil berkelas, juga terparkir disana.
'' Assalamualaikum'' sapa Alan kepada Sintya dan Nadia yang sudah menunggu didepan pintu, menyambut kedatangannya.
'' Wa'alaikumsalaam.'' jawab Sintya dan Nadia bersamaan.
'' Ma, Nadia.'' Alan Langsung memeluk Sintya, lalu menyalami Nadia.
'' Kok gue gak dipeluk?'' ujar Nadia yang cuma disalami oleh Alan.
'' Ogah banget gue peluk elu, bocah tengil.'' jawab Alan ketika melihat pakaian Nadia yang terlihat begitu seksi.
'' Gitu amat sih kak, elu ama gue. Udah jauh-jauh gue datang dari Jakarta, capek-capek gue nyambut elu, eh.. gue dicuekin gitu.'' gerutu Nadia setelah dirinya dicuekin oleh Alan.
__ADS_1
'' Elu mau peluk? noo disono ada tiang listrik! lu peluk tu tiang listrik sepuas elu, mau sampai malem juga terserah.'' seloroh Alan sambil menunjuk ke arah tiang listrik yang tak jauh dari halaman rumah itu.
Mendengar perkataan Alan, Nadia yang tadinya tersenyum melihat kedatangan Alan. Kini cemberut kesal. Sambil menekuk mukanya, dia lantas mengejar Alan yang akan masuk kedalam rumah, dan menendang-nendang kaki Alan sambil terus mengomelinya. Alan terus menghindari tendangan-tendangan kaki Nadia, sambil terus meminta tolong kepada Sintya, agar Nadia menghentikan serangan-serangan yang dilancarkan kepadanya.
'' Ma itu ma, itu ma Nadia ma!'' ucap Alan sambil terus menghindar kesana-kemari.
'' Nadia, sudah Nadia!'' ujar Sintya meminta Nadia untuk berhenti.
'' Enggak ma. Orang kek gini, ini perlu dikasih pelajaran ma! Gak sopan banget, Nih rasain! ugh, ught.''
Karena serangan demi serangannya selalu bisa dihindari oleh Alan, Nadia kini semakin kesal. Dia malah semakin gencar menyerang Alan. Dia bahkan bukan hanya mencoba untuk menendang Alan, tangannya juga sekarang mulai mencoba memukul-mukul Alan dengan sedapat-dapatnya.
Nadia yang memakai rok pendek dan ketat itu, tentu saja merasa kesulitan untuk melakukan serangan terhadap Alan. Sehingga Alan dengan mudah bisa menghindari tendangan-tendangan Nadia. Melihat kalau teriakannya tidak digubris oleh Nadia, Sintya akhirnya mengeluarkan jurus terakhirnya. Dia langsung berteriak memanggil ayahnya yaitu Arya Wijaya.
'' Papa.. ini nih cucu-cucumu, kumat lagi.'' teriak Sintya memanggil Arya Wijaya.
Mendengar suara keributan diluar sana, Arya Wijaya, Andika dan juga Hartono beserta istrinya, mereka segera keluar dari dalam rumah. Terlihat oleh mereka semua, Nadia yang sedang mengejar Alan, terus menerus dengan kesalnya menyerang Alan sambil mulutnya tak berhenti berceloteh.
'' Dasar gak sopan. Rasain nih! ugh, ught. Hayo mau kemana lu? nih rasain!'' teriak-teriak Nadia.
Melihat muka kesal Nadia yang tidak bisa mendaratkan serangan-serangannya, Alan semakin terkekeh. Namun, dia juga tidak berhenti untuk meminta Sintya agar Nadia segera menghentikan aksinya.
'' Nadia, Alan. Sudah hentikan!'' perintah Arya Wijaya kepada keduanya.
'' Dari tadi mama teriak-teriak, kalian gak peduli. Giliran kakek kalian yang bicara, langsung pada diam. Nih rasain!'' ujar Sintya menjewer telinga mereka dan membawa keduanya kehadapan Arya Wijaya.
'' Aduh!, ampun ma ampun!'' ucap Alan dan Nadia.
'' Kalian ini ya. Baru kemarin bisa akur, sekarang sudah mulai lagi.'' ucap Arya Wijaya, setelah mereka sampai dihadapannya.
'' Habisnya, kak Alan nih kek! gak sopan banget. Masa nyuruh Nadia peluk tiang listrik sampe malem.''
'' Enak aja, siapa yang gak sopan?'' ujar Alan menoleh kearah Nadia.
'' Elu yang gak sopan.'' jawab Nadia ketus.
'' Elu kali yang gak sopan, liat tuh pakaian elu! puasa-puasa juga, pake yang begituan.'' jawab Alan tak mau kalah.
'' Tuh kan Nadia! udah mama bilangin juga. Kalau mau ketemu kakakmu, jangan pake pakean yang seperti itu.'' ucap Sintya yang tadinya telah mengingatkan Nadia, agar tidak memakai pakaian yang seksi.
'' Sudah-sudah! itu aja dipermasalahkan. Sini, biar kakek saja yang memeluk kalian berdua.'' ujar Arya Wijaya, kemudian merengkuh keduanya kedalam pelukannya.
__ADS_1
Dalam pelukan Arya Wijaya, mereka kemudian berjalan masuk kedalam rumah diikuti oleh yang lainnya. Saat berjalan itu, Nadia dengan kesalnya mencubit pinggang Alan. Alan yang tidak mengira kalau Nadia akan mengambil kesempatan itu untuk melepaskan kekesalannya, dia terkejut dan segera mencoba melepaskan tangan Nadia yang sedang mencubit pinggangnya.
'' Auw.. Sakit Nadia, lepaskan.'' ujar Alan sambil meringis menahan sakit.
'' Nadia.. Sudah! denger gak?'' ujar Arya Wijaya sambil menoleh kearah Nadia.
'' Habis! Nadia kesel banget kek!'' ujar Nadia manja lalu melepaskan cubitannya di pinggang Alan.
Mendengar ucapan Nadia yang memang terlihat begitu kesal, mereka semua akhirnya tertawa. Lagi-lagi, tingkah mereka yang selalu seperti Tom and Jerry itu, sepertinya tidak akan bisa dihilangkan sampai kapanpun.
Setelah mereka sampai didalam, Arya Wijaya melepaskan pelukannya. Alan lalu menghampiri Andika dan berpelukan dengan ayahnya tersebut.
'' Bagaimana Alan? apakah kamu sudah benar-benar bertemu dengan keluarganya Fadil itu?'' tanya Andika setelah mereka duduk diruang tamu.
'' Alhamdulillah pa. Alan sudah bertemu dengan ibunda Fadil. Bahkan Alan sudah menceritakan semuanya. Dan ibunda Fadil, bukan hanya bisa menerima kenyataan ini, tapi juga malah sudah menganggap Alan seperti anaknya sendiri.''
'' Beberapa minggu ini juga, Alan tinggal disana. Ibunda Fadil, benar-benar sangat menyayangi Alan pa.'' ujar Alan menceritakan bagaimana ibunda Fadil telah memperlakukan dirinya dengan begitu baik.
'' Jadi menurutmu, mama tidak sayang sama kamu, dan tidak seperti ibunya Fadil gitu?'' ucap Sintya cemburu dengan pengakuan Alan terhadap ibunya Fadil.
'' Ya gak seperti itu dong ma!, mama juga sangat-sangat menyayangi Alan. Dan mama tetap mamanya Alan yang terbaik.'' ucap Alan lalu memeluk Sintya yang duduk disebelahnya.
Sintya yang tadi ingin merajuk, kini tersenyum. Dia lalu membalas pelukan Alan dengan begitu erat. Ternyata, Sintya yang mengetahui bahwa putra semata wayangnya akan pergi meninggalkan mereka semua itu, dan nanti jasadnya akan digunakan oleh Fadil, masih belum bisa merelakan dengan sepenuhnya.
'' Ma.. jangan khawatir. Nanti Alan akan meminta Fadil, agar tetap menyayangi mama dan semuanya, seperti Alan menyayangi kalian.'' ujar Alan yang mulai menyadari kekhawatiran Sintya selepas kepergiannya nanti.
'' Dan satu lagi ma!, Alan juga sudah bertemu dengan calonnya Fadil. Meskipun dia berasal dari keluarga yang sederhana, namun dia sangat cantik dan baik. Jadi, nanti mama akan punya menantu yang bisa membuat mama bahagia. Tidak seperti..'' Alan melirik kearah Nadia.
Nadia yang langsung memahami kearah mana tujuan perkataan Alan, dia langsung cemberut. Lalu dengan kesalnya, diapun berkata:
'' Apa? tidak seperti siapa? hayo bilang!'' ujar Nadia sambil mengepalkan tinjunya kearah Alan.
'' Stop stop! kalian ini. Mau mulai lagi ya?'' ujar Sintya kesal.
'' Enggak kok ma!, siapa juga yang mau bilang seperti Nadia. Alan cuma mau bilang seperti.. itu, siapa ya namanya? oh iya seperti Markonah, ya seperti Markonah.'' ujar Alan mencoba mencari pengalihan dari Nadia.
'' Emang, siapa itu Markonah?'' tanya Sintya.
'' Itu lho ma, YouTubers yang kalo ngomong suka bikin kesel. Emang elu mau! kalo disamain dengan Markonah?'' tanya Alan menatap Nadia yang duduk diseberang meja bersama Arya Wijaya.
'' Ya gaklah, masa gue mau disamakan dengan Markonah.'' ucap Nadia mengelak jika dirinya disamakan dengan Markonah.
__ADS_1
Meskipun mereka semua tidak tahu seperti apa Markonah tersebut, namun melihat sikap dan ekspresi Nadia yang begitu enggan disamakan dengan nama itu, mereka akhirnya tertawa karena sikap lucu dari Nadia.
...****************...