Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Mati Bunuh Diri


__ADS_3

Karena ingin secepatnya mengembalikan suasana kembali normal seperti semula, Fadil segera kembali naik ke atas panggung. Orang-orang yang masih berkerumun dalam kelompoknya masing-masing itu, mereka semua menatap kearah panggung dimana Fadil berdiri. Setelah mengucapkan salam, Fadil lalu berkata:


'' Bapak ibu hadirin sekalian. Mohon perhatiannya sebentar! Saya mewakili keluarga Abah, teman-teman panitia, dan secara khusus, saya pribadi dan keluarga saya sendiri.''


'' Kami benar-benar minta maaf, atas ketidak nyamanan yang terjadi ditempat ini. Sungguh, kejadian ini diluar perkiraan kami. Saya juga secara pribadi, dengan penuh kerendahan hati, memohon kepada seluruh yang hadir ditempat ini. Agar sekiranya dengan penuh keikhlasan, dapat memaafkan dan melupakan kejadian yang baru saja terjadi ditempat ini.''


'' Memang, kalau dilihat dari apa yang terjadi barusan, sepertinya ada seseorang yang telah menargetkan saya ataupun keluarga saya. Entah karena masalah apa ataupun untuk apa, saya juga sejujurnya kurang paham. Untuk itu, sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang terjadi.''


'' Namun demikian, kami sekeluarga siap bertanggung jawab secara penuh, apabila kejadian ini telah menimbulkan kerugian, baik secara moril maupun materil bagi siapapun yang hadir ditempat ini. Untuk itu, bagi siapapun yang merasa dirugikan oleh kami karena kejadian hari ini, silahkan menghubungi kami baik secara langsung, ataupun melalui wakil kami yaitu pak Andre.''


'' Rekan rekan santri, dan bapak ibu hadirin sekalian. Hari ini adalah hari pernikahan kang Zul dan putri Abah yaitu mbak Naila. Harusnya, hari ini menjadi hari yang paling indah bagi mereka berdua dan keluarga. Namun, karena kejadian tadi, semuanya menjadi seperti ini.''


'' Maka dari itu, saya mohon dengan sangat kepada semua yang ada disini, khususnya bagi keluarga besar Abah dan juga pihak penyelenggara acara ini. Sekiranya dapat kembali melanjutkan acara tersebut.''


'' Dan untuk mengantisipasi serta menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami akan meminta kepada pihak kepolisian untuk menjaga dan mengawasi jalannya acara ini, hingga acara tersebut paripurna.'' ujar Fadil sebelum mengakhiri perkataannya.


Semua orang yang hadir ditempat itu, terutama para santri sebagai pihak penyelenggara acara tersebut. Mereka juga sangat setuju dengan apa yang barusan dikatakan oleh Fadil. Mereka juga tidak ingin, kalau acara pernikahan putri kiyai mereka dihentikan karena masalah tadi.


Dengan adanya penjagaan yang cukup ketat dari pihak kepolisian wilayah tersebut, akhirnya pesta itupun dilanjutkan kembali setelah di jeda beberapa saat untuk melaksanakan sholat Dzuhur.


Hiburan berupa sholawat Hadrah dan juga beberapa tampilan-tampilan dari beberapa santri, kembali dilanjutkan untuk mengisi acara tersebut. Hanya saja, kedua pengantin dan kedua orang tuanya masing-masing, tidak lagi di tempatkan diatas panggung, melainkan mereka duduk bersama para penerima tamu yang ada disana.


'' Tuan muda, bagaimana dengan orang itu? apa yang akan tuan muda lakukan padanya?'' bisik Andre kepada Fadil.


'' Dimana dia sekarang?'' tanya Fadil.


'' Ada didalam mobil tuan muda. Dia sudah kami ikat dan dijaga oleh dua orang anak buah saya.'' jawab Andre.


'' Bawa aku kesana! aku ingin tau apa motifnya dia menyerangku dan siapa yang menyuruhnya?''


'' Baik tuan muda, mari kita kesana!'' ajak Andre lalu berdiri dari duduknya.


Fadil pun segera berdiri. Dia lalu pamit kepada Abah dan yang lainnya. Melihat Fadil akan pergi, Letnan Rifa'i segera menghampiri Fadil. Dia ingin tahu Fadil akan kemana, sekaligus dia juga ingin melaporkan sesuatu padanya.


'' Mas! mas Alan mau kemana? ada yang ingin saya sampaikan sama mas. Ini mengenai dua orang itu!'' ucapnya kepada Fadil.


'' Baik kalau begitu, mari ikut kami!'' ajak Fadil.


Mereka bertiga lalu pergi menuju mobil tempat mengurung orang yang tadi menyerang Fadil. Sambil mereka berjalan. Letnan Rifa'i berkata:


" Maaf mas, kami belum dapat informasi apapun dari dua orang itu, namun kami telah kecolongan.''


'' Maksudnya kecolongan bagaimana mas pa,i?'' tanya Fadil sambil menoleh kearahnya.


'' Begini mas! Saat kedua orang itu akan kami bawa ke rumah sakit, tanpa kami duga sebelumnya, ditengah perjalanan kesana itu, mereka tiba-tiba mati mas! Kami belum tahu apa penyebab kematian mereka. Namun, besar kemungkinan kalau keduanya mati karena bunuh diri.''

__ADS_1


'' Sepertinya, mereka itu merupakan pembunuh bayaran profesional. Karena, mereka lebih memilih mati, daripada harus membocorkan rahasia mereka.''


'' Ini keteledoran kami mas! Kami benar-benar minta maaf mas Alan. Dan sekarang! kita hanya punya satu orang narasumber, yang bisa kita cari informasi darinya. Dan dia itu adalah orang yang tadi menyerang mas Alan.'' ujar letnan Rifa'i menjelaskan.


'' Maaf tuan muda. Apa tuan muda sudah tahu, siapa sebenarnya orang yang menyerang tuan muda tadi?'' tanya Andre.


'' Apakah dia Baron?'' Fadil malah balik bertanya kepada Andre.


Saat dibekuk tadi, orang yang menyerang Fadil menggunakan pisau belati itu, menggunakan masker dan kaca mata hitam, serta memakai topi. Sehingga tidak ada yang mengenali orang tersebut. Namun, didalam mobil tadi, Andre membuka masker, topi, dan juga kaca mata orang tersebut, sehingga dia bisa mengenali wajah orang tersebut.


'' Iya tuan muda. Dia itu Baron, anak buah pak Lurah yang tempo hari membuat kerusuhan di pesantren ini.'' jawab Andre.


'' Mas pa,i! Bukanya Baron harusnya masih di penjara?'' tanya Fadil kepada letnan Rifa'i.


'' Maaf mas! Beberapa minggu yang lalu, kantor kami diserang. Beberapa anggota kami, juga ada yang terluka akibat serangan tersebut. Dan para penyerang itu, membawa serta Baron dari sana. Sehingga status Baron sekarang ini adalah buronan.'' ujar letnan Rifa'i menjelaskan.


Tidak berapa lama kemudian, merekapun sudah sampai didepan mobil dimana Baron ditahan. Dua pengawal Andre segera mengeluarkan Baron dari mobil, dan memaksa Baron untuk berlutut.


'' Ternyata, kamu memang hebat juga anak muda. Selain tampan, kaya, juga pandai ilmu beladiri. Tapi sayang, kamu tidak punya hati!'' ujar Baron begitu dia melihat Fadil.


Andre yang mendengar celotehan Baron seperti itu, dia merasa geram. Dia lalu mendekati Baron, dan ingin menghajarnya. Namun Fadil langsung mencegah Andre, dan menyuruhnya untuk tidak melakukan apapun terhadap Baron.


'' Apa maksudmu berkata seperti itu? Bukannya kamu sendiri yang tidak punya hati.''


'' Aku memang pengikut pak lurah. Tapi aku tidak pernah melakukan apapun seperti yang kamu katakan itu.'' jawab baron.


'' Aku akui. Dulu, sebelum kedua orang tuaku sakit dan lumpuh, aku memang suka berbuat yang tidak baik. Tapi, aku tidak pernah membunuh orang.''


'' Dan sejak aku menikah, aku juga sudah ingin bertobat. Aku juga tidak pernah lagi melakukan hal yang melanggar hukum.'' ujar Baron mengelak atas perkataan Fadil tersebut.


'' Hhh.. Tidak pernah melanggar hukum kamu bilang? kamu sudah ikut membantu lurah yang begitu jahat terhadap orang lain, masih bilang tidak pernah melanggar hukum?'' ucap letnan Rifa'i.


'' Oke! jika kamu merasa tidak pernah melanggar hukum, lalu apa pekerjaanmu bersama pak lurah?'' tanya Fadil.


'' Aku hanya sopirnya. Tugasku selain menjaga keselamatan pak lurah, aku juga hanya mengantar jemput kemanapun pak lurah pergi, dan tidak selain itu.'' jawab Baron.


'' Lalu siapa orang yang membantu pak lurah saat merebut hak orang lain, dan juga siapa yang membunuh Gus Alif?'' tanya Fadil lagi.


'' Tidak ada. Mereka sendirilah yang datang kepada pak lurah untuk meminjam uang, dan saat mereka tak lagi mampu membayar hutang mereka, akhirnya mereka menjual tanahnya itu kepada pak lurah dengan harga murah.''


'' Kalau yang membunuh Gus Alif, itu adalah Deddy anak pak lurah sendiri. Awalnya, pak lurah hanya meminta dia dan anak buahnya, agar cukup memberi pelajaran kepada Gus Alif. Namun rupanya Deddy yang memang berwatak keras dan sembrono itu, malah membunuhnya.''


'' Saya sebenarnya sering tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh pak lurah dan anaknya, tapi mereka juga tidak pernah menggubris omongan saya.''


'' Kalau kamu tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh pak lurah dan anaknya, kenapa kamu masih terus mengikuti dia, dan tidak mencari pekerjaan lain?'' tanya Fadil.

__ADS_1


'' Hhh.. mencari pekerjaan lain? kamu kira mudah mencari pekerjaan sekarang. Untuk orang yang seperti saya ini, yang tidak punya ijazah, mantan preman, kamu pikir ada yang mau memberikan saya pekerjaan dengan gaji cukup?''


'' Apa kamu juga tidak tau? semua kebutuhan hidup serba mahal. Belum lagi saya juga harus membeli obat untuk kedua orang tua saya. Andai bukan karena ikut dengan pak lurah, entah darimana saya bisa mencukupinya.'' ujarnya.


'' Oke, itu masuk akal. Tapi, kenapa kamu tadi menyerang dan ingin membunuh saya? bukannya tadi kamu bilang kamu sudah ingin bertobat?''


Baron tidak langsung menjawab pertanyaan dari Fadil. Dia dengan senyum sinis menatap Fadil, lalu berkata:


'' Gara-gara kamu! aku masuk penjara. Gara-gara kamu! istriku pergi dari rumah, dan gara-gara kamu juga, kedua orang tuaku, hampir mati karena tidak ada yang mengurusnya sampai berhari-hari.''


'' Andai saja tidak ada orang yang melepaskan aku dari penjara, dan aku tidak segera datang menemui mereka, mungkin kedua orang tuaku sudah mati karena tidak ada orang yang mengurusnya.''


'' Dan gara-gara kamu! sekarang aku tidak punya pekerjaan dan penghasilan, untuk membiayai serta membeli obat untuk kedua orang tuaku. Lalu, bagaimana mungkin aku tidak membencimu. Bahkan, sejahat jahatnya aku atau pak lurah sekalipun, tidak sampai tega menelantarkan orang yang dalam keadaan sakit seperti itu!''


'' Kamu sudah membunuhku secara perlahan. Bagaimana mungkin aku juga tidak ingin membunuhmu ha?''


Melihat tuan mudanya dikatakan oleh Baron seperti itu, Andre jadi tidak tahan. Dia ingin sekali menghajar Baron yang tidak tahu diri itu.


'' Dasar manusia tengik! kamu sendiri yang membuat ulah. Tapi seenaknya saja menyalahkan orang lain. Apa kamu sendiri sudah lupa? bukanya kamu malam itu juga ikut membuat onar di pesantren ini, dan menyerang tuan muda malam itu ha!'' ucap Andre sambil menjambak rambut Baron dan ingin memukulnya. Namun Fadil kembali mencegahnya.


'' Betul. Andai malam itu kamu tidak ikut datang dan menyerang, mana mungkin kamu juga kami tangkap! Bahkan, malam itu juga kamu ikut menyerang mas Alan.'' ujar letnan Rifa'i.


'' Iya benar. Aku akui, malam itu aku khilaf. Soalnya, hari itu aku baru saja meminta tolong kepada pak lurah, karena aku butuh uang untuk menebus obat kedua orang tuaku. Dan aku benar-benar merasa tidak enak sama pak lurah, saat dia memintaku untuk menyerangmu.'' ujar Baron dengan muka penuh rasa bersalah, dan menatap Fadil.


'' Baiklah! sekarang tolong jawab dengan jujur. Apa hubunganmu dengan kedua orang yang tadi menembak kami? apakah kamu juga ikut merencanakan kerusuhan tersebut?'' tanya Fadil.


'' Tidak! Aku bahkan tidak tau, kalau mereka juga akan membunuhmu. Mereka hanya bilang saat mereka membebaskanku dari penjara, kalau aku harus membalas dendam kepadamu, karena telah membuat kedua orang tuaku terbengkalai.'' ujar Baron.


'' Kamu tidak sedang berbohongkan?'' ucap Andre, tidak percaya.


'' Aku berani bersumpah! Aku memang benar-benar tidak tau siapa mereka, dan apa urusan mereka denganmu.'' jawab Baron sungguh-sungguh.


'' Ya sudah kalau begitu. Sekarang antar kami kerumahmu! aku ingin tahu kebenarannya. Apakah benar, kalau kedua orang tuamu itu benar-benar sakit seperti yang kamu katakan.'' ujar Fadil.


'' Pak Andre, tolong lepaskan ikatannya!'' perintah Fadil kepada Andre.


'' Tapi tuan muda! bagaimana kalau dia kabur?'' tanya Andre merasa khawatir.


'' Kalau dia berani kabur, terserah pak Andre mau melakukan apa padanya.'' jawab Fadil tanpa basa-basi.


Andre lalu menyuruh kedua anak buahnya untuk melepaskan ikatan yang ada pada tubuh Baron. Saat ikatan itu dilepas, Andre mengancam Baron agar tidak berani berbuat yang macam-macam. Jika tidak, dia tidak akan segan-segan untuk menembak Baron tanpa ampun.


'' Ingat! jangan berani macam-macam! Kalau tidak, kupecahkan kepalamu nanti.'' ancam Andre sambil menodongkan pistol ke kepala baron.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2