Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Tak Pernah Terbayangkan


__ADS_3

Beberapa jam kemudian. Mobil yang dikendarai oleh Fadil, telah berada didepan pintu gerbang area Villa mewah di wilayah tersebut. Setelah memasukkan kartu dan kode pin di pintu masuk gerbang tersebut, secara otomatis pintu gerbang itupun langsung terbuka. Karena perumahan disini merupakan perumahan elit, maka tidak semua orang bisa dengan mudah masuk ke dalamnya. Sistem keamanan didaerah ini sangat ketat, dan juga berlapis-lapis.


Namun, bagi Fadil yang memiliki tubuh Alan itu, tentu saja tidak ada kesulitan baginya untuk masuk kesana. Sebab, selain dia memiliki kartu dan kode pin, para penjaga yang ada disana juga sangat mengenalinya. Bagaimanapun juga, tubuh yang kini menjadi milik Fadil, adalah tubuh dari anak pemilik villa termewah dan sekaligus pengembang perumahan yang ada disana.


Malam itu, cuacanya sangat cerah. Meskipun bulan belum sepenuhnya purnama, namun bentuknya sudah cukup bulat. Cahayanya yang terang, ditambah lagi dengan cahaya penerangan dari lampu jalan, dan lampu-lampu yang ada disetiap perumahan yang ada disana, dan juga lampu-lampu hias berwarna-warni, semakin menambah keindahan suasana ditempat tersebut.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dibawa oleh Fadil sudah berada didepan halaman villa termewah dan terbesar milik Sintya. Salah seorang penjaga rumah tersebut, langsung membukakan pintu gerbang saat melihat mobil yang datang. Setelah pintu terbuka, Fadil langsung membawa mobilnya memasuki halaman rumah tersebut.


Mendengar ada mobil yang datang, Sintya yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan Fadil, dia langsung membukakan pintu dan menyambut mereka bersama Andika. Sementara Arya Wijaya, dia masih berada dirumahnya bersama Nadia yang menginap disana. Rencananya, mereka akan datang menemui Fadil dan Tiara besok paginya. Karena Arya Wijaya tahu, bahwa Fadil dan Tiara baru akan tiba setelah hampir tengah malam. Untuk itulah dia memutuskan, akan datang menemui mereka esok paginya.


'' Assalamualaikum... pa, ma!'' sapa Fadil kepada Andika dan Sintya.


'' Wa'alaikumsalaam warohmatullah..'' jawab Andika dan Sintya bersamaan.


Sintya segera memeluk Fadil. Meskipun dia tahu kalau sekarang dia adalah Fadil, tapi bagaimanapun juga, jasad tersebut adalah jasad Alan putranya. Maka dari itu, dia tidak merasa canggung memeluk Fadil. Setelah melepaskan pelukannya, Sintya lalu menanyakan Tiara.


'' Mana Tiaranya nak? katanya kamu kesini sama Tiara.''


'' Itu ma, dia masih didalam mobil.'' jawab Fadil, lalu dia segera menghampiri Andika dan berpelukan dengannya.


Tiara segera keluar bersama dengan wanita yang ditolong Fadil. Dia langsung disambut oleh Sintya dengan pelukan.


'' Emm.. tambah cantik aja ya calon mantu mama.'' ujar Sintya sambil memeluk Tiara.


'' Bagaimana kabar ayah dan ibumu.'' tanya Sintya setelah melepas pelukannya.


'' Alhamdulillah baik bu!'' jawab Tiara.


'' Lho kok Bu lagi, lupa ya?'' ujar Sintya.


'' Eh, iya ma.'' ulang Tiara.


'' Ma, ajak semuanya masuk kedalam, udara malam tidak baik buat kesehatan.'' pinta Andika, lalu memimpin masuk kedalam rumah.


'' Ayo Tiara, mbak! kita masuk kedalam.'' ajak Sintya sambil menggandeng Tiara, diikuti oleh wanita tersebut yang sedang menggendong anaknya yang tertidur.


'' Fadil, ayo ajak temanmu masuk! kok malah diam aja?'' ujar Andika melihat Fadil yang masih berdiri melihat Sintya dan Tiara.


'' Iya pa sebentar! Fadil mau masukin mobil dulu ke garasi.'' jawab Fadil.

__ADS_1


'' Lil, ente mau mandi dulu gak?'' tanya Fadil kepada Ulil.


'' Iyalah mas Fadil. Eh tunggu sebentar, saya mau ambil pakaian dulu buat ganti.'' jawab Ulil lalu masuk kedalam mobil untuk mengambil pakaian dari dalam tasnya.


Fadil kemudian membawa mobil itu, dan memasukkannya kedalam garasi. Setelah memasukkan mobil tersebut, dia kemudian masuk kedalam rumah bersama Ulil yang sedang menunggunya.


'' Ayo Lil, masuk!'' ajak Fadil kepada Ulil.


Setelah semuanya masuk kedalam rumah, Sintya lalu menunjukkan kamar untuk Tiara dan juga kepada wanita yang dibawa Fadil.


'' Tiara, kamu tidur dikamar Nadia aja. Kalau mau mandi dulu, kamu tinggal buka kran air hangatnya.''


'' Oh iya mbak siapa ya?'' tanya Sintya


'' Mira bu!'' jawab wanita itu.


'' Oh iya, mbak Mira bisa tidur dikamar tamu perempuan disana. Dan sebaiknya, itu anaknya diletakkan dulu dikamar, lalu mbak Mira juga bisa mandi disana. Nanti kalau mau ngobrol-ngobrol, kita kumpul diruang tamu.'' ujar Sintya kepada Mira.


Setelah menunjukkan kamar untuk Tiara dan juga Mira, Sintya lalu pergi ke ruang tamu bersama Andika yang sudah duduk disana. Setelah menunjukkan kamar untuk Ulil, Fadil lalu pergi ke kamar Alan. Meskipun untuk pertama kalinya dia kerumah ini, namun ingatan Alan sudah mengisi pikirannya. Setiap kali melihat sesuatu yang baru bagi Fadil, saat itu juga ingatan Alan hadir dalam pikirannya.


Oleh karena itulah, baik Sintya maupun Andika, mereka tidak perlu repot-repot menunjukkan segala sesuatunya kepada Fadil. Apalagi, Fadil juga sudah mengatakan kepada mereka, bahwa ingatan yang dimiliki oleh Alan, secara bertahap terus mengisi pikirannya. Maka dari itu, bagi Andika dan Sintya, walaupun sukma yang ada ditubuh Alan adalah Fadil, tetapi dengan adanya ingatan milik Alan yang mengisi pikiran Fadil, itu menunjukkan tidak ada bedanya antara Fadil maupun Alan.


Dan oleh karena itu juga, mereka benar-benar tidak merasa asing sama sekali terhadap Fadil. Begitupun halnya dengan Fadil. Dia sendiri, tidak merasa canggung sedikitpun untuk melakukan sesuatu didalam keluarganya Alan.


'' Ma, pa, kenalkan! Ini Ulil teman Fadil.'' ucap Fadil membuka percakapan.


Ulil mengangguk kepada Andika dan Sintya. Andika dan Sintya tersenyum membalas anggukan Ulil.


'' Kalau yang itu, dia adalah ibu yang Fadil ceritakan ditelepon.'' Lanjut Fadil memperkenalkan Mira.


'' Tuan, Nyonya.'' sapa Mira sambil mengangguk.


'' Oh.. jadi mbak ini, yang jadi korban hipnotis saat dikapal itu?'' ujar Andika melihat kearah Mira.


'' Iya tuan. Untungnya ada mas ini yang menolong saya. Kalau tidak, entah sekarang ini saya tak tahu lagi harus berbuat apa.'' jawab Mira, lalu kembali mengucapkan terima kasihnya kepada Fadil dan mereka semua.


'' Mbak! mbak tidak usah sungkan-sungkan kepada kami. Fadil sudah menceritakan semuanya kepada kami. Insyaallah, kami akan membantu mengurangi kesulitan yang sedang mbak hadapi.'' sahut Sintya.


'' Insyaallah mbak! besok pagi, kami akan suruh orang kepercayaan kami, untuk mengantarkan mbak ke tempatnya mbak di Kuningan. Mbak jangan khawatir. Kami juga akan pastikan, kalau mbak akan sampai disana dengan aman.'' sambung Andika.

__ADS_1


'' Terimakasih tuan, nyonya. Maaf kalau saya sudah merepotkan.


'' Tidak apa-apa kok mbak. Sudah seharusnya kita saling menolong.'' ujar Sintya.


Saat mereka sedang mengobrol, mbok Inah muncul dari belakang dengan membawa beberapa cangkir teh dan juga kue camilan. Dia lalu meletakkan cangkir-cangkir teh dan kue tersebut diatas meja, lalu mempersilahkan mereka untuk mencicipinya.


'' Makasih mbok!'' ujar Sintya, lalu mengambil cangkir teh tersebut dan mengajak yang lainnya untuk menikmati teh hangat tersebut.


'' Nyonya, apakah ini calon istrinya den Alan, eh den Fadil?'' tanya mbok Inah, lalu melihat kearah Tiara dan juga melihat Fadil.


Sintya sudah menceritakan kepada mbok Inah, mengenai apa yang terjadi kepada Alan. Awalnya, mbok Inah sangat sedih mendengar cerita yang disampaikan oleh Sintya. Namun, setelah diberi penjelasan dan juga melihat sendiri sosok tuan mudanya itu masih ada dan terlihat baik-baik saja, kini mbok Inah merasa bahagia.


Bagaimanapun juga, mbok Inah telah mengasuh Alan sejak kecil. Dialah yang mengurusi Alan disaat kedua orang tuanya sibuk bekerja. Jadi, jika terjadi apa-apa kepada tuan mudanya tersebut, tentunya mbok Inah juga akan ikut merasakan kesedihannya.


Disaat mbok Inah melihat kearah Fadil, mbok Inah merasa sedikit grogi. Takut Fadil akan marah kepadanya, karena dia salah mengucapkan nama tadi. Fadil tersenyum melihat mbok Inah. Melihat mbok Inah yang seperti itu, dia lalu berkata:


'' Tidak apa-apa mbok! mbok tidak perlu takut seperti itu. Mau Alan, atau Fadil sama saja.'' ujar Fadil mencoba menghilangkan rasa takut mbok Inah kepadanya.


'' Iya den, maaf! mbok masih agak bingung menyebut nama Aden.'' ujarnya.


'' Iya mbok, gak papa. Nanti juga lama-lama mbok akan terbiasa.'' jawab Fadil.


'' Jadi, ini ya calon istrinya den Fadil?'' ujar mbok Inah mengulang pertanyaannya.


'' Benar mbok, ini calon istrinya Fadil. Namanya Tiara mbok. Bagaimana, cantik kan?'' ujar Sintya.


'' Iya nyonya, cantik sekali. Dan kalau mbok perhatikan, kayaknya mbok agak familiar dengan wajah non Tiara ini. Kayaknya mbok pernah lihat, tapi mbok agak lupa siapa dan dimananya.''


'' Udah mbok! gak usah terlalu dipikirkan. Nanti juga mbok akan ingat.'' ujar Sintya, tak ingin menyebutkan Tiara ini mirip dengan siapa.


'' Oh iya mbok! karena ini sudah malam, mbok tidur lagi aja. Biar nanti saya yang beresin semuanya. Yang penting, mbok besok bangun pagi-pagi dan membuat sarapan untuk kita semua.''


'' Iya nyonya. Kalau begitu, saya permisi dulu Nyonya, Tuan, den Fadil.'' ujar mbok Inah undur diri, dan segera kembali ke kamar pembantu.


Tak berapa lama kemudian. Karena hari sudah semakin larut, merekapun segera pergi ke kamar masing-masing. Seperti kebiasaannya. Fadil sebelum tidur, dia melaksanakan sholat sunnah beberapa rokaat. Lalu berdzikir sebentar, barulah setelah itu diapun tidur.


Sementara itu, disaat Fadil sedang melaksanakan sholat sunah dan berdzikir, baik Tiara maupun ulil, mereka tidak bisa langsung memejamkan matanya. Mereka benar-benar tidak menyangka, kalau ternyata keluarga pemilik tubuh yang sekarang digunakan oleh Fadil, benar-benar orang yang sangat kaya.


Meskipun Tiara sudah pernah datang kerumah Hartono, adik dari Andika yang memiliki rumah yang begitu besar dan mewah di Baturaja. Namun dia tidak pernah membayangkan, kalau ternyata rumah dari calon mertuanya tersebut, jauh lebih megah dari rumah Hartono. Dia benar-benar tidak menyangka, kalau ternyata Fadilnya akan menjadi anak dari keluarga yang sangat kaya.

__ADS_1


Berbeda dengan Ulil. Dia yang belum pernah melihat, apalagi masuk kedalam rumah orang kaya seperti saat ini, dia merasa sedang bermimpi. Sejak saat memasuki pintu gerbang perumahan elit tadi, dia sudah begitu tercengang. Dan saat masuk kedalam rumah ini, dia merasa seperti sedang berada didalam istana, seperti dalam dongeng yang ada didalam buku cerita ataupun film. Namun karena merasa lelah akibat perjalanan tadi, baik Ulil, Tiara dan juga yang lainnya, merekapun akhirnya tertidur dengan pulasnya.


...****************...


__ADS_2