Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Akhir sebuah kesombongan


__ADS_3

'' Uhuk uhuk.., Dasar anak tak berguna!'' ucap pak Lurah menatap Deddy.


Semua orang menatap tubuh pak Lurah yang tergeletak ditanah. Dari mulutnya, keluar darah segar. Dua peluru bersarang di dadanya. Dengan napas yang tersengal-sengal, dia kembali mengomeli Deddy yang telah menembaknya.


'' Anak b***h! Apa matamu telah buta hah? kenapa malah menembakku? uhuk uhuk.''


Melihat kalau orang yang telah menembaknya adalah anaknya sendiri, pak Lurah begitu emosi, dia lalu mengeluarkan pistol dari balik bajunya. Dengan geram dia kemudian mengarahkan moncong pistol itu kearah Deddy. Jiwa premannya tidak terima, jika sesama kelompok saling melukai. Deddy yang merasa bersalah telah melukai ayahnya, dia segera berlutut.


'' Ayah.., maaf! aku tidak sengaja ayah. Aku hanya ingin menembak dia, tapi...''


'' Dor..''


Belum sempat Deddy menyelesaikan kata-katanya, namun pistol yang ada ditangan pak Lurah sudah memuntahkan pelurunya.


'' Bruk.''


Tanpa bersuara Deddy langsung ambruk ketanah. Sebuah peluru menembus kepalanya. Rupanya pak Lurah yang terlanjur dikuasai emosi itu, sudah tak mampu lagi melihat siapa dan bagaimana. Barulah ketika Deddy ambruk itu, sebuah penyesalan mulai merasuk jiwanya. Namun, penyesalannya tidak lama, karena beberapa detik berikutnya dia sendiri sudah tewas akibat luka tembak pada tubuhnya. Tepat pada saat itu, puluhan polisi turun dari mobil. Andre dan juga beberapa pengawalnya juga ikut datang bersama mereka.


'' Jangan bergerak!, Buang senjata kalian!. Semuanya merunduk dan tangan dibelakang kepala.'' perintah pemimpin polisi itu melalui pengeras suara yang ada di tangannya.


Sontak seluruh anak buah pak Lurah dan para santri, segera meletakkan senjata mereka dan segera berjongkok. Tak terkecuali Abah, Alan dan Zul. Meskipun Alan tahu kalau polisi yang datang itu adalah atas permintaan dia sendiri, namun untuk menunjukkan bahwa dia adalah warga yang baik, diapun ikut jongkok bersama yang lain. Andre yang saat itu melihat Alan, dia langsung menghampirinya.


'' Tuan muda, anda tidak apa-apa?'' tanya Andre saat menghampiri Alan.


'' Tidak apa-apa pak Andre, tapi ini tempat umum pak, apa pak Andre lupa?'' Alan mengingatkan Andre untuk tidak memangilnya dengan sebutan itu.


'' Oh maaf, maaf mas Alan, saya keceplosan.'' ujar Andre lalu mengulurkan tangannya membantu Alan berdiri.


Alan kemudian meminta Andre agar membiarkan Abah dan para santrinya untuk berdiri, dan memisahkan diri dari anak buah pak Lurah. Ketika Alan baru saja berdiri, seorang pemuda sudah berdiri tegak dihadapannya.

__ADS_1


'' Mas Alan tidak apa-apa?'' tanya pemuda itu dengan senyum diwajahnya.


'' Saya baik-baik saja inspektur.'' ucap Alan setelah melihat pemuda yang ada dihadapannya.


Pemuda itu sedikit terkejut. Ternyata penyamarannya telah diketahui oleh Alan. Pemuda itu adalah IPTU Rifai. Pengawal Andre yang tempo hari mengantarkan Alan, sepulang dari pertemuan di hotel Atlantis.


Saat kejadian penculikan yang dilakukan oleh Deddy terhadap Tiara, Alan yang akan turun dari mobil yang dibawa oleh Pa-i, tanpa sengaja melihat gagang pistol dan lencana anggota kepolisian yang disembunyikan oleh Pa-i. Pa-i sendiri adalah orang yang dikirim oleh atasannya atas permintaan Arya Wijaya, untuk menyelidiki kasus Gus Alif.


'' Syukurlah kalau begitu tuan muda.'' ucap Pa-i, membuat Alan dan Andre juga sedikit terkejut.


Andre yang tidak mengetahui jika ternyata Pa-i adalah seorang polisi, tentu saja merasa terkejut. Dia hanya tahu, bahwa hari itu Pa-i datang meminta pekerjaan kepadanya untuk menjadi seorang pengawal. Dan tugas pertama yang berikan kepadanya saat itu adalah menemani Alan saat akan memasuki hotel, dan mengantarkan Alan saat akan kembali ke pesantren.


'' Inspektur.., apa para santri ini juga perlu kita bawa ke kantor.'' tanya seorang polisi kepada Pa-i.


'' Tidak usah, saya sudah punya bukti dan saksi yang lebih kuat.'' ujar Pa-i, kemudian dia menuju pohon yang tak jauh darinya.


IPTU Rifai kemudian mengambil sesuatu dari pohon tersebut. Rupanya beberapa waktu yang lalu, saat Alan memanggil Zul untuk mengambil motor Naila, Pa-i diam-diam meletakkan beberapa kamera cctv berukuran mini disekitar tempat itu. Sehingga, seluruh kejadian saat ini telah terekam kamera tersebut. Pa-i kemudian memerintahkan para polisi, untuk membawa seluruh anak buah pak Lurah. Juga membawa seluruh kendaraan dan senjata mereka sebagai bukti. Sedangkan untuk kedua mayat ayah dan anak itu, Pa-i memerintahkan agar memanggil mobil ambulan untuk membawanya.Tak berapa lama kemudian, mobil ambulan datang. Kedua mayat itupun langsung dibawa ke rumah sakit untuk keperluan otopsi.


'' Zul, nak Alan!, sekarang kalian istirahat. Besok, kalian Abah tunggu dirumah.'' ucap Abah sebelum dia pergi meninggalkan tempat itu.


'' Iya Abah.'' ucap Alan dan Zul berbarengan.


...----------------...


Saat terjadi keributan tadi, para santri yang berada di dalam asrama hanya bisa mendengar suara kegaduhan di sekitar halaman kediaman Abah. Mereka tidak berani untuk keluar dari asrama. Selain mereka tidak ingin melanggar perintah dari Abah, mereka juga merasa takut dengan kedatangan anak buah pak Lurah yang begitu banyak dan membawa senjata tajam tersebut.


Namun, akhirnya mereka merasa kagum dengan keberanian dan kemampuan para santri senior, saat melawan para preman tersebut. Tetapi, saat mendengar suara tembakan senjata api tadi, mereka juga merasa terkejut dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi disana. Terlebih lagi bagi para santri putri. Selain karena asrama mereka dibatasi dengan pagar tembok, dan ditambah lagi tidak mengetahui apa yang terjadi disana, mereka merasa takut namun juga penasaran. Mereka yang hanya mendengar suara gaduh dan beberapa kali suara tembakan serta suara sirine itu, hanya dapat menduga-duga akan berbagai kemungkinan yang ada.


'' Mbak! sebenarnya ini ada apa ya? kok seperti ada suara keributan, dan tadi kayak ada suara tembakan?'' Tanya Neng geulis kepada Naila.

__ADS_1


'' Entahlah mbak!, Saya juga tidak tahu, biar besok aja saya tanya sama Abah atau Ummi.'' ujar Naila yang juga merasa penasaran.


'' Apa kita coba lihat keluar aja?'' usul Neng geulis yang begitu penasaran.


'' Jangan mbak! Apa tidak ingat pesan Ummi tadi siang?'' Naila langsung menolak usulan Neng geulis tersebut.


'' Iya Eneng.., jangan macam-macam ah!, kalau nanti ada apa-apa, bisa repot kita.'' ujar Tiara ikut menolak usulan Neng geulis.


'' Ya udah! pokoknya, kita tunggu kabarnya besok aja, kecuali jika memang ada kabar dari Abah atau Ummi sekarang.'' sahut Naila.


Malam itu. Setelah rombongan Andre dan IPTU Rifai pergi dari tempat itu, dan juga para santri yang tadi bertarung dengan anak buah pak Lurah telah kembali ke asrama mereka masing-masing, suasana disana berubah menjadi lengang. Setelah tadi sempat terasa cukup menegangkan, namun akhirnya mereka bisa bernafas dengan lega. Selain mereka telah dapat melewati ketegangan suasana malam ini, mereka juga merasa memiliki harapan yang sangat besar. Karena untuk kedepannya, tidak akan ada lagi orang yang akan menjadi perusuh di pesantren ini, pasca tewasnya pak Lurah dan Deddy anaknya tersebut.


'' Alhamdulillah.., akhirnya. Pembuat masalah di pesantren kita ini, sudah tak mungkin lagi bisa berbuat seperti sebelumnya.'' ujar salah satu santri.


'' Iya, Alhamdulillah. Rupanya kehadiran kang Alan, benar-benar membawa keberkahan untuk pesantren kita.'' jawab santri yang lain.


'' Keberkahan bagaimana maksudnya kang?'' tanya Alan kepada mereka.


'' Ya seperti sekarang inilah kang!. Sudah lama kedua orang itu membuat ketidak nyamanan untuk pesantren kita. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Namun sekarang, baru berapa hari kang Alan disini, kedua sumber bencana itu kini telah hilang untuk selama.''


'' Betul itu kang, dan lebih tidak disangkanya lagi, mereka mati oleh tangan-tangan mereka sendiri. Sehingga tidak ada orang lain yang harus disalahkan.'' sahut santri yang lainnya.


'' Semua itu hanya kebetulan saja kang. Karena yang pasti, sudah menjadi takdir bagi mereka harus mengakhiri petualangan mereka saat ini. Dan boleh jadi, ini semua terjadi karena doa-doa kita yang telah Allah kabulkan. Bukankah doa orang yang teraniaya itu, akan cepat Dia kabulkan!'' ucap Alan dengan rendah hati.


Zul yang telah mengetahui hal yang sebenarnya, dia tidak berkata apa-apa. Dalam hatinya, dia ikut membenarkan apa yang dikatakan oleh teman-temannya, tapi juga dia ikut membenarkan apa yang diucapkan oleh Alan. Menurutnya, memang kehadiran Alan di pesantren ini, merupakan keberkahan yang tidak terkira. Dengan kehadiran Alan di pesantren ini, dia bukan hanya ikut menyelesaikan soal pak Lurah dan anaknya. Tapi masih banyak hal lain yang telah dan akan dilakukan oleh Alan tersebut.


'' Ya udah akhi sekalian, berhubung sekarang waktu sudah mulai malam, mending kita istirahat dulu. Karena mungkin besok masih banyak hal lain yang harus kita kerjakan.'' ujar Zul kepada mereka.


Akhirnya, setelah Zul berkata demikian, tak butuh waktu lama, merekapun lalu sudah terlelap dalam tidurnya. Selain sudah waktunya untuk beristirahat, pertarungan yang tadi mereka lakukan juga cukup banyak menguras tenaga mereka, sehingga cukup membuat mereka merasa kelelahan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2