
Hari ini Alan akan pergi menemui pamannya Hartono di Baturaja. Usai melaksanakan sholat subuh berjamaah dimasjid, dia kembali kerumah ibu Zaenab yang sekarang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri. Dia juga meminta izin kepada ibu Zaenab untuk pergi ke Baturaja dan akan tinggal beberapa hari disana.
Karena hari ini adalah hari terakhir sebelum Ramadhan, Alan berencana ingin mengunjungi makam Fadil sebelum pergi ke Baturaja. Untuk itu, Alan meminta Alfin untuk menemaninya berziarah ke makam Fadil sekaligus untuk menunjukkan dimana letak pusara Fadil berada.
'' Bu, maaf saya belum bisa berlama-lama tinggal disini bersama ibu. Hari ini juga, saya harus pergi menemui paman di Baturaja. Saya tidak ingin, paman merasa khawatir karena saya belum sampai disana. Selain itu, banyak hal yang harus saya kerjakan disana. Tapi insyaallah, sampai lebaran nanti, saya akan berusaha sesering mungkin mengunjungi ibu disini.'' ucap Alan setelah menyelesaikan sarapan paginya bersama Alfin dan ibu Zaenab.
'' Nak, sebenarnya ibu masih ingin melihatmu berlama-lama disini. Tapi ibu juga tidak bisa menahanmu untuk tetap tinggal bersama ibu disini. Ibu hanya meminta kepadamu, agar kamu juga bisa sering datang kemari. Pintu rumah ini, akan selalu terbuka untukmu. Bagaimanapun juga, kamu sudah ibu anggap sebagai putra ibu sendiri.'' ujar ibu Zaenab sambil tersenyum melihat Alan.
'' Oh iya Bu, sebelum saya pergi. Saya ingin berziarah ke makam Fadil terlebih dahulu. Untuk itu, saya akan meminta Alfin menemani saya kesana. Fin, bisa nggak temani saya sebentar pergi kesana?''
Alfin yang sedang merapikan piring bekas sarapannya mengangguk. Dia kemudian membawa piring dan gelas kotor itu kebelakang untuk dicuci. Alan juga membantu ibu Zaenab merapikan meja makan tersebut.
...----------------...
Di kediaman pak Syahroni, mereka sekeluarga juga baru saja menyelesaikan sarapannya. Bu Lilis yang sejak tadi pagi melihat Tiara sering melamun, dia tidak mengijinkan Tiara ikut membantu membersihkan piring dan gelas kotor bekas sarapan mereka. Bu Lilis merasa khawatir, jika kejadian tahun lalu akan terulang kembali. Untuk itu, dia hanya meminta Yunita dan Vita yang melakukannya.
'' Tiara, sudah!, kamu duduk disana saja. Biar kakakmu dan Vita saja yang mencuci piring-piring ini.'' ujar Bu Lilis mencegah Tiara yang akan membawa piring dan gelas kotor tersebut.
Tiara yang memang sedang tidak fokus akibat teringat akan mimpinya semalam, hanya menuruti apa yang diperintahkan oleh ibunya. Dia kemudian duduk diruang tamu, bersama pak Syahroni yang sedang duduk santai sambil menikmati kopi panas di ruangan tersebut.
'' Yah.., boleh gak Tiara pergi ke makam A Fadil? Tiara ingin ziarah kesana.'' pintanya kepada pak Syahroni.
'' Tiara, ayah bukanya melarang kamu pergi kesana. Tapi terus terang, ayah khawatir kalau kamu nanti akan seperti dulu lagi. Ayah tidak mau, kamu sampai sakit lagi gara-gara teringat dengan Fadil.''
'' Tiara, cobalah kamu sadari. Fadil sudah tiada. Kalau kamu seperti itu terus, ayah, ibumu, dan juga kakakmu Yunita, pasti akan selalu dihantui rasa bersalah kepadamu. Apa kamu tega melihat kami terus menerus tersiksa karena hal itu.'' ujar pak Syahroni menatap wajah Tiara.
'' Yah.., Tiara tidak bermaksud seperti itu. Tapi Tiara mohon yah, kali ini saja. Tiara ingin berkunjung ke makam A Fadil.''
Melihat wajah Tiara yang seperti itu, hati pak Syahronipun serasa tidak tega. Dia kemudian berpikir sejenak. Lalu berkata kepada Tiara, setelah mengambil nafas dalam-dalam.
'' Baiklah, kali ini ayah ijinkan. Nanti ayah sendiri yang akan menemanimu pergi kesana.''
Tak berapa lama kemudian, pak Syahroni mengeluarkan motor maticnya dari garasi. Pagi itu, Tiara dengan diantar oleh ayahnya, pergi ke pemakaman umum dimana Fadil diistirahatkan.
Sesampainya mereka disana, Tiara duduk bersimpuh didepan pusara milik Fadil. Dengan membawa Al Qur'an kecil miliknya, dia membacakan beberapa ayat-ayat Al-Qur'an yang dia tujukan untuk almarhum Fadil. Setelah menunggu beberapa saat, pak Syahroni lalu pergi ke makam kedua orang tuanya yang tidak jauh dari keberadaan Tiara, sambil mengawasi Tiara dari sana.
Tanpa mereka sadari, tak jauh dari sana, Alan dan Alfin yang baru saja turun dari mobil dan akan menuju pusara milik Fadil, mereka lalu berhenti di pendopo pemakaman tersebut. Dari pendopo itu, Alan hanya mengamati Tiara yang sedang menaburkan bunga diatas pusara Fadil. Dalam hati Alan, kini dia diselimuti sebuah pertanyaan. Sebenarnya ada hubungan apa antara Tiara dengan Fadil?. Namun Alan hanya menyimpan pertanyaan itu didalam hatinya.
__ADS_1
Saat tengah menaburkan bunga diatas pusara milik Fadil, Tiara kembali teringat dengan mimpinya tadi malam. Dia lalu menoleh kearah pendopo, seperti yang dilakukannya dalam mimpinya itu. Dan, Tiara kini benar-benar terkejut. Seperti yang terlihat dalam mimpinya, di pendopo yang tidak jauh dari keberadaannya itu, seorang pemuda sedang berdiri melihat kearahnya. Dan yang lebih membuat Tiara semakin heran, ternyata pemuda itu sama persis seperti orang yang ada dalam mimpinya. Karena ternyata pemuda itu tidak lain adalah Alan.
Pak Syahroni yang melihat Tiara telah selesai, diapun segera menghampiri Tiara dan mengajaknya untuk pulang. Pak Syahroni yang melihat kehadiran Alan dan Alfin disana, dia juga sedikit terkejut. Dia lalu segera menghampiri mereka di pendopo itu.
'' Lho, mas Alan dan Alfin mau ziarah juga?'' tanya pak Syahroni.
'' Iya pak, saya mau menemani paman Alan untuk ziarah ke makam paman Fadil.'' jawab Alfin.
Tentu saja, jawaban dari Alfin ini membuat pak Syahroni dan Tiara yang sedang berdiri tak jauh dari mereka merasa terkejut. Kenapa Alfin memanggil Alan dengan sebutan paman?, Apakah memang Alan ini benar-benar memiliki hubungan dengan keluarga ibu Zaenab? Itulah yang kini menjadi pertanyaan dalam hati pak Syahroni.
'' Emm apa bapak dan mbak Tiara sudah selesai?'' tanya Alan membuyarkan pikiran pak Syahroni yang sedang bertanya-tanya hubungan Alan dengan keluarga Fadil.
'' Iya mas, kami baru saja selesai dan sekarang mau pulang.'' jawab pak Syahroni.
'' Kami duluan mas ya, mari! Assalamualaikum.'' ujar pak Syahroni, lalu mengambil motornya yang dia parkirkan di dalam pendopo tersebut.
'' Mari mari, wa'alaikumsalaam warohmatullah.'' jawab Alan dan Alfin bersamaan.
Saat motor yang dikendarai pak Syahroni dan Tiara itu mulai bergerak meninggalkan area pemakaman tersebut, Alan dan Alfin segera berjalan menuju pusara milik Fadil. Tiara yang sejak tadi menunduk dan tidak berani menatap wajah Alan, dia menoleh kebelakang saat motor itu akan keluar dari pintu gerbang pemakaman tersebut.
...----------------...
Alan mengantarkan Alfin kembali kerumah, setelah mereka selesai berziarah di pemakaman tersebut. Setelah itu, dia langsung membawa mobilnya menuju kota Baturaja, untuk bertemu dengan Hartono pamannya. Untuk beberapa hari kedepan, Alan akan tinggal bersama Hartono. Tujuan utama kedatangan Alan ke kota Baturaja ini adalah, untuk mencari tahu keberadaan keluarga Fadil dan sekaligus menemuinya. Dan karena hal itu sudah terlaksana, maka diapun akan melakukan hal lain yang berkaitan dengan bisnis keluarganya yang ada di kota kecil ini, sambil menunggu hari dimana dia akan bertukar nyawa dengan Fadil sesuai perjanjian mereka waktu itu.
Tiara sempat melihat, kalau mobil yang dibawa oleh Alan barusan masuk dan langsung keluar lagi. Entah kenapa, sejak pertemuannya dengan Alan di pemakaman tersebut, yang juga kejadiannya begitu sama persis seperti yang ada dalam mimpinya, Tiara kini mulai kepikiran dengan Alan. Dalam hatinya ada 1001 pertanyaan yang ingin dia ketahui jawabannya. Kata-kata Fadil yang ada dalam mimpinya itu, menambah rasa penasaran dalam hatinya akan maksud dari ucapan Fadil tersebut. '' Dia bukanlah aku, tapi sebagian diriku ada padanya. Dan kelak, aku akan benar-benar ada padanya''. Itulah kata-kata Fadil, yang selalu terngiang-ngiang dalam hati dan pikiran Tiara.
Seminggu sudah waktu berlalu. Sejak terakhir kali mobil Alan keluar, sampai dengan hari ini, Tiara belum melihat kalau mobil milik Alan masuk ke dusun ini lagi. Setiap kali Tiara mendengar dan melihat ada mobil yang berlalu didepan rumahnya, hatinya berharap itu adalah mobil milik Alan. Rasanya Tiara ingin sekali bertanya tentang siapa sebenarnya Alan itu, namun dia tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Tiba-tiba batinnya berucap:
'' Alfin, ya Alfin. Tapi.. Ah malu!, masa aku tanya orang lain sama Alfin?'' batin Tiara.
'' Oh iya, mbak Naila.'' ujarnya dalam hati.
Setelah berfikir cukup lama, Tiara akhirnya teringat. Kalau Naila pernah bilang padanya, bahwa dia akan memintakan nomor WA milik Alan. Maka malam itu, Tiara sepulang dari sholat tarawih di masjid, dia lalu menghubungi nomor telepon Naila. Setelah beberapa kali melakukan panggilan, akhirnya dia terhubung dengan Naila.
'' Assalamualaikum, mbak Naila.'' sapa Tiara.
'' Wa'alaikumussalaam warahmatullah, mbak Tiara! tumben nih nelpon. Kirain udah ketemu sama pangeran kuda lumping eh kuda putih, jadi lupa sama saya.'' celoteh Naila langsung menggoda Tiara.
__ADS_1
'' Hemm.. Mbak Naila ini, mentang-mentang udah punya calon dan bentar lagi mau married.'' jawab Tiara membalas celotehan Naila.
'' He.. jangan gitu ah, aku jadi mau ups maksudnya malu ccc.'' Naila terkekeh.
'' Wah wah.. ternyata, mbak Naila ini kalau di telepon beda ya sama aslinya.'' ujar Tiara.
'' Maksudnya beda gimana sih mbak?'' tanya Naila penasaran dengan ucapan Tiara.
'' Ya kalau aslinya kan! mbak Naila itu, orangnya terlihat berwibawa, terus agak pendiam walaupun sedikit, dan juga.. beda deh!, Tapi ternyata kalau ditelpon mbak ini orangnya gokil abis.'' ucap Tiara menahan tawa.
'' Ah ya masa? emang kayak gitu ya mbak? ccc.'' ujar Naila masih terkekeh.
'' Tau ah lap.'' jawab Tiara pura-pura ketus.
'' Eleh eleh.., garangnya..!, jangan gitu lho mbak! nanti pangeran kuda putihnya takut lho!'' ujar Naila menggoda Tiara.
'' Ya udah, saya serius nih! Ada apa kok mbak Tiara tumben nelpon saya?'' sambung Naila.
'' Emm.. gimana ya? emm..''
'' Yah..kok cuma em em doang, gimana sih mbak Tiara ini! ngomong dong mbak!"
'' Emm.. Anu, itu mbak! saya mau anu.'' Tiara masih canggung untuk bertanya kepada Naila.
'' Hah.., mbak Tiara mau anu? anunya siapa mbak???''
'' Ish..mbak Naila ini, jorok ah. Saru tau!''
'' Ish ish ish.., yang ngomong jorok itu siapa? kan mbak Tiara sendiri yang bilang! kalau mbak Tiara mau anu! ccc.'' ujar Naila sambil kembali terkekeh.
'' Maksudnya, apa mbak Naila udah dapat nomor WA-nya kang Alan.'' ucap Tiara akhirnya terpaksa mengucapkan langsung maksud dan tujuannya.
'' Oh.. itu toh!. kenapa gak bilang dari tadi. Ternyata, mbak ini mau anunya kang Alan, eh nomor WA-nya kang Alan. ccc.'' ucap Naila masih terus terkekeh menggoda Tiara.
'' Mbak Naila..!'' teriak Tiara kesal karena terus digoda oleh Naila.
...****************...
__ADS_1