Kisah Dari Langit

Kisah Dari Langit
Terlambat Datang


__ADS_3

Semua keluarga Chan menatap Mei Ling dengan pandangan tidak senang. Mereka tidak menyangka, kalau Mei Ling yang menjadi nyonya besar tersebut, malah tega berbuat seperti itu. Rasanya, mereka seperti tidak percaya, andai saja mereka tidak melihat bukti yang ada didepan mata mereka.


Bahkan, Olivia sendiri merasa terkejut. Selama ini, ibunya tidak pernah mengatakan kalau dia bukan darah daging Tony, melainkan anak dari laki-laki lain.


'' Ma.. apa benar aku bukan anaknya papa ma? Kenapa mama menyembunyikan semua ini dari Oliv? mama jahat! mama jahat!'' teriak Olivia sambil menangis.


'' Diam kamu Oliv! Kamu kira mama menginginkan hal ini. Mama juga terpaksa. Mama dijebak oleh laki-laki b******n itu.''


'' Oh.. jadi ternyata semua itu benar Mei Ling! Tega sekali kamu berbuat seperti itu padaku.''


'' Mulai saat ini, kamu saya cerai! Dan kamu bukan lagi bagian dari keluarga Chan. Kamu saya usir. Pergi! pergi dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Pergi..!'' teriak Tony Chan dengan sangat marah.


'' Tidak Tony, jangan lakukan itu padaku. Aku hanya korban Tony. Tolong jangan lakukan itu padaku! huhu..'' ucap Mei Ling bersimpuh dihadapan Tony, sambil menangis.


'' Aku bilang pergi! cepat pergi..!'' bentak Tony semakin murka dan merasa jijik kepada Mei Ling.


'' Tapi..''


'' Pergi..! apa kamu tidak dengar?'' Tony langsung memotong ucapan Mei Ling.


'' Baik! aku akan pergi. Tapi kamu jangan menyesal karena telah mengusir aku!'' ucap Mei Ling, lalu mengajak Oliv, suaminya dan juga Thian untuk pergi meninggalkan tempat itu.


Baru saja Mei Ling dan keluarganya akan meninggalkan tempat tersebut, tiba-tiba seseorang dari keluarga Chan menghampiri Tony, dan membisikkan sesuatu kepadanya.


'' Apa? Tidak mungkin, tidak mungkin! Kenapa bisa begitu? siapa yang melakukannya?'' Tony begitu terkejut mendengar berita yang disampaikan kepadanya.


'' Ada apa kak Tony? kenapa kamu terlihat panik begitu?'' tanya Amy Chan melihat ekspresi wajah kakaknya yang begitu panik.


'' Seseorang telah mengambil alih semua aset milik keluarga kita. Bahkan, rumah pusaka milik keluarga Chan pun, akan mereka ambil juga!'' ujar Tony merasa sedih, marah, dan juga ketakutan.


'' Apa??'' teriak seluruh keluarga Chan, terkejut.


'' Bagaimana bisa seperti itu? Siapa yang melakukannya tuan Chan?'' ujar salah satu dari mereka.


'' Iya kak tony! kenapa bisa terjadi seperti ini?'' sahut Amy Chan.


'' Berhenti Mei Ling! ini semua ulah kamu kan? kamu yang sudah mengalihkan aset keluarga kami kepada orang lain bukan!'' teriak Tony, menahan Mei Ling yang akan meninggalkan tempat tersebut.


'' Jangan asal bicara kamu Tony! Aku tidak melakukan apa-apa. Tapi baguslah, kalau kamu dan keluarga Chan mu itu telah jatuh miskin. Aku jadi tidak akan menyesal diusir dari keluarga kalian, hhh..'' jawab Mei Ling meledek Tony Chan.


'' Dasar tidak tahu diri kamu Mei Ling, aku akan membunuhmu!'' teriak Tony hendak menghampiri Mei Ling, namun segera dicegah oleh keluarga Chan yang lain.


'' Tuan Chen, sabar tuan Chen! Anda tidak boleh melakukan hal yang tidak-tidak. Lebih baik kita berfikir, bagaimana caranya agar seluruh aset milik keluarga kita bisa kembali ke tangan kita lagi.'' ujar salah seorang dari mereka, mencegah Tony yang hendak melakukan sesuatu terhadap Mei Ling.


'' Memangnya, apa yang bisa kita lakukan? semuanya sudah hilang. Kita sudah tidak punya apa-apa lagi!'' ucap Tony terduduk lemas sambil menjambak rambutnya sendiri.


'' Tuan Chen, sebelum mereka benar-benar mengambil alih seluruh aset milik keluarga kita, bagaimana kalau kita bekukan saja seluruh aset tersebut, biar mereka juga tidak bisa memilikinya.'' usul salah satu dari mereka.


'' Betul tuan Chen, jika kita tidak bisa mempertahankan milik kita, mereka juga tidak boleh memiliki apa yang seharusnya milik kita.'' ujar yang lainnya.

__ADS_1


'' Kalau semuanya kita bekukan, lalu bagaimana perusahaan kita bisa berjalan. Bukankah ini nanti akan membuat marah para pegawai kita!'' ucap Tony merasa ragu.


'' Mau bagaimana lagi tuan Chan, tidak ada cara lain lagi untuk menyelamatkan seluruh aset kita, kecuali dengan cara itu!''


'' Tapi, bagaimana caranya nanti kita bisa membuka blokiran tersebut. Saya dengar, dulu kakek pernah mengatakan. Jika terjadi sesuatu pada keluarga kita, kita bisa membekukan aset-aset penting untuk menyelamatkannya. Tapi, nantinya akan sulit untuk mencairkannya kembali.'' ujar Tony kebingungan.


'' Itu kita pikirkan nanti saja tuan! yang terpenting sekarang, kita harus secepatnya menyelamatkan aset tersebut sebelum terlambat.'' pinta mereka kepada Tony.


Akhirnya, sesuai kesepakatan bersama keluarga Chan. Tony segera menghubungi seseorang yang berhubungan dengan masalah tersebut. Walaupun pada akhirnya aset mereka bisa dibekukan, namun orang tersebut mengatakan. Kalau nanti mereka juga tidak akan mudah untuk membuka blokiran tersebut.


Selain itu, seluruh perusahaan mereka yang ada dimana pun, secara otomatis akan tersegel. Dengan begitu, akan terjadi kekacauan pada seluruh perusahaan milik mereka. Dan satu hal yang pasti, kerugian yang akan mereka tanggung akibat pembekuan tersebut, benar-benar tidaklah sedikit.


Karena sudah tidak ada urusan lagi ditempat tersebut, Arya Wijaya segera mengajak Fadil dan yang lainnya untuk kembali ke hotel mereka di Pasir Ris. Dia juga mengatakan kepada Fadil, untuk mengajak seluruh teman-teman Alan ke hotel tersebut.


Dia ingin merayakan kemenangan tersebut, dan berbagi kebahagiaan bersama mereka. Liu Feng dan seluruh teman-teman genknya, tentu saja sangat senang mendapatkan tawaran tersebut. Bagaimanapun juga, hotel itu adalah hotel terbaik di daerah tersebut. Tidak semua orang bisa datang, dan menikmati fasilitas hotel itu dengan mudah.


Maka dari itu, tentu saja mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang baik tersebut, dan langsung menerima tawaran untuk pergi kesana.


'' Paman, sekarang saya sudah tidak lagi menjadi keluarga Chan. Paman juga sudah mendengar sendiri, kalau seluruh aset keluarga Chan saat ini telah dibekukan dan disegel.''


'' Apakah saya dan keluarga saya sementara ini boleh ikut bersama paman, dan tinggal di hotel milik paman?'' tanya Lian agak ragu.


Mendengar permintaan Lian, Arya Wijaya tidak langsung menjawab. Dia menoleh kearah Fadil, seakan meminta pendapat darinya. Fadil yang melihat kalau Arya Wijaya meminta pendapat darinya, dia mengangguk.


'' Baiklah, kamu dan seluruh keluargamu, boleh ikut bersama kami ke hotel. Untuk sementara, kamu dan keluargamu juga bisa tinggal disana secara gratis.'' ucap Arya Wijaya, lalu segera pergi menuju mobilnya.


Arya Wijaya dan semua orang yang ada disana, termasuk dengan Amy Chan dan keluarganya, mereka segera pergi meninggalkan tempat tersebut meninggalkan Tony Chan dan keluarga Chan yang lain. Setelah menghubungi manager hotel agar menyiapkan segala sesuatunya, merekapun segera menuju ke sana.


Akan tetapi, sesampainya mereka disana, mereka tidak bisa masuk kedalam rumah tersebut. Rumah tersebut telah disegel dan dijaga oleh beberapa orang polisi, dan tidak memperbolehkan mereka untuk masuk kesana sama sekali. Mereka juga menemukan Mei Ling yang sedang bersitegang dengan polisi, karena tidak diperbolehkan masuk ke rumah tersebut.


...----------------...


'' Kak Alex, terimakasih sudah mau menerima kami disini.'' ujar Amy Chan, saat mereka sedang duduk-duduk sesampainya mereka di hotel.


'' Amy, namaku bukan lagi Alex. Sekarang namaku Arya Wijaya. Jadi, jangan lagi kamu panggil aku dengan nama itu.'' jawab Arya Wijaya kepada adik bungsunya tersebut.


'' Iya kak, maaf!'' ucap Amy Chan.


'' Kak Arya, kenapa kamu dulu tidak mengatakan apa alasanmu tidak mau menikahi Mei Ling. Kenapa juga kakak tidak mau tetap bersama kami disini?'' tanya Amy terlihat sedih.


'' Amy, saya bukannya tidak mau mengatakannya. Kamu tahu sendiri bukan! Saat itu, baru saja saya datang! ayah dan ibu begitu marah dan langsung mengusir saya, saat mengetahui kalau saya ingin menikahi wanita pilihan saya sendiri.''


'' Bahkan, mereka juga tidak ingin mendengarkan alasan saya, kenapa saya tidak mau meneruskan perjodohan saya dengan Mei Ling.''


'' Ya tapi sudahlah! tidak ada gunanya juga, kita mengingat masa lalu yang pahit tersebut. Lebih baik, kita memikirkan masa depan anak cucu kita. Kita ini sudah tua, untuk apa lagi memikirkan masa-masa yang sudah berlalu.'' ucap Arya Wijaya.


'' Oh iya! Berhubung keluarga besar Chan kalian sedang dalam keadaan seperti ini, dan juga belum tahu kapan semuanya akan berakhir, bagaimana kalau anak-anakmu bekerja di tempat kami.''


'' Kebetulan, saya juga membutuhkan beberapa tenaga untuk bekerja di hotel ini, dan juga di tempat lain. Kalian juga bisa tinggal di apartemen milik keluarga saya yang ada disini.'' ujar Arya Wijaya menawarkan kepada keluarga Amy.

__ADS_1


'' Terima kasih kak! Kak Arya memang orang yang baik. Andai kami tidak memiliki saudara seperti kakak, entah bagaimana nasib keluarga kami kedepannya.'' ucap Amy dan suaminya.


Sementara itu, Fadil bersama Ulil berkumpul bersama dengan Liu Feng, Lian Chan dan semua teman-teman Alan ditempat lain di hotel tersebut. Mereka sedang merayakan kemenangan mereka atas genk Thian, dengan acara makan-makan yang telah disiapkan oleh manager hotel tersebut untuk mereka.


Sedangkan Andika, Sintya, Tiara dan Nadia, mereka juga sedang berkumpul bersama dengan anak menantu dan cucu perempuan Amy Chan, yaitu Lin Chan dan istrinya, serta Lili Chan di ruangan yang berbeda.


Meskipun untuk pertama kalinya mereka berkumpul seperti ini, namun rasa bahagia tampak dari wajah-wajah mereka. Untuk pertama kalinya bagi Sintya, dia merasakan memiliki keluarga selain dari keluarganya sendiri dan juga saudara suaminya yaitu Hartono.


Begitupun halnya dengan Lin Chan dan istrinya. Dia juga merasa sangat senang, karena akhirnya mereka bisa bertemu dan berkumpul bersama saudara sepupunya yang tidak pernah bersama mereka. Apalagi, sikap dari saudara sepupunya tersebut, sangat berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain di keluarga Chan.


Didalam keluarga Chan mereka, Amy Chan dan anak cucunya, mereka sering kali disisihkan. Apalagi, Amy Chan dan keluarga mereka, seringkali berbeda pandangan dalam banyak hal.


Hal inilah yang membuat mereka lebih merasa nyaman, ketika bersama saudara sepupunya tersebut. Mereka juga merasa bersyukur, karena tidak ikut memusuhi Arya Wijaya dan keluarganya. Mereka tidak dapat membayangkan, bagaimana nasib mereka saat ini, jika mereka tetap bersama Tony Chan dan yang lainnya. Mereka juga berpikir, entah bagaimana nasib Tony dan keluarga Chan yang lainnya sekarang.


Ketika malam semakin larut, mereka lalu pergi beristirahat ditempat yang telah disiapkan untuk mereka. Sementara Arya Wijaya dan keluarganya, mereka juga kembali ke kamar mereka masing-masing. Sedangkan Fadil dan yang lainnya, mereka masih berkumpul bersama teman-temannya hingga waktu menjelang subuh.


...----------------...


Pagi harinya, mereka kembali berkumpul di ruangan khusus keluarga Arya Wijaya untuk sarapan bersama. Fadil dan Ulil, usai melaksanakan sholat subuh tadi, mereka juga sempat beristirahat. Sementara itu, teman-temannya juga sudah kembali ke rumahnya masing-masing, saat menjelang subuh tadi.


'' Kak Arya, saya tidak menyangka dan salut dengan kakak. Meskipun kakak terusir dari keluarga dan tidak mendapatkan apapun, namun kak Arya bisa sukses seperti ini.'' ujar Amy Chan terkagum-kagum.


'' Alhamdulillah Amy, tapi ini semua berkat mendiang istriku Susi. Dialah yang mengajak dan mendampingiku hingga kami bisa seperti ini. Tapi sayangnya...'' Arya Wijaya tidak lagi melanjutkan kata-katanya.


'' Maaf kak Arya! saya tidak berniat mengingatkan kakak kepada mendiang kakak ipar.'' ujar Amy merasa tidak enak.


'' Tidak apa-apa Amy! Semuanya memang sudah menjadi takdir untuk kami berdua. Meskipun saya tidak mungkin bisa melupakannya, tapi saya juga sudah ikhlas dengan kepergiannya.''


'' Oh Iya kak! Seingat saya, wajah kakak ipar begitu mirip dengan nona itu! Apakah dia itu cucumu juga?'' tanya Amy yang sejak tadi memperhatikan wajah Tiara.


Mendengar perkataan Amy Chan, semua orang yang berada ditempat tersebut menoleh kearah Tiara. Karena semua mata melihat kearahnya, Tiara jadi salah tingkah. Karena Arya Wijaya tidak segera menjawab, akhirnya Sintya lah yang menjawab pertanyaan dari Amy.


'' Bibi, dia ini namanya Tiara. Tunangannya Fadil, dan calon menantu kami.'' ujar Sintya memperkenalkan Tiara kepada Amy dan yang lainnya.


Tiara berdiri, lalu menangkupkan kedua telapak tangannya kedepan sambil sedikit membungkukkan badannya, menyapa Amy dan seluruh keluarganya. Amy dan yang lainnya merasa takjub, selain cantik, Tiara juga termasuk gadis yang sangat sopan.


'' Oh.. jadi nona Tiara ini calon istri dari Alan cucumu ya kak? tapi kok begitu mirip ya, sama wajah mendiang kakak ipar?''


'' Oh iya! setahu saya, nama putra kalian itu bukannya Alan. Tapi, kenapa kalian tadi menyebut, kalau nona Tiara ini adalah calon istri siapa tadi?'' tanya Amy masih belum dapat mengingat nama Fadil.


'' Fadil bibi!'' ucap Sintya.


'' Oh iya, Fadil. Apa Alan juga sudah berganti nama menjadi Fadil?'' lanjut Amy Chan bertanya.


Kini, tidak hanya Arya Wijaya yang diam. Bahkan, Sintya, Andika, Tiara dan Nadia juga ikut diam dan tidak segera menjawab pertanyaan dari adik Arya Wijaya tersebut. Melihat semuanya hanya diam, Amy Chan menjadi merasa bingung. Bahkan, semua keluarga Amy Chan yang ingin mendengar penjelasan tentang hal itupun jadi ikut bingung.


'' Assalamualaikum..'' sapa Fadil dan Ulil yang baru masuk ke ruangan tersebut.


'' Wa'alaikumsalaam warahmatullah..'' serempak jawab Arya Wijaya dan yang lainnya, terkecuali keluarga Amy Chan yang berbeda keyakinan dengan mereka.

__ADS_1


'' Maaf ma, pa, kakek! Kami kesiangan. Semalam, kami bergadang sampai subuh. Dan malah ketiduran usai sholat subuh.'' ucap Fadil yang merasa tidak enak karena terlambat datang ke ruangan tersebut.


...****************...


__ADS_2