
Hari ini Fadil tidak kemana-mana. Usai melaksanakan shalat subuh tadi, dia dan para santri yang lain, membereskan segala perlengkapan pesta pernikahan Zulkifli dan Naila yang telah selesai dilaksanakan kemarin.
Setelah waktu mulai beranjak siang, mereka beristirahat untuk menunaikan sholat Dzuhur dan makan siang. Sambil menunggu datangnya mobil yang akan mengangkut tenda dan juga sound sistem, mereka juga ikut membantu membongkar tenda yang ada disana. Dikarenakan banyaknya santri yang ikut membantu, pekerjaan itupun semuanya telah beres dalam waktu yang tidak begitu lama.
Karena semua pekerjaan yang ada sudah selesai, maka untuk mengisi waktu luangnya, Fadil pergi menemui Andre setelah meminta ijin kepada Abah terlebih dahulu. Dia kemudian membawa mobilnya keluar dari pesantren, menuju lokasi proyek dimana Andre juga ada disana.
'' Assalamualaikum pak Andre.'' sapa Fadil kepada Andre yang bergegas mendekatinya, saat melihat kedatangan Fadil.
'' Wa'alaikumsalaam.. Tuan muda.'' jawab Andre sambil membukakan pintu mobil yang dibawa oleh Fadil.
'' Tuan muda sendirian? Bagaimana kabar non Tiara? tanya Andre.
'' Iya pak Andre. Alhamdulillah, dia baik-baik saja.''
'' Oh iya pak Andre, apa ada kendala dalam proyek kita?'' tanya Fadil.
'' Alhamdulillah tuan muda. Semuanya berjalan lancar dan hampir tidak ada kendala sama sekali. Bahkan, untuk beberapa proyek yang bekerjasama dengan pihak pesantren, semuanya sudah rampung. Hanya tinggal menunggu alat dan perlengkapan yang sekarang sedang dalam proses pengiriman dari luar negeri.''
'' Ya syukurlah kalau begitu pak Andre! Oh iya mengenai pak Baron, apakah sudah ada keputusan?'' tanya Fadil.
'' Sudah tuan muda! Menurut kabar dari letnan Rifa'i, dua hari lagi dia bisa menjalani hukuman sebagai tahanan rumah, dengan jaminan yang tuan muda berikan. Selama tiga bulan kedepan, jika dia menunjukkan perkembangan yang baik, dia juga akan dibebaskan.'' ujar Andre menjelaskan perihal tentang Baron.
Fadil manggut-manggut. Dia memang memiliki rasa simpati kepada Baron. Bukan karena dia merasa kasihan terhadapnya. Namun, semua itu disebabkan oleh bakti Baron terhadap kedua orang tuanya. Meskipun bisa dikatakan kalau Baron bukanlah orang yang baik, namun rasa peduli dan baktinya terhadap kedua orang tuanya, membuat Fadil merasa cukup tersentuh.
Fadil juga mengatakan kepada Andre, kalau dia telah berbicara kepada Abah, untuk menjadikan Baron sebagai keamanan di wilayah sekitar pesantren.
'' Pak Andre! saya mau minta tolong sama bapak. Tolong awasi dan juga bimbing dia, supaya tidak kembali seperti dulu lagi. Saya punya keyakinan, kalau sebenarnya dia bisa jadi orang yang baik dan berguna untuk lingkungan disekitarnya.'' pinta Fadil kepada Andre.
'' Siap tuan muda. Insyaallah, saya akan melaksanakan permintaan tuan muda dengan sebaik baiknya.'' jawab Andre dengan semangat.
'' Oh iya pak Andre! ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan kepada bapak. Insyaallah, beberapa hari lagi saya akan pergi keluar negeri. Sepulang dari sana, saya juga akan langsung kembali ke Baturaja. Jadi, saya juga ingin minta tolong sama bapak, untuk mengurus semua proyek yang ada disini. Apa pak Andre tidak keberatan?''
'' Insyaallah tuan muda. Saya siap melaksanakan tugas yang tuan muda berikan kepada saya. Tapi ngomong-ngomong, apakah tuan muda perginya lama?'' tanya Andre.
'' Kalau untuk diluar negerinya sih, mungkin tidak terlalu lama pak Andre. Tapi kalau di Baturaja, mungkin sekitar dua bulanan pak Andre.''
'' Ooh.. jadi, tuan muda akan melaksanakan akad nikahnya disana ya tuan muda?'' tanya Andre.
'' Iya pak Andre! sesuai permintaan dari kedua orang tua Tiara, kami akan melaksanakannya di Baturaja. Baru nantinya kami akan boyong ke Jakarta dan melakukan resepsi juga disana.'' jawab Fadil.
Setelah mengecek secara langsung kondisi dilapangan, serta mengecek dokumen dokumen proyek yang dulu digagas oleh Alan, Fadil lalu berpamitan kepada Andre. Karena beberapa hari kedepan Fadil merasa akan sangat sibuk, maka diapun menyerahkan urusan proyek tersebut kepada Andre. Tak berapa lama kemudian, Fadil meninggalkan lokasi proyek pembangunan hotel dan yang lainnya itu, untuk kembali ke pesantren.
__ADS_1
Dua hari kemudian, Fadil berpamitan kepada Abah, Zul dan teman-teman sekamarnya. Karena setelah ini dia dan Tiara tidak akan tinggal lagi di pesantren, diapun membawa serta Tiara untuk ikut bersamanya kembali ke Jakarta. Malam sebelum dia dan Tiara akan boyong dari pesantren tersebut, baik Fadil maupun Tiara, mereka membuat acara perpisahan dengan teman-temannya di asrama mereka masing masing.
Meskipun Fadil dan Tiara belum lama berada di pesantren tersebut, namun sepertinya, mereka berdua sudah melekat dihati teman-teman dan juga para santri yang lain. Apalagi, Zul juga akhirnya memberitahukan, kalau proyek yang nantinya akan melibatkan para santri itu, adalah proyek milik keluarga Fadil.
Fadil juga memberitahukan kepada Abah dan juga Zul, kalau nantinya proyek tersebut akan ditangani oleh Andre selaku penanggungjawab wilayah tersebut. Jadi, jika ada hal-hal yang berkaitan dengan masalah proyek tersebut, mereka bisa melakukan konfirmasi bersama Andre.
...----------------...
'' Ma, pa, kakek! sepertinya saya harus pergi ke Singapura secepatnya. Saya ingin, masalah perseteruan keluarga besar kakek yang selama ini ada, dan membuat keluarga ini tidak bisa merasakan kedamaian, segera bisa berakhir.''
'' Saya tidak ingin, nanti ada korban lain. Sudah cukup nenek dan Alan saja yang menjadi korbannya.'' ujar Fadil, saat mereka sedang berkumpul bersama di ruang keluarga, setelah dia dan Tiara sampai dirumah Sintya.
Arya Wijaya awalnya terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Fadil. Namun, diapun akhirnya paham, kalau Fadil yang saat ini berada ditubuh Alan, dia juga memiliki ingatan milik Alan. Apalagi, meskipun dia tidak pernah menceritakan tentang masa lalunya kepada orang lain, bahkan kepada Sintya sendiri, dia teringat kalau Alan sudah mengetahui tentang masa lalunya tersebut.
Arya Wijaya juga teringat. Kalau Alan pernah mengatakan kepadanya, bahwa orang yang bernama Fadil ini bukanlah orang biasa. Hal itu pernah dikatakan oleh Alan, ketika Alan meminta ijin untuk pergi ke pesantren.
'' Fadil! kakek bukanya tidak setuju dengan apa yang ingin kamu lakukan. Tapi, mereka itu sangat berbahaya. Kakek tidak ingin terjadi apa-apa terhadapmu.'' ujar Arya Wijaya.
'' Kakek! justru karena mereka berbahaya itulah, makanya saya harus menghentikan mereka. Jika tidak, mungkin besok atau lusa, saya atau yang lainnya akan kembali jadi korban mereka.'' ujar Fadil, lalu menceritakan kejadian kemarin di pesantren.
Arya Wijaya jadi terkejut mendengar cerita kejadian itu. Dia tidak menyangka kalau ternyata, mereka masih terus berusaha untuk menghancurkan dirinya, melalui orang-orang yang dia sayangi, bahkan terhadap Fadil dan Tiara.
Diapun kini merasa geram terhadap saudara-saudaranya. Sejak dia diasingkan dan diusir dari keluarganya, dia tidak pernah melakukan apapun terhadap mereka. Namun, mereka tidak pernah ada henti-hentinya, melakukan hal yang menurutnya tidak seharusnya mereka lakukan terhadapnya.
'' Ini semua, kakeklah yang seharusnya menyelesaikannya. Untuk itu, biarlah kakek saja yang akan menemui mereka.'' ujar Arya Wijaya, bertekad untuk menyelesaikan masalah itu, agar mereka tidak menggangu anak-anak dan keturunannya.
'' Tidak kek! biar saya saja yang akan pergi menemui mereka. Saya janji! Saya akan menyelesaikan perseteruan ini dengan sebaik-baiknya, dan juga secepat-cepatnya.'' sahut Fadil tidak ingin Arya Wijaya yang akan pergi menemui mereka.
'' Tidak Fadil! biarlah kakek saja yang akan pergi kesana.'' seru Arya Wijaya memaksa.
Semua terdiam. Sintya, Andika, juga Nadia, mereka tahu betul bagaimana watak Arya Wijaya. Maka dari itu, mereka cuma bisa diam dan mendengarkan. Mereka sebenarnya tidak ingin, kalau Arya Wijaya juga pergi. Walaupun mereka sendiri tidak begitu tahu tentang saudara dari ayah dan kakeknya tersebut, namun mereka juga sedikit merasa tidak nyaman, mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Fadil dan Arya Wijaya tersebut.
'' Baiklah kek! bagaimana kalau saya dan kakek yang pergi kesana? jika nanti mereka tidak bisa atau tidak mau mendengarkan apa yang kakek katakan, biar saya yang akan mencobanya.'' usul Fadil mencari jalan tengah.
'' Oke, baik baik! Kalau seperti itu, kakek juga setuju.'' jawab Arya Wijaya sambil tersenyum senang.
'' Aku ikut!'' ujar Sintya tiba tiba.
Disaat Sintya berkata seperti itu, secara serempak semuanya menoleh kearah Sintya. Merasa semua pandangan mata tertuju padanya, Sintya kembali berkata:
" Aku juga ingin ikut. Aku belum pernah tahu keluarga saudara papa.'' lanjut Sintya membuat alasan.
__ADS_1
'' Sintya..! Ini bukan perjalanan wisata. Ini juga bukan untuk menemui keluarga yang akan menyambut hangat kedatangan kita. Mereka itu..''
'' Pokoknya aku ikut!'' ucap Sintya memotong perkataan Arya Wijaya.
'' Kalau mama ikut, papa juga mau tidak mau akan ikut.'' sahut Andika ikut bicara.
'' Kalau semuanya ikut pergi, Nadia juga ikut kalian!'' sambungan Nadia, tak mau ketinggalan.
Melihat semuanya berkata ingin ikut pergi, Fadil dan Arya Wijaya saling berpandangan. Kini mereka jadi bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Hanya Tiara yang masih diam dan tidak berani berkata apapun.
'' Bagaimana ini kek? semuanya malah ingin ikut pergi.'' tanya Fadil jadi bingung.
'' Tapi ini..'' jawab Arya Wijaya, namun belum juga selesai dia berkata Sintya dan Nadia langsung menyahut dan memotong ucapannya.
'' Pokoknya kami ikut!'' seru Sintya dan Nadia bersamaan.
'' Maa..! Mereka itu menginginkan kita semua mati. Kalau kita semuanya pergi kesana, tentunya ini akan membuat mereka semakin senang. Karena mereka bisa langsung membunuh kita semua.'' ujar Fadil, mencoba mencegah mereka untuk ikut pergi.
'' Maka dari itulah Fadil, kenapa mama juga ingin ikut. Jika kamu dan kakekmu mati, untuk apa mama masih hidup?''
'' Mama ini sudah tidak bisa punya keturunan lagi. Kalau kamu mati, siapa yang nanti akan menjadi penerus keluarga kita? Cuma Nadia yang masih punya harapan. Maka dari itu, biarlah Nadia yang tidak usah ikut!'' jawab Sintya.
'' Tidak! pokoknya, kalau kalian semua pergi, Nadia juga harus ikut pergi. Ibarat kata pepatah: " ringan sama dijinjing, berat sama dipikul". Kalau kalian mati, Nadia juga mati. Kalau kalian hidup, Nadia juga. Pokoknya, hidup dan mati kita bersama.'' ujar Nadia.
Baik Fadil maupun Arya Wijaya, mereka berdua sudah tidak bisa lagi untuk melarang Sintya dan Nadia, agar tidak ikut pergi menemui saudaranya Arya Wijaya di Singapura. Baru saja semuanya terdiam dan hanyut dalam pikirannya masing-masing, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh perkataan dari Tiara.
'' Maaf! Kalau kalian semuanya ikut pergi, saya juga ikut bersama kalian.'' ucap Tiara yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
Kini, giliran semua mata tertuju kepada Tiara. Mereka juga tidak menyangka, kalau kini Tiara juga berkata ingin ikut bersama mereka untuk pergi ke Singapura.
'' A Fadil! Tiara pernah kehilangan A Fadil satu kali. Saat itu, Tiara serasa hanya hidup dengan setengah jiwa yang Tiara miliki. Bahkan, dengan setengah jiwa itupun, Tiara sudah tidak bisa merasakan apa itu hidup?''
'' Kalau A Fadil pergi, dan terjadi apa-apa dengan A Fadil, bagaimana mungkin Tiara akan mampu bertahan hidup lagi!'' ujar Tiara menatap Fadil.
Semuanya kembali terdiam. Arya Wijaya, Andika dan juga Sintya, mereka mengerti apa yang dirasakan oleh Tiara. Bagaimanapun juga, Fadil dan Tiara adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Bahkan, sebentar lagi mereka juga akan menikah. Tentunya, selain nadia, mereka juga pernah merasakan masa-masa seperti itu.
Setelah beberapa saat, Arya Wijaya akhirnya kembali berkata:
'' Ya sudah! kalau kalian semua juga ingin ikut, besok kita akan berangkat ke Singapura bersama-sama.'' ucap Arya Wijaya setelah menarik nafas panjang.
Karena hari sudah mulai malam, mereka akhirnya mengakhiri obrolan itu, dan kembali ke kamar untuk beristirahat. Tiara tidur bersama Nadia di kamar Nadia. Sementara Fadil, dia langsung pergi ke kamar milik Alan, dan segera terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
...****************...
..