
Saat Tiara berlari mengejar mobil ambulan yang membawa jenazah Fadil, tak lama kemudian bu Lilis dan Vita juga ikut menyusulnya. Namun saat mereka sampai disana, bu Lilis dan Vita sudah mendapati Tiara yang pingsan dan dibaringkan di kamar Fadil. Jadi mereka datang hanya sebentar untuk menemani Yunita yang sedang menunggui Tiara yang pingsan. Kemudian ikut membantu didapur bersama dengan ibu-ibu lainnya. Dan sebelum Tiara sadar dari pingsannya, bu Lilis dan Vita sudah kembali pulang, karena harus melakukan sesuatu pekerjaan di rumahnya. Bu Lilis hanya berpesan kepada Yunita, agar menjaga Tiara yang masih belum terbangun.
Tiara akhirnya dibawa pulang setelah dia tersadar, bu Lilis sudah mempersiapkan air hangat untuk mandi Tiara. Seluruh badan Tiara terasa lengket oleh keringat dan air mata. Sudah seharian penuh, air mata Tiara mengalir tanpa henti. Entah ujian apa yang sedang menimpanya. Kemalangan demi kemalangan ini, benar-benar membuat shock Tiara.
Walaupun berbagai nasehat dari kedua orang tuanya, termasuk nasehat dari ibu Zaenab dapat dia terima, namun rasa pahit dan sakit atas kehilangan orang yang dia cintai, membuat Tiara seperti kehilangan setengah jiwanya. Dia benar-benar tidak memiliki semangat dalam menjalani hari-harinya.
Tiara lebih banyak menghabiskan hari-harinya hanya dengan diam. Tatapan matanya kosong, dia selalu mengurung diri didalam kamarnya, sambil menatapi foto dalam bingkai yang dia bawa dari kamar Fadil. Tiara seringkali menangis, keceriaan yang biasanya terpancar dari wajahnya, kini tampak semakin memudar dan tubuhnya juga tampak semakin kurus.
Seminggu sudah waktu berlalu sejak hari kematian Fadil. Kondisi fisik Tiara semakin lemah, dia jarang sekali makan. Andai bukan karena dipaksa oleh kedua orang tuanya, mungkin Tiara juga selama itu tidak akan makan. Selera makanya sudah benar-benar hilang, dan bahkan selera untuk hiduppun sepertinya juga mulai menghilang.
Malam itu, suhu badan Tiara sangat tinggi. Dia demam parah, wajahnya sudah benar-benar pucat, bibirnya juga sudah mulai membiru.
'' Tiara..Tiara, kamu kenapa Tiara?''
Yunita tampak begitu panik, dia terbangun saat tanpa sengaja, tangannya menyentuh tubuh Tiara yang sangat panas, yang sedang tidur disebelahnya.
'' Ibu.. Ayah.., Tiara, Tiara bu..''
Pak Syahroni dan bu Lilis segera datang kekamar Tiara dan memeriksa kondisinya. Mereka terkejut dan panik melihat kondisi Tiara. Bu Lilis segera mengompres Tiara, dan memberikan pertolongan pertama.
'' Yah.., coba hubungi pak Joko, kita harus secepatnya membawa Tiara ke klinik.'' Pinta bu Lilis kepada pak Syahroni suaminya.
Tak lama kemudian, pak Joko datang dengan membawa mobil Avanzanya. Tiara segera dibawa ke klinik terdekat untuk mendapat perawatan. Segera jarum infus dan juga alat bantu pernapasan dipasang pada tubuh Tiara.
'' Bagaimana kondisi anak kami dokter?'' Bu Lilis langsung bertanya kepada dokter yang baru saja keluar dari kamar rawat Tiara.
'' kondisinya masih kurang baik bu!, fisiknya saat ini masih terlalu lemah. Sepertinya dia kekurangan banyak nutrisi, dan anak ibu sepertinya sedang memiliki banyak tekanan.'' Dokter itu menjelaskan kondisi fisik dan batin Tiara.
'' Tapi dia bisa ditolong kan dokter? tolong anak kami dokter!'' Bu Lilis masih panik.
'' Insyaallah bu, kami akan mencoba sebaik dan sebisanya, sesuai dengan kemampuan kami. Namun yang terpenting, dia harus bisa tersadar dari komanya. Saya tinggal dulu ya bu!, nanti kalau butuh apa-apa, segera hubungi saya atau asisten saya. Oh iya suster, jangan lupa untuk sesering mungkin mengontrol kondisi pasien.'' ucap dokter itu kepada asistennya.
Dikamar Rawat inap tempat Tiara berada, pak Syahroni, bu Lilis, Yunita dan Vita secara bergantian menjaga Tiara. Beberapa tetangga dan teman-teman Tiara juga datang menjenguk Tiara.
...----------------...
Hari ke 3 Tiara di klinik rawat inap.
'' Dokter.., dokter.., tolong. Itu, itu..!'' bu Lilis dengan panik mengetuk pintu ruangan dokter.
'' Tenang.., tenang dulu bu, ada apa?'' Dokter mencoba menenangkan bu Lilis yang sedang panik.
'' Itu dokter, anak saya Tiara, kondisinya seperti kemarin lagi.'' bu Lilis meneteskan airmata.
__ADS_1
'' Baik bu, akan segera saya periksa. Suster, tolong siapkan alat dan obat-obatan yang diperlukan!'' perintah dokter buru-buru menuju kamar rawat Tiara.
Dalam komanya, Tiara...
Di tepi danau itu, dimana Tiara melihat Fadil berdiri di atas perahu rakit, dan menaiki tangga yang muncul di tengah-tengah danau. Tiara kembali menemukan dirinya kembali ada disana. Sebuah perahu rakit tertambat ditepinya, Tiara menaiki rakit itu, tiba-tiba perahu rakit itu bergerak dengan sendirinya, mengarah ke tengah-tengah danau.
Kabut putih tebal menyelimuti tengah-tengah danau itu, kemudian mulai memudar dan menghilang. Bersamaan dengan hilangnya kabut putih itu, tampak sebuah tangga menuju langit. Tiara masih ingat, itu adalah tangga yang dinaiki Fadil dalam mimpinya saat itu.
Satu persatu, anak tangga itu dilewati Tiara,dan akhirnya Tiara sampai diujung tangga. Tiara menemukan sebuah taman yang begitu indah dan begitu luas seperti tanpa batas. Dari kejauhan didalam taman yang begitu luas itu, Tiara seperti melihat sosok yang sangat dikenalnya, sosok dari orang yang sangat dia rindukan, sosok orang yang telah membawa setengah Jiwanya.
'' A Fadil.'' Tiara bergumam, lalu berteriak.
'' A Fadil..!''
Sambil memanggil nama Fadil, Tiara berlari menuju pintu gerbang yang sangat besar itu. Namun entah mengapa, sesampainya dia didepan pintu gerbang itu, dia tidak bisa masuk. Dari pintu gerbang itu, Tiara dapat melihat seisi taman yang begitu indah, namun tubuh Tiara tidak dapat memasukinya, seperti ada suatu penghalang yang tidak terlihat di pintu tersebut. Fadil yang mendengar seseorang memanggilnya, lalu menoleh dan mendapati Tiara sedang berdiri di depan pintu gerbang itu, dia lalu mendatangi Tiara.
'' Tiara, kamukah itu?'' Fadil bergegas mendekati Tiara, namun ketika dia akan keluar dari pintu gerbang itu, dia lalu berhenti.
'' A Fadil, Ini Tiara A, Ini Tiara.''
Tiara tersenyum manis, air matanya mengalir. Rasa haru dan bahagia menyelimuti hatinya. Tiara merasa bahagia karena akhirnya dapat bertemu dengan orang yang paling dicintainya.
'' A Fadil.., kenapa A Fadil pergi begitu saja? Kenapa A Fadil tega biarkan Tiara dalam kesedihan dan kesendirian? Apakah A Fadil benar-benar marah sama Tiara?. Kalau begitu, Tiara minta maaf A, Tiara ngaku salah, karena tidak tepati janji.''
'' A Fadil, maafkan Tiara. Tiara menyesal, sungguh Tiara sangat menyesal. Namun, andai A Fadil tahu, itu juga bukan keinginan Tiara. Kak Yunita yang memaksa Tiara untuk ikut pergi bersamanya. Tiara juga sangat sedih Karena itu.''
'' Sekali lagi, tolong maafkan aku A Fadil !''
'' Tiara, sudahlah. Semua telah terjadi, entah dalam hal ini siapa yang bersalah, tak perlu lagi untuk diungkit. Mungkin, ini memang sudah suratan takdir.''
'' Tiara, apakah kamu lupa? aku pernah mengatakan padamu, semarah apapun aku padamu, aku tetap tak bisa untuk membencimu. Karena membencimu, sama saja dengan aku membenci diriku sendiri, menyakitimu, sama halnya dengan aku menyakiti diriku sendiri. Lebih baik lupakan semua ini, cukup ambil hikmah atas segala kejadian ini.''
'' A Fadil, benarkah A Fadil tak lagi marah sama Tiara? Apakah A Fadil benar-benar memaafkan Tiara?''
Fadil mengangguk, lalu tersenyum menatap Tiara.
'' Terima kasih A Fadil, Terima kasih. Karena telah sudi memaafkan Tiara.''
Tiara merasa lega, karena Fadil ternyata tak lagi marah kepadanya. Tiara ingin sekali memeluk Fadil, mencurahkan segala rasa dan isi hati serta kerinduanya. Namun, Tiara tidak bisa masuk melewati pintu gerbang taman tersebut.
'' A.., sekarang Tiara sudah ada disini, tapi Tiara tidak bisa masuk. Tolong bawa Tiara masuk, agar Tiara bisa selalu bersama dengan A Fadil.''
Tiara menatap Fadil dengan tatapan memohon, dia sudah bertemu Fadil, dan tidak ingin untuk berpisah lagi.
__ADS_1
'' Tiara.., maaf aku tak bisa.''
Fadil merasa sedih, dia juga sangat merindukan Tiara, namun ada hal yang tidak dapat dia jelaskan kepada Tiara.
'' kenapa A, apa A Fadil tidak kangen sama Tiara? Apakah A Fadil tidak ingin kita selalu bersama?''
'' Tiara, apa yang kamu rasakan, aku juga merasakanya. Yang kamu inginkan, akupun sama. Tapi, kita tidak bisa melawan kehendak takdir. Kembalilah Tiara, lanjutkan hidupmu. Jika Allah menghendaki kita bisa bersama, tidak akan ada yang bisa menghalangi dan kita pasti akan bersatu. Entah dimanapun adanya, tapi itu bukan sekarang, dan tidak juga disini.''
Tiara tidak bisa memahami apa yang dikatakan oleh Fadil, dia juga terus mencoba untuk memasuki pintu gerbang itu. Namun, tetap saja dia tidak bisa. Setiap kali kakinya mencoba melangkah melewati pintu gerbang itu, dia seperti didorong kebelakang. Hampir saja Tiara terjungkal ketika mencoba lebih keras lagi. Fadil menatap Tiara dengan ekspresi sedih, lalu dia berkata :
'' Tiara, sudahlah. Tak ada gunanya kamu mencoba, lebih baik kamu kembali. Ayah, ibu, dan saudaramu sudah begitu cemas mengkhawatirkanmu, kembalilah Tiara.., kembalilah!''
'' Tapi A, aku tidak ingin kembali, aku ingin bersama A Fadil disini. Biarlah, walau Tiara tak bisa masuk kesana, Tiara akan terus disini. Asal Tiara bisa melihat dan bicara dengan A Fadil, Tiara sudah merasa bahagia.''
'' Tiara.., apakah kamu sungguh mencintaiku?'' tanya Fadil.
'' Tentu A, Tiara sungguh sangat mencintaimu, untuk itulah Tiara ada disini.''
'' Tiara, yang aku maksud bukan seperti ini. jika benar kamu mencintaiku, tolong turuti kata-kataku. Kembalilah, dan tunggu hingga saat itu tiba!''
'' Tapi A , bagaimana Tiara hidup tanpa A Fadil ? Bagaimana jika Tiara rindu pada A Fadil ? Apa A Fadil tega, melihat Tiara tersiksa batin menanggung semua ini sendirian?''
'' Tiara, percayalah padaku kali ini saja. Kembalilah, dan jalani hidupmu seperti biasanya. Dan jika kamu merasa berat untuk menjalaninya, pergilah ke pesantren. Belajarlah dengan baik disana. Insyaallah..., rindumu akan segera terobati.''
'' Tapi A.''
'' Tiara.., tolong, dengarkan dan ikutilah kata-kataku!''
Tiara akhirnya tak bisa lagi menolak, dan beralasan untuk tidak menuruti Fadil dan kembali. Dia akhirnya menuruti apa yang Fadil katakan.
Tiara lalu memejamkan matanya, setelah mengucapkan kata-kata perpisahan kepada Fadil. Tiba-tiba tubuhnya terasa seperti jatuh dari ketinggian dan kemudian...
Didalam klinik, didalam ruangan dimana Tiara dirawat, Dokter dan beberapa asistenya sedang sibuk memeriksa kondisi tubuh Tiara.
Tiara yang tadinya sudah berangsur-angsur membaik, tiba-tiba kembali ngedrop. Wajah dan kulit tubuhnya semakin memucat. Denyut jantungnya semakin melemah, dan..'' Tiiiit..'' Tiba-tiba, di layar alat pendeteksi jantung hanya terlihat garis lurus, menandakan kalau jantung Tiara berhenti berdetak.
'' Suster, ambil alat pemacu detak jantung, cepat cepat!'' Perintah dokter kepada asistenya.
Hingga beberapa kali alat itu digunakan, namun belum ada perubahan sama sekali.
'' Tambahkan voltasenya!'' seru dokter kepada asistenya.
Keringat dokter dan juga asistenya mulai banyak keluar, menandakan betapa mereka berupaya untuk mencoba menyelamatkan Tiara.
__ADS_1
...****************...