
Alan, Satria, Andre dan beberapa Pengawalnya keluar dari hotel tersebut. Satria langsung menawarkan diri untuk mengantarkan Alan sampai ditempat, tapi buru-buru ditolak oleh Alan. Dia tidak mau nanti malah menimbulkan kehebohan yang lebih parah lagi, sehingga Alan ingin memesan ojek online. Namun hal itu membuat Satria merasa tidak enak hati, lalu dia berkata kepada Andre:
'' Pak Andre. Apa ada anak buah Anda yang bawa mobil biasa? ( maksudnya bukan mobil mewah ) tanya Satria.
'' Oh, ada, ada tuan Satria.'' jawab Andre.
'' Memangnya untuk apa tuan?'' lanjutnya.
'' Begini!, tolong Antar mas Alan ini sampai ke tempatnya. Pastikan sampai ditempat ya!''
'' Oh, baik, baik tuan Satria. Saya akan pastikan itu.'' jawabnya penuh hormat.
'' Nah..! Mas Alan. Biarkan pak Andre ini yang mengurus semuanya. Tolong demi kenyamanan anda.'' seru Satria kepada Alan.
Bagaimanapun juga, saat ini tuan mudanya ada di daerah pertanggung jawabannya. Baik Andre maupun Satria, pasti akan terkena dampaknya jika terjadi apa-apa dengan tuan mudanya ini.
'' Ya.. baiklah kalau memang harus seperti itu.'' ucap Alan pasrah.
Tak lama kemudian salah seorang pengawal Andre membawa mobil Xpander coklat kehadapan mereka.
'' Nah.. mas Alan. Biar saya antar pake mobil ini saja gimana?'' tanya Andre.
Ketika Alan melihat yang mengemudikan mobil itu adalah pengawal Andre yang tadi bersamanya, dia kemudian berkata:
'' Oh.., terimakasih pak Andre. Tapi kalau boleh, biar dia saja yang mengantar saya, saya rasa itu sudah cukup.'' ucap Alan sambil menghampiri mobil tersebut.
'' Nggak apa-apa seperti itu mas Alan?'' ujar Satria meyakinkan.
'' Gak papa paman.., paman Satria tak usah khawatir'' ucapnya, kemudian meminta anak buah Andre tersebut segera pergi meninggalkan tempat itu.
'' Ayo jalan mas.'' kata Alan kepada pengawal Andre tersebut.
'' Baik, baik mas.'' ucapnya sambil mulai menginjak pedal gas.
'' Kemana kita mas Alan?'' ucapnya ketika mobil yang dibawanya sudah memasuki jalanan.
Rupanya pengawal Andre ini, sempat mendengar Satria dan Andre memanggil pemuda yang ada disampingnya itu, dengan nama mas Alan. Maka, diapun ikut memanggilnya seperti itu.
'' Kita kearah taman kota mas!, nanti berhenti sebentar di pusat perbelanjaan. Baru setelah itu, kita ambil arah kiri menuju pesantren Tahfidzul Qur'an.'' ucap Alan menjelaskan.
'' Oh.., jadi mas Alan ini santrinya Abah Ubaid ya?'' tanyanya.
'' Ya bisa dibilang begitu sih!'' jawab Alan.
'' Tapi ngomong-ngomong, mas..?''
'' Rifai mas, panggil saja Pa-i!'' sahut pengawal Andre itu, sambil menyodorkan tangannya memperkenalkan diri kepada Alan.
'' Iya!, kok mas Pa-i, bisa tahu Abah Ubaid!. Apa pernah mondok disitu?'' tanya Alan sedikit penasaran.
'' Ya.., dulu sih ada cita-cita pengen mesantren disana!, tapi gak kesampaian mas. Soalnya, tuntutan ekonomi, harus bantu orang tua mencari nafkah.'' ucapnya.
Alan manggut-manggut, mendengar cerita Pa-i tersebut.
'' Oh, iya, mas Alan sudah lama jadi Santri disana?'' tanya Pa-i.
'' Belum mas, saya baru beberapa hari saja disana.''
Tak terasa, mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area taman kota. Pa-i kemudian memarkirkan kendaraannya dihalaman pusat perbelanjaan itu dan menunggu Alan disana.
Alan segera turun kemudian mengambil sejumlah uang di ATM yang ada ditempat tersebut. Lalu membeli oleh-oleh buat Abah dan juga teman-temannya. Tidak lupa juga, dia membeli beberapa barang keperluan untuk mengaji di pesantren tersebut. Setelah dirasa cukup, Alan segera menuju meja kasir dan membayar barang-barang belanjaannya. Setelah itu, diapun keluar dan menghampiri kendaraan yang dibawa oleh Pa-i.
'' Maaf mas Pa-i, lama ya nunggunya?'' sapa Alan.
__ADS_1
'' Ah, tidak kok mas Alan. Ini!, rokok sebatang aja belum habis!'' Pa-i menunjukkan rokok yang ada ditangannya.
Alan kemudian memasukkan barang-barang yang dibelinya kedalam bagasi mobil, mengambil tiga bungkus rokok Marlboro black, dan juga beberapa bungkus dodol Garut yang akan dinikmatinya selama dalam perjalanan.
Setelah kembali duduk disebelah kursi pengemudi, Alan menyerahkan dua bungkus rokok itu kepada Pa-i dan membuka sebungkus dodol Garut dan mulai memakannya.
'' Wah..!, mas Alan ini ternyata orangnya baik banget ya!. Pantesan, bisa punya kenalan orang-orang hebat kayak Tuan Satria!'' ucap Pa-i setelah dia menerima rokok pemberian Alan.
'' Ah, biasa aja kok Mas!, kuncinya adalah selalu jujur dalam segala hal, dan juga rendah hati mas Pa-i. Insyaallah.., nasib baik akan mendatangi kita.'' ucap Alan.
'' Berarti kita gak boleh bohong dong mas Alan?'' ujar Pa-i sembari mengambil dodol Garut itu dan lalu memakannya.
'' Kalau untuk suatu kebaikan, ya.., boleh-boleh saja mas Pa-i. Asal bukan demi untuk mencari keuntungan diri pribadi semata.'' ujar Alan menjelaskan.
Disaat mereka sedang asyik mengobrol itu, tiba-tiba mereka melihat ada seorang perempuan yang sedang melambai-lambaikan tangannya, mencoba untuk menghentikan mobil mereka. Setelah dekat, Pa-i segera menghentikan mobilnya. Alan segera turun dan menghampiri perempuan tersebut.
'' Tolong!, tolong!, itu, aduh..!, tolong!. itu, hu...'' teriak perempuan itu dengan paniknya sambil menangis dan menutupi mukanya.
'' Tenang, tenang. Coba mbak tenang dulu, baru kemudian mbak ceritakan ada apa sebenarnya?'' Alan mencoba menenangkan perempuan tersebut.
Namun keduanya sama-sama terperanjat, saat perempuan tersebut membuka tangan yang menutupi wajahnya.
'' Ka..kang Alan?''
'' Mbak Naila?''
'' Kang Alan, cepat tolong!. Itu mbak Tiara, mbak Tiara diculik!''
'' Mbak Tiara? diculik?'' Alan masih bingung.
'' Mbak Tiara siapa?'' tanya Alan kemudian.
'' Itu.., santrinya Abah.''
Mendengar kalau santrinya Abah diculik, tiba-tiba darah Alan berdesir. Dia kemudian menarik napas dalam-dalam, kemudian berkata:
'' Itu! motor, motor!'' Naila yang masih panik, menunjuk kearah motornya yang terjungkir diparit pinggir jalan.
Alan melihat motor Scoopy yang terjerembab itu, kemudian hanya mengambil kunci kontaknya saja, dan segera masuk kedalam mobil.
'' Mbak Naila, motornya biar nanti diurus sama kang Zul dan teman-teman yang lain aja. Sekarang, kita harus mengejar penculik itu.'' ucap Alan buru-buru.
'' Mas Pa-i, ayo cepat kita kejar, sebelum pelakunya terlalu jauh.'' lanjutnya.
Alan segera meminta kepada Pa-i untuk segera melajukan mobilnya, setelah meminta Naila segera memasang sabuk pengaman yang ada di sebelah kursi mobil itu. Didalam mobil itu, Naila meski dengan terbata-bata, akhirnya bercerita kalau dia dan Tiara, habis berbelanja beberapa bumbu dapur dan kebutuhan lainnya, di pasar dekat taman kota. Namun naasnya, ditengah perjalanan, tiba-tiba ban motor Scoopy yang mereka tumpangi bocor. Sehingga, mereka terpaksa harus berjalan kaki.
Baru beberapa meter berjalan, tiba-tiba sebuah mobil hitam menghampiri mereka. Seorang lelaki bertopi dan menutupi wajahnya dengan syal, turun dari mobil itu, lalu mendorong motor mereka keparit. Setelah itu, lelaki tersebut langsung menarik Tiara untuk masuk kedalam mobil itu. Melihat itu, Naila segera melakukan perlawanan. Dia segera menangkap tangan lelaki itu, dan menggigitnya. Oleh karena gigitan Naila, lelaki itu lantas menendang tubuh Naila hingga terguling ditepi jalan.
Setelah berhasil membawa masuk Tiara kedalam mobil, mereka langsung pergi dengan cepat. Meninggalkan Naila yang terus berteriak-teriak minta tolong. Hingga akhirnya, Naila melihat mobil yang ternyata didalam mobil itu, adalah Alan dan Pa-i. Setelah melakukan pengejaran, tampak dijalan yang menanjak itu, Alan melihat ada sebuah mobil Avanza hitam yang melaju cepat didepan mereka. Mobil itu kemudian berbelok kearah kiri, keluar dari jalur utama dan memasuki jalan menuju perkebunan teh milik warga.
Pa-i ingin segera menambah kecepatan mobil yang dikendarainya agar dapat segera menyusul mobil tersebut. Namun tiba-tiba Alan berkata:
'' Mas Pa-i, pelankan mobilnya mas!. Cepat pelankan, dan berhenti tepat di jalan menurun sebelum tanjakan itu mas!'' pinta Alan.
Pa-i tidak sempat membantah, dia segera mengurangi kecepatan mobilnya, dan berhenti di jalan yang menurun tersebut. Permintaan Alan, seakan sebuah perintah dari seorang raja kepada bawahannya. Alan kemudian segera turun dari mobil itu, lalu berkata:
'' Kalian tunggu disini!, jika dalam waktu 10 menit saya belum kembali, hubungi pak Andre. Minta dia untuk membawa seluruh orangnya mengepung daerah ini. Ingat mas Pa-i ya!, jika dalam waktu 10 menit.'' ucap Alan.
'' I iya, mas Alan ''. jawab Pa-i.
Entah apa sebabnya, Pa-i juga merasa heran. Kenapa setiap kali Alan berkata, dia benar-benar tidak bisa mengatakan tidak. Hatinya kini bertanya-tanya, Siapa sebenarnya Alan ini? Kenapa setiap kata-katanya, terasa begitu sangat berpengaruh terhadap orang lain. Alan secepat kilat, berlari menyusuri jalan setapak diantara semak-semak yang cukup rimbun. Sekitar lima puluh meter berikutnya, sudah merupakan kebun teh milik warga. Dia terus memasang pendengarannya. Samar-samar dia mendengar suara seseorang sedang berkata:
'' Hhhh cantik.., di tempat ini hanya ada kita berdua. Berteriakpun tidak akan ada gunanya. Lebih baik, kita nikmati suasana indah ini dengan bercinta, hhh...''
__ADS_1
'' Dasar manusia cabul. Apa yang ingin kamu lakukan. Lepaskan aku!'' Tiara terus berontak, mencoba melepaskan tali yang mengikat tangan dan tubuhnya.
'' Hhhh.. Akan kulepaskan, akan kulepaskan. Jangan khawatir cantik..! Pasti akan aku lepaskan. Bukan hanya tali yang mengikat ditubuhmu, tapi juga seluruh benang-benang yang melekat pada tubuhmu itu, hhh..''
'' Dasar b******n! Lepaskan aku!. Aku tidak mengenalmu, aku juga tidak pernah berbuat salah padamu!. Kenapa kamu lakukan ini padaku? Lepaskan! hu...''
'' Ey, ey, ey..! Jangan menangis sayang..! Memang kamu tidak mengenalku, kamu juga tidak bersalah padaku. Kecantikanmulah yang membuat aku ingin menikmatimu..Hhh..''
'' Jangan mendekat! Pergi! Jangan mendekat, atau aku akan berteriak sekuat kuatnya.'' ancam Tiara.
Tiara sudah semakin putus asa. Ditempat seperti ini, tidak ada yang bisa dilakukannya, dia hanya bisa memohon belas kasihan dari orang tersebut agar mau melepaskannya. Tiara sudah merasakan kehancuran hatinya, akibat ditinggal mati oleh kekasihnya. Kini, hidupnya lebih terancam lagi oleh orang yang tidak dikenal, yang akan menghancurkan masa depannya.
'' Aku mohon, lepaskan aku. Tolonglah tuan, jangan hancurkan hidupku! Please.. Tolong lepaskan aku! hu...''
Melihat Tiara yang merengek seperti itu, ternyata tak membuat lelaki yang sudah kerasukan setan itu mengurungkan niatnya. Dia kemudian mengeluarkan sebuah belati dari pinggangnya. Memutuskan tali yang mengikat tubuh Tiara, tapi tidak dengan tali yang mengikat tangan Tiara. Kemudian dengan kasarnya, dia melepas jilbab yang dipakai Tiara. Tiara semakin terisak, dalam isak tangisnya Tiara kemudian berkata:
'' A Fadil, tolong Tiara A, tolong Tiara, A FADIIIL...''
Tiara dengan sekuat tenaganya berteriak memanggil Fadil kekasihnya. Teriakan Tiara itu membuat kaget lelaki itu, sehingga dia yang akan merobek pakaian Tiara itu, mundur beberapa langkah sambil menutupi kedua telinganya. Setelah teriakan Tiara berhenti, dia dengan penuh nafsu segera menghambur kearah Tiara. Dengan beringas, dia mencoba untuk merengkuh tubuh Tiara. Namun, belum sempat tangan dan tubuhnya menyentuh Tiara, tiba-tiba..
'' Buk..''
Tubuhnya terpental beberapa meter, dan terjatuh diantara rerimbunan pohon teh. Dia kemudian mencoba untuk bangkit dan berdiri. Namun lagi-lagi, belum sempat dia berdiri tegak.
'' Duk''
Bogem mentah menghantam mukanya. Membuat tulang hidungnya patah. Dengan membabi buta, dia mencoba untuk menyerang menggunakan pisau belati yang ada dalam genggaman tangannya. Namun belum sempat dia mengarahkan pisau itu kearah orang yang ada didepannya, tangannya telah dipegang dan di belokkan kearah paha kanannya. Sehingga, pisau belati yang dia pegang itu, langsung menghujam dengan derasnya menembus paha kanannya.
'' Jleb, Aaaak...'' teriak lelaki tersebut penuh kesakitan.
'' Kurang ajar! Ss Siapa kamu?'' teriaknya setelah tergeletak tak berdaya diantara rerimbunan pohon teh tersebut.
'' Oh! Jadi kamu ingin tahu siapa aku? Baik.., akan kuberi kesempatan kamu untuk tahu siapa aku?''
Alan kemudian berdiri tegak menghadap lelaki itu.
'' K kamu anak baru itu?''
'' Ya! ini aku, sudah jelas sekarang?''
'' K kamu berani melakukan ini padaku, tunggu saja!, aku akan menghancurkanmu?''
'' Oke!. Kita tunggu, siapa nanti yang akan hancur lebih dulu, Deddy?''
Ketika Alan akan beranjak meninggalkan Deddy anak lurah yang brengsek itu, dia merasa ada pergerakan dari arah belakangnya. Dan memang, ternyata Deddy sedang mengeluarkan pistol dari balik bajunya. Dengan secepat kilat, Alan langsung menendang ************ Deddy. Sehingga dia langsung tak sadarkan diri.
Alan segera menghampiri Tiara yang telah pingsan, sesaat setelah dia berteriak memanggil Fadil dengan sekuat tenaganya. Alan kemudian melepaskan tali yang mengikat tangan Tiara.
'' Tiara,Tiara, bangun Tiara. Ayo kita pulang!''
Alan mencoba membangunkan gadis itu dengan menyebut nama yang tadi dia dengar dari Naila. Walaupun Alan tidak mengenal Tiara, tapi entah kenapa? Saat melihat wajah Tiara, Dia seakan pernah melihat gadis itu.
Perlahan, Tiara membuka kedua matanya. Samar-samar, dia melihat orang yang ada didepannya. Mata itu, wajah itu, A Fadil, bruk.'' Tiara kembali pingsan. Tubuhnya yang baru saja mulai berdiri, tiba-tiba ambruk ke depan. Spontan, Alan langsung menangkap tubuh Tiara yang akan ambruk tersebut, sehingga Tiara pingsan dalam pelukan Alan. Alan yang biasanya merasa risih ketika dicium apalagi dipeluk oleh wanita, entah kenapa saat dipeluk oleh Tiara, dia merasakan rasa damai dalam hatinya.
Untuk beberapa saat Alan terpana dengan apa yang dirasakannya. Namun dia segera tersadar bahwa waktu yang dimilikinya tidaklah banyak. Sehingga dia buru-buru menggendong Tiara diatas pundaknya, kemudian berlari kembali kearah dimana Pa-i dan Naila menunggunya.
Hampir sepuluh menit Alan pergi meninggalkan mereka, Pa-i mulai merasa cemas. Maka, diapun segera mengambil ponsel Android yang dia letakkan didepan kemudi mobilnya. Saat dia akan menghubungi Andre bosnya, dari arah semak-semak dimana tadi Alan pergi, dia kini melihat Alan yang sedang menuju kearah mereka dengan membawa seseorang diatas pundaknya. Naila melihat kedatangan Alan yang membawa Tiara, segera keluar dari mobil untuk menyambutnya.
'' Kang Alan! bagaimana dengan Tiara? apa dia baik-baik saja?''
Naila segera membukakan pintu mobil, Alan kemudian meletakkan Tiara di dalam mobil. Disaat Tiara diletakkan itu Tiara yang masih pingsan berbisik lirih.
'' A Fadil, jangan pergi lagi A, temani Tiara disini.''
__ADS_1
Alan terkesiap, lagi-lagi gadis itu menyebutkan nama Fadil. Bahkan, saat berkata lirih tersebut, tangan Tiara juga sempat berpegangan pada lengan Alan seakan tidak ingin dilepaskan.
...****************...